Posts

Showing posts from December, 2014

I Love You More

Malam semakin larut dan gelapnya pun kian pekat. Bukankah aku sudah seringkali berbisik bahwa malam selalu indah? Apalagi jika berpadu dengan hujan. Sayangnya, malam ini hujan enggan turun membasuh wajah tanah-tanah kerontang. Ia masih ingin bersembunyi di balik tebalnya awan mendung. Dalam malam aku bergeming. Entah sejak kapan sudah merapal-rapal namamu di hadapan Tuhan. Berusaha menyampaikan suatu rasa yang semakin merusak kinerja sistem sarafku. Meskipun jarak dan waktu kita tidak lagi sama, meskipun ruang kita sudah berbeda, meskipun hati kita tidak lagi bertaut, meskipun rasaku bukan lagi rasamu, bukan berarti aku sudah berhenti mengalunkan doa demi jiwamu. Aku masih menikmati kebodohan ini, bukan, mungkin lebih tepatnya menikmati kerinduan ini. Aku percaya, Tuhan akan menyampaikan rasaku ini padamu. Meskipun hanya sesekali, tapi aku percaya kamu akan mampu sedikit merasakan getaran hebat yang menyatu dalam kenangan. Dalam malam yang mulai kelewat dingin, aku tidak pernah sedik…

Selamat Merayakan Tahun Kedua Hari Jadimu... Dengannya

Aku kembali hadir di sini. Menapaki setiap jengkal butiran tanah kecokelatan yang bercumbu dengan bias jingga. Hembusan angin membelai lembut sel-sel saraf yang semakin menua setiap waktunya. Aku sadar, semua tidak lagi sama. Karena detik tidak pernah berjalan mundur dan hidup akan terus melangkah ke depan. Semua memang sudah tampak berbeda. Ternyata bukan hanya kita, tapi juga tempat favorit yang pernah menjadi saksi bisu sepasang anak SMP berjalan beriringan dengan jemari yang saling merengkuh. Hei, siapa bilang anak kecil tidak bisa merasakan cinta? Bahkan seorang bayi pun memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang ibu. Bagiku, itu sudah cukup menafsirkan bagaimana cinta bisa hadir tanpa memandang usia. Sama seperti sepasang anak berseragam putih-biru itu. Mereka mungkin masih terlalu belia untuk mengerti suatu makna klise dari kata cinta, tapi setidaknya ―perasaan mereka begitu nyata meskipun akhirnya pupus terkikis masa.  Aku masih mengingatnya dengan begitu jelas. Bagaimana me…

Untukmu, Tujuan Akhirku Adalah Memantaskan Diri

Aku pernah mencoba dengan dia yang salah. Kamu pernah gagal menjelajahi labirin hatinya sampai kehilangan arah. Tapi bukankah setiap pagi selalu menawarkan kesempatan baru? Bukankah setiap orang berhak atas perjalanan yang lebih menjanjikan untuk dijalani kemudian? Demi kamu, aku rela menunggu. Demi kamu aku bersabar dan berjibaku demi memantaskan diri. Hai kamu, yang juga sedang berjuang menahan diri. Apa kabar dirimu? Jika bisa, ingin rasanya kutawarkan tempat duduk di sisiku khusus untukmu. Ingin kupandang wajahmu lekat-lekat lalu bertanya, “Beratkah hari-harimu belakangan ini? Cukup menyenangkankah pekerjaan yang sedang kamu jalani? Atau kamu masih berkutat dengan teori dan buku yang membuatmu terjaga sampai dini hari?” Harapanku, semoga kamu dan kehidupanmu di sana berjalan mulus tanpa gangguan yang berarti. Doaku tak putus-putus untukmu, kukirim dari sini. Seandainya sekarang kita sudah bisa berjumpa, ingin kuceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di udara. Melih…

Kepada Wanita Yang Kelak Akan Menggantikan Posisiku

Mencintai seseorang berarti berdiri kuat di atas kaki sendiri. Mencintai seseorang melibatkan keikhlasan untuk melepaskan, agar kelak bertemu di jenjang yang lebih nyaman. Salah satu tanda berdamai dengan masa lalu adalah saat aku bisa dengan ikhlas menerima pendamping baru yang menggantikan posisiku di hatinya. Yang menjadi pertanyaan adalah, “sudah siapkan aku?” Untukmu, gadis yang kelak menggantikan posisiku di hatinya. Saat ini, tangan pria yang kelak akan menjadi masa depanmu masih rapi membungkus jemariku. Hei, kamu tidak perlu cemburu —waktumu sebentar lagi akan tiba. Tenang saja, kupastikan priamu ini akan baik-baik saja. Makannya terjamin, jadwal hidupnya pun teratur. Aku cukup cerewet mengingatkannya untuk tidak lupa membereskan kamar dan selalu mandi sebelum tidur. Yah, dia memang seceroboh itu hingga perlu diingatkan setiap waktu. Sekian lama kami bersama, sampai hari ini dia tidak pernah lelah menggenggam tanganku setiap kami menyeberang jalanan ramai. Katanya, aku seper…