August 20, 2014

Tentang Hati

Layaknya bunga yang gugur karena layu, itulah kisahku yang telah berlalu. Layaknya bangkai yang membusuk lalu menyatu bersama tanah, itulah harapku yang telah sirna. Tesentak tidurku saat peristiwa di tahun yang silam kembali membawa suasana duka dalam pekatnya mimpi. Semua berubah hening. Sunyi. Senyap. Bilamana waktu akan berhenti mempermainkanku? Bilamana Tuhan akan menyelamatkan hatiku dari rasa pesakitan ini? Saat air mata menjadi sesuatu yang tidak ternilai harganya, saat isak tangis menjadi sesuatu yang mampu membuatku berdekup, saat semua harus kulepas dalam hitungan detik. Semua berubah hening. Sunyi. Senyap. Pikirku memaksa mata untuk terpejam, agar luka itu sedikit jera, agar duka itu sedikit mereda. Tapi hati masih menjadi pemenangnya, yang memaksaku untuk tetap terjaga, menangis, mengenang tahun-tahun yang silam.
Di luar sana, rintik sedang menghibur dedaunan kering di antara semak belukar yang hampir mati. Di luar sana, angin sedang menyejukkan embun yang menempel pada genting-genting pelindung nyawa. Terdengar gemerisik kicauan merdu yang menyambut fajar. Selalu saja begitu, menghabiskan malam dalam sedu-sedan yang tidak berujung.
Ikhlas. Rela. Lepas. Rangkaian huruf-huruf sederhana yang sedikit mampu menghibur sepiku. Rangkaian huruf-huruf yang seharusnya sejak dulu kugenggam sampai saat ini walau tanpa kepalan tangan. Mereka mungkin menertawakanku. Memintaku berhenti meratap, berhenti menguras air mata, berhenti menghela, berhenti mengenang, berhenti merindu, berhenti membenci dan berhenti mencintainya. Tapi bukankah kenangan selalu terpatri dengan kuat dalam relung-relung hati yang penuh luka?
Ia mungkin bukan kenangan pertama yang pernah hadir, tapi ia adalah kenangan terindah yang pernah ada. Bisikan roman yang pernah terucap dari bibir lembutnya begitu mengelitik telinga. Binar matanya yang begitu teduh selalu mampu menenangkanku. Genggaman cinta yang pernah ia hadiahkan pun mengalahkan logika. Hingga akhirnya semua berganti heing. Sunyi. Senyap. Mungkinkah saat ini belum waktunya aku mengecup bahagia?
Terkadang cemburu pun merobekku tanpa ampun ketika sepi menyapa dan tidak terasa linangan air mata meneteskan butiran duka tanpa mampu kucegah. Kala itu, kucoba untuk kembali aku bercermin siapa aku sebenarnya. Kala itu, kucoba kembali memahami jalan hidup yang telah dirancang Tuhan sedemikian rupa.
Mentari mulai menyingsing dari peraduannya. Kucoba kembali menikmati hangatnya sang fajar di pagi hari bersama dinginnya iringan embun yang menusuk-nusuk kulit demi menyejukan jiwa. Sayup mata memandang sorotan bersahabat sang mentari. Harusnya aku bersyukur, masih mampu menyapa pagi sekali lagi. Harusnya aku bersyukur, masih mampu memeluk cahayanya sekali lagi.
Aku mengerti, Tuhan mengajariku agar lebih bersyukur atas semua yang telah kumiliki. Aku mengerti, Tuhan menginginkanku agar lebih menghargai apa yang masih ada dalam genggamanku. Aku juga mengerti, lamat-lamat Tuhan akan melapangkan dan menyembuhkan hati yang penuh luka menganga ini, membuatku ikhlas melepas semua yang telah pergi, membantuku untuk melupakan semuanya tanpa serpihan kenangan sedikit pun, tanpa penyesalan yang berujung masa pesakitan lagi juga tanpa ego yang selalu meraja seperti sebelumnya.

No comments: