February 12, 2015

Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima.

Satu… dua… tiga… empat… lima.
Hari ini tepat lima hari berlalu sejak pertemuan terakhir kita yang masih menyisakan pilu begitu mendalam bagiku. Hari ini tepat lima hari aku tidak lagi mendapati sepasang binar mata indah itu mengawali pagi. Hari ini tepat lima hari sejak terakhir kali aku mendengar manja sapamu memanggil namaku. Hari ini tepat lima hari rindu menyiksaku dalam gundah yang semakin menjadi-jadi. Rasanya memang terdengar begitu melankolis, sepertinya juga memang terkesan berlebihan. Tapi perasaan macam ini dapat kupastikan juga dirasakan oleh ribuan bahkan jutaan wanita penyimpan rindu diluar sana. Kita sama-sama tahu, tidak ada seorang pun yang mampu menikmati rindu dengan sepenuhnya berbahagia karena ia selalu datang bersama gelisah yang menanti adanya pertemuan. Begitu juga denganku.
Masih begitu jelas terekam dalam sudut kosong pikirku bagaimana pertemuan kita sore itu. Ya, sore itu… selepas adzan Ashar di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kota tempat tinggal kita. Aku datang bersama seorang teman sementara kamu… tentu saja bersama istri dan anak semata wayangmu. Demi sebuah masalah yang sama-sama kita anggap bukan hal sepele, aku memberanikan diri untuk menemui kalian meskipun langkah terasa seperti tumpukan batu, lidah terasa amat kelu juga raga yang mendadak beku. Kita sama-sama paham bahwa apa yang telah kita mulai harus kita selesaikan sendiri. Kita sama-sama mengerti bahwa masalah semacam ini tidak akan pernah selesai jika kita juga saling menghindar darinya dengan ego menyelamatkan diri masing-masing. Hingga akhirnya sore itu, aku memutuskan untuk mengakhiri semua rasa jengahku akan berbagai macam ancaman darinya, pendampingmu. Apakah terdengar begitu klise? Bagi sebagian orang mungkin iya, mereka tidak akan paham alur ini. Namun bagi sebagian lainnya, mereka mungkin akan langsung menghakimi atau memberi apresiasi dalam bentuk rasa kagum atas pertanggungjawabanku.
Sore itu, ingin rasanya aku memelukmu erat-erat, ingin rasanya aku menyesap aroma tubuhmu dalam-dalam demi mengikis rindu yang tertancap begitu dalam, ingin rasanya aku meneriakkan pada dunia bahwa akulah wanitamu yang sesungguhnya, ingin rasanya aku memberitahu pada mereka bahwa kita sama-sama memendam rasa yang disebut cinta. Tapi nyatanya aku tidak memiliki keberanian sebesar itu, nyatanya aku tidak mampu bertindak sejauh itu, nyatanya aku lebih memilih diam, menyembunyikan ribuan lukaku dengan senyuman. Ada kamu di papa, ada dia si mama juga dia yang lain sebagai anak semata wayang kalian. Keluarga yang begitu harmonis. Tuhan telah menyusun skenario ini dengan tokoh-tokoh yang begitu lengkap. Lantas, siapa aku? Haruskah aku memperkenalkan siapa diriku sebenarnya? Ah, rasanya tidak perlu. Kita semua tahu bahwa akulah wanita itu. Wanita yang dengan lantang pernah mengatakan dirinya sebagai wanitamu yang sesungguhnya, wanita yang dengan penuh keyakinan masuk ke dalam hidupmu, berusaha mencari celah saat bahtera kebahagiaan kalian tengah terguncang oleh kuatnya hempasan ombak kehidupan. Tapi kumohon, jangan begitu cepat menghakimiku sebagai pengganggu dan perusak sebuah keluarga karena pada nyatanya rasaku ini berbalas. Bahkan kamu lebih dulu menyatakan rasa itu dalam sebuah latar yang hanya diketahui oleh kita. Kita… aku dan kamu menciptakan alur baru dalam skenario yang telah dikarang Tuhan. Betapa bodohnya kita yang berusaha menyatu dalam berbagai macam keterbatasan ruang dan waktu? Toh, pada akhirnya kita tetap harus meneruskan apa yang telah digariskan Tuhan.
Satu… dua… tiga… empat… lima.
Tepat lima hari berlalu sejak sore itu. Dan kamu sepertinya telah menemukan kembali bahagiamu bersama mereka, keluargamu. Hingga mungkin kamu juga telah melupakan kehadiranku begitu saja, wanita yang pernah menelusup masuk dalam hidupmu beberapa waktu lalu. Kamu sama sekali tidak menghubungi apalagi menemuiku. Secepat itukah? Secepat itukah rasamu hanyut, tenggelam dan karam?
Satu… dua… tiga… empat… lima.
Lima hari yang terasa seperti ribuan. Siapa yang dapat kusalahkan atas semua ini? Justru saat ini akulah tokoh antagonis yang harus disalahkan. Lima hari yang terasa begitu berat saat kamu tiba-tiba menghilang begitu saja. Pergi tanpa secarik kata perpisahan pun. Lantas, aku bisa apa? Memaksamu untuk memilihku? Rasanya mustahil. Memintamu untuk membalas rinduku? Rasanya lebih mustahil. Aku hanya bisa diam lalu tersenyum. Bukankah senyum adalah perhiasan terbaik seorang wanita? Ya, aku hanya mampu menyimpan semuanya dalam sebuah senyuman. Semoga saja aku cukup kuat untuk terus mempertahankan senyum ini. Semoga saja tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana hancur dan rapuhnya jiwaku dibalik senyuman ini. Dan kamu, sepertinya kamu juga tidak akan menyadari betapa senyum sederhana ini menyimpan ribuan makna.

No comments: