July 11, 2014

Setitik Doa Malam Ini

Lewat tulisan aku mengungkapkan segalanya, tentang perasaan yang hancur lebur, jiwa yang semakin berantakan juga raga yang tidak lagi tertata rapi. Tuhan, aku tahu bahwa aku bukan mahluk-Mu yang bersih, bukan mahluk-Mu yang suci, bukan pula mahluk-Mu yang baik. Aku adalah mahluk-Mu yang hina, nista juga begitu keji. Kesalahan adalah penghias hariku, dosa adalah pewarna malamku. Tapi, apa aku tidak pantas mengharap sedikit saja keinginanku agar terkabul?
Lewat tulisan aku berkata, tentang segala perih yang semakin hari semakin parah, tentang segala luka yang semakin hari semakin menganga, tentang segala rasa sakit yang semakin hari semakin menggerogoti hingga ke dalam sumsum tulangku. Bentuk apa yang ingin Kau berikan padaku? Cobaan? Atau bahkan hukuman? Maafkan aku yang berburuk sangka pada-Mu, Tuhan, sungguh aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya masih berada pada puncak kekecewaan. Aku belum mampu menguasai perasaan kalut ini. Aku belum mampu menerima semuanya dengan lapang dada.
Lewat tulisan aku menangis. Bukankah air mata adalah luapan emosi yang tidak mampu lagi terpendam? Bagaimana jika air mataku sudah terlanjur kering? Bagaimana jika mataku sudah terlalu lelah untuk mengalirkannya? Aku tidak mampu lagi memendam rasa hancur ini, aku jatuh pada titik terendah sebuah kehidupan tapi aku juga berada pada titik tertinggi sebuah kehancuran. Bayangkan betapa rasanya menjadi sosokku.
Dalam keheningan, aku kembali bersimpuh. Berusaha menata kembali masa depanku, berusaha menulis kembali rencana-rencana kecilku tentang hidup, berusaha menjalani kembali semuanya dari titik nol. Dalam sepi yang semakin mencekik, sayup-sayup kudengar asa mereka. Di sana, mereka tidak pernah lupa merapal namaku dalam doanya. Di sana, mereka tidak pernah lupa mendoakan yang terbaik bagiku. Lantas apa yang harus aku sesalkan? Mereka mungkin menggantungkan sejuta harap di punggungku tapi mereka juga tidak pernah memaksaku terlalu dalam. Mereka menyayangiku, aku pun begitu. Hingga aku merasa terlampau kecewa dengan jerih payah ini.
Tuhan, maafkan aku yang lupa akan kodratku sebagai manusia, maafkan semangatku yang terlalu menggebu, maafkan inginku yang terlalu kuat. Yakinkan aku, Tuhan, bahwa Kau memiliki rencana yang lebih baik dari semua ini. Yakinkan aku, Tuhan, bahwa masih ada hari esok yang lebih cerah bagiku. Yakinkan aku, Tuhan, bahwa masih ada pintu lain yang akan Kau bukakan untukku. Yakinkan aku, Tuhan, bahwa masih ada jalan lain yang telah menanti untuk kutapaki. Aku percaya Engkau pasti telah merencanakan yang terbaik agar aku tidak terlalu jatuh, aku pun percaya Engkau pasti telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik agar aku selalu berada di jalan-Mu.



No comments: