Hari Demi Hari Yang Mengakhiri Kita

Kisah ini sebenarnya hanya sebuah cerita fiktif yang seketika berubah menjadi nyata. Akhirnya aku mengerti, apa yang kita pikirkan ternyata mampu menjadi penentu bagi takdir yang akan kita terima. Jadi berdamailah dengan pikiranmu, maka ia juga akan mendamaikan hidupmu.
Days 1:
Malam ini aku mengakhiri semuanya. Semua kebahagiaan yang kukira akan menyelamatkanku dari siksaan masa lalu itu. Malam ini aku kembali membuka lukaku sendiri. Luka yang bahkan belum tertutup rapat, hingga ia kembali menganga. Apakah aku juga sudah membuatnya merasakan luka? Apakah saat ini ia juga sedang menahan sakitnya sendiri di sana? Maafkan aku…
Days 2:
Hari berlalu sejak malam itu. Malam dimana aku mengulangi kesalahan terindah dengan kembali memeluk bayang masa lalu yang semu lalu melepas rengkuh hangatnya yang nyata. Tanpa kusadari percik-percik penyesalan dan rindu yang mendalam sudah mengalir dalam darahku. Tiba-tiba saja suara manjanya mendengung dalam telingaku. Dulu, sebelum semua ini berakhir, ia tidak pernah sekalipun lupa menyapaku lewat sambungan telepon kala malam hanya untuk mengucapkan selamat tidur dan semoga bermimpi indah. Tapi kini, sepi. Sepertinya aku harus bisa terbiasa tidur tanpa nyanyian indahnya dengan lagu-lagu lama yang terkadang mengundang protesku. Malam ini… ah, kenapa terasa begitu dingin?
Days 3:
Hatiku semakin mengenaskan. Terluka parah… Nyatanya aku memang mencintai dia. Dia yang setidaknya bisa sedikit membuatku melupakan kenangan-kenangan lalu. Kini, kemana aku harus mencarinya? Hatinya semakin sulit untuk kusentuh, ia semakin sulit untuk kuraih. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Mungkinkah ia melupakanku? Tapi, apa secepat itu? Langit mendung di luar sama tampaknya mengerti suasana hatiku saat ini. Ia seolah menguatkanku. Meyakinkanku bahwa aku akan baik-baik saja, padahal kini, aku begitu hancur setelah melepasnya.
Days 4:
Sikapnya benar-benar berubah. Bahkan ia hanya bergeming mendapati serbuan telepon dan pesan singkatku memenuhi ponselnya. Aku tahu ia belum juga bisa menerima semua ini, tapi apa ia berpikir bahwa aku bahagia setelah semua keputusan sulit ini? Apa ia berpikir bahwa aku sedang dalam keadaan baik-baik saja di sini? Apa ia berpikir hatiku tidak terluka? Apa ia berpikir aku tidak menangis? Batinku justru terluka parah setelah semua ini. Mendengar tangisan tulusnya ternyata jauh lebih menyakitkan daripada apapun yang pernah kualami. Perlahan, air mataku pun jatuh. Mulai menangisi kepergiannya.
Days 5:
Pikiranku kembali berkabut oleh dilema. Gelisah kian datang menyelimuti. Bimbang semakin meraung-raung. Aku mencintainya, tapi aku juga mencintai masa laluku yang bahkan telah melupakanku. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin mencintainya dalam bayang-bayang masa lalu itu. Ia terlalu indah untuk mendapat perlakuan buruk itu. Apa yang harus kulakukan? Jangankan menghapus rasanya dari dalam hatiku, menghapus namanya yang terpatri di dalam otakku saja terasa begitu sulit. Betapa bodohnya aku…
Days 6:
Ia tidak lagi menghubungiku. Entah karena memang ingin berhenti mengenalku atau… ah, entahlah. Perasaanku semakin kalut. Kemana aku harus mengejarnya? Ia melangkah terlalu cepat di depan sana, meninggalkanku yang masih dilumuri oleh penyesalan dan rasa bersalah. Rasa rinduku padanya semakin menggila. Mungkin sebentar lagi kewarasanku akan hilang tertelan rindu ini. Dimana ia sekarang? Apa yang sedang dilakukannya? Bersama siapa ia di sana? Tuhan, kenapa aku begitu merindukannya? Kenapa ada rasa ngilu yang tiba-tiba menusuk dadaku saat aku mengingatnya?
Days 7:
Hari ini tepat satu minggu semenjak aku memutuskan mengakhiri hubungan itu dengannya. Rasanya memang terlalu cepat mengingat hubungan kami yang bahkan masih bisa kuhitung harinya dengan jari-jari tangan. Aku tahu, sikapku terkesan buruk bahkan sangat buruk. Tapi jangan sepenuhnya menyalahkanku, kenangan masa lalu yang selalu membuntuti langkahku itu pun memiliki andil besar dalam berakhirnya hubungan ini. Aku sama sekali tidak pernah bermaksud mempermainkannya. Aku hanya berusaha untuk melupakan masa lalu yang kelam lewat dirinya. Siapa tahu dengan kehadirannya, aku bisa melepas jerat kenangan yang sudah bertahun-tahun memasung hatiku. Aku… diriku… begitu mengenaskan.
Days 8:
Aku merindukannya, semakin merindukannya. Dan akhirnya aku pun menyadari bahwa aku mencintainya. Ya, ternyata aku memang mencintainya. Tapi kini semua sudah terlambat. Rasanya telah mati. Ia sudah terlanjur menutup rapat pintu hatinya untukku. Aku hanya bisa tersenyum. Tersenyum menutupi semua kesedihan dan air mata yang selalu saja ingin keluar dari sudut-sudut mataku. Apakah ini karma atau yang biasa disebut kifarat dalam agamaku? Ah, entahlah. Seperti apapun aku meminta hatinya, seperti apapun aku memohon agar ia kembali, semua sudah terlambat. Ia bahkan tidak sekalipun memberi respon atas usahaku, entah memang ia tidak sadar atau karena ia sudah tidak peduli lagi. Baiklah, sepertinya aku memang harus menyerah.
Days 9:
Ia benar-benar tidak menghubungiku. Mungkinkah ia sudah lupa? Atau ia sudah memiliki seseorang yang baru di sana? Hatiku tiba-tiba terasa begitu sakit. Tapi apa daya? Semua ini salahku. Ya, semua ini kebodohanku. Sedalam apapun penyesalan yang kuungkapkan di hadapannya, ia tetap berpegang pada keputusan itu, yakni untuk tidak lagi memberi ruang bagiku di dalam hatinya. Aku mengerti, mungkin ia memang sudah terlalu sakit. Aku paham, mungkin memang aku harus berusaha keras mengubur rasaku untuknya.
Days 10:
Pagi ini aku terbangun tanpa ada sapaan manja yang ia kirimkan lewat pesan singkat. Tidak, kini tidak akan ada lagi. Aku harus terbiasa mandiri. Tidak lagi menunggu perintahnya untuk bangun, mandi, makan atau menjaga kesehatanku. Ia tidak akan ada lagi dalam hariku. Mungkin suatu saat nanti ia akan datang sejenak hanya untuk menanyakan kabarku, itu pun kalau ia masih mengingatku. Pagi ini entah apa yang berbeda. Tapi aku merasa udaranya lebih dingin daripada pagi-pagi sebelumnya. Mungkin inilah efek dari sebuah kehilangan. Ruangan kamar ini pun terasa begitu lapang dengan aku yang masih terbaring di atas tempat tidur dan bergelung dalam selimut tebal yang nyatanya tidak mampu menghangatkanku pagi ini. Mungkin inilah efek dari sebuah kesepian. Ya, aku merindukannya, sangat merindukannya. Tapi aku sadar, mulai detik ini aku sendiri. Tidak akan ada lagi dia dan seluruh kasih sayangnya padaku. Aku… sendiri.

Comments