Oct 20, 2014

Ajari Aku Part 1

Kau mengajarkanku mengenal cinta
Menguatkan aku terus melangkah
Tak ingin kau tersakiti
Coba tuk selalu ada
Tetap bertahan terus menjagamu

Langkahku terhenti tepat di depan pintu masuk Stasiun Gambir. Aku membalikkan badan.
Suara itu… 
Aku mengeleng-gelengkan kepala.
“Ayolah, Tania. Jangan lagi berimajinasi gila kayak gitu.” Aku berbisik lirih lalu kembali melanjutkan langkah menuju pintu peron, tempat perhentian kereta api yang akan ku tumpangi menuju Yogyakarta.
Sejenak, aku merasakan getaran yang berbeda dalam hati. Kenapa suara itu sepertinya terus menggema di kepalaku?
Mustahil. Sepertinya terlalu mustahil kalau aku mengharapkan pertemuan itu di sini. It’s been ten years. Ya, rasanya dalam waktu selama itu aku bisa dengan cukup bangga merentangkan kesepuluh jari tangan kalau nominalnya melambangkan kelanggengan hubunganku bersama seseorang. Tapi nyatanya, sepuluh tahun yang ku maksud kali ini adalah jumlah waktu yang sudah ku jalani untuk melarikan diri. kehilangan, kesedihan, penasaran atau apapun itu namanya yang sudah berakar dalam hati. Sebenarnya aku mungkin bisa saja mengatakan dengan mudah kalau aku sudah tidak lagi mengingatnya, tapi kenapa suara itu seperti mencabik-cabik ingatan masa laluku dan menarik beberapa robekan itu pada sesuatu yang seharusnya tidak lagi kuingat?
“Randu… kamu lagi apa?”

***

Lima belas tahun yang lalu…
“Tania, minggu depan aku mau pindah dari sini.”
Suara bocah laki-laki yang mengenakan kaos putih bertuliskan Real Madrid di sisi depannya membuatku sedikit tersentak.
“Pindah? Kemana? Pindah rumah? Atau pindah sekolah?”
“Dua-duanya. Ke Samarinda. Itu jauh nggak ya?”
“Hah?” Aku menutup mulut dengan kedua tangan. “Samarinda? Itu kan…” Sejenak aku terdiam sambil berusaha mengingat tugas mata pelajaran IPS bulan lalu. Randu hanya menatapku heran. “Samarinda itu di Kalimantan, jauh banget dari sini. Eh, tapi kok kamu mau pindah kesana?”
“Papa pindah tugas kesana. Jadi, aku, Mama sama Kak Anggi juga harus ikut.”
“Kenapa baru bilang sekarang?” Aku duduk sambil menekuk lutut di dekat ayunan.
“Hm…” Randu menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Aku juga baru tahu kemarin. Kamu nggak marah kan?” Ia menyunggingkan sebuah senyum yang menurutku lebih tepat disebut cengiran.
Aku menggeleng. “Nggak, tapi aku bingung, nanti setiap liburan semester, siapa yang nemenin aku main di sini?” Tanyaku polos.
Wajah Randu berubah cemas. 

***

“Tania…” Seorang pria menyerukan namaku dari arah pintu keluar Stasiun Tugu Yogyakarta. “Hai, Sayang.” Ia lalu menghampiriku dengan wajah sumringah.
“Hai, tuan-muda-yang-suka-protes. Apa kabar?” Sapaku ramah.
“Tuh kan, judesnya nggak pernah pudar.”
Aku tertawa mendengar protesnya. “Tuh belum apa-apa udah protes.”
Ia menghela napas sambil memasang wajah innocent. 
“Nanti malam dinner bareng aku.” Ucapnya centil sambil mencubit pipiku.
Aku tidak menjawab. Hanya bergelayut manja pada lengannya.
“Eyang udah nungguin kamu di rumah.”
Baru saja aku ingin melangkahkan kaki, tiba-tiba seseorang menabrakku hingga hampir terjatuh.
“Wah, Mas, hati-hati dong.”
“Maaf, maaf, Mbak, Mas. Saya nggak sengaja.” Ucap seorang pria dengan panik.
Aku tersenyum simpul. "Nggak apa-apa kok.”
Sejenak tatapan kami beradu. Mataku dengan pria itu. Entah kenapa wajahnya begitu familier, padahal aku sangat yakin kalau kami belum pernah bertemu sebelumnya. Aku menatap matanya semakin dalam, seolah ada magnet yang memang sengaja ia pancarkan untuk menarik perhatianku.
“Yuk, Tan.” Aku pun lalu berbalik. Meninggalkan pria itu yang tampak masih mematung di depan pintu keluar Stasiun Tugu. Ia masih terus memandangiku, aku pun begitu.

***

“Ini hari terakhir kamu tinggal di asrama. Kamu nggak sedih pergi dari sini?” Tanyaku sambil meyendok cup es krim cokelat.
“Sedih sih. Tanggung banget kan pindahnya, padahal tahun depan juga aku kita udah tamat SD.”
Aku hanya bergumam sambil memandangi Randu yang sesekali melemparkan batu kecil ke arah kolam di tengah taman.
“Kalau nanti kamu udah pergi, kita masih temenan kan?” Tanyaku lagi dengan sedikit ragu.
Randu justru tertawa hingga bahunya terguncang.
Tatapanku berubah heran. “Ih, malah ketawa.”
“Pertanyaan kamu, lucu.” Ia kembali tertawa.
“Nanti kalau aku udah nggak tinggal di sini, kamu jangan main sama Dion ya? Mereka itu suka nakal.”

***

“Maaf ya, Sayang, lama nunggunya.” Dion menghampiriku yang sejak sepuluh menit lalu berdiri di pelataran gedung Creative Organizer. Tadinya ia mengajakku masuk ke dalam bangunan yang menjulang megah ini, tapi aku menolak dengan alasan ingin menikmati udara segar Yogyakarta. Entah kenapa aku begitu merindukan suasana pagi di sini.
“Iya, nggak apa-apa.” Jawabku sambil masuk ke dalam mobil sesaat setelah ia membukakan pintu. “Itu apa?”
“Ini konsep-konsep acara pernikahan yang mau aku tawarin ke klien nanti. Mereka minta tema yang gotic gitu, jarang-jarang loh acara resepsi mau pakai tema gotic.”
Aku hanya mengangguk.
Dion tersenyum. “Kalau acara pernikahan kita nanti pakai tema apa ya?”
Aku meliriknya dengan tatapan geli. “Harusnya sebagai seorang wedding organizer, kamu bisa dong menerjemahkan kemauan calon pengantin wanitanya.”
“Wah, kayaknya aku dapat lampu hijau nih.” Ia balik menatapku genit.
Aku membalas tatapannya dengan membuang muka sambil bersedekap menghadap depan ―dengan menyembunyikan wajah yang tentunya sudah bersemu merah.

to be continue...