Enam Belasku... Selamat Empat Tahun Yang Gagal


Aku terbangun di pagi yang begitu dingin. Seperti biasa, menatap layar ponsel beberapa saat lalu melirik ke arah jam, pukul lima pagi. Masih dengan kesadaran yang belum sempurna aku bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju jendela dengan langkah gontai. Perlahan aku membukanya dan menghirup udara pagi yang begitu segar. Menatap keluar, semua masih tampak sama. Bagaimana letak rumah-rumah di sekitar tempat tinggalku, bagaimana merdunya kicauan burung di ranting pohon, bagaimana sejuknya semilir angin yang langsung menyusup ke setiap penjuru kamar, mereka masih seperti dulu. Aku membalikkan badan memandangi setiap sudut kamar lalu langit-langitnya yang juga masih sama, letak lemari, rak buku, meja belajar, tumpukan kaset-kaset yang berisi lagu dan film kesayanganku, masih tetap sama. Tak ada yang berbeda disini. Aku masih bernapas, jantungku masih berdetak dan denyut nadiku masih bekerja dengan normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa , tapi apakah yang dirasakan oleh hati juga masih seperti biasa?
Entah apa yang muncul dalam benakku, tidak seperti biasanya ketika bangun tidur aku langsung bergegas menuju kamar mandi, di pagi yang sangat dingin ini aku justru memutuskan untuk kembali ke tempat tidur, menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam disana. Dan tetap saja tak kutemukan kehangatan, aku tetap mengigil, sendirian.
Sejenak, aku melirik layar ponselku. Hari ini, tanggal 16 Juni. Seberapa pentingkah tanggal ini? Ya... memang tidak penting bagi siapapun yang tidak mengalami sesuatu yang istimewa di tanggal enam belas. Namun bagiku tanggal enam belas memiliki banyak arti. Semua dimulai pada suatu tanggal enam belas. Tanggal enam belas yang dingin, berkabut, mendung, namun tidak dapat mengalahkan kehangatan hati kita saat itu. Semua berjalan dengan sangat singkat, hingga akhirnya aku tersadar tidak semua yang kugenggam dalam jemari akan tetap selalu menjadi milikku. Hari juga berlalu begitu cepat. Sudah lebih dari tiga ratus enam puluh hari yang tergambar dengan berbagai macam warna dalam duniaku semenjak aku melihat sosokmu. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak kata yang terucap untukmu. Mungkin ini memang salahku yang terlalu perasa. Salahku, yang mengartikan segalanya terlalu berani. Kamu memilih untuk pergi. Ini juga salahku karena tak mampu menahan jejak langkahmu ketika ingin menjauh. Dan salahku juga yang terlalu cepat menempatkan rasa pada hati yang ternyata bukan tujuan terbaik.
Duniaku terasa semakin indah sejak tanggal enam belas kala itu. Namun, seperti yang aku katakan, semua berlalu dengan sangat cepat, secepat perpisahan yang menghampiri warna-warni duniaku. Setelah perpisahan itu, hari-hari yang kulalui masih sama. Aku masih mengerjakan apa yang biasanya selalu menjadi pengisi hari-hariku. Dan, aku mulai berusaha mencari penggantimu. Mereka berlalu-lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama, ada yang hanya ingin singgah. Si A, si B, si C hingga entah siapa saja yang masuk ke dalam duniaku, berusaha untuk menggantikan tempatmu di hatiku. Namun semuanya berganti. Tak ada lagi yang sama, kali ini semua telah berbeda. Tak ada kamu yang dulu, tak ada kita yang dulu. Iya, kenangan berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak menuju masa depan. Hidup tak lagi sama dan aku masih berjuang untuk melupakan sosokmu yang tidak dapat lagi terengkuh oleh pelukan. Padahal, aku masih menjalani hari yang sama, aku masih menjadi diriku, jiwaku masih lekat dengan tubuhku. Tapi, masih ada yang kurang dan berbeda. Mereka bilang, jemari diciptakan untuk menghapus air mata. Namun dimanakah jemarimu saat aku tak mampu menghapus air mataku sendiri? Lewat waktu yang pernah kulalui bersamamu, aku mengerti bahwa perpisahan terjauh bukan antara langit dan bumi ataupun antara kehidupan dan kematian, namun antara aku dan kamu yang masih berotasi dalam dunia yang sama meskipun tak lagi saling menyapa. Cinta memang tak pernah lelah menanti namun aku begitu yakin suatu saat aku akan berhenti menangisimu. Apa pun yang kamu katakan, bagaimana pun kamu menolaknya, cinta akan terus berada disini, dihatiku, meski entah sampai kapan pengakuan itu akan datang darimu. Takdir kita sudah jelas, kamu dan aku tahu itu. Suatu saat, cinta akan membuatmu mengerti bagaimana rasanya memiliki seseorang hanya lewat sebatas harap.
Setelah sekian banyak yang terlewatkan tanpa arti, aku paham bahwa yang terbaik saat ini adalah melatih hati agar siap menerima apa pun yang akan terjadi nantinya juga membimbing rasa agar tidak lagi tersesat untuk segera menuju hati yang tepat. Pada kesedihan di masa lalu, akan kukumpulkan kenanganmu di dalam sebuah ruangan gelap dan kutinggalkan disana. Selamat empat tahun yang gagal. Jika kamu merindukan kita yang dulu, aku pun juga begitu.



Comments