June 30, 2014

A Heart-Warming Story

Nggak sengaja nemuin ini di Twitter. Bener atau nggaknya, siapa tahu? Yang jelas, bagiku cerita ini bener-bener menyentuh, meskipun terjadi sama mereka yang berkeyakinan beda denganku, meskipun terjadi di tempat yang antah-berantah, meskipun terjadi di waktu yang entah kapan.
Aku sedang berkeliling di sebuah toko lalu melihat petugas kasir kembali meminta uang pada seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu tidak lebih dari lima atau enam tahun.
Petugas kasir mengatakan, "Maaf, tapi kamu tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini."
Anak kecil itu lalu berpaling pada wanita tua di sampingnya, "Nek, apa nenek yakin aku tidak punya cukup uang?"
Wanita tua itu menjawab, "Kamu tahu itu, kamu tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, Sayang." Lalu wanita tua tersebut memintanya untuk tinggal di sana selama lima menit sementara ia pergi untuk berkeliling sejenak di dalam toko. Anak kecil itu masih memegang boneka di tangannya.
Aku berjalan ke arah anak kecil tersebut dan bertanya kepada siapa dia ingin memberikan boneka tersebut.
"Ini adalah boneka kesukaan adikku dan sangat diinginkannya saat Natal. Ia yakin bahwa Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya."
Aku lalu mengatakan bahwa mungkin Santa Claus akan membawakan boneka itu untuknya setelah semua ini dan ia tidak perlu khawatir.
Tapi dia menjawab dengan sedih. "Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dimana dia sekarang. Aku harus memberikan boneka ini pada Ibuku agar ia bisa memberikannya kepada adikku ketika pergi ke sana." Matanya begitu sedih saat mengatakan hal itu. "Adikku telah pergi bersama Tuhan. Ayah mengatakan bahwa Ibu juga akan segera pergi bersama Tuhan, jadi aku pikir dia bisa membawa boneka ini untuk memberikannya kepada adikku."
Jantungku hampir berhenti. Anak kecil itu menatapku lalu kembali berkata, "Aku mengatakan kepada Ayah untuk memberitahu Ibu agar tidak pergi dulu. Aku membutuhkannya untuk menunggu sampai aku kembali dari toko." Lalu ia menunjukkan sebuah foto yang sangat bagus di mana ia tampak sedang tertawa. Anak kecil itu lalu berkata padaku, "Aku ingin Ibu membawa fotoku bersamanya agar ia tidak melupakanku. Aku sayang Ibu dan berharap ia tidak meninggalkanku tapi Ayah mengatakan bahwa Ibu harus pergi bersama adikku."
Kemudian ia kembali menatap boneka tersebut dengan mata sedih, sangat hening. Aku cepat-cepat mengambil dompet dan berkata kepada anak itu, "Sebaiknya kita periksa lagi, mungkin kamu punya cukup uang untuk boneka itu?"
“Baiklah.” Ucapnya, "Aku berharap punya cukup uang."
Aku menambahkan uangku pada uangnya tanpa ia tahu dan kami mulai menghitung. Ada cukup untuk boneka dan malah bersisa.
Anak kecil itu berkata, "Terima kasih Tuhan karena memberiku cukup uang!" Lalu ia menatapku dan menambahkan, "Tadi malam aku meminta sebelum pergi tidur agar Tuhan memastikan bahwa aku memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini, sehingga Ibu bisa memberikannya pada adikku. Ia mendengarku! Aku juga ingin punya cukup uang untuk membeli mawar putih untuk Ibu, tapi aku tidak berani meminta terlalu banyak pada-Nya. Tapi ternyata Ia memberiku cukup uang untuk membeli boneka dan mawar putih. Ibu sangat menyukai mawar putih.”
Beberapa menit kemudian, wanita tua tadi kembali dan aku pun pergi membawa keranjangku. Aku selesai berbelanja dengan jumlah yang sama sekali berbeda dari ketika aku ingin memulainya tadi. Aku tidak bisa menghilangkan anak kecil itu dari pikiranku. Aku teringat sebuah artikel koran lokal dua hari lalu yang menyebutkan seorang pemabuk dalam truk menabrak sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang wanita muda dan gadis kecil. Sang gadis kecil meninggal saat itu juga sementara sang Ibu dalam keadaan kritis. Keluarga harus memutuskan untuk menarik steker pada mesin penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak akan mampu untuk pulih dari koma. Apakah itu keluarga dari anak kecil tadi? Dua hari setelah pertemuan dengan anak kecil tersebut, aku membaca di koran bahwa wanita muda itu akhirnya meninggal dunia. Aku tidak bisa menahan diri untuk membeli seikat mawar putih dan pergi ke rumah duka di mana jenazahnya di semayamkan bagi orang-orang yang ingin melihat dan membuat keinginan terakhir sebelum pemakamannya. Dia berada di sana, di dalam peti matinya, menggenggam mawar putih yang indah di tangannya dengan foto seorang anak laki-laki dan boneka yang ditempatkan di atas dadanya. Aku meninggalkan tempat tersebut, berlinang air mata, merasa bahwa hidupku telah berubah selamanya. Kasih sayang seorang anak laki-laki kepada Ibu dan adiknya masih tetap ada, bahkan sampai saat ini, sulit untuk membayangkan. Dan dalam sepersekian detik, seorang pengemudi mabuk telah mengambil semua darinya.

June 29, 2014

Hanya Terus Berjalan

Hati akan menuntun jalan yang tertutup kabut. Meski pun tampak berliku tapi ia selalu memberi arah untuk melangkah. Entah benar, entah salah. Saat jarak yang berlalu sudah terlalu jauh, semua lelah pun tertumpah lalu membasuh semangat yang masih berkobar. Mungkin memadamkan, mungkin terus membakar. Tulang rusuk yang terlepas ini akan mencari kembali sang empunya. Lalu si pemilik yang merasa kehilangan di sana juga terus mencari remah rusuknya. Tidak perlu mengeluh, hanya terus berjalan. Kelak, waktu akan menjahit lukanya, meredam segala rasa perih yang tak mampu dijelaskan itu juga menguji semangat yang masih tersisa di ujung napas. Berikan hati keluangan agar ia mampu sejalan dengan pikiran untuk meneruskan langkah yang terseok ini. Menangkap pikiran yang selalu diburu memang bukan perkara mudah tapi di balik itu semua, jiwa akan mengepakkan sayap yang mulai membuka lalu memberi kekuatan untuk mengangkat kurungan ini lebih tinggi dari segala mimpi. Hati akan terus menyempurnakan langkah yang membekas. Bersama semangat yang perlahan terkikis oleh rasa lelah, pikiran dan jiwa juga akan membuka masa lalu yang kusut, menumpahkan segala sesal di sana, tanpa perlu membawanya dalam langkah.



June 28, 2014

Jauh


Langit malam tampak begitu cerah dengan segala seri-seri di setiap sisinya, ia kian mampu menebarkan kehangatan dalam setiap labirin-labirin hati. Ratusan bahkan ribuan cahaya lampu di bawah sana pun seakan saling menyapa jalanan. Aku mengetatkan syal rajutan yang melingkari leher. Semakin tinggi jarak kita dari permukaan laut maka semakin rendah pula suhu yang akan kita rasakan, hal sederhana itulah yang terbesit dalam pikiranku saat teringat salah satu materi pelajaran fisika yang pernah diajarkan oleh guru kesayanganku ketika aku masih duduk di bangku SMA. Hari ini, tepat satu bulan sejak ujian kelulusan dari masa putih abu-abu. Hanya tinggal menunggu beberapa waktu sampai aku memperoleh pengumuman hasil kelulusan. Tentu saja aku berharap seluruh siswa seangkatanku tahun ini bisa lulus seratus persen juga dapat memperoleh nilai yang memuaskan. Harapan itulah yang nantinya mampu mengantarkanku untuk menggapai mimpi-mimpi yang telah lama kupajang pada dinding-dinding hati dan pikiran. Berharap aku mampu mewujudkan semua itu demi orang-orang tersayang yang senantiasa ada di sampingku dalam segala suka dan duka. Dan harapan itu pula yang akhirnya mengantarkan langkahku hingga sampai di tempat ini, atap salah satu gedung pencakar langit di kota yang penuh dengan berbagai gemerlapan dunia, Jakarta. Udara malam pun semakin memaksa masuk menembus setiap celah pori-pori kulitku. Dingin dan hangat terasa silih berganti. Damai, satu kata yang mampu menggambarkan suasana hatiku saat ini. Duduk di tepian atap gedung-gedung tinggi adalah salah satu mimpiku sejak kecil. Aku ingin menginjakkan kaki di tempat-tempat tertinggi dunia, dimana aku bisa memanjakan indera penglihatan dengan berbagai kelap-kelip semesta. Dari sini pula aku bisa menyapa bulan yang senantiasa bersanding damai bersama bintang, meskipun tidak selalu tampak tapi mereka selalu ada… bersisian. Berbeda halnya dengan kita yang tidak mampu lagi saling menyapa, menatap apalagi merengkuh dengan jemari. Kini aku sadar, jarak terjauh bukan antara langit dan bumi tapi antara hati kita yang berada dalam raga yang sebenarnya dekat tapi terasa begitu jauh.

June 26, 2014

Filosofi Keindahan Bunga Tulip


Kali ini, aku akan sedikit bercerita tentang salah satu bunga yang menjadi kesukaanku. Bunga Tulip.
Meskipun awalnya aku sama sekali tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan bunga, namun ternyata keindahan bunga Tulip dapat menggugah hatiku. Berawal dari hobi membaca berbagai macam buku referensi, akhirnya aku menemukan filosofi tentang macam-macam bunga yang paling dikagumi di dunia. Salah satunya adalah Tulip (Tulipa) yang merupakan nama genus untuk 100 spesies tumbuhan berbunga yang termasuk ke dalam keluarga Liliaceae. Tulip berasal dari Asia Tengah, tumbuh liar di kawasan pegunungan Pamir dan pegunungan Hindu Kush juga stepa di Kazakhstan. Negeri Belanda terkenal sebagai negeri bunga Tulip namun Tulip juga merupakan bunga nasional Iran dan Turki.
Tulip merupakan tumbuhan tahunan berumbi yang tingginya antara 10-70 cm, daunnya berlilin, berbentuk sempit memanjang berwarna hijau nuansa kebiru-biruan dan bunganya berukuran besar terdiri 6 helai daun mahkota. Tulip hasil persilangan menghasilkan bunga berwarna tunggal yakni merah, oranye, kuning, hijau, biru, ungu atau berbagai macam kombinasi dan gradasi warna. Tulip menghasilkan biji-biji berbentuk bundar pipih yang dibungkus kapsul kering.
Pada mulanya bunga Tulip tumbuh liar di kawasan Asia Tengah dan Asia Barat. Kerajaan Ottoman Turki terpikat pada keindahan dan kesempurnaan bunga Tulip dan mulai membudidayakan bunga tersebut sejak tahun 1000 M. Motif-motif bunga Tulip sudah sejak lama banyak dipakai dalam seni ornamen Persia dan Turki. Nama yang diberikan orang Eropa untuk Tulip berasal dari bahasa Persia untuk sorban (bahasa Persia: دلبنت, dulband) karena bunga Tulip ketika belum mekar sepenuhnya bentuknya terlihat seperti sorban.
Jenis-jenis Tulip yang sudah dikenal sejak zaman dulu mempunyai motif garis-garis, coretan kuas, jilatan api atau mempunyai warna lain pada bagian-bagian tertentu daun bunga, sedangkan jenis-jenis yang lebih baru mempunyai pola aneka warna pada daun bunganya. Sentuhan warna lain pada warna dasar bunga Tulip disebabkan perubahan pigmen di bagian atas dan bagian bawah bunga.
Infeksi virus mosaik yang dibawa serangga sejenis kutu menyebabkan terjadinya jenis Tulip langka dengan motif indah seperti coretan kuas yang diburu orang Belanda sewaktu demam bunga Tulip mania. Virus mosaik menyebabkan tanaman Tulip menderita dan mati perlahan-lahan, walaupun bunga yang dihasilkan menjadi sangat indah. Sekarang ini, virus mosaik dapat dikatakan sudah hampir musnah dari ladang-ladang bunga Tulip.
Di Kerajaan Ottoman dan Belanda, tingginya permintaan atas Tulip yang tidak diimbangi pasokan yang cukup menimbulkan fenomena yang disebut Tulip mania. Permainan harga Tulip oleh para spekulan juga menjadi salah satu sebab kemunduran ekonomi Kesultanan Ottoman.
Belanda setiap tahunnya mengirimkan bunga Tulip untuk ditanam di kota Ottawa sebagai ucapan terima kasih kepada Kanada yang membebaskan Belanda dari Nazi Jerman dan sewaktu zaman pendudukan bermurah hati menyediakan tempat bermukim Ratu Juliana yang pada waktu itu masih puteri mahkota.
Bunga Tulip merupakan suatu simbol cinta dan indahnya kehidupan dunia. Berbicara mengenai keindahan bunga Tulip yang selalu indentik dengan negara Belanda memang tidak ada habisnya. Karena kecantikannya banyak orang yang sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Bahkan hanya untuk melihat pemandangan yang luar biasa indah dari bunga-bunga berwarna segar dan cerah tersebut, banyak wisatawan yang berbondong-bondong untuk berkunjung ke negara Belanda. Negara Belanda adalah surga taman bunga yang memukau sepanjang tahun, bahkan ketika musim semi telah berganti. Anna Paulowna adalah salah satu nama kota di negara Belanda yang menjadi terkenal karena keindahan taman-taman bunga Tulipnya. Kota tersebut terletak di bagian Belanda sebelah utara (Noord Holland). Anna Paulowna adalah nama yang dimiliki oleh istri raja Willem II dari Belanda yang berasal dari Rusia. Kota tersebut dinamakan seperti itu untuk menghormatinya. Wisatawan yang berkunjung ke taman-taman bunga di kota Anna Paulowna akan selalu dapat melihat dan menikmati pemandangan yang tidak terlupakan dari keindahan bunga-bunga ciri khas negeri kincir angin tersebut.
Pada bulan Maret di Belanda, terlebih dahulu mulai mekar bunga-bunga Crocus, lalu setelah itu diikuti dengan mekarnya bunga-bunga atraktif yang bernama Narsis/Dafodil (Narcissus). Pada musim semi yang dikenal sebagai musim yang paling indah dan romantis, dimulai dari bulan April hingga pertengahan Mei, bunga-bunga Tulip dan Hyacinths dengan warna-warna cantik dan cerah mulai terlihat bermekaran sehingga membuat pemandangan di kota menjadi penuh warna yang hidup. Untuk menikmati keindahan dari pesona bunga Gladioli yang manis ada saatnya tersendiri, yaitu di bulan Agustus.
Bunga telah menjadi suatu industri dan komoditas di negara Belanda yang terus mengalami perkembangan yang baik dan pesat sejak abad ke 20. Karena perkembangannya itu, di kota-kota penghasil bunga di negara Belanda banyak bermunculan balai lelang, koperasi petani dan pusat perdagangan bunga. Sejak saat itu Belanda menjadi produsen bunga dalam jumlah besar hingga sekarang. Sehingga banyak negara di seluruh dunia termasuk Indonesia mengimpor bunga dari Belanda.

Ada berbagai macam jenis bunga Tulip dilihat dari variasi warnanya namun jenis-jenis bunga Tulip yang paling umum dijumpai adalah sebagai berikut.

1. Tulip Merah
Bunga Tulip merah digunakan untuk mengungkapkan cinta. Tulip merah adalah lambang keyakinan cinta sehingga cinta sejati dapat dikaitkan dengan bunga Tulip berwarna merah ini. Konon, seorang pangeran Turki bernama Farhad jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Shirin. Kematian Shirin meninggalkan Farhad dalam kesedihan dan putus asa sehingga dia melompat dari atas tebing. Tetesan darah Farhad muncul pada Tulip merah sehingga Tulip ini melambangkan cinta tanpa pamrih.

2. Tulip Putih
Bunga Tulip putih dapat diartikan sebagai kemurnian, kepolosan dan kerendahan hati. Di samping itu, bunga Tulip juga dapat digunakan dalam upacara pemakaman. Bunga Tulip biru adalah varian dari Tulip putih. Keduanya mewakili arti perdamaian dan ketenangan.

3. Tulip Ungu
Bunga Tulip ungu melambangkan royalti. Warna ungu dikaitkan dengan kebangsawanan seperti pada cerita Hamlet, sebuah drama yang ditulis oleh William Shakespeare. Di Ukraina, Tulip ditemukan dalam karya seni yang berhubungan dengan kelahiran kembali dan musim semi.

4. Tulip Oranye
Bunga Tulip oranye mewakili kebahagiaan. Warna ini juga digunakan sebagai lambang saling pengertian antara pasangan. Kehangatan, daya tarik, energi, keinginan, antusiasme adalah beberapa kualitas dari Tulip oranye.

5. Tulip Kuning
Bunga Tulip kuning seringkali terkait dengan persahabatan. Warna kuning mewakili sinar matahari. Oleh karena itu, Tulip kuning cocok dengan seseorang yang sedang berseri-seri. Di lain sisi, Tulip kuning juga melambangkan penolakan cinta.

6. Tulip Merah Muda
Bunga Tulip berwarna merah muda digunakan untuk menyajikan gagasan atas kebahagiaan yang sempurna. Bunga-bunga ini melambangkan harapan yang baik.

Ada begitu banyak nuansa bunga Tulip selain yang disebutkan di atas. Misalnya, Tulip yang beraneka warna melambangkan keindahan.


Tulip warna krim mempunyai arti untuk mengekspresikan komitmen. Tulip adalah satu di antara bunga-bunga yang paling indah di muka bumi oleh sebab itu banyak orang yang mengagumi bunga khas negeri Belanda tersebut.

June 16, 2014

Enam Belasku... Selamat Empat Tahun Yang Gagal


Aku terbangun di pagi yang begitu dingin. Seperti biasa, menatap layar ponsel beberapa saat lalu melirik ke arah jam, pukul lima pagi. Masih dengan kesadaran yang belum sempurna aku bangun dari tempat tidur lalu berjalan menuju jendela dengan langkah gontai. Perlahan aku membukanya dan menghirup udara pagi yang begitu segar. Menatap keluar, semua masih tampak sama. Bagaimana letak rumah-rumah di sekitar tempat tinggalku, bagaimana merdunya kicauan burung di ranting pohon, bagaimana sejuknya semilir angin yang langsung menyusup ke setiap penjuru kamar, mereka masih seperti dulu. Aku membalikkan badan memandangi setiap sudut kamar lalu langit-langitnya yang juga masih sama, letak lemari, rak buku, meja belajar, tumpukan kaset-kaset yang berisi lagu dan film kesayanganku, masih tetap sama. Tak ada yang berbeda disini. Aku masih bernapas, jantungku masih berdetak dan denyut nadiku masih bekerja dengan normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti biasa , tapi apakah yang dirasakan oleh hati juga masih seperti biasa?
Entah apa yang muncul dalam benakku, tidak seperti biasanya ketika bangun tidur aku langsung bergegas menuju kamar mandi, di pagi yang sangat dingin ini aku justru memutuskan untuk kembali ke tempat tidur, menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam disana. Dan tetap saja tak kutemukan kehangatan, aku tetap mengigil, sendirian.
Sejenak, aku melirik layar ponselku. Hari ini, tanggal 16 Juni. Seberapa pentingkah tanggal ini? Ya... memang tidak penting bagi siapapun yang tidak mengalami sesuatu yang istimewa di tanggal enam belas. Namun bagiku tanggal enam belas memiliki banyak arti. Semua dimulai pada suatu tanggal enam belas. Tanggal enam belas yang dingin, berkabut, mendung, namun tidak dapat mengalahkan kehangatan hati kita saat itu. Semua berjalan dengan sangat singkat, hingga akhirnya aku tersadar tidak semua yang kugenggam dalam jemari akan tetap selalu menjadi milikku. Hari juga berlalu begitu cepat. Sudah lebih dari tiga ratus enam puluh hari yang tergambar dengan berbagai macam warna dalam duniaku semenjak aku melihat sosokmu. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak kata yang terucap untukmu. Mungkin ini memang salahku yang terlalu perasa. Salahku, yang mengartikan segalanya terlalu berani. Kamu memilih untuk pergi. Ini juga salahku karena tak mampu menahan jejak langkahmu ketika ingin menjauh. Dan salahku juga yang terlalu cepat menempatkan rasa pada hati yang ternyata bukan tujuan terbaik.
Duniaku terasa semakin indah sejak tanggal enam belas kala itu. Namun, seperti yang aku katakan, semua berlalu dengan sangat cepat, secepat perpisahan yang menghampiri warna-warni duniaku. Setelah perpisahan itu, hari-hari yang kulalui masih sama. Aku masih mengerjakan apa yang biasanya selalu menjadi pengisi hari-hariku. Dan, aku mulai berusaha mencari penggantimu. Mereka berlalu-lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama, ada yang hanya ingin singgah. Si A, si B, si C hingga entah siapa saja yang masuk ke dalam duniaku, berusaha untuk menggantikan tempatmu di hatiku. Namun semuanya berganti. Tak ada lagi yang sama, kali ini semua telah berbeda. Tak ada kamu yang dulu, tak ada kita yang dulu. Iya, kenangan berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat tersendiri di hati yang sedang bergerak menuju masa depan. Hidup tak lagi sama dan aku masih berjuang untuk melupakan sosokmu yang tidak dapat lagi terengkuh oleh pelukan. Padahal, aku masih menjalani hari yang sama, aku masih menjadi diriku, jiwaku masih lekat dengan tubuhku. Tapi, masih ada yang kurang dan berbeda. Mereka bilang, jemari diciptakan untuk menghapus air mata. Namun dimanakah jemarimu saat aku tak mampu menghapus air mataku sendiri? Lewat waktu yang pernah kulalui bersamamu, aku mengerti bahwa perpisahan terjauh bukan antara langit dan bumi ataupun antara kehidupan dan kematian, namun antara aku dan kamu yang masih berotasi dalam dunia yang sama meskipun tak lagi saling menyapa. Cinta memang tak pernah lelah menanti namun aku begitu yakin suatu saat aku akan berhenti menangisimu. Apa pun yang kamu katakan, bagaimana pun kamu menolaknya, cinta akan terus berada disini, dihatiku, meski entah sampai kapan pengakuan itu akan datang darimu. Takdir kita sudah jelas, kamu dan aku tahu itu. Suatu saat, cinta akan membuatmu mengerti bagaimana rasanya memiliki seseorang hanya lewat sebatas harap.
Setelah sekian banyak yang terlewatkan tanpa arti, aku paham bahwa yang terbaik saat ini adalah melatih hati agar siap menerima apa pun yang akan terjadi nantinya juga membimbing rasa agar tidak lagi tersesat untuk segera menuju hati yang tepat. Pada kesedihan di masa lalu, akan kukumpulkan kenanganmu di dalam sebuah ruangan gelap dan kutinggalkan disana. Selamat empat tahun yang gagal. Jika kamu merindukan kita yang dulu, aku pun juga begitu.



June 9, 2014

Selamat Datang Kembali Juni

Selamat datang kembali Juni. Akhirnya kita bisa bertemu lagi setelah sebelas bulan lainnya terlewati. Apa kabarmu selama hampir satu tahun berlalu? Apakah Juni masih selalu memberikan hal-hal indah dalam setiap harinya? Juni, aku begitu merindukanmu. Entah kenapa kau masih menjadi bulan yang selalu kunantikan. Tidak terasa, ini adalah Juni keempat setelah Juni-Juni lain yang telah berlalu. Aku sempat berpikir, Juni akan terus terasa sama seperti dulu tapi ternyata aku salah. Aku tahu aku hanyalah seorang manusia yang bisa menebak tanpa bisa memastikan apa yang akan terjadi setelah itu. Dulu, kupikir Juni akan selalu indah, akan selalu cerah, akan selalu hangat tapi ternyata aku salah. Juni yang seperti itu hanya datang dua kali sebelum akhirnya berganti dengan Juni yang temaram, dingin, gelap dan begitu mengenaskan. Tapi meskipun begitu, aku tetap merasa bahagia setiap kali Juni menyapa.
Juni, bolehkah aku sedikit bertanya. Apa kabarnya ia di sana? Apakah rasa kami masih sama? Apakah hati kami masih saling mencari? Apakah ia juga masih merindukanku? Aku merindukannya, Juni. Rindu yang sama besar dengan rinduku padamu. Mungkin ia telah melupakanku, mungkin ia juga telah melupakanmu, Juni, mungkin ia telah melupakan kita. Tahukah kau bulan apa yang kini menjadi istimewa di hatinya? Desember. Bulan Desember kini menjadi sangat istimewa baginya, Juni. Rasanya aku tak perlu menjelaskan padamu, siapapun tahu kenapa bulan Desember menjadi sangat berarti baginya hingga menggantikanmu. Tapi jangan bersedih, Juni, karena kau akan tetap menjadi bulan yang paling istimewa bagiku. Hadirmu dapat membuatku kembali mengenangnya. Hadirmu dapat kembali mengingatkanku bahwa ia dan kisahnya nyata. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi, Juni. Aku senang bisa menghabiskan beberapa minggu ke depan untuk bercerita tentangnya padamu.