February 28, 2015

(h)

Aku mengenalmu lewat jiwa
Bukan lewat mata
Aku menjadikanmu kekasih lewat hati
Aku tak tahu seperti apa aku dalam pandanganmu
Selayak apa aku dalam hidupmu
Tapi yang kutahu
Meski dengan semua keterbatasan berbalut kekuranganku
Aku menulis namamu dihatiku sejak awal kita bertemu
Dan takkan pernah terganti apalagi terhapus (h)

February 27, 2015

Sometimes

Sometimes people change and leave, they end up having nothing to say to each others, even if they were very close a year before. And sometimes, you need to be alone. Not to be lonely but to enjoy your free time being yourself.

February 24, 2015

Nsync

When the vision around you bring tears to your eyes and all that surround you are secrets and lies, I’ll be your strength, I’ll give you hope, keeping your faith when it’s gone, the one you should call, was standing here all along. And I’ll take you in my arms, and hold you right where you belong 'till the day my life is through.


(Nsync)




What's The Difference?

Apa bedanya pergi tanpa alasan ataupun dengan alasan? Jika pada akhirnya, hasilnya adalah perpisahan yang menyakitkan.

This Love

Lautan biru, gelombang pasang datang dan menghadirkanmu. Dan bisa terus kulanjutkan. Dan kan kulakukan... bekas luka kian gelap, arus membawamu pergi lagi. Dan kau pun pergi begitu saja. Dalam teriakan senyap dan mimpi terliar, tak pernah kuimpikan ini.
Terombang-ambing, berputar-putar, berjuang lewati malam untuk seseorang yang baru. Dan bisa terus kulanjutkan. Lentera menyala, berkerlap-kerlip di benakku hanya dirimu tapi kau masih hilang. Telah hilang pegangan, kapal tenggelam. Kau muncul, tepat waktu.
Cinta ini baik, cinta ini buruk. Cinta ini adalah kehidupan yang kembali dari kematian. Tangan-tangan ini harus membiarkannya bebas dan cinta ini kembali padaku.
Cinta ini tanda abadi. Cinta ini berkilauan dalam gelap. Tangan-tangan ini harus membiarkannya bebas dan cinta ini kembali padaku. Ciumanmu, pipiku. Luka yang kau tinggalkan. Senyummu, semangat hidupku. Aku bersimpuh berlutut. Saat kau muda, kau berlari tapi kau kembali pada yang kau butuhkan.

February 22, 2015

Don't, Don't Let Me Go

Bisa kulihat bayanganmu membekas di cahaya bulan, bisa kurasakan detak jantungmu terngiang di sebelah kananku. Tiap malam aku menginginkan ini, hadirkan apa yang kulewatkan. Bisa kudengar deru nafasmu hembuskan nafas sedih. Kau berusaha demikian keras untuk sembunyikan lukamu, selalu siaga. Bisa kulihat kaki langit memudar di kejauhan sana. Air mata berjatuhan, aku hanya berusaha untuk memahami. Tak kudengarkan radio, hanya mesin dan jalan. Aku penasaran apakah kata-kataku memberi perbedaan. Jangan, jangan lepaskan aku. Jangan buat aku bertahan saat kau tidak mau. Jangan, jangan berpaling. Apa yang bisa kukatakan agar kau takkan lakukan itu? Tidak, jangan, jangan lepaskan aku. Aku bermimpi lalu mimpi itu seakan berakhir tapi selalu saja datang lagi. Aku jatuh ke tempatmu berdiri. Aku butuh kau sekarang atau kau akan melihatku menghantam tanah dengan pendaratan darurat.

February 16, 2015

Biarlah Salahku

Tiba-tiba saja hariku menjadi begitu dingin. Tiba-tiba saja malamku menjadi kelewat beku. Tiba-tiba saja tiada lagi kehangatan yang mampu menyentuh indera perasaku. Tiba-tiba saja semesta menggelap. Tiba-tiba saja sepi mengurungku dalam keramaian. Tiba-tiba saja… kamu pergi. Menjauh lalu hilang dari hadapanku. Secepat itukah?
Sedang kujalani kisah cinta yang sulit dimengerti. Sedang kualami semua hal yang terbaik dan terburuk −denganmu. Sedang kurasakan bahagia yang menyatu dalam tangis. Sedang kunikmati rindu yang bergejolak dalam kebohongan. Sedang kuberikan senyum yang menyelimuti ribuan bulir air mata. Sedang kupendam sekuat tenaga... cinta yang begitu agung untukmu.
Semua teman mengingatkanku agar tidak mencintaimu. Semua teman mengingatkanku agar tidak merindumu. Namun apa dayaku? Rasa ini terlalu kuat, jauh lebih kuat dari hatiku sendiri. Tanpa mampu kucegah, rindu selalu beralamat padamu. Tanpa mampu kutahan, cinta semakin tumbuh untukmu.
Sudah kucari cara yang bisa menyatukan kita, walaupun terus dipenuhi drama yang menyakitkan. Sudah pula kucari cara yang bisa mengenyahkan rasa ini, walaupun luka semakin menyayatku dengan perih. Tapi semua hanya berlalu dengan percuma bersama silih masa yang berganti. Nyatanya aku gagal. Semakin aku mencoba meraihmu, justru terasa semakin jauh. Semakin aku mencoba melupakanmu, justru terasa semakin rindu.
Entah mengapa aku percaya pilihanku, entah mengapa aku percaya itu kamu. Bila memang salah, biarlah salahku. Kini biar kujaga rasa yang membumbung tinggi dalam hati hingga nanti ia lelah bertahan lalu menguap di udara dan melayang pergi dengan sendirinya. Akan kunikmati rindu yang datang membunuhku, demi kamu… biarlah ini menjadi salahku.

February 12, 2015

Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima.

Satu… dua… tiga… empat… lima.
Hari ini tepat lima hari berlalu sejak pertemuan terakhir kita yang masih menyisakan pilu begitu mendalam bagiku. Hari ini tepat lima hari aku tidak lagi mendapati sepasang binar mata indah itu mengawali pagi. Hari ini tepat lima hari sejak terakhir kali aku mendengar manja sapamu memanggil namaku. Hari ini tepat lima hari rindu menyiksaku dalam gundah yang semakin menjadi-jadi. Rasanya memang terdengar begitu melankolis, sepertinya juga memang terkesan berlebihan. Tapi perasaan macam ini dapat kupastikan juga dirasakan oleh ribuan bahkan jutaan wanita penyimpan rindu diluar sana. Kita sama-sama tahu, tidak ada seorang pun yang mampu menikmati rindu dengan sepenuhnya berbahagia karena ia selalu datang bersama gelisah yang menanti adanya pertemuan. Begitu juga denganku.
Masih begitu jelas terekam dalam sudut kosong pikirku bagaimana pertemuan kita sore itu. Ya, sore itu… selepas adzan Ashar di salah satu pusat perbelanjaan ternama di kota tempat tinggal kita. Aku datang bersama seorang teman sementara kamu… tentu saja bersama istri dan anak semata wayangmu. Demi sebuah masalah yang sama-sama kita anggap bukan hal sepele, aku memberanikan diri untuk menemui kalian meskipun langkah terasa seperti tumpukan batu, lidah terasa amat kelu juga raga yang mendadak beku. Kita sama-sama paham bahwa apa yang telah kita mulai harus kita selesaikan sendiri. Kita sama-sama mengerti bahwa masalah semacam ini tidak akan pernah selesai jika kita juga saling menghindar darinya dengan ego menyelamatkan diri masing-masing. Hingga akhirnya sore itu, aku memutuskan untuk mengakhiri semua rasa jengahku akan berbagai macam ancaman darinya, pendampingmu. Apakah terdengar begitu klise? Bagi sebagian orang mungkin iya, mereka tidak akan paham alur ini. Namun bagi sebagian lainnya, mereka mungkin akan langsung menghakimi atau memberi apresiasi dalam bentuk rasa kagum atas pertanggungjawabanku.
Sore itu, ingin rasanya aku memelukmu erat-erat, ingin rasanya aku menyesap aroma tubuhmu dalam-dalam demi mengikis rindu yang tertancap begitu dalam, ingin rasanya aku meneriakkan pada dunia bahwa akulah wanitamu yang sesungguhnya, ingin rasanya aku memberitahu pada mereka bahwa kita sama-sama memendam rasa yang disebut cinta. Tapi nyatanya aku tidak memiliki keberanian sebesar itu, nyatanya aku tidak mampu bertindak sejauh itu, nyatanya aku lebih memilih diam, menyembunyikan ribuan lukaku dengan senyuman. Ada kamu di papa, ada dia si mama juga dia yang lain sebagai anak semata wayang kalian. Keluarga yang begitu harmonis. Tuhan telah menyusun skenario ini dengan tokoh-tokoh yang begitu lengkap. Lantas, siapa aku? Haruskah aku memperkenalkan siapa diriku sebenarnya? Ah, rasanya tidak perlu. Kita semua tahu bahwa akulah wanita itu. Wanita yang dengan lantang pernah mengatakan dirinya sebagai wanitamu yang sesungguhnya, wanita yang dengan penuh keyakinan masuk ke dalam hidupmu, berusaha mencari celah saat bahtera kebahagiaan kalian tengah terguncang oleh kuatnya hempasan ombak kehidupan. Tapi kumohon, jangan begitu cepat menghakimiku sebagai pengganggu dan perusak sebuah keluarga karena pada nyatanya rasaku ini berbalas. Bahkan kamu lebih dulu menyatakan rasa itu dalam sebuah latar yang hanya diketahui oleh kita. Kita… aku dan kamu menciptakan alur baru dalam skenario yang telah dikarang Tuhan. Betapa bodohnya kita yang berusaha menyatu dalam berbagai macam keterbatasan ruang dan waktu? Toh, pada akhirnya kita tetap harus meneruskan apa yang telah digariskan Tuhan.
Satu… dua… tiga… empat… lima.
Tepat lima hari berlalu sejak sore itu. Dan kamu sepertinya telah menemukan kembali bahagiamu bersama mereka, keluargamu. Hingga mungkin kamu juga telah melupakan kehadiranku begitu saja, wanita yang pernah menelusup masuk dalam hidupmu beberapa waktu lalu. Kamu sama sekali tidak menghubungi apalagi menemuiku. Secepat itukah? Secepat itukah rasamu hanyut, tenggelam dan karam?
Satu… dua… tiga… empat… lima.
Lima hari yang terasa seperti ribuan. Siapa yang dapat kusalahkan atas semua ini? Justru saat ini akulah tokoh antagonis yang harus disalahkan. Lima hari yang terasa begitu berat saat kamu tiba-tiba menghilang begitu saja. Pergi tanpa secarik kata perpisahan pun. Lantas, aku bisa apa? Memaksamu untuk memilihku? Rasanya mustahil. Memintamu untuk membalas rinduku? Rasanya lebih mustahil. Aku hanya bisa diam lalu tersenyum. Bukankah senyum adalah perhiasan terbaik seorang wanita? Ya, aku hanya mampu menyimpan semuanya dalam sebuah senyuman. Semoga saja aku cukup kuat untuk terus mempertahankan senyum ini. Semoga saja tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana hancur dan rapuhnya jiwaku dibalik senyuman ini. Dan kamu, sepertinya kamu juga tidak akan menyadari betapa senyum sederhana ini menyimpan ribuan makna.

February 2, 2015

Dan Pada Akhirnya...

Jangan pernah takut kehilangan orang yang sangat kamu cintai saat ini. Dia yang meninggalkanmu pergi hanya untuk hasrat sesaatnya, dia yang meninggalkanmu pergi karena haus akan cinta sempurna yang didamba-dambakannya, dia yang meninggalkanmu pergi tanpa pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi dirimu yang remuk karena kehilangannya suatu saat akan menyadari bahwa ia telah melakukan hal terbodoh dalam hidupnya yaitu menyia-nyiakanmu. Pada akhirnya, hatimu telah membatu untuknya dan kabar baiknya lagi, pada saat itu Tuhan telah membuka hatimu bahwa dia bukan seseorang yang terbaik untukmu.

From Another Author (1)

“Jangan pernah memulai sesuatu bila hanya ada luka di akhir cerita, jangan memberi senyuman manis bila akhirnya hanya akan menuai tangis, jangan menabur mimpi bila hanya akan terjaga oleh isak, jangan menjadi derai pada isakku, usaikan saja mimpi buruk yang panjang ini.”