October 22, 2014

Aku Akan Berhenti Mencintaimu

Aku akan berhenti mencintaimu
Saat angin tidak lagi berhembus menyejukkan
Saat burung berhenti menghibur pagi
Dan hujan tidak lagi membasuh kemarau
Aku akan berhenti merindukanmu
Saat bintang tidak lagi berkelip indah
Saat bulan menolak untuk menerangi malam
Dan mentari tidak lagi menghangatkan hari
Aku akan berhenti menyayangimu
Saat bunga tidak lagi bersemi
Saat rumput tidak lagi mampu bergoyang
Dan pepohonan tidak lagi meneduhkan
Aku akan berhenti menanti kehadiranmu
Saat guntur tidak lagi menggema
Saat sungai tidak lagi mengalir
Dan ombak berhenti menerjang pantai
Aku akan berhenti mengharapkanmu
Saat jantung tidak lagi menderu
Saat darah perlahan membeku
Dan raga pun mulai membiru
Saat senyuman hanya menjadi sebuah kenangan
Saat harapan semakin tertinggal jauh di belakang
Saat Tuhan memerintahkanku dengan cara-Nya sendiri
Maka saat itulah aku akan berhenti untuk mencintaimu

October 20, 2014

Ajari Aku Part 1

Kau mengajarkanku mengenal cinta
Menguatkan aku terus melangkah
Tak ingin kau tersakiti
Coba tuk selalu ada
Tetap bertahan terus menjagamu
Langkahku terhenti tepat di depan pintu masuk Stasiun Gambir. Sejenak aku membalikkan badan, mencari sumber suara yang baru saja memberi dorongan bagiku untuk melakukan hal yang sepertinya mustahil.
Suara itu… darimana asalnya?
Nada dering telepon?
Tapi, tidak ada seorang pun yang terlihat sedang menerima telepon di dekatku.
Atau alunan musik dari iPod?
Tapi, tidak terlihat juga seseorang yang sedang memakai earplug di sini.
Aku mengeleng-gelengkan kepala.
“Ayolah, Tania. Stop berimajinasi gila kayak gitu.” Aku berbisik lirih pada diri sendiri lalu kembali melanjutkan langkah menuju pintu peron, tempat perhentian kereta api yang akan aku tumpangi menuju Yogyakarta.
Sejenak, aku merasakan getaran yang berbeda dalam hati. Kenapa suara itu sepertinya terus menggema di kepalaku?
Mustahil. Sepertinya terlalu mustahil kalau aku mengharapkan sebuah pertemuan sederhana dan manis di sini. It’s been ten years. Yah, rasanya dalam waktu selama itu aku bisa dengan cukup bangga merentangkan kesepuluh jari tangan kalau nominalnya melambangkan kelanggengan hubunganku bersama seseorang. Tapi nyatanya, sepuluh tahun yang kumaksud kali ini adalah nominal atas sebuah perpisahan, kehilangan, kesedihan, penasaran atau apapun itu namanya yang sudah berakar dalam hati. Sebenarnya aku mungkin bisa saja mengatakan dengan mudah kalau aku sudah tidak lagi mengingatnya, tapi kenapa suara itu seperti mencabik-cabik ingatan masa laluku dan menarik beberapa robekan itu pada sesuatu yang seharusnya tidak lagi kuingat?
“Randu… kamu lagi apa?”
***
Lima belas tahun yang lalu…
“Tania, minggu depan aku mau pindah dari sini.”
Suara bocah laki-laki yang mengenakan kaos putih bertuliskan Real Madrid di sisi depannya membuatku sedikit tersentak.
“Pindah? Kemana? Pindah rumah? Atau pindah sekolah?”
“Dua-duanya. Ke Samarinda. Itu jauh nggak ya?”
“Hah?” Aku menutup mulut dengan kedua tangan. “Samarinda? Itu kan…” Sejenak aku terdiam sambil berusaha mengingat tugas hapalan provinsi beserta ibukotanya yang terakhir kali kuselesaikan dengan nilai A+ sebelum ujian semester satu bulan yang lalu. Randu hanya menatapku heran. “Samarinda itu di Kalimantan, jauh banget dari sini. Tapi timur atau tengah ya? Eh, tunggu dulu. Kok kamu mau pindah kesana?”
“Papa dipindahin tugas kesana. Jadi, aku, Mama sama Kak Anggi juga harus ikut.”
“Kenapa baru bilang sekarang?” Aku duduk sambil menekuk lutut di dekat ayunan.
“Hm…” Randu menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Kamu nggak marah kan?” Ia menyunggingkan sebuah senyum yang menurutku lebih tepat disebut cengiran.
Aku menggeleng. “Nggak, kenapa harus marah? Aku cuma bingung, nanti tiap liburan semester, siapa yang nemenin aku main di sini?” Tanyaku polos.
Wajah Randu berubah cemas. “Mungkin udah waktunya kamu kenalan sama anak-anak lain yang tinggal di asrama ini. Siapa tahu bisa jadi teman main kamu nanti.”
“Anak-anak lain? Dion sama Rangga? Nggak mau ah!” Pekikku. “Mereka jahat. Kamu nggak ingat gimana terakhir kali mereka gangguin aku waktu aku jatuh dari sepeda karena dikejar-kejar anjing di depan asrama? Bukannya nolongin, mereka malah ledekin aku. Pokoknya aku nggak mau ah.” Suaraku berubah serak. Entah kenapa tiba-tiba aku begitu merasa takut. Padahal hari masih sore, padahal aku tidak sendiri, padahal…
“Jangan nangis dong, Tania.” Randu menepuk-nepuk bahuku perlahan. “Ya udah kalau kamu nggak mau main sama mereka, malah lebih bagus sih sebenarnya. Aku juga nggak mau kamu main sama mereka kalau nggak ada aku, nanti nggak ada yang jagain kamu kalau kamu digangguin lagi.”
***
“Tania…” Seorang pria menyerukan namaku dari arah pintu keluar Stasiun Tugu Yogyakarta. “Hai, Sayang.” Ia lalu menghampiriku dengan wajah sumringah.
“Hai, tuan-muda-yang-suka-protes. Apa kabar?” Sapaku ramah sambil menggenggam jemarinya.
“Tuh kan kamu, baru juga sampai di sini udah rese aja.”
Aku tertawa mendengar protesnya. “Kamu memang suka protes kan? Tuh belum apa-apa udah protes.”
Ia menghela napas sambil memasang wajah innocent. “Oke, mulai sekarang kadar protesnya bakal aku kurangin tapi dengan satu syarat.”
“Apa?” Tanyaku menelisik.
“Nanti malam dinner bareng aku.” Ucapnya centil sambil mencubit pipiku.
Aku tidak menjawab. Hanya bergelayut manja pada lengannya.
“Ya udah yuk, Eyang udah nungguin kamu di rumah.”
Baru saja aku ingin melangkahkan kaki, tiba-tiba seseorang menabrakku hingga hampir terjatuh.
“Wah, Mas, hati-hati dong. Pacar saya hampir jatuh nih.”
“Maaf, maaf, Mbak, Mas. Saya nggak sengaja.” Ucap si penabrak yang ternyata seorang pria itu dengan panik.
“Udah, Sayang, aku nggak apa-apa kok.”
Sejenak tatapan kami beradu. Iya, tatapanku dengan si pria penabrak itu. Entah kenapa wajahnya begitu familier bagiku, padahal aku sangat yakin kalau kami belum pernah bertemu sebelumnya. Aku menatap matanya semakin dalam, seolah ada magnet yang memang sengaja ia pancarkan untuk menarik perhatianku.
“Ya udah, yuk, Sayang.” Aku pun lalu berbalik. Meninggalkan pria penabrak itu yang tampak masih mematung di depan pintu keluar Stasiun Tugu. Ia masih terus memandangiku, aku pun begitu.
***
“Ini hari terakhir kamu tinggal di asrama. Kamu nggak sedih pergi dari sini?” Tanyaku sambil meyendok satu cup es krim cokelat yang baru saja kubeli bersama Randu saat melewati gerbang taman tadi.
“Ya pasti sedih dong. Aku lahir di sini, besar di sini. Bahkan sekarang aku udah kelas 5 SD. Tanggung banget kan pindahnya, padahal tahun depan juga aku udah tamat.”
Aku hanya bergumam sambil memandangi Randu yang sesekali melemparkan batu kecil ke arah kolam di tengah taman.
“Kalau nanti kamu udah pergi, kamu nggak bakal lupain aku kan? Kita masih temenan kan?” Tanyaku lagi dengan sedikit ragu.
Randu justru tertawa hingga bahunya terguncang.
Tatapanku berubah heran. “Ih, malah ketawa. Emang ada yang lucu?”
“Pertanyaan kamu, lucu.” Ia kembali tertawa. “Mana mungkin aku bisa lupa sama kamu. Kamu itu sahabat aku dari pertama kali aku bisa semuanya. Pertama kali bisa main bola, pertama kali bisa naik sepeda, pertama kali bisa berenang, pertama kali bisa main layangan. Bahkan kamu orang pertama yang ajarin aku cara buat lampion terus gimana terbanginnya.”
Aku tersenyum malu. “Secara nggak langsung kamu mau bilang aku kayak anak laki-laki ya?”
“Bukan, bukan itu. Maksud aku, kamu anak yang mandiri.”
Hening. Beberapa saat kemudian, kami sama-sama terdiam. Seolah sedang bercengkerama dengan pikiran masing-masing.
“Nanti kalau aku udah nggak tinggal di sini, kamu jangan main sama Dion atau Rangga ya? Aku takut nanti mereka jahatin kamu.”
Kali ini justru aku yang tertawa. “Kamu tahu nggak, sebenarnya aku nggak pernah takut sama Dion ataupun Rangga. Aku cuma sering sebal lihat mereka yang sering main keroyokan. Apa susahnya coba buat baik sama orang? Tapi kayaknya setelah kamu pergi nanti aku bakal jarang liburan kesini deh.”
“Loh, kenapa?”
“Nggak tahu. Beda aja rasanya.”
“Oh iya, aku ada sesuatu nih buat kamu?”
“Apa?”
Randu merogoh sesuatu dari dalam sakunya.
“Nih, buat kamu.”
Mataku berbinar. Sebuah gelang yang terbuat dari ranting-ranting halus yang sudah dikeringkan lalu dijalin dengan beberapa kancing berwarna senada, warna kulit pohon.
“Wah, bagus banget.”
“Aku buat sendiri loh.”
“Ah, masa? Sejak kapan kamu bisa buat kayak gini?”
“Sejak kemarin. Aku lihat di buku kesenian Kak Anggi, tapi nggak sebagus yang di gambar sih. Sebenarnya aku buat dua, satu buat kamu, satu buat aku. Tapi, masa anak laki-laki pakai gelang kayak gini? Jadinya yang satu lagi aku simpan aja di rumah.” Ujarnya sambil mengaitkan kedua ikatan kancing gelang melingkari pergelangan tanganku. “Bagus nggak?”
“Bagus banget. Aku suka.” Aku berdeham sejenak. “Nanti malam ke halaman belakang yuk, kita buat lampion lagi sama Eyang. Nanti aku buatin satu untuk kamu yang agak kecil, biar bisa kamu bawa kesana.”
“Sip.” Jawab Randu sambil mengangguk dengan mantap.
***
“Maaf ya, Sayang, lama nunggunya.” Dion menghampiriku yang sejak sepuluh menit lalu berdiri di pelataran gedung Creative Organizer. Tadinya ia mengajakku masuk ke dalam bangunan yang menjulang megah ini, tapi aku menolak dengan alasan ingin menikmati udara segar Yogyakarta. Entah kenapa aku begitu merindukan suasana pagi di sini.
“Iya, nggak apa-apa.” Jawabku sambil masuk ke dalam mobil sesaat setelah ia membukakan pintu. “Itu apa, Sayang?”
“Ini konsep-konsep acara nikahan yang mau aku tawarin ke klien nanti. Mereka minta tema yang gotic gitu, jarang-jarang loh acara resepsi mau pakai tema gotic.”
“Yah, selera orang kan beda-beda, Sayang. Mungkin pengen terlihat klasik gitu.”
Dion tersenyum. “Kalau acara nikahan kita nanti pakai tema apa ya?”
Aku meliriknya dengan tatapan geli. “Harusnya sebagai seorang wedding organizer, kamu bisa dong menerjemahkan kemauan calon pengantin wanitanya.”
“Wah, kayaknya aku dapat lampu hijau nih.” Kali ini ia yang menatapku genit.
Aku membalas tatapannya dengan membuang muka sambil bersedekap menghadap depan dengan menyembunyikan wajah yang tentunya sudah bersemu merah.
***
“Nah, selesai.” Aku lalu memberikan dua buah lampion berukuran kecil dengan kertas pembungkus biru pada Randu. “Kamu mau yang mana?”
“Aku mau yang ini aja deh. Oh iya, digantungin ini aja di dalamnya.” Randu mengeluarkan sebuah gelang dari dalam sakunya. Gelang yang sama seperti yang ada dipergelangan tanganku saat ini.
Aku tersenyum lebar. “Wah, bagus-bagus.”
Randu mengikatkan kaitan gelang pada kerangka bawah lampionnya. “Gimana? Jadi makin cantik kan?”
Aku mengangguk senang.
“Tania.” Seru Randu.
Aku menoleh dan mendapati tatapannya berbeda dari biasa.
“Aku bakal tetap jadi sahabat kamu kan?” Wajah Randu berubah sangat serius. Bahkan aku belum pernah melihatnya seperti ini. Ia sampai membuatku gagal tertawa, padahal aku sudah sangat geli melihat tingkahnya.
“Ya iyalah, Ndu. Kamu bakal tetap jadi sahabat aku kok, jadi teman baik aku, pokoknya aku nggak bakal lupa deh sama kamu. Asal kamu juga nggak lupa ya sama aku, awas loh kalau sampai lupa. Aku bakal hukum kamu dengan beli seratus bungkus es krim cokelat.”
“Kau mengajarkanku mengenal cinta, menguatkan aku terus melangkah. Tak ingin kau tersakiti, coba tuk selalu ada. Tetap bertahan terus menjagamu.” Tiba-tiba Randu menggumamkan sebuah lagu yang terdengar asing di telingaku. Entah karena aku memang tidak mengenal lagu itu, atau karena suara Randu yang menjadikan lagu itu tidak enak untuk didengar.
“Ih, itu lagu?”
“Iya, kenapa?”
“Suara kamu bagus, tapi lebih bagus lagi kalau kamu diam. Kasihan pecipta lagunya, gara-gara kamu yang nyanyi bisa-bisa albumnya nggak laku.” Ujarku lalu tertawa.
“Ah, biarin. Yang penting aku suka lagunya.”
“Emang itu lagu siapa? Gaya banget kamu nyanyi lagu cinta-cintaan, masih kecil juga.”
“Nggak tahu sih. Tadi dengar dari iPod Kak Anggi. Kamu lebih kecil dari aku, masih adik-adik juga.”
“Biarin, yang penting aku nggak suka nyanyi lagu gituan.”
Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar diikuti rintik-rintik hujan yang turun tanpa dikomando. Dengan panik, aku dan Randu menyelamatkan beberapa lampion yang sudah kami buat bersama. Eyang lalu memanggilku dari pintu dapur begitu juga Kak Anggi yang meneriakkan nama Randu dari pintu belakang rumahnya.
to be continue...

Aliran Yang Berhembus

Bagaikan air yang mengalir
Begitulah hatiku, begitulah cintaku
Ia hanya mengalir bersama waktu
Ia hanya mengalir di dalam arus yang deras
Tanpa pernah ia tahu hilir mana yang akan menjadi tujuannya
Tanpa pernah ia tahu bendung mana yang akan ia lewati
Bagaikan angin yang berhembus
Begitulah jiwaku, begitulah asaku
Ia berhembus dari tempat bertekanan rendah
Menuju tempat bertekanan tinggi
Ia ingin bebas tanpa tekanan manapun
Tapi kenyataan hidup justru membawanya
Pada jurang-jurang gelap penuh tekanan di tiap sisi dindingnya
Ia berhembus dari puncak-puncak pencakar langit
Menuju lembah-lembah datar di bawah sana
Berusaha menemukan sosok baru
Berusaha menemukan tempat baru
Yang bisa menikmati belainya sebelum alirannya kembali berhembus
Pada arah yang tak pernah ia mengerti
Bersama waktu yang tak pernah ia pahami

October 10, 2014

Balkon Cinta Part 2

continue story from Balkon Cinta Part 1
“Kak, Kak, Kakak udah jadian sama Kak Bara?” Nurul tiba-tiba saja berlari ke arahku yang sedang berdiri di sudut balkon.
Aku mengernyit. “Oke, sampai ketemu minggu depan ya. Nanti aku hubungi lagi, Ra, see you.” Setelah menyentuh tombol merah pada sisi kanan ponsel, aku langsung menoleh pada Nurul yang sudah memasang raut wajah aneh.
“Ada apaan sih tiba-tiba nanya yang aneh-aneh? Orang lagi terima telepon juga, bikin kaget aja teriak-teriak gitu.”
Ia hanya menyeringai santai. “Maaf deh... eh tapi jawab dulu yang Nurul tanyain tadi, Kakak udah jadian sama Kak Bara?”
“Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu? Kepo ah.”
“Nggak apa-apa sih, pengin tahu aja.”
“Udah…” Jawabku menggantung.
“Iya?” Wajah Nurul menampilkan raut kecewa. “Serius, Kak?”
“Nggaklah, becanda doang. Semenjak lebaran tahun lalu, habis kamu kasih pin BB sama nomor telepon Kakak ke dia itu emang sempat deket sih. Yah, as friend.”
Raut kecewa di wajah Nurul perlahan pudar tapi aku masih terus memandangi wajahnya dengan seksama. Aku tertegun. Nurul masih diam, sesekali menghela napas sambil menopang dagu. Anak ini suka Bara? Batinku.
Harus kuakui semua berjalan sangat cepat, jauh lebih cepat dari semua perkiraanku. Bahkan tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali Dean, sahabatku sejak sama-sama duduk di bangku SMA. Aku dan Bara memang pernah dekat sejak kami masih duduk di bangku sekolah dasar sehingga tidak menyulitkan kami untuk kembali berkomunikasi meskipun sudah kehilangan kontak selama hampir delapan tahun. Dan entah siapa pula yang memulai, akhirnya aku dan Bara resmi menjadi sepasang kekasih beberapa hari semenjak malam itu… malam takbir, malam dimana mataku dan matanya saling menaut seolah menyampaikan isyarat… aku merindukanmu.
Dan seperti yang kukatakan bahwa semua berjalan dengan sangat cepat tanpa dapat kucegah, secepat itu pulalah hubunganku dan Bara berakhir. Istilah LDR atau Long Distance Relationship menjadi alasan utamaku mengakhiri hubungan itu. Yah, Medan-Palembang tentu saja tidak semudah yang sebelumnya kubayangkan. Tadinya aku berpikir kehadiran Bara mampu menarikku jauh dari masa lalu yang kelam itu, ternyata aku salah. Semakin aku mencoba berlari, hatiku justru semakin lemah. Aku justru semakin mengingatnya. Apalagi jarakku dan Bara yang cukup jauh, membuatku sulit untuk mendapat bahkan satu pelukan saja yang mampu menenangkan saat kenangan pahit itu tiba-tiba menjerat langkahku. Tapi bukan berarti pula aku menjadikan Bara sebagai pelampiasan, tidak. Aku memang menyayanginya, hanya saja saat itu mungkin aku menyayangi Bara sebagai seorang teman berbagi.
Ah, lupakan soal hubunganku dengan Bara yang bahkan hanya berlangsung tidak mencapai satu bulan itu. Mataku masih tertuju pada Nurul. Sejak kapan ia memendam rasa untuk Bara? Kalau memang ia menyukai Bara, lantas kenapa setahun yang lalu ia justru membuka jalan bagi Bara untuk mendekatiku?
“Kamu… suka Bara?” Tanyaku perlahan.
Nurul tercekat mendengar pertanyaanku. Tapi buru-buru ia menghindar.
“Hah? Kakak ada-ada aja deh.” Ia tertawa kecil tapi aku tetap masih bisa melihat sikap canggunggnya. “Mana mungkin aku suka sama Kak Bara. Emangnya dia mau sama anak SMP kayak aku? Lagian juga Kak Bara itu kan playboy. Sering gonta-ganti cewek. Mantannya banyak. Nggak mungkinlah dia suka sama aku.” Ujar Nurul cepat seperti rentetan senjata mesin. Aku hanya mengangguk beberapa kali sambil menatap tidak percaya. Rasanya sungguh tidak mungkin kita mengetahui banyak hal tentang seseorang kalau memang kita tidak memiliki perasaan apapun padanya.
“Ah, Kak Yossi.” Nurul merengek manja. “Hm, Kakak nggak jadian sama Kak Bara kan?”
“No, no this time.”
“Berarti kemarin-kemarin pernah dong? Atau jangan-jangan Kakak punya rencana buat jadian sama dia ya?”
“Ih, kamu nih kepo banget ya. Nggak, pokoknya sekarang Kakak nggak jadian sama dia. Emang kenapa sih?”
“Kak Bara itu sebenarnya ganteng ya, Kak?” Ujar Nurul lirih. Tatapannya berbinar menerawang ke atas, seakan ada percik-percik meletik dari bola matanya. Aku terenyak. Binar itu. Senyum itu. Batinku tiba-tiba terkoyak. Aku kenal betul tatapan itu, senyum itu, seluruh bahasa tubuh yang Nurul lakukan. Mengingatkanku pada diriku sendiri beberapa tahun silam, saat aku masih merasakan benih-benih jatuh cinta padanya yang kini entah dimana, terus seperti itu, sebelum hancur berkeping-keping dihempas kenyataan pahit.
“Tapi sayang, nggak boleh dicintai.”
Dadaku terasa sesak. Percik cinta di mata Nurul menyambar-nyambar hatiku, siap membakarnya. Semakin lama, semakin sulit menarik napas. Aku langsung bangkit dari dudukku dan sedikit menjauhi posisi Nurul menuju pinggiran balkon. Pandanganku mengabur. Air mataku siap tumpah. Tapi kenapa terasa berbeda? Dulu, setiap kali aku akan menangis, hanya ada satu sosok yang menaungi sudut pikirku, yah, dia yang kini berada sangat jauh. Tapi sekarang, kenapa pikiranku bercabang dan terbelah menjadi dua? Kenapa tiba-tiba ada sosok Bara? Lantas, air mata apa ini? Mungkinkah aku... mungkinkah aku mulai menyukai Bara lebih dari sekedar teman? Mungkinkah aku mulai terkesan dengan semua yang ia lakukan selama setahun terakhir hanya untuk kembali mendapatkan hatiku? Kenapa kini sosok Bara yang terlihat jelas di kedua bola mataku saat air mataku telah bersiap jatuh?
***
Udara malam ini terasa begitu menusuk-nusuk setiap celah poriku. Apakah malam-malam yang hadir di Bandung memang selalu sebeku ini? Seperti biasa, aku tidak pernah lupa membuat segelas cokelat hangat ketika udara sedang tidak bersahabat. Bagiku, di samping manfaatnya yang baik untuk kesehatan, cokelat hangat juga sedikit banyak bisa memperbaiki suasana hati apabila sedang buruk. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang mengundang tawa. Hei, ini malam takbir! Dan di luar sana gerimis masih mengguyur dengan manja. Pikiranku kembali menerawang pada malam takbir satu tahun yang lalu. Bagaimana Kak Rina dan Nurul saling meledekku soal Bara. Bagaimana Nola sibuk mengajakku bermain kembang api. Bagaimana aku mendadak beku saat Bara pertama kali mengirim sebuah pesan setelah hampir delapan tahun lamanya kami tidak pernah sekalipun berkomunikasi. Bagaimana aku menatap binar matanya kala itu. Tanpa sadar aku menyunggingkan sebuah senyum. Tapi malam ini semua terasa berbeda. Tidak ada Kak Rina dengan segala kejahilannya. Pekerjaan barunya sebagai perawat membuat ia harus melewatkan malam takbir tahun ini di rumah sakit. Dan juga tidak ada Nola dengan segala tingkah menggemaskannya. Malam takbir tahun ini dilewatkan Nola dan keluarganya di kediaman Kakek dan Nenek dari pihak Mamanya, yakni di Aceh. Sementara aku, yah, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku beserta keluarga selalu merayakan Hari Raya Idul Fitri di kediaman Nenek dari pihak Ibu, iya, Bandung. Sebenarnya bukan karena permasalahan jarak antara domisiliku beserta keluarga yang berada di Medan dengan Nenek dari pihak Ayah yang berada di Jakarta atau Nenek dari pihak Ibu yang berada di Bandung, hanya saja aku memang lebih menyukai ketenangan tinggal di tengah-tengah perkebunan teh seperti ini dibandingkan hiruk-pikuk kota yang begitu gemerlap. Tapi bukan berarti kami membedakan antara keluarga Ayah dan Ibu. Beberapa tahun yang lalu kami juga merayakan Hari Raya Idul Fitri di kediaman Nenek dari pihak Ayah.
“Yossi, kok melamun?” Suara Nenek mengagetkanku.
“Hah? Eh, nggak kok, Nek. Ini Yossi lagi buat cokelat hangat.”
Nenek menggeleng heran. “Nenek lihat sendiri kok kalau kamu melamun, tuh cokelatnya juga udah hampir dingin nungguin kamu. Mikirin apa, Sayang?”
Aku tersenyum kikuk. “Nggak, Nek, nggak mikirin apa-apa kok. Hm… pas buka puasa tadi Nenek cuma minum teh aja kan? Belum makan kan? Ya udah sekarang Nenek makan dulu ya, Yossi mau ke depan dulu.”
Sambil membawa segelas cokelat hangat yang baru saja kubuat, aku pun beranjak dari dapur. Ah, sepertinya benar kata Nenek. Cokelat hangat ini pun sudah berubah dingin karena terlalu lama menungguku.
Tiba-tiba langkahku terhenti ketika akan membuka pintu kaca yang membatasi ruang tamu dan balkon samping rumah Nenek.
“Justru karena itu, sebenarnya Nurul agak nyesal sih ngasih nomor telepon Kak Yossi ke Kak Bara.” Suara lirih Nurul terdengar dari balik pintu.
“Jadi kenapa harus dikasih waktu itu?”
Ah, itu suara Lila. Adikku satu-satunya. Tapi kenapa mereka membicarakan antara aku dan Bara? Aku lalu merapat ke balik pintu dan berusaha bersembunyi sambil mendengarkan percakapan mereka.
“Habis Kak Bara yang minta, Nurul nggak enak dong kalau nolak. Gara-gara Kak Yossi, sekarang Nurul jadi jarang komunikasi sama Kak Bara. Biasanya Kak Bara rajin telepon atau sms Nurul, semenjak tahun lalu nggak pernah lagi.”
“Nurul, kamu jangan nyalahin Kak Yossi dong. Kan kamu sendiri yang ngasih nomor itu tanpa minta izin dari Kak Yossi dulu. Kalau sekarang perhatian Kak Bara jadi beralih ke Kak Yossi, itu bukan salah Kak Yossi dong.”
“Nggak, Kak Lila, Nurul bukan nyalahin Kak Yossi, tapi…”
“Kamu suka sama Kak Bara kan?”
“Bukan suka lagi tapi kami pernah jadian.”
Dengan refleks aku menutup mulut yang hampir saja mengeluarkan suara. Benarkah itu? Benarkah Bara dan Nurul pernah memiliki hubungan lebih dari sekedar teman? Tapi apa mungkin? Nurul bahkan masih duduk di kelas tiga SMP saat ini. Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi yang masih bercampur antara terkejut dan tidak percaya. Seandainya itu benar, berarti Bara pernah memiliki hubungan lebih dari sekedar teman tidak hanya denganku? Tapi juga dengan Hana dan Nurul? Aku masih tertegun tidak percaya.
“Gini deh, Nurul, masalah kamu pernah jadian sama Kak Bara itu urusan kamu deh. Yang penting sekarang Kakak nggak mau kamu jadi nyalahin Kak Yossi dan bilang kalau Kak Yossi merebut perhatian Kak Bara dari kamu. Kita kan masih sama-sama SMP, belum waktunya mikirin hal-hal kayak gitu. Kalau Kak Yossi ya wajar dong, dia udah tamat sekolah. Udah ah, Kakak nggak mau bahas ini lagi.”
Sejenak aku tersenyum mendengar pembelaan Lila padaku. Aku tidak menyangka adik semata wayangku yang bahkan baru berusia tiga belas tahun itu bisa berpikir sedemikian dewasa dan menasihati Nurul yang meskipun berusia satu tahun di atasnya tapi tetap saja bertutur sebagai adik sepupu.
Sebelum Lila mendekati pintu kaca, aku sudah terlebih dahulu berlari ke dapur sambil terus memikirkan semua perkataan Nurul tadi.
Baru saja aku meletakkan gelas berisi cokelat yang tidak lagi hangat itu di atas meja, lalu terdengar lagu Maybe milik Secondhand Serenade yang menandakan sebuah panggilan masuk di ponselku. Nama BARA tertera pada layar yang berkelip genit itu. Entah kenapa aku begitu malas mengangkat telepon itu. Setelah menarik napas panjang dan berpikir beberapa kali, aku menyentuh tombol hijau pada sisi kiri layar dan mendekatkannya ke telinga.
“Assalamu’alaikum…” Ucapku menggantung.
“Wa’alaikumussalam. Apa kabar Yossi? Kamu di rumah Nenek kan?”
“Alhamdulillah baik. Iya, udah hampir sebulan di sini. Sekalian nemenin Nenek sih sebenernya, ini bulan puasa pertama tanpa Kakek. Kamu apa kabar?”
“Baik juga.” Sejenak Bara terdiam. “Aku lagi di rumah Tante Juni, baru tadi sore sampai. Tapi kamu nggak kelihatan.”
Aku terenyuh. Tidak tahu harus mengartikan apa ucapan Bara barusan. Tiba-tiba semua ucapan Nurul tentang Bara tadi terngiang di telingaku. Tentang Bara dan Nurul, tentang Bara dan Hana, tentang Bara dan… aku!
“Malam takbir tahun lalu kamu main kembang api sama adik sepupu yang kecil itu. Malam ini kok nggak?”
“Emangnya kamu nggak lihat di luar masih gerimis? Lagian juga malam takbir kali ini Nola nggak di sini, dia di rumah Nenek dari Mamanya.”
“Oh gitu. Terus kamu nggak mau duduk di balkon kayak biasanya gitu?”
“Ngapain juga? Di luar dingin.” Jawabku dengan berpura-pura ketus.
“Bukannya kamu suka hujan? Yah, bisa pakai sweater kan? Atau bisa sambil minum cokelat hangat juga kan?”
Kali ini Bara benar-benar membuatku tercengang. Bagaimana mungkin ia masih mengingat semua kebiasaanku? Bahkan kebiasaan sekecil itu? Aku membalikkan badan ke arah balkon, tidak peduli meskipun Nurul sedang berada di sana karena aku tidak akan membenci Nurul meskipun setelah mendengar semua yang ia ucapkan tadi. Tidak, aku bahkan tidak akan mungkin marah padanya. Bagiku, ia hanya masih belum cukup dewasa untu memahami perasaan seperti apa yang kurasakan saat ini.
Begitu aku menarik pintu balkon dan melangkahkan kaki keluar, Nurul pun masuk ke dalam rumah. Entahlah, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk berbicara dengannya.
“Yossi… Yossi?” Suara khas Bara melalui sambungan telepon kembali menyadarkanku yang kini sudah duduk pada bangku-bangku kayu di pinggiran balkon, meskipun sempat sedikit melamun.
“Ah, iya. Maaf, kenapa tadi?”
“Kenapa apanya? Aku nggak ada bilang apa-apa kok. Padahal baru mau minta kamu duduk di balkon, nggak tahunya udah datang sendiri tanpa perlu diminta. Jodoh kali ya?”
Aku tersenyum lalu menundukkan kepala. “Ngaco kamu.”
“Nah, kalau senyum gitu kan makin cantik.”
Tepat pada saat itulah tanpa sengaja aku menoleh ke arah rumah Tante Juni.
Then, he’s there.
He smile and look at me… oh, no, he stare at me!
                                                                                                            to be continue…