Promise Part 2

continued story from Promise
         “Arina? Baru aja gue mau telepon lo.” Tiba-tiba Rama muncul di hadapanku yang baru saja keluar dari lift. “Lama amat sih, Mister Fujiwara udah di mobil tuh.”
Aku berusaha menyelaraskan langkah dengan Rama yang buru-buru menuju pintu keluar.
“Sorry, namanya juga mendadak. Gue juga perlu persiapan kali.” Mataku terkesiap sesaat melihat Rama dengan setelan jas formalnya.
“Eh, elo kok tumben pakai jas segala?”
“Nggak usah meledek. For the sake of the client even I don’t know where he came from.” Ujarnya datar.
“Serius lo nggak tahu? Ini Mister Fujiwara kesambet apaan sih tiba-tiba ngajakin rapat yang nggak jelas asal usulnya?”
“Tanya aja langsung kalau elo berani ngucapin kata ‘kesambet’ di depan si bos.”
“Hei, Rama, Arina, hurry up.” Mister Fujiwara melambaikan tangannya dari dalam mobil saat melihatku dan Rama dengan tergesa menyusuri lobby. “Sorry, I forgot to tell you about this meeting but I was quite happy to see material should be given next week, Arina has been completed properly.” Jelas Mister Fujiwara dengan logat Perancisnya yang masih sangat kental saat kami baru masuk ke dalam mobil.
Aku tersenyum seadanya. “Thank you, Mister, it’s okay.”
 Mister Fujiwara adalah direktur baru di kantorku, Global Soil, sebuah perusahaan tambang minyak asal Qatar. Ia baru lima bulan menggantikan kakaknya, Mister Karl, untuk memimpin cabang perusahaan di Indonesia. Mister Karl sendiri sekarang mengurus perusahaan induk yang berada di Qatar. Sebenarnya usiaku dan Mister Fujiwara tidak terlampau jauh, hanya terpaut dua tahun di atasku bahkan usianya sama dengan Rama. Berbeda dengan Mister Karl yang meskipun berusia lebih tua sepuluh tahun dariku tapi selalu bisa mencairkan suasana antara bos dan pegawainya, Mister Fujiwara justru masih terlihat sangat kaku. Mungkin terkesan aneh saat mengetahui bahwa Mister Karl dan Mister Fujiwara adalah kakak beradik, mengingat nama mereka yang jauh berbeda dengan logat bahasa yang juga berbeda. Mister Karl pernah bercerita bahwa ayahnya adalah warga negara Jepang sementara ibunya keturunan Perancis. Sejak kecil mereka dibebaskan untuk memilih dimana akan menempuh pendidikan. Mister Karl yang lebih memiliki jiwa petualang memilih menghabiskan masa sekolahnya di Kanada bersama salah seorang bibinya, sementara adiknya, Mister Fujiwara memilih tinggal bersama ibunya di Paris. Global Soil juga sebenarnya adalah perusahaan turun-temurun yang dirintis oleh kakek mereka, seorang warga negara Jepang, bersama sahabat karibnya yang tidak lain adalah penduduk asli Qatar. Percampuran budaya yang cukup rumit, pikirku.
Sepanjang perjalanan dari gedung Global Soil yang berada di bilangan Sudirman menuju Wisma Andalas, telingaku terasa begitu gerah mendengarkan Mister Fujiwara yang menjelaskan tentang calon klien baru yang akan kami temui nanti. Global Soil akan membuat sebuah kerja sama dengan salah satu perusahaan jasa ekspedisi asal Perancis. Dan mau tidak mau aku harus tetap memperhatikan setiap detail penjelasannya, karena pada rapat nanti, ia memintaku untuk menyampaikan presentasi.  Rasanya aku ingin membenturkan kepala sekuat mungkin saat ini juga. Belum cukup akhir pekanku dihancurkan dengan setumpuk materi presentasi setelah sebelumnya aku menghabiskan lima hari masa training di Swiss dan sekarang, Senin yang mengerikan itu juga datang padaku di saat PMS yang membuatku berada dalam level mood sangat buruk. Mister Fujiwara memang menjanjikan bonus bagiku dan Rama yang dianggapnya sebagai head division terbaik di Global Soil sehingga kami mirip seperti paket titipan kilat super ekspres yang bisa dengan mudah dikirim kesana-kemari, tapi merasakan lelah yang bertubi-tubi seperti ini membuatku sedikit menyesal mencapai track record as the best employee tahun lalu.
Tiba-tiba pikiranku menerawang kembali pada masa-masa dimana aku berusaha sekuat tenaga mencari kesibukan demi melupakan masa lalu yang kelam itu. Nyatanya, setelah aku berhasil mendapatkan semua yang kuinginkan, mulai dari kesibukan, jabatan tinggi, hingga bolak-balik ke luar negeri hanya untuk mengikuti training atau pun seminar, aku justru merindukan masa-masa tenangku sebagai pegawai normal dengan kesibukan yang biasa saja, tidak seperti ini, seorang pegawai terbaik dengan  segunung pekerjaan. I know this is the emancipation of women, but can you understand that I am also a weak woman? Hah, salah satu sifat alami manusia, tidak pernah merasa puas.
“Arina, are you okay?” Mister Fujiwara menepuk bahuku beberapa kali.
Aku tersadar. “Hm? Ya, I’m okay, Mister.”
Aku memandangi setiap sudut pelataran Wisma Andalas yang tampak begitu mewah dan tertata rapi.
“Arina, I trust you. This is one of the biggest cooperation throughout my leadership in Global Soil. So, make it as good as possible, okay? I'll give you and Rama two weeks off if the cooperation contract has been signed, your job during the last month must have been really exhausting. You need a vacation. All the necessities and the cost will be borne by the company.”
Aku hampir tersentak mendengar ucapan Mister Fujiwara.
“What is lacking? You don’t look happy, Arina. I thought you’re gonna be happy.”  Ujar Mister Fujiwara lagi.
Sekilas aku melihat wajah Rama yang menyeringai penuh kegirangan.
“No, Mister, I'm so glad. Thank you. I just still can’t believe you will give us that special bonuses.”
Mister Fujiwara tertawa. “You've done enough work hard and give a lot of results for the company, so just think of it an award from me, from Karl too.”
Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin. Semua rasa lelah yang tadinya bersarang di tubuhku mendadak hilang, lenyap, menguap begitu saja.
I love you, Monday. I really love you, Monday. Pekikku dalam hati.
Rama menoleh ke arahku dengan senyum penuh arti. “Thank you, Mister.” Hanya ucapan sederhana itu yang keluar dari bibirnya yang masih tersenyum lebar.
“Okay, let’s meet them.” Ucap Mister Fujiwara sambil keluar dari mobil dan mengarah masuk ke pintu lobby Wisma Andalas.
***
Inhale… Exhale… Inhale… Exhale…
Aku dan Rama mengikuti langkah Mister Fujiwara keluar dari llift di lantai lima dan langsung menuju salah satu ruangan rapat.
Beberapa kali aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan berat.
“Calm down, Na. Imagine how much we will receive a bonus after this, so it all depends on the results of your efforts.” Rama mengerlingkan matanya padaku.
Aku hanya tersenyum tanpa merespon. Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di dalam saku blazer bergetar. Aku mengeluarkan ponsel tersebut dan mendapati sebuah email masuk dari Dea, teman sebelah kubikelku.
Satu divisi lagi pada heboh nih. Arina, the gloomy girl, si pemecah rekor sebagai cewek single terlama di Global Soil dapat kiriman bunga plus cokelat plus kotak-yang-nggak-tahu-apa-isinya. Hihihi… ada yang punya secret admirer nih kayaknya.
Aku mengernyitkan kening.
Shit! Segitu nistanyakah aku sampai dinobatkan dengan gelar seperti itu? But who the hell is him -aku yakin dia seorang pria- that send me such a thing?
Aku hanya mengerjapkan mata beberapa kali lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku blazer.
“Here we go…” Ucapku perlahan sambil menoleh sekilas pada Rama.
Seorang wanita mempersilahkan kami masuk ke dalam ruangan rapat.
Mister Fujiwara berdeham lalu mendekati seorang pria asing yang duduk di depan layar proyektor. “Good afternoon, Mister Drawn. Sorry, we’re a little late.
“Nevermind, Mister Fujiwara.” Ucap pria asing yang sepertinya bernama Drawn itu dengan ramah. “We have just come here. So, can we start now?”
“Of course. This is Rama and Arina. She will deliver a quiet little presentation material cooperation which we talked about before.” Jelas Mister Fujiwara sambil melihat padaku.
Aku mengulurkan tangan kepada Mister Drawn. “Glad to see you, Mister, I’m Arina.”
Mister Drawn menyambut uluran tanganku dengan ramah.
Kualihkan pandangan pada beberapa orang lainnya yang berada dalam ruangan rapat ini. Sepertinya mereka team work dari Light Expedition, yah, begitulah yang kulihat pada slip nama yang ada di saku jas mereka.
Saat aku baru akan memulai presentasi, di saat itulah aku merasa bumi terbelah tepat di titik mana aku berdiri dan ingin menelanku bulat-bulat. Aku mengedipkan mata beberapa kali untuk menyakinkan bahwa ini hanyalah sebuah khayalan gilaku dan sosok itu hanyalah ilusi bodoh yang tiba-tiba membeap alam bawah sadarku. Nyatanya, ia masih berada di sana, duduk jauh di ujung meja rapat besar dan menghadap lurus tepat di depanku. Aku masih terperanjat dan setelah menghitung satu sampai lima dalam hati, barulah aku bisa sedikit menguasai diri.
“Good afternoon, ladies and gentlemen.”
Hanya membutuhkan beberapa kata tersebut untuk membuat seisi ruangan rapat membetulkan posisi duduk mereka dan menatapku dengan pandangan sangat tertarik.
Termasuk sosok itu, yang masih belum mampu kupercayai bahwa dia nyata… hadir di sini.
to be continued…

Comments