December 28, 2014

Selamat Merayakan Tahun Kedua Hari Jadimu... Dengannya

Aku kembali hadir di sini. Menapaki setiap jengkal butiran tanah kecokelatan yang bercumbu dengan bias jingga. Hembusan angin membelai lembut sel-sel saraf yang semakin menua setiap waktunya. Aku sadar, semua tidak lagi sama. Karena detik tidak pernah berjalan mundur dan hidup akan terus melangkah ke depan. Semua memang sudah tampak berbeda. Ternyata bukan hanya kita, tapi juga tempat favorit yang pernah menjadi saksi bisu sepasang anak SMP berjalan beriringan dengan jemari yang saling merengkuh. Hei, siapa bilang anak kecil tidak bisa merasakan cinta? Bahkan seorang bayi pun memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang ibu. Bagiku, itu sudah cukup menafsirkan bagaimana cinta bisa hadir tanpa memandang usia. Sama seperti sepasang anak berseragam putih-biru itu. Mereka mungkin masih terlalu belia untuk mengerti suatu makna klise dari kata cinta, tapi setidaknya ―perasaan mereka begitu nyata meskipun akhirnya pupus terkikis masa.
Aku masih mengingatnya dengan begitu jelas. Bagaimana mereka menghabiskan detik-detik senja selepas mengikuti kegiatan renang setiap akhir pekan. Tugu itu —entah apa namanya. Namun yang terbayang dalam benakku hanyalah bagaimana ia bisa menjadi saksi latar belakang sepasang remaja dengan wajah bersemu merah saling membuang pandangan ke arah berlawanan ketika seorang teman mengambil potret kebersamaan mereka. Masih cukup terkenang pula bagaimana mereka melewati liburan bersama sambil berkeliling mencari buku kesukaan masing-masing. Kala itu, si pria begitu senang mengoleksi sekumpulan komik bertajuk Detective Conan sementara si wanita sangat menggemari segala macam novel dengan genre drama percintaan. Yah, mereka memang terlihat sangat berbeda —tapi bukankah perbedaan mampu menjadi sebuah hal yang begitu indah jika kita bisa menempatkannya pada titik yang tepat?

 Sore ini, sinar matahari dengan perlahan menelusup lewat celah-celah pepohonan yang menjulang tinggi di bawah langit cerah yang terasa begitu hangat. Setidaknya mampu sedikit mengobati hatiku yang masih saja terasa agak pilu jika mengingat kembali sepasang anak berseragam putih-biru itu ―yang pernah menghabiskan waktu mereka dengan duduk sambil memegang botol minuman masing-masing di tepian lintasan pelari ini. Angin segar berhembus mesra, melesat melewatiku dan bertebaran pada ujung jalan tempatku berdiri saat ini. Aku melemparkan pandangan pada beberapa titik langit yang masih terlihat biru cerah, tertutupi sedikit gumpalan awan putih menyerupai kapas yang berarak mengikuti belaian lembut angin. Matahari mulai condong beberapa derajat sebelum kembali ke peraduannya. Dengan ragu, kembali kulangkahkan kaki menapaki butiran tanah cokelat kemerahan ini. Memperhatikan setiap helai rumput yang bergoyang tidak tentu arah. Dahulu, di tempat ini, sempat terjadi perdebatan hebat antara sepasang remaja dengan wajah yang memerah penuh emosi. Bibirku menyunggingkan sebuah senyum asimetris, ―betapa konyolnya mereka dulu.
Aku lalu berjalan ke arah barat sambil menengadah ke langit, tempat pemandangan kontras beberapa gedung dan pepohonan besar menyatu dengan langit yang mulai menggelap. Beberapa menit kemudian warna matahari senja berubah menjadi semakin jingga lalu kemerahan, perpaduan sempurna antara merah-kuning-oranye. Entah kenapa semua kenangan tentang sepasang anak SMP itu kembali terngiang sangat jelas dalam otakku, seperti kaset DVD yang sedang diputar ulang. Aku merindukan mereka. Ya, sangat merindukan mereka. Bukan berarti aku ingin kembali menjadi seorang siswi SMP, hanya saja aku merindukan masa-masa menggelikan yang terjadi kala itu. Kita yang ketika itu masih duduk di bangku SMP, dengan fasih mengatakan akan terus bersama selamanya. Sungguh, kenyataannya sangat menggelikan. Kita yang dulu ternyata masih sangat lugu hingga dengan mudahnya menafsirkan cinta dalam beberapa kosakata yang begitu sederhana.
Matahari merayap menuju ufuk barat dengan perlahan, memberi kesan bahwa ia akan tenggelam di ujung jalan, tepat dibalik gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh. Seolah menjadi lampu besar yang menyorot lurus jejeran gedung-gedung itu. Memberikan semburat warna menenangkan dan memantulkan pantulan cahaya yang menyenangkan. Seulas senyum terbentuk dari sudut bibirku. Rasa hangat kian menjalari tubuhku, membuatku merasa lebih kuat untuk menerima kenyataan bahwa kini tidak ada lagi kita —sepasang anak SMP yang dulu pernah menghabiskan detik-detik senja sambil berpegangan tangan di sini. Empat tahun berlalu sudah. Bukankah semua terasa begitu cepat? Kini, kita bukan lagi sepasang anak SMP yang wajahnya bersemu merah saat bergandengan tangan. Kini, kita bukan pula sepasang anak SMP yang menikmati hembusan angin sore selepas mengikuti kegiatan renang di akhir pekan. Kita yang sekarang sudah jauh berbeda. Aku dan kamu sudah berotasi dalam poros yang berbeda pula. Kamu, kini masih berkutat dengan segudang teori dalam bangku perkuliahan. Sementara aku? Aku tengah meniti karirku dalam dunia kerja yang memang sudah sejak lama kuimpikan. Selamat ya, selamat atas kehidupanmu yang baru ―tanpa aku. Ketahuilah, aku sama sekali tidak pernah menyesali masa-masa kita dulu. Aku justru sangat bersyukur meskipun pernah melewati masa-masa patah hati yang parah dan menyembuhkannya seorang diri tapi aku sadar, tanpa pengalaman pahit semacam itu, tidak akan ada diriku yang sekarang ―seorang siswi SMP yang telah menjelma menjadi gadis dewasa dan siap menjalani kehidupan barunya dengan segudang tantangan juga pengalaman menanti di depan sana.

            Lampu-lampu penerangan dari sekumpulan gedung yang berdiri kokoh di hadapanku pun menyala dengan serentak setelah langit menggelap dan matahari tertelan oleh ufuk barat. Cahaya kemerahan gelap yang sempat memudar tergantikan oleh cahaya lampu beraneka warna di sepanjang jalan raya yang menghadap langsung ke arahku. Sebuah senyum penuh ketulusan kembali tersungging pada kedua sudut bibirku. Hari ini, bertepatan dengan tanggal 08 Desember. Hei, bukankah seharusnya hari ini menjadi hari yang sangat istimewa bagimu —dan dirinya? Lihatlah, betapa konyolnya aku. Aku bahkan masih mengingat dengan sangat jelas segala seluk-beluk dalam hidupmu, termasuk hari jadimu dengannya. Seandainya kamu membaca tulisan konyolku ini, aku hanya ingin mengucapkan selamat merayakan tahun kedua hari jadimu bersamanya. Aku turut bahagia, meskipun kamu sudah menghapusku sepenuhnya dari semestamu.

Dariku…
wanita yang dulu sempat satu setengah tahun mengisi ruang hatimu
meskipun masih berseragam putih-biru

No comments: