Panggung Kita

Aku memaksa mata ini terpejam tapi hati semakin bercerita. Tentang mereka yang saling berpegang tangan di penghujung jalan, dengan pikiran yang penuh dilema menentukan tujuan selanjutnya. Tetap bersama ataukah berpisah? Aku juga memaksa kaki ini melangkah pada jalan setapak penuh kerikil, menuju cahaya yang tampak di seberang jalan, justru hati semakin dipenuhi kebimbangan. Tetap bertahan disini ataukah berpisah? Mari bernostalgia mengingat kembali detik-detik pertama kita berada di sini, detik-detik pertama kita dalam balutan putih abu-abu, detik-detik dimana kita memulai semuanya dari awal, mengenal teman baru, sahabat baru, bahkan mungkin kekasih baru. Mereka bilang masa SMA adalah masa-masa paling indah. Benar atau tidak, tergantung dari sisi mana kita menilai. Di sini kita saling mengenal juga saling mewarnai hidup masing-masing, hitam, putih, abu-abu, semuanya.
Memang terkadang kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Perlahan tapi pasti tirai pun mulai menutup panggung kita. Panggung dimana kita menghabiskan lebih dari seribu hari dalam berbagai canda, tawa, tangis, benci, rindu, kekonyolan, haru dan berbagai hari penuh makna lainnya. Sebuah pertanda untuk memulai cerita baru di panggung yang baru. Lembaran kertas baru terbuka lalu membiarkan sang pena melangkah di sana tanpa melupakan setiap makna yang ada pada lembaran lama. Ketahuilah, musim terindah yang pernah kudapati selama berada di panggung ini adalah ketika kau nyalakan pagi dengan senyummu, ketika kau payungi siang dengan sapaan jenaka dan teriakanmu yang terkadang memekakkan telinga, ketika kau tutup malam dengan sebuah janji agar kita bertemu kembali di pagi yang akan datang. Seringkali aku berharap kita bisa seperti kembang api. Naik ke atas memancarkan cahaya, bertebaran di udara lalu berpisah bila saatnya tiba. Namun kita tidak perlu lenyap seperti kembang api, tetaplah bersinar sampai kapan pun. Perpisahan memang datang untuk menyadarkan kita bahwa ada saat dimana waktu akan sulit terulang kembali dan yang tertinggal hanyalah berbagai macam kenangan dalam ingatan. Panggung kita, tempat dimana kita memainkan berbagai sandiwara, akan tetap menjadi panggung kita. Panggung kita, tempat dimana cinta masa sekolah yang pernah terjadi, akan selalu menjadi milik kita. That was the best moment and part of sweet memories. Di panggung ini, kita ciptakan hangat sebuah cerita. Tapi kini saatnya kita bergegas, menyambut masa depan meskipun tidak lagi saling berpegang tangan. Kita ciptakan senandung-senandung penuh kedamaian juga kebencian, kita ciptakan tawa juga tangis, kita ciptakan perasaan amarah juga rindu. Semua terjadi di sini, di panggung kita. Panggung ini mungkin hanya tempat kecil dimana kita menghabiskan sebagian waktu tapi aku yakin kau juga pernah berharap agar waktu ini tidak berlalu. Panggung ini yang akhirnya membawa kita pada sebuah persimpangan, panggung ini pula yang akhirnya memaksa kita untuk menentukan arah dan mengalahkan sebagian rasa demi menggapai asa.
Bagaimana mungkin mentari berkabung dalam selimut gelap? Sementara tidak satu pun angin bersenandung. Ratap perih menggema dalam sebuah jurang kesunyian. Raga ingin pergi, hati pun ingin lalui tapi tidak satu pun gerak bergeming. Hanya diam, tanpa bicara. Kita merasakan tangan yang saling menggenggam. Keduanya erat mengayun mengikuti nafas bersama langkah kaki hingga kita sama-sama lupa rasanya berjalan tanpa bersama. Di sini kita bertemu, di sini pula kita berpisah. Semua kenangan seakan berlalu, segalanya berganti begitu cepat. Detik yang berganti hari seakan mempercepat pertemuan kita. Ada harapan di setiap pertemuan, ada keinginan di setiap perpisahan. Dalam puing-puing waktu, telah jauh kita arungi arti sebuah pertemuan. Terus melangkah hingga bertemu pada sebuah perpisahan. Berawal dari sebuah pertemuan yang berkembang menjadi kebersamaan lantas menjelma dalam sebuah keakraban. Lajur kehidupan berputar membawa alur cerita dalam suka dan duka. Awal adalah akhir dan akhir adalah awal. Semua yang berawal pasti akan berakhir, semua yang berakhir juga pasti berawal kembali. Mata yang berkaca, jantung yang berdetak tidak menentu, pikiran yang melayang membelah angkasa, gemuruh yang menerpa rasa. Ketika terucap salam perpisahan, walau air mata tidak berlinang bukan berarti suatu kerelaan. Saat-saat langkah terayun, jarak kita pun semakin membentang. Berharap semua akan terkenang dan tidak akan hanyut terbawa gelombang
Berikan senyuman terindah untuk sebuah perpisahan. Kenanglah panggung ini bersama segala yang telah kita lewati, kenanglah kita untuk selamanya. Saatnya melangkah dan menemukan panggung baru untuk dijadikan pijakan menuju masa depan. Tidak perlu menjadi orang lain agar disenangi banyak orang, jadilah dirimu sendiri karena setiap manusia memiliki karakter masing-masing yang membuatnya berbeda dari yang lain dan justru terlihat lebih menarik. Tidak perlu pula merasa kesepian meskipun kau sedang sendiri. Sendiri itu perlu tapi jangan sampai membuatmu merasa kesepian karena yang terpenting adalah bukan berada bersama seseorang tapi berada untuk seseorang.

Comments