June 30, 2014

A Heart-Warming Story

Nggak sengaja nemuin ini di Twitter. Bener atau nggaknya, siapa tahu? Yang jelas, bagiku cerita ini bener-bener menyentuh, meskipun terjadi sama mereka yang berkeyakinan beda denganku, meskipun terjadi di tempat yang antah-berantah, meskipun terjadi di waktu yang entah kapan.
Aku sedang berkeliling di sebuah toko lalu melihat petugas kasir kembali meminta uang pada seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu tidak lebih dari lima atau enam tahun.
Petugas kasir mengatakan, "Maaf, tapi kamu tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini."
Anak kecil itu lalu berpaling pada wanita tua di sampingnya, "Nek, apa nenek yakin aku tidak punya cukup uang?"
Wanita tua itu menjawab, "Kamu tahu itu, kamu tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, Sayang." Lalu wanita tua tersebut memintanya untuk tinggal di sana selama lima menit sementara ia pergi untuk berkeliling sejenak di dalam toko. Anak kecil itu masih memegang boneka di tangannya.
Aku berjalan ke arah anak kecil tersebut dan bertanya kepada siapa dia ingin memberikan boneka tersebut.
"Ini adalah boneka kesukaan adikku dan sangat diinginkannya saat Natal. Ia yakin bahwa Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya."
Aku lalu mengatakan bahwa mungkin Santa Claus akan membawakan boneka itu untuknya setelah semua ini dan ia tidak perlu khawatir.
Tapi dia menjawab dengan sedih. "Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dimana dia sekarang. Aku harus memberikan boneka ini pada Ibuku agar ia bisa memberikannya kepada adikku ketika pergi ke sana." Matanya begitu sedih saat mengatakan hal itu. "Adikku telah pergi bersama Tuhan. Ayah mengatakan bahwa Ibu juga akan segera pergi bersama Tuhan, jadi aku pikir dia bisa membawa boneka ini untuk memberikannya kepada adikku."
Jantungku hampir berhenti. Anak kecil itu menatapku lalu kembali berkata, "Aku mengatakan kepada Ayah untuk memberitahu Ibu agar tidak pergi dulu. Aku membutuhkannya untuk menunggu sampai aku kembali dari toko." Lalu ia menunjukkan sebuah foto yang sangat bagus di mana ia tampak sedang tertawa. Anak kecil itu lalu berkata padaku, "Aku ingin Ibu membawa fotoku bersamanya agar ia tidak melupakanku. Aku sayang Ibu dan berharap ia tidak meninggalkanku tapi Ayah mengatakan bahwa Ibu harus pergi bersama adikku."
Kemudian ia kembali menatap boneka tersebut dengan mata sedih, sangat hening. Aku cepat-cepat mengambil dompet dan berkata kepada anak itu, "Sebaiknya kita periksa lagi, mungkin kamu punya cukup uang untuk boneka itu?"
“Baiklah.” Ucapnya, "Aku berharap punya cukup uang."
Aku menambahkan uangku pada uangnya tanpa ia tahu dan kami mulai menghitung. Ada cukup untuk boneka dan malah bersisa.
Anak kecil itu berkata, "Terima kasih Tuhan karena memberiku cukup uang!" Lalu ia menatapku dan menambahkan, "Tadi malam aku meminta sebelum pergi tidur agar Tuhan memastikan bahwa aku memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini, sehingga Ibu bisa memberikannya pada adikku. Ia mendengarku! Aku juga ingin punya cukup uang untuk membeli mawar putih untuk Ibu, tapi aku tidak berani meminta terlalu banyak pada-Nya. Tapi ternyata Ia memberiku cukup uang untuk membeli boneka dan mawar putih. Ibu sangat menyukai mawar putih.”
Beberapa menit kemudian, wanita tua tadi kembali dan aku pun pergi membawa keranjangku. Aku selesai berbelanja dengan jumlah yang sama sekali berbeda dari ketika aku ingin memulainya tadi. Aku tidak bisa menghilangkan anak kecil itu dari pikiranku. Aku teringat sebuah artikel koran lokal dua hari lalu yang menyebutkan seorang pemabuk dalam truk menabrak sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang wanita muda dan gadis kecil. Sang gadis kecil meninggal saat itu juga sementara sang Ibu dalam keadaan kritis. Keluarga harus memutuskan untuk menarik steker pada mesin penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak akan mampu untuk pulih dari koma. Apakah itu keluarga dari anak kecil tadi? Dua hari setelah pertemuan dengan anak kecil tersebut, aku membaca di koran bahwa wanita muda itu akhirnya meninggal dunia. Aku tidak bisa menahan diri untuk membeli seikat mawar putih dan pergi ke rumah duka di mana jenazahnya di semayamkan bagi orang-orang yang ingin melihat dan membuat keinginan terakhir sebelum pemakamannya. Dia berada di sana, di dalam peti matinya, menggenggam mawar putih yang indah di tangannya dengan foto seorang anak laki-laki dan boneka yang ditempatkan di atas dadanya. Aku meninggalkan tempat tersebut, berlinang air mata, merasa bahwa hidupku telah berubah selamanya. Kasih sayang seorang anak laki-laki kepada Ibu dan adiknya masih tetap ada, bahkan sampai saat ini, sulit untuk membayangkan. Dan dalam sepersekian detik, seorang pengemudi mabuk telah mengambil semua darinya.

No comments: