September 20, 2014

Simfoni Hati Seorang Sahabat

Halo kenangan, apa kabarmu setelah hampir dua tahun berlalu dan kita tidak lagi saling menatap? Tanpa sengaja kita kembali bertemu lewat sebuah media sosial namun semua masih tetap terlihat sama, lagi-lagi aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan, tanpa bisa menyapa, tanpa kamu yang tahu bahwa aku memperhatikanmu lewat sisi gelapku. Kenangan, aku turut bahagia atas semua canda tawa yang keluar dari raut wajahmu. Tapi apakah itu bahagiamu yang sesungguhnya? Separuh hatiku meragu. Sedangkan separuh lainnya berseru bahwa kamu memang telah jauh lebih bahagia di sana, tanpaku. Bolehkah aku sedikit bertanya, apakah dulu aku hanya menjadi sebuah belenggu bagimu? Hingga kamu pergi tanpa alasan. Apakah dulu aku hanya sekedar pelarian semata? Yang akhirnya kamu tinggalkan sesuka hati. Apakah dulu aku hanya sebuah tempat yang bisa kamu jadikan persinggahan? Hingga akhirnya kamu berlalu bersama waktu yang terasa begitu cepat.
Kenangan, tanpa sadar sebuah perasaan menyergapku. Membuatku seolah terjepit dan begitu sulit bernapas. Aku tidak mengerti perasaan macam apa itu, yang kutahu hanyalah perasaan itu datang setelah aku melihat senyum indahmu. Ada luka yang menyayat hati ketika kulihat kamu begitu bahagia bersamanya. Bukan, luka ini bukan dendam. Luka ini hanyalah sebuah penyesalan mendalam yang kurasakan karena mungkin saja dulu aku tidak bisa membuatmu sebahagia itu, aku tidak mampu menjadi alasan atas semua senyum indahmu, aku tidak bisa selalu menjadi pendamping yang membahagiakanmu. Di lain sisi, aku juga turut bahagia, sangat amat bahagia melihat hidupmu yang telah jauh lebih baik, meskipun aku tidak pernah tahu apakah itu bahagiamu yang sesungguhnya atau hanya sebuah hal semu.
Sekali lagi kenangan, aku ingin sedikit bercerita tentang diriku, hidupku dan cintaku. Semua mungkin sudah terasa jauh membaik dibandingkan satu setengah tahun yang lalu. Aku mulai membuka lembaran baru setelah melangkah dari dunia putih abu-abu. Tahukah kamu masa putih abu-abu terasa begitu datar bagiku. Entah kenapa aku lebih merindukan masa putih biru yang pernah kulalui bersamamu. Tapi, bukan berarti aku masih mengharapkanmu kembali. Aku merindukanmu, sebagai sosok seorang sahabat dan teman berbagi, bukan sebagai cinta yang ingin kugenggam kembali. Masa putih biru ternyata memiliki lebih banyak kesan, ia menyimpan berbagai kenangan yang begitu sulit kulupakan. Di sana kita masih cukup lugu untuk mengenal akan cinta, di sana kita masih cukup polos untuk mengenal akan patah hati. Yang ada hanyalah sekumpulan rasa nyaman yang mendekatkan kita hingga menjadi sepasang sahabat. Kenangan, mungkin kini hidupku telah jauh membaik. Hatiku juga mulai berangsur-angsur pulih, sedikit demi sedikit waktu mampu mengobati luka itu. Meskipun bekasnya belum hilang tapi setidaknya luka menganga itu telah tertutup sangat rapat dengan rasa perih yang tidak begitu menyakitkan. Aku berterima kasih atas semua rasa yang pernah kamu tanamkan, kamu mengajarkan aku segalanya, segala hal yang awalnya tidak pernah kita mengerti, kita jalani bersama. Saling berbagi, saling melindungi, saling mengasihi. Indah bukan persahabatan yang pernah kita jalin? Tidak ada kata menyesal, Kenangan, tidak ada. Yang ada hanyalah pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kupetik dari masa lalu.



salam rindu terhangat dariku,
seseorang yang pernah kamu anggap ‘sahabat’

No comments: