August 20, 2014

Rinduku Beralamat Padamu

Kerinduanku sedikit terdamaikan, karena kusadari malam ini kita tidur di bawah langit yang sama. Meskipun jarak berpuluh kali lipat merentang antara ragamu dan ragaku, tapi setidaknya kita masih bisa memandang tujuan yang sama sebelum beralih ke alam mimpi. Terkadang hidup ini membingungkan dan kita dipaksa untuk memilih satu yang terbaik lalu meninggalkan pilihan lainnya. Terkadang kita juga harus mengorbankan apa yang kita rasakan demi membahagiakan ia yang kita cintai. Jadi, salahkah aku yang mematikan rasa ini demi kembali merajut asmara dengan bayangnya? Melepaskanmu yang begitu nyata lalu memilihnya yang begitu semu bukanlah perkara mudah. Kebanyakan orang mungkin hanya bisa menilai tanpa mengetahui betapa sulitnya menjadi diri orang lain, menjalani berbagai tuntutan hidup untuk melakukan hal yang sebenarnya sama sekali tidak ingin ia lakukan. Ada kalanya aku ingin bumi menelanku bulat-bulat setiap kali kusadari pilihan ini keliru. Ada kalanya aku merasa langit meruntuhkan tubuhnya tepat di pundakku setiap kali kuingat senyummu yang menenangkan. Kini, disaat semua telah terlanjur pecah menjadi serpihan-serpihan halus, rasamu bahkan perlahan lenyap, sedikit demi sedikit terkikis habis oleh kekecewaan. Penyesalanku pun tidak terhitung lagi. Entah sudah berapa banyak air mata yang terbuang percuma dalam rindu yang semakin menggebu. Rasa sakit itu seperti mengulitiku hidup-hidup. Menyerap habis seluruh kekuatan lalu meninggalkanku menjadi bangkai dalam kesepian. Di tempat berbaring yang jauh di sana, adakah kau selipkan aku dalam untaian doa sebelum tidurmu? Di dalam selimut hangat yang menggantikan pelukku di sana, adakah setitik rindu yang kau alamatkan padaku sebelum kita bertemu dalam bunga tidurku?

Tentang Hati

Layaknya bunga yang gugur karena layu, itulah kisahku yang telah berlalu. Layaknya bangkai yang membusuk lalu menyatu bersama tanah, itulah harapku yang telah sirna. Tesentak tidurku saat peristiwa di tahun yang silam kembali membawa suasana duka dalam pekatnya mimpi. Semua berubah hening. Sunyi. Senyap. Bilamana waktu akan berhenti mempermainkanku? Bilamana Tuhan akan menyelamatkan hatiku dari rasa pesakitan ini? Saat air mata menjadi sesuatu yang tidak ternilai harganya, saat isak tangis menjadi sesuatu yang mampu membuatku berdekup, saat semua harus kulepas dalam hitungan detik. Semua berubah hening. Sunyi. Senyap. Pikirku memaksa mata untuk terpejam, agar luka itu sedikit jera, agar duka itu sedikit mereda. Tapi hati masih menjadi pemenangnya, yang memaksaku untuk tetap terjaga, menangis, mengenang tahun-tahun yang silam.
Di luar sana, rintik sedang menghibur dedaunan kering di antara semak belukar yang hampir mati. Di luar sana, angin sedang menyejukkan embun yang menempel pada genting-genting pelindung nyawa. Terdengar gemerisik kicauan merdu yang menyambut fajar. Selalu saja begitu, menghabiskan malam dalam sedu-sedan yang tidak berujung.
Ikhlas. Rela. Lepas. Rangkaian huruf-huruf sederhana yang sedikit mampu menghibur sepiku. Rangkaian huruf-huruf yang seharusnya sejak dulu kugenggam sampai saat ini walau tanpa kepalan tangan. Mereka mungkin menertawakanku. Memintaku berhenti meratap, berhenti menguras air mata, berhenti menghela, berhenti mengenang, berhenti merindu, berhenti membenci dan berhenti mencintainya. Tapi bukankah kenangan selalu terpatri dengan kuat dalam relung-relung hati yang penuh luka?
Ia mungkin bukan kenangan pertama yang pernah hadir, tapi ia adalah kenangan terindah yang pernah ada. Bisikan roman yang pernah terucap dari bibir lembutnya begitu mengelitik telinga. Binar matanya yang begitu teduh selalu mampu menenangkanku. Genggaman cinta yang pernah ia hadiahkan pun mengalahkan logika. Hingga akhirnya semua berganti heing. Sunyi. Senyap. Mungkinkah saat ini belum waktunya aku mengecup bahagia?
Terkadang cemburu pun merobekku tanpa ampun ketika sepi menyapa dan tidak terasa linangan air mata meneteskan butiran duka tanpa mampu kucegah. Kala itu, kucoba untuk kembali aku bercermin siapa aku sebenarnya. Kala itu, kucoba kembali memahami jalan hidup yang telah dirancang Tuhan sedemikian rupa.
Mentari mulai menyingsing dari peraduannya. Kucoba kembali menikmati hangatnya sang fajar di pagi hari bersama dinginnya iringan embun yang menusuk-nusuk kulit demi menyejukan jiwa. Sayup mata memandang sorotan bersahabat sang mentari. Harusnya aku bersyukur, masih mampu menyapa pagi sekali lagi. Harusnya aku bersyukur, masih mampu memeluk cahayanya sekali lagi.
Aku mengerti, Tuhan mengajariku agar lebih bersyukur atas semua yang telah kumiliki. Aku mengerti, Tuhan menginginkanku agar lebih menghargai apa yang masih ada dalam genggamanku. Aku juga mengerti, lamat-lamat Tuhan akan melapangkan dan menyembuhkan hati yang penuh luka menganga ini, membuatku ikhlas melepas semua yang telah pergi, membantuku untuk melupakan semuanya tanpa serpihan kenangan sedikit pun, tanpa penyesalan yang berujung masa pesakitan lagi juga tanpa ego yang selalu meraja seperti sebelumnya.

August 17, 2014

Senandung Hati Pejuang LDR

Jarak bukanlah suatu alasan untuk tidak menjalin sebuah hubungan. Jangan menjadikan jarak yang jauh sebagai suatu penghalang tapi jadikanlah ia sebagai sumber kekuatan cinta. Cinta tidak harus selalu dapat saling melihat wujud dan raga masing-masing karena cinta adalah ikatan batin yang kuat untuk menjalin suatu hubungan. Sejauh apapun raga terpisah, tapi bila hatinya telah bersatu, tidak ada lagi dinding pemisah bagi kekuatan cinta itu sendiri. Cinta tidak hanya tercipta karena seringnya terjadi pertemuan atau pun rutinitas dalam berkomunikasi. Cinta adalah keinginan tulus yang ikhlas dalam menjalin suatu hubungan suci. Kekuatan cinta itu sendirilah yang akan mempertemukan dua insan walau dalam jarak yang cukup jauh. Dekat juga tidak selalu berarti menjadikan suatu hubungan akan terus berjalan harmonis. Seringnya terjadi pertemuan akan menjadikan cinta itu sendiri sebagai bumerang kehancuran. Seringnya terjadi pertemuan juga dapat membuat kita merasa jenuh dan bosan, sifat yang tidak pernah luput dari manusia. Jika selalu berada dalam jarak yang begitu dekat, tidak akan ada rasa rindu yang benar-benar rindu. Semakin sering bertemu maka akan semakin sering pula terjadi pertengkaran. Jika jauh, kita akan mampu merasakan sejatinya rindu pada pujaan hati. Semakin lama tidak bertemu maka semakin kuat pula rasa rindu itu. Jangankan melihat, mendengar suaranya saja pun kita sudah cukup merasa bahagia dan itu pula yang akan membuat kita semakin ingin memiliki dan tidak ingin kehilangannya. Namun, semua itu juga tidak terlepas dari nilai, tujuan serta keinginan untuk tetap saling memiliki. Saling menjaga kepercayaan yang diberikan satu sama lain demi memelihara agar cinta itu tidak ternoda adalah hal terpenting. Kejujuran, kesetiaan juga rasa saling percaya adalah tiga komponen yang tidak dapat terlepas bagi kelangsungan hubungan yang berada di dalam jarak. Dimana ada niat, di situ pasti ada jalan. Semua berpulang pada keseriusan dalam menjalin hubungan jarak jauh itu sendiri. Jika sebagian orang percaya bahwa cinta akan hampa tanpa adanya belai mesra, ingatlah kembali bahwa cinta yang tulus dan suci tidak sepenuhnya membutuhkan belaian mesra karena hal tersebut bukanlah yang utama dalam menjalin suatu hubungan. Jika ada yang berkata, apalah arti cinta tanpa adanya belaian mesra, maka tanyakan kembali pada diri sendiri, apakah cinta tercipta karena rasa ingin memiliki seseorang atau hanyalah sebuah pelampiasan nafsu semata. Jadikanlah dirimu sebagai seorang pejuang cinta sejati. Tidak perlu bersusah payah mencarinya, cukup dengan menciptakannya.

Hari Demi Hari Yang Mengakhiri Kita

Kisah ini sebenarnya hanya sebuah cerita fiktif yang seketika berubah menjadi nyata. Akhirnya aku mengerti, apa yang kita pikirkan ternyata mampu menjadi penentu bagi takdir yang akan kita terima. Jadi berdamailah dengan pikiranmu, maka ia juga akan mendamaikan hidupmu.
Days 1:
Malam ini aku mengakhiri semuanya. Semua kebahagiaan yang kukira akan menyelamatkanku dari siksaan masa lalu itu. Malam ini aku kembali membuka lukaku sendiri. Luka yang bahkan belum tertutup rapat, hingga ia kembali menganga. Apakah aku juga sudah membuatnya merasakan luka? Apakah saat ini ia juga sedang menahan sakitnya sendiri di sana? Maafkan aku…
Days 2:
Hari berlalu sejak malam itu. Malam dimana aku mengulangi kesalahan terindah dengan kembali memeluk bayang masa lalu yang semu lalu melepas rengkuh hangatnya yang nyata. Tanpa kusadari percik-percik penyesalan dan rindu yang mendalam sudah mengalir dalam darahku. Tiba-tiba saja suara manjanya mendengung dalam telingaku. Dulu, sebelum semua ini berakhir, ia tidak pernah sekalipun lupa menyapaku lewat sambungan telepon kala malam hanya untuk mengucapkan selamat tidur dan semoga bermimpi indah. Tapi kini, sepi. Sepertinya aku harus bisa terbiasa tidur tanpa nyanyian indahnya dengan lagu-lagu lama yang terkadang mengundang protesku. Malam ini… ah, kenapa terasa begitu dingin?
Days 3:
Hatiku semakin mengenaskan. Terluka parah… Nyatanya aku memang mencintai dia. Dia yang setidaknya bisa sedikit membuatku melupakan kenangan-kenangan lalu. Kini, kemana aku harus mencarinya? Hatinya semakin sulit untuk kusentuh, ia semakin sulit untuk kuraih. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Mungkinkah ia melupakanku? Tapi, apa secepat itu? Langit mendung di luar sama tampaknya mengerti suasana hatiku saat ini. Ia seolah menguatkanku. Meyakinkanku bahwa aku akan baik-baik saja, padahal kini, aku begitu hancur setelah melepasnya.
Days 4:
Sikapnya benar-benar berubah. Bahkan ia hanya bergeming mendapati serbuan telepon dan pesan singkatku memenuhi ponselnya. Aku tahu ia belum juga bisa menerima semua ini, tapi apa ia berpikir bahwa aku bahagia setelah semua keputusan sulit ini? Apa ia berpikir bahwa aku sedang dalam keadaan baik-baik saja di sini? Apa ia berpikir hatiku tidak terluka? Apa ia berpikir aku tidak menangis? Batinku justru terluka parah setelah semua ini. Mendengar tangisan tulusnya ternyata jauh lebih menyakitkan daripada apapun yang pernah kualami. Perlahan, air mataku pun jatuh. Mulai menangisi kepergiannya.
Days 5:
Pikiranku kembali berkabut oleh dilema. Gelisah kian datang menyelimuti. Bimbang semakin meraung-raung. Aku mencintainya, tapi aku juga mencintai masa laluku yang bahkan telah melupakanku. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin mencintainya dalam bayang-bayang masa lalu itu. Ia terlalu indah untuk mendapat perlakuan buruk itu. Apa yang harus kulakukan? Jangankan menghapus rasanya dari dalam hatiku, menghapus namanya yang terpatri di dalam otakku saja terasa begitu sulit. Betapa bodohnya aku…
Days 6:
Ia tidak lagi menghubungiku. Entah karena memang ingin berhenti mengenalku atau… ah, entahlah. Perasaanku semakin kalut. Kemana aku harus mengejarnya? Ia melangkah terlalu cepat di depan sana, meninggalkanku yang masih dilumuri oleh penyesalan dan rasa bersalah. Rasa rinduku padanya semakin menggila. Mungkin sebentar lagi kewarasanku akan hilang tertelan rindu ini. Dimana ia sekarang? Apa yang sedang dilakukannya? Bersama siapa ia di sana? Tuhan, kenapa aku begitu merindukannya? Kenapa ada rasa ngilu yang tiba-tiba menusuk dadaku saat aku mengingatnya?
Days 7:
Hari ini tepat satu minggu semenjak aku memutuskan mengakhiri hubungan itu dengannya. Rasanya memang terlalu cepat mengingat hubungan kami yang bahkan masih bisa kuhitung harinya dengan jari-jari tangan. Aku tahu, sikapku terkesan buruk bahkan sangat buruk. Tapi jangan sepenuhnya menyalahkanku, kenangan masa lalu yang selalu membuntuti langkahku itu pun memiliki andil besar dalam berakhirnya hubungan ini. Aku sama sekali tidak pernah bermaksud mempermainkannya. Aku hanya berusaha untuk melupakan masa lalu yang kelam lewat dirinya. Siapa tahu dengan kehadirannya, aku bisa melepas jerat kenangan yang sudah bertahun-tahun memasung hatiku. Aku… diriku… begitu mengenaskan.
Days 8:
Aku merindukannya, semakin merindukannya. Dan akhirnya aku pun menyadari bahwa aku mencintainya. Ya, ternyata aku memang mencintainya. Tapi kini semua sudah terlambat. Rasanya telah mati. Ia sudah terlanjur menutup rapat pintu hatinya untukku. Aku hanya bisa tersenyum. Tersenyum menutupi semua kesedihan dan air mata yang selalu saja ingin keluar dari sudut-sudut mataku. Apakah ini karma atau yang biasa disebut kifarat dalam agamaku? Ah, entahlah. Seperti apapun aku meminta hatinya, seperti apapun aku memohon agar ia kembali, semua sudah terlambat. Ia bahkan tidak sekalipun memberi respon atas usahaku, entah memang ia tidak sadar atau karena ia sudah tidak peduli lagi. Baiklah, sepertinya aku memang harus menyerah.
Days 9:
Ia benar-benar tidak menghubungiku. Mungkinkah ia sudah lupa? Atau ia sudah memiliki seseorang yang baru di sana? Hatiku tiba-tiba terasa begitu sakit. Tapi apa daya? Semua ini salahku. Ya, semua ini kebodohanku. Sedalam apapun penyesalan yang kuungkapkan di hadapannya, ia tetap berpegang pada keputusan itu, yakni untuk tidak lagi memberi ruang bagiku di dalam hatinya. Aku mengerti, mungkin ia memang sudah terlalu sakit. Aku paham, mungkin memang aku harus berusaha keras mengubur rasaku untuknya.
Days 10:
Pagi ini aku terbangun tanpa ada sapaan manja yang ia kirimkan lewat pesan singkat. Tidak, kini tidak akan ada lagi. Aku harus terbiasa mandiri. Tidak lagi menunggu perintahnya untuk bangun, mandi, makan atau menjaga kesehatanku. Ia tidak akan ada lagi dalam hariku. Mungkin suatu saat nanti ia akan datang sejenak hanya untuk menanyakan kabarku, itu pun kalau ia masih mengingatku. Pagi ini entah apa yang berbeda. Tapi aku merasa udaranya lebih dingin daripada pagi-pagi sebelumnya. Mungkin inilah efek dari sebuah kehilangan. Ruangan kamar ini pun terasa begitu lapang dengan aku yang masih terbaring di atas tempat tidur dan bergelung dalam selimut tebal yang nyatanya tidak mampu menghangatkanku pagi ini. Mungkin inilah efek dari sebuah kesepian. Ya, aku merindukannya, sangat merindukannya. Tapi aku sadar, mulai detik ini aku sendiri. Tidak akan ada lagi dia dan seluruh kasih sayangnya padaku. Aku… sendiri.

August 14, 2014

Surat Cinta Yang Tak Pernah Sampai

Apa kabar kamu yang dulu selalu menaungi sudut pikirku?
Kini kamu telah menghilang, sama seperti yang lainnya.
Pergi begitu saja meninggalkanku tenggelam bersama sepi dan duka di sini.
Kini kepada siapa aku bisa berbicara?
Kepada siapa aku bisa berbagi semua keluh kesah ini?
Kepada siapa aku bisa mengutarakan isi hati bersama segenap luka yang masih tinggal di sana?
Aku kehilangan.
Kehilanganmu, kehilangan dia, kehilangan mereka yang telah lebih dulu pergi meninggalkanku.
Ketika kamu pergi setelah kepergiannya, kalian membawa segala sesuatu yang kumiliki.
Kebahagiaan, kedamaian, ketenangan.
Kini hanya ada gelisah yang menyelimuti.
Semua tampak sama, abu-abu, gelap seperti kabut yang menyesakkan.
Tapi kehadirannya di setiap tempat yang kulihat, meyakinkanku bahwa ia adalah sesuatu yang nyata.
Seperti sebuah lubang besar yang menghancurkan hatiku.
Tapi begitu pun, aku tetap bisa merasakan sedikit bahagia.
Semua rasa sakit dan luka yang tertinggal di sini selalu mengingatkanku, bahwa ia memang sesuatu yang nyata.
Begitu pun dengan dirimu, begitu pun dengan kebersamaan kita yang hanya sementara.
Semua itu nyata.

Merindukanmu Bukan Berarti Mencintaimu

Cuaca pagi ini sangat cerah. Belum tepat pukul tujuh tapi matahari sudah membiaskan guratan cahayanya pada langit biru yang berlapis sedikit awan tipis. Tiba-tiba pikiranku melayang pada suatu pagi dengan keadaan yang hampir sama seperti ini. Bedanya hanya satu, pagi itu masih ada kamu. Masih ada kamu yang menemani pagiku, menyapaku setiap kali mengawali hari seolah kamu adalah mentari bagi hidupku. Entah apa yang membuatku seringkali mengaitkan segala sesuatu yang kulihat, kurasa atau kudapat sekarang dengan segala hal yang dulu pernah kulewati bersamamu. Iya, bersamamu. Tapi itu dulu, di dalam masa lalu yang telah terlewati dan kini berubah menjadi kelam. Seandainya saat ini datang sebuah penawaran untuk kembali melewati hari bersamamu, tentu saja aku akan menolaknya. Bukan, bukan aku memiliki sebuah dendam, bukan pula karena aku membencimu tapi aku sadar bahwa kita memang tidak seharusnya bersama, sadar bahwa hatiku akan terus-menerus merasa rapuh dan lemah jika aku masih saja bersamamu, sadar bahwa hidupku akan terus bergantung padamu jika kamu kembali hadir di sini. “Terima saja kenyataan bahwa ia tak lagi mencintaimu, dengan begitu hatimu akan terasa lebih kuat dan kamu pun akan sadar bahwa sebenarnyakalian memang tidak ditakdirkan untuk bersama.” Ternyata kalimat sederhana yang pernah diucapkan oleh seseorang padaku itu mampu menyihirku hingga akhirnya tersadar akan sebuah masa lalu yang memang salah. Aku merindukanmu, bukan berarti aku mencintaimu kan? Mungkin saat ini aku hanya belum bisa berdamai dengan apa yang mereka sebut kesepian, kesendirian atau apapun itu namanya. Aku hanya masih membutuhkan lebih banyak waktu lagi. Seandainya waktu telah cukup bagiku untuk menata kembali hati yang pernah terluka parah ini, aku sendiri pasti akan mampu berdamai dengan hatiku, berdamai dengan ruang di sekeliingku yang sempat membuatku merasa sepi dan tentu saja pada saat itu pula nantinya hidupku akan menjadi jauh lebih baik daripada ketika aku belum mengenalmu dan ketika aku masih bersamamu serta ketika kepergianmu yang mendadak itu. Aku yakin aku pasti bisa. Hidup ini sebenarnya selalu indah, tergantung dari bagaimana kita memaknainya. Dan caraku memaknai hidup yang begitu sederhana tapi seringkali terasa rumit ini adalah dengan berusaha untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kumiliki.