September 27, 2014

Balkon Cinta Part 1

            Rinai hujan menari-nari dengan riang bersama gema takbir yang berkumandang dari berbagai penjuru masjid. Tidak terasa, tiga puluh hari sudah berlalu dengan sangat cepat. Ada peraduan antara rasa bahagia yang menyatu dengan kesedihan. Bahagia, mendapati Syawal yang kian mendekat. Seluruh kehidupan di muka bumi dengan tidak sabar menanti kehadiran bulan penuh kemenangan itu. Juga sedih, melepas kepergian bulan suci Ramadhan yang begitu penuh berkah ini. Langit pun seperti enggan berpisah dengannya, lihatlah rintik hujan yang belum juga reda sejak sore hari tadi.
Aku masih memandangi awan gelap yang menyelimuti langit. Apakah gerimis akan terus turun hingga besok pagi? Gumamku dalam hati. Mungkinkah semesta ikut bersedih malam ini?
“Yossi, kok sendirian aja sih di luar?” Kak Rina menepuk bahuku. “Malam takbir jangan ngegalauin yang nggak perlu digalauin deh.”
Aku menoleh. Sedikit terkejut mendapati kehadirannya yang sudah duduk di belakangku.
“Hah? Siapa yang galau? Nggak ah, sok tahu deh.”
“Nggak usah bohong sama Kakak, kelihatan tahu muka kamu murung melulu.”
Aku tertawa kecil. “Kakak mulai deh ngaco banget ngomongnya. Nggak kok, aku nggak galau. Emang apa yang harus digalauin?” Aku menggeleng heran.
“Kali aja masih ingat sama…” Tiba-tiba Nurul muncul dari balik pintu. “Eh lupa, nggak boleh sebut-sebut namanya lagi kan?” Ia mengerling jahil. “By the way, kalau ada yang di depan mata kenapa harus nungguin yang jauh sih, Kak?”
“Depan mata? Maksudnya?” Tanya Kak Rina penasaran.
“Kak Bara!” Pekik Nurul disambung dengan tawanya.
“Hah? Ada-ada aja deh. Bara siapa? Bara keponakannya Tante Juni?”
“Emangnya Bara yang mana lagi yang Kakak kenal selain dia?”
Aku mengernyit. “Nggak ada sih, eh tapi masa dia? Ngobrol aja nggak pernah.”
“Oh, jadi Yossi udah mulai cinlok sama Bara ya?” Kak Rina memang tidak pernah mau kalah dengan Nurul dalam hal meledekku. “Menurut Kakak sih dia anaknya baik.”
“Ya iyalah baik kalau nggak sakit.” Sahutku cepat.
“Kakak nggak pernah ngobrol sama dia? Yah, gimana mau ngobrol kalau tiap dia lewat depan rumah sini, Kakak jutek banget. Sapa duluan kek, senyumin kek atau apa kek.”
“Hm, terakhir kali aku ngobrol sama dia…” Aku terdiam sejenak. “Delapan tahun yang lalu deh kayaknya, waktu itu pas masih kelas lima SD. Itu pun karena kita main bareng sama dia.”
“Nah loh, kok masih ingat? Naksir ya?” Kak Rina menyolek daguku.
“Dih, apaan sih?”
“Jujur aja kali, kayaknya dia juga naksir sama kamu…”
“Emang naksir!” Sahut Nurul lagi dengan cepat memotong ucapan Kak Rina. “Kemarin dia minta nomor telepon Kakak gitu deh, ya udah Nurul kasih aja sekalian sama pin BB Kakak.”
“Serius? Ah, Nurul, kok nggak izin dulu sih? Sembarangan aja ngasih-ngasih ke orang. Itu kan privasi.” Omelku.
“Yossi, nggak ada salahnya kan?” Kak Rina mengangguk. “Kali aja emang cocok, yah kalau nggak cocok kan bisa jadi temen.”
Aku terdiam sesaat. “Dari dulu juga emang udah temen kan?” Entah kenapa aku benar-benar merasa kesal. “Bara pernah jadian sama Hana kan?” Tanyaku lagi.
“Ah masa? Kakak kok nggak tahu?” Tanya Kak Rina.
“Ya kali, itu mah udah lama. Dua tahun yang lalu kayaknya. Waktu itu kan Kakak lagi sibuk-sibuknya baru jadian sama Mas Dwi, mana sempat ikutan ngobrol masalah gituan sama adik-adiknya yang mulai beranjak dewasa ini.” Jelas Nurul.
Aku tertawa geli mendengar Nurul menyebutkan kata ‘beranjak dewasa’ itu. “Emangnya kamu udah dewasa? Masih SMP juga.”
Kak Rina pun ikut tertawa.
Nurul tidak menjawab. Dengan wajah cemberut, ia pun masuk ke dalam rumah.
“Ya udah Kakak masuk juga deh, kamu jangan galau-galau melulu ya. Awas ntar kesambet loh.”
“Ngaco.” Ketusku.
Tiba-tiba udara dingin terasa begitu menyelimuti. Mataku lalu beralih memandangi layar ponsel yang kuletakkan di atas meja balkon. Foto itu, foto kita, foto… Ah, ini adalah lebaran pertama yang kulalui semenjak kepergiannya. Sedang apa dia di sana? Bersama siapa dia menghabiskan malam takbir ini? Bodoh! Gumamku dalam hati. Tentu saja dia akan menghabiskan malam ini bersama seseorang yang sudah beberapa waktu menaungi hatinya, bukankah besok hubungan mereka memasuki usia delapan bulan? Benar-benar bodoh! Apa gunanya juga aku menghitung masa hubungan mereka? Apa untungnya bagiku? Hatiku semakin menggerutu. Tanpa sadar jemari mulai bergerak lincah di atas layar sentuh ponsel tersebut. Dengan satu tarikan napas, aku menghapus sebuah folder yang kuberi nama ‘US’, sebuah folder yang menjadi media penyimpanan segala rekam dan potret alur cerita yang pernah kami lalui dulu. Dan dengan satu hembusan napas panjang pula, aku tersenyum setelah menyadari satu-satunya hal terpenting yang menjadi kenanganku dengannya telah benar-benar hilang. Kini, aku tidak akan mendapatinya lagi dimana pun, selain dalam pikiranku.
“Kak Yossi, ayo dong temenin Nola main kembang api.” Seorang gadis kecil dengan potongan rambut sebahu menghampiriku yang masih sedang duduk di pinggiran balkon. Di tangannya tampak beberapa kotak kembang api beragam bentuk.
“Sebentar lagi ya, Sayang, masih gerimis. Nanti nggak kelihatan loh kembang apinya, malah nggak mau nyala kalau kena air.”
Ia tidak menjawab. Hanya sedikit mendongakkan kepala memandangi ujung genting yang masih meneteskan air. Dengan wajah sedikit kesal Nola duduk di sampingku.
“Besok kan lebaran, kenapa harus hujan sih?” Ia bertanya dengan suara khas anak kecil yang terdengar begitu menggemaskan di telingaku.
Aku tersenyum. “Kok ngambek? Ntar hilang loh cantiknya. Mungkin sebentar lagi berhenti. Emangnya Nola nggak suka hujan?”
“Nggak suka, Kak. Hujan itu dingin, apalagi kalau ada petirnya. Nola takut. Sekarang, gara-gara hujan Nola nggak bisa main kembang api.”
Lagi-lagi aku tersenyum mendengar celoteh polos Nola yang mengundang tawa itu. Begitulah Nola, gadis kecil yang usianya bahkan baru memasuki tiga tahun beberapa bulan lalu. Ia memang terkesan manja, selalu memperjuangkan apa yang ia inginkan hingga berhasil mendapatkannya. Tapi bukan berarti ia pemaksa. Nola adalah balita yang berbeda. Ia mampu mengerti penjelasan orang lain ketika memberi alasan mengapa keinginannya tidak boleh atau tidak bisa dipenuhi. Nola juga cukup dekat denganku dibandingkan dengan saudara sepupu yang lain. Ia sering dititipkan ke rumahku oleh kedua orang tuanya yang tidak lain adalah adik bungsu Ibu saat mereka harus pergi ke kantor pada jadwal yang bersamaan sementara asisten rumah tangga mereka sedang pulang ke kampung halamannya. Ibu tentu saja tidak keberatan karena meskipun Nola anak yang sangat aktif tapi ia penurut dan tidak nakal. Aku sendiri senang menjaganya ketika Ibu juga sedang memiliki kesibukan, tapi tentu saja di saat aku tidak sedang memiliki tugas sekolah.
“Kak Yossi, ayo dong temenin Nola main kembang api. Udah berhenti nih gerimisnya.” Nola menjulurkan tangannya melewati sisi genting untuk menampung tetesan air.
Aku memandang langit sejenak. Ya, awan gelap sudah mulai menipis. Bahkan sudah tampak beberapa kelip bintang di salah satu sudut langit.
“Yuk!” Ajakku sambil menarik tangan Nola lalu menggendongnya.
Kami berlari menuju halaman rumah sambil beberapa kali berputar. Tetesan air yang jatuh dari dedaunan dan ranting-ranting pohon mengenai wajahku dan Nola. Beberapa saudara sepupuku yang lain pun ikut berlari ke halaman mendengar tawa kami.
“Sini, nyalain kembang apinya.” Aku melambaikan tangan pada Nola.
Setelah menyalakan beberapa lilin kecil beraneka warna yang kususun di atas bebatuan, Nola dan saudara-saudara sepupuku yang lain mulai menyalakan kembang api mereka. Terima kasih, Nola. Batinku dalam hati. Berkat kepolosan gadis kecil ini, aku sedikit bisa melupakan hal-hal miris yang tidak seharusnya kuingat. Nola membuatku mampu tertawa malam ini, tertawa riang tanpa ada satu halangan pun. Tapi kenapa tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang memperhatikanku?
Suara ponselku yang berbunyi menandakan pesan masuk sedikit mengagetkan. Aku merogohnya ke dalam saku dan menemukan satu pesan baru di BBM. Kusentuh layar ponsel menuju menu BBM, lalu terdiam.
Ternyata ada sebuah new invitation di sana.
Nama yang tertera adalah Bara Pamungkas.
Sejenak aku berpikir, apa yang harus kulakukan? Menyentuh tombol accept, ignore atau… menyentuh tombol accept lalu delete? Ah, Nurul, kenapa harus memberikannya pada Bara? Lagi-lagi aku menggerutu dalam hati. Akhirnya aku memilih menyentuh tombol accept.  Yah, for the sake of basic manner, yes, I accepted.
“Kak, letakin kembang apinya di atas situ dong.” Nola menarik tanganku lalu menunjuk ke salah satu ranting pohon yang agak rendah, tidak jauh dariku.
Aku hanya tersenyum. Ada-ada saja tingkah gadis kecil menggemaskan ini. Setelah membengkokkan beberapa ujung besi kembang api yang sudah menyala hingga membentuk kait, aku menggantungkannya pada salah satu ranting pohon jambu yang belum terlalu tinggi. Nola terlihat sangat senang. Ia tertawa begitu riang. Ketika aku akan beranjak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba aku kembali merasa ada sesuatu yang sejak tadi memperhatikanku. Tapi apa? Atau siapa? Belum sempat aku menoleh melihat sekeliling, ponselku kembali berbunyi menandakan pesan masuk. Lagi-lagi sebuah pesan baru di BBM. Aku sempat berpikir pesan tersebut berasal dari teman-temanku yang mengucapkan selamat lebaran hingga akhirnya…
Bara Pamungkas :
• Senyum gadis kecil itu cantik
• Tapi ternyata senyum kamu jauh lebih cantik ya
• Very glad to see your smile tonight
• Oh iya, Happy Ied Mubarak
Pipiku memanas. Aku tidak tahu harus mengatakan apa setelah membaca sebuah BBM dari orang yang sama sekali juga tidak pernah kusangka akan mengatakan hal itu. Dengan ragu aku menoleh ke arah kanan, tepat ke arah rumah Tante Juni.
Then, he’s there. Stare at me… ah, no, look at me!
Pria jangkung yang mengenakan jersey bola berwarna putih dengan senyum manis melengkung di kedua sudut bibirnya. Aku bahkan tidak tahu jersey klub sepak bola mana yang sedang ia kenakan. Yang kutahu hanyalah, ia sedang melihat ke arahku tepat saat aku juga melihat ke arahnya. And, he smile.    to be continue to Balkon Cinta Part 2

No comments: