Jauh


Langit malam tampak begitu cerah dengan segala seri-seri di setiap sisinya, ia kian mampu menebarkan kehangatan dalam setiap labirin-labirin hati. Ratusan bahkan ribuan cahaya lampu di bawah sana pun seakan saling menyapa jalanan. Aku mengetatkan syal rajutan yang melingkari leher. Semakin tinggi jarak kita dari permukaan laut maka semakin rendah pula suhu yang akan kita rasakan, hal sederhana itulah yang terbesit dalam pikiranku saat teringat salah satu materi pelajaran fisika yang pernah diajarkan oleh guru kesayanganku ketika aku masih duduk di bangku SMA. Hari ini, tepat satu bulan sejak ujian kelulusan dari masa putih abu-abu. Hanya tinggal menunggu beberapa waktu sampai aku memperoleh pengumuman hasil kelulusan. Tentu saja aku berharap seluruh siswa seangkatanku tahun ini bisa lulus seratus persen juga dapat memperoleh nilai yang memuaskan. Harapan itulah yang nantinya mampu mengantarkanku untuk menggapai mimpi-mimpi yang telah lama kupajang pada dinding-dinding hati dan pikiran. Berharap aku mampu mewujudkan semua itu demi orang-orang tersayang yang senantiasa ada di sampingku dalam segala suka dan duka. Dan harapan itu pula yang akhirnya mengantarkan langkahku hingga sampai di tempat ini, atap salah satu gedung pencakar langit di kota yang penuh dengan berbagai gemerlapan dunia, Jakarta. Udara malam pun semakin memaksa masuk menembus setiap celah pori-pori kulitku. Dingin dan hangat terasa silih berganti. Damai, satu kata yang mampu menggambarkan suasana hatiku saat ini. Duduk di tepian atap gedung-gedung tinggi adalah salah satu mimpiku sejak kecil. Aku ingin menginjakkan kaki di tempat-tempat tertinggi dunia, dimana aku bisa memanjakan indera penglihatan dengan berbagai kelap-kelip semesta. Dari sini pula aku bisa menyapa bulan yang senantiasa bersanding damai bersama bintang, meskipun tidak selalu tampak tapi mereka selalu ada… bersisian. Berbeda halnya dengan kita yang tidak mampu lagi saling menyapa, menatap apalagi merengkuh dengan jemari. Kini aku sadar, jarak terjauh bukan antara langit dan bumi tapi antara hati kita yang berada dalam raga yang sebenarnya dekat tapi terasa begitu jauh.

Comments