Malam-Malam Jatuh Cinta



Mentari mulai kembali ke haribaan. Bersama segala keluh kesah tentang hari, tentang penatnya dunia. Angin malam mulai mengalun lembut. Membelai jiwa-jiwa kesepian, merajut kembali asa yang sempat terurai. Perlahan langit pun meredup, berganti gelap yang membawa sekumpulan teka-teki malam. Dahan-dahan keropos, ranting tanpa daun, tanah yang tandus retak, mereka merindukan malam, sama sepertiku yang selalu menanti malam untuk segera datang. Lewat malam, aku bisa memandangimu dari sudut gelapku. Lewat malam, aku bisa menikmati siluet indah tubuhmu yang penuh khusyuk memenuhi panggilan Tuhan. Lewat malam, aku bisa sedikit merasakan damai kala senyum simpulmu menghampiri indera. Terkadang, ada saat di mana bulan meredup dalam kecemburuan, seolah dia mengerti perasaanku saat melihat senyum itu juga menghampiri indera-indera lain. Saat itu, waktu seolah berhenti seketika.
Aku selalu menunggumu di sini. Bertopang dagu pada sisi jendela masjid, sambil mempersiapkan senyum terbaik untuk kupersembahkan bilamana sosokmu muncul perlahan dari balik pagar besi itu. Kamu, sosok yang bahkan belum kuketahui namanya, kenapa begitu cepat mampu meluluh-lantahkan hatiku?
Malam ini adalah malam ke tujuh belas di bulan suci Ramadhan, artinya sudah tujuh belas malam berlalu sejak kedua retinaku berhasil menangkap sosokmu duduk bersila dengan tenang di antara puluhan jamaah pria lainnya yang mendengarkan tausiyah selepas sholat Isya. Waktu itu, aku hanya menganggap remeh hatiku. Aku berpikir semua akan sama seperti yang telah lalu. Karena kutahu saat ini dawai itu sedang berada pada masa penyembuhan, mana mungkin ia bisa benar-benar mengingat sosok seorang pria yang sama dalam waktu yang lama. Ternyata aku salah, tidak ada yang tidak mungkin bagi sebuah dawai bernama hati.
Suara adzan menggema, membuatku terkesiap mendengar panggilan Tuhan untuk merajut sembah melaksanakan perintah-Nya. Ah, ada apa dengan hatiku? Kenapa lantas terbentuk segumpal gundah yang mengganjal di sana? Aku tersadar, siluet indahmu belum juga tertangkap oleh kedua retinaku. Gerangan apa yang menghambat langkahmu untuk tiba di rumah Tuhan malam ini?
Barisan shaf mulai terbentuk. Sembari menghilangkan gundah dalam hati, seperti biasa aku selalu berdiri di shaf paling depan. Bukankah lebih baik mengisi shaf paling depan terlebih dahulu daripada tergesa mengambil tempat di shaf belakang? Lagi pula, lewat tempat ini nantinya aku bisa dengan mudah menikmati siluet indahmu dari belakang, meskipun hanya sebuah punggung.
Sholat Isya berjamaah pun berlangsung sangat khusyuk. Tirai pembatas antara shaf pria dan wanita lalu dibuka saat tiba waktunya ustad menyampaikan tausiyah. Jantungku tiba-tiba berdegup tidak karuan. Ya Tuhan, ampuni aku yang seharusnya hanya melaksanakan ibadah di rumah-Mu ini tapi justru mengambil sebuah kesempatan dalam kesempitan untuk menikmati mahluk indah ciptaan-Mu yang lain. Penopang kehidupan yang tadinya berdegup sangat kencang ini lalu mencelos seolah ingin keluar dari dadaku. Kamu tidak ada di sana, di pertengahan shaf kedua. Bukankah pada malam-malam sebelumnya kamu selalu berada di sana untuk melaksanakan ibadah sholat Isya dan Tarawih?
***
Aku melangkahkan kaki memasuki pintu masjid Al Falah sambil memegangi tangan Nenek agar ia tidak terjatuh saat menaiki anak tangga.
“Assalamu’alaikum, Bu Surti.” Seorang wanita paruh baya yang kuperkirakan berusia sekitar empat puluhan menyapa Nenek sambil melambaikan tangannya.
“Wa’alaikumussalam. Rosma? Ya ampun, kapan pulang dari Pontianak?”
Wanita paruh baya yang kini kutahu bernama Rosma itu pun menyalami dan memeluk Nenek.
“Baru tadi pagi sampai, Bu, kebetulan si abang yang sulung mau pindah tugas ke sini jadi udah bisa pulang dari sekarang buat ngurusin berkasnya. Ini…” Suaranya menggantung.
Aku lalu mengulurkan tangan untuk mencium tangannya.
“Ini Wanda, Ros. Nda, ini Bude Rosma. Dulu tinggalnya tepat di sebelah rumah Nenek.” Jelas Nenek.
“Wah, udah besar ya, terakhir Rosma ketemu kalau nggak salah sepuluh tahun yang lalu kan? Masih SD, masih sering main sama si abang.” Bude Rosma tersenyum sambil mengelus bahuku.
Aku membalas senyumannya sambil mengernyitkan dahi.
Tadinya aku berpikir ‘Si Abang’ yang Bude Rosma sebutkan tadi adalah suaminya.
Tapi ia menyebutkan bahwa aku sering bermain dengan ‘Si Abang’ itu sewaktu kecil.
Tiba-tiba pandanganku terkunci pada sesosok mahluk Tuhan yang sedang berjalan dari area parkir menuju pintu masuk masjid bagian jamaah pria.
Ya Tuhan, kenapa aku merasa begitu damai memandangi wajahnya meskipun hanya sekilas?
Sesekali ia menyapa beberapa jamaah pria lain yang juga baru saja akan memasuki masjid. Senyum itu, kenapa begitu menenangkan?
***
Bulan Ramadhan pun berakhir sudah. Suara takbir yang melantun indah nan merdu menggema di setiap penjuru semesta menyambut datangnya hari kemenangan yang selalu dinantikan seluruh umat Muslim. Entah apa yang membuatku kembali bertopang dagu pada sisi jendela masjid, lalu dengan bodoh mempersiapkan senyum terbaik untuk kupersembahkan seandainya nanti sosokmu muncul seperti malam-malam jatuh cinta itu. Enggan rela pergi dari secercah rasa damai saat melihatmu. Enggan rela bila kamu meninggalkanku sendiri dalam kelamnya mendung hitam dan kabut menjerat. Berulang kali terlukis tanya tentang hadirmu tapi berulang kali pula tercipta jawab dengan sejuta kata yang membungkamku tidak berdaya. Sejak malam-malam jatuh cinta itu, wajahmu selalu membayang di alam bawah sadarku. Siluet indahmu selalu hadir dan membentuk senyum simpul khas bibirmu dalam hitam pekat mimpiku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan hati, yang kutahu hanyalah dawai ini terus mengharap pertemuan kita tidak hanya berakhir pada malam ke enam belas di bulan Ramadhan.
“Hai, Wanda?” Sebuah suara memecahkan hening. Otakku membeku.
Siluet indah itu?
Tapi bagaimana mungkin?
Siapa pun, tolong sadarkan aku dari hipnotis gila akan rindu hebatku ini.
Binar matanya begitu hangat, aku bahkan tidak pernah menyangka akan sehangat ini saat menatapnya dalam jarak beberapa rengkuh di hadapanku.
“Hai.” Lidahku kelu. Apalagi yang harus kuucapkan pada percakapan yang bahkan tidak pernah berani kuharapkan ini?
“Apa kabar, Nda?” Ia mengulurkan tangannya.
Aku terdiam. Masih menimbang untuk membalas uluran itu lalu membatalkan air wudhu yang telah membasuhku atau hanya diam sambil tersenyum dan membiarkannya pergi begitu saja.
“Ah, maaf, aku lupa.”
Aku hanya mengangguk sambil mengembangkan senyum terindah yang selama ini telah kupersiapkan untuknya.
Hatiku meronta. Ingin rasanya aku menyentuh uluran tangan itu dan merasakan sengatan yang mungkin saja bisa membuatku mati rasa, aku tidak peduli, sekali saja. Sayangnya, perasaan ini belum mampu mengalahkan logikaku.
“Wanda? Abang?” Bude Rosma menghampiri kami yang masih bergeming di pekarangan masjid.
“Mama…” Ujarnya menggantung.
“Kamu baru ketemu sama Lintang, Wanda? Ah, Lintang ini memang pemalu banget dari dulu ya, sama temen kecil sendiri juga masih malu-malu.” Bude Rosma tersenyum memandangiku dan Lintang yang terlihat canggung.
Tunggu, jadi namanya Lintang?
Nama yang indah.
Lintang.
Sama indahnya dengan siluet yang ia punya meski selama ini hanya bisa kunikmati dalam jarak.
Jadi Lintang adalah ‘Si Abang’ yang dimaksud Bude Rosma?
Jadi Lintang adalah putra sulung Bude Rosma?
Jadi siluet indah yang selama hampir satu bulan terakhir begitu kukagumi ini adalah orang yang memang pernah kukenal sewaktu kecil?
Jadi… ah, lututku mendadak lemas.



Comments