May 9, 2014

Ketika Patah Hati Mencoba Mematahkan Hidupmu

Malam ini aku baru saja mendarat dengan salah satu maskapai penerbangan nasional di Bandara Soekarno Hatta. Kulirik jam tangan yang jarum pendeknya parkir di antara angka sepuluh dan sebelas sementara jarum panjangnya lagi santai sama angka tujuh. Yup, sekitar pukul setengah sebelas malam. Begitu keluar dari terminal kedatangan, kuaktifkan ponsel yang sejak dua jam lalu menyala dengan flight mode. Nggak lama, masuk sebuah pesan singkat yang setelah kubuka ternyata datang dari sepupuku, Sinta. Isinya ya sudah bisa kutebak, dia bakal terlambat meng-drop out ku dari bandara karena mobilnya yang mogok. Mau gimana lagi? Alhasil aku putuskan untuk sejenak berkeliling area bandara sambil mencari tempat yang enak buat istirahat selagi menunggu Sinta dan Mas Bayu datang. Mataku lalu tertuju pada sebuah tempat yang bisa dibilang mirip kafe kecil, kulangkahkan kaki dan masuk ke dalamnya lalu segera memesan segelas cokelat panas. Sebenarnya sih namanya saja cokelat panas tapi pas diminum ya terasa hangat.
Ini adalah kali pertamaku berangkat ke Jakarta sendirian. Menempuh perjalanan dua jam lamanya dari Kuala Namu Internasional Airport atau yang biasa disebut KNIA hingga sampai di Bandara Soetta dan harus menunggu entah berapa lama lagi sampai Sinta dan Mas Bayu menjemput itu benar-benar terasa double boring. Aku mengedarkan pandangan pada keadaan sekeliling bandara yang masih tetap saja kelihatan ramai meskipun sudah hampir tengah malam. Ya iyalah, secara ini ibukota negara kali. Hujan deras yang entah sejak kapan mengguyur Jakarta pun tampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti. Dari pada bosan, buru-buru aku mengeluarkan laptop dari dalam tas ranselku dan berniat untuk blogging. Ini sudah seperti kebiasaan rutinku setiap kali menemukan wi-fi gratis. Setelah tahu passwordnya dari mbak-mbak yang berdiri di depan kasir, aku pun langsung masuk ke web page blogku yang sebelumnya sudah kusimpan di bookmark supaya cepat kalau ingin mengaksesnya.
Awalnya sih aku nggak punya inisiatif apapun buat diposting, eh tiba-tiba muncul ide sewaktu kulihat sepasang muda-mudi yang baru saja keluar dari mobil dan lagi mengarah ke kafe tempat dimana aku berada sekarang. Mereka melangkah melewati pintu masuk kafe dengan wajah yang entah disebut apa. Galau, sendu, sedih, semua seperti menyatu menjadi satu. Setelah memesan minuman mereka pun duduk di depan meja yang berada tepat di sampingku. Jarak yang tidak lebih dari empat meter ini membuatku mendengar sedikit percakapan mereka dengan samar-samar. Sebenarnya aku sama sekali nggak berniat mendengar obrolan mereka, hanya saja aku terpaksa mendengarnya karena jarak kami yang berdekatan.
Setelah hampir lima belas menit kulekatkan mataku menatap screen laptop dengan telinga yang juga mendengar apa yang nggak seharusnya kudengar, aku sedikit mengerti permasalahan yang sedang mereka alami. Ya Tuhan, apa kehidupan remaja-remaja di kota metropolitan pada zaman modern ini harus berakhir dengan kekacauan seperti itu? Wanita itu yang awalnya kuperkirakan berumur nggak jauh berbeda denganku ternyata seorang pecandu narkoba. What a terrible thing! Dan ternyata benar, usia kami sama-sama baru akan menginjak angka delapan belas pada tahun ini. Masih terlalu belia rasanya untuk masuk dalam sebuah jerat perangkap yang bernama narkoba. Sejenak kuperhatikan penampilan wanita itu. Wajahnya sama sekali nggak menunjukkan sifat nakal apalagi kriminal, pakaiannya juga terbilang sopan untuk ukuran remaja-remaja yang hidup di kota besar seperti Jakarta ini. Lalu, apa yang membuatnya bisa terjerumus dalam dunia yang seharusnya dihindari bahkan dijauhi? Patah hati. Apa? Aku nggak salah dengar kan ya? Tiba-tiba saja aku tersedak setelah mendengar sesuatu yang baru saja mereka bicarakan. Aku menoleh pada mereka yang sepertinya merasa terganggu lalu mengucapkan kata “sorry”. Buru-buru kukeluarkan ponsel dari dalam kantong sweaterku lalu berpura-pura untuk menelepon seseorang. Mereka lalu kembali serius melanjutkan pembicaraan.
Mataku kini tertuju pada screen ponsel yang tengah menampilkan timeline Twitter. Aku meng-scroll down satu demi satu tweet yang muncul berusaha menghilangkan kecanggunganku karena hal yang benar-benar memalukan tadi. Pikiranku masih saja berputar, mencoba menemukan logika yang tepat yang bisa menghubungkan drugs with broken heart. Jangan bilang aku nggak pernah merasakan yang namanya patah hati. Hei, masalah cintaku juga nggak kalah peliknya, termasuk dalam tingkat menengah ke atas… parahnya. Kalau kalian pernah merasakan sakit yang teramat sangat sakit ketika harus bertemu dengan sebuah kehilangan padahal sedang berada di puncak kebahagiaan, maka aku pernah merasakannya. Kalau kalian pernah ditinggalkan oleh seseorang yang sama sekali nggak pernah kalian bayangkan bakal pergi begitu saja tanpa sedikit penjelasan atau sepatah kata pun, maka aku juga pernah mengalaminya. Tapi, masalah cinta nggak seharusnya membuat kita down, drop dan stuck dalam waktu yang cukup lama dalam sebuah kehancuran kan?
Pernah nggak kalian berpikir “she/he is the one”? Pernah nggak berpikir “well, dia orang yang sangat baik, sangat sempurna sampai Tuhan mempertemukanku dengannya dan hidupku memang ditakdirkan buat dia setelah waktu panjang yang sudah dilalui bersama”? Atau bahkan pernah nggak berpikir untuk stuck mencintai satu orang, mengabdi, saling melindungi, menikah, punya anak lalu tua bersama? Mungkin terlalu klise atau mungkin juga terlalu aneh rasanya di usia yang masih sebelia ini sempat muncul pikiran-pikiran semacam itu but that’s the truth. Cinta itu nggak memandang usia, keyakinan bahkan status sosial tapi cinta itu tentang rasa. Dan karena alasan itu pulalah mulai bertebaran orang-orang dengan penyakit susah move on zaman sekarang. Tapi, kembali lagi pada permasalahan yang tiba-tiba saja muncul di benakku sesaat setelah mendengar percakapan sepasang muda-mudi di sampingku ini, apa kehancuran hati harus selalu berakhir dengan ikut menghancurkan diri kita juga? Terlalu bodoh rasanya untuk melakukan hal semacam itu.
Jika ada yang berpikir lukaku sudah sembuh sehingga aku bisa berbicara segampang ini, maka kalian salah besar. It’s almost two years! Dua belas bulan, lebih dari puluhan minggu bahkan sudah entah berapa ratus hari yang terlewati semenjak hari paling buruk dalam hidupku itu terjadi. Kalau hatiku bisa berteriak mengeluarkan aspirasinya dengan bebas, mungkin ia sudah kehabisan suara karena segala perasaan sakit, hancur, perih dan luka yang selama ini ia pendam sendiri lalu memaksa bibir agar melukis sebuah senyum palsu untuk menutupinya. Aku selalu mencoba berpikir realistis karena mengingat permasalahan yang ada di dunia ini nggak cuma melulu soal cinta. Kita semua pernah merasakan yang namanya patah hati, tapi bukan berarti semangat hidup kita juga harus patah kan?
Aku menghela napas panjang. Dari kejauhan tampak Sinta dan Mas Bayu, sepupuku, melambaikan tangan mereka padaku. Aku mengemasi barang-barangku dan mulai ingin beranjak keluar dari kafe. Tapi sebelum aku melangkahkan kaki, aku menoleh pada sepasang mud-mudi yang tadinya duduk di sampingku itu.
“Maaf, aku nggak bermaksud ikut campur masalah kamu. Ternyata umur kita sama ya, pasti kamu berpikir di usia yang bahkan belum menginjak delapan belas tahun kenapa harus separah ini masalah hati yang kamu alami? Kita semua pernah ngerasain yang namanya patah hati, tapi bukan berarti semangat hidup kita juga harus patah kan? Masih terlalu muda…” Suaraku terdengar menggantung. “Kamu mau hancurin hidup yang sangat berharga ini cuma karena dia yang pergi ninggalin kamu gitu aja? If I may give a little advice, which you should be doing is try to heal, from drugs and also from your broken heart.”
Kulangkahkan kaki menuju pintu keluar sambil menarik koperku. Nggak ada sedikit pun raut marah di wajah mereka atas apa yang baru saja kuucapkan. Ketika langkahku mulai menjauh dari kafe itu, tiba-tiba terdengar seorang wanita berteriak di belakangku mengucapkan kata “Hei”.
Aku membalikkan badan dan mendapati wanita yang tadi duduk di sampingku berdiri di depan pintu kafe.
“Makasih ya.” Ucapnya lembut sambil tersenyum dan menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Aku nggak menjawab. Hanya tersenyum dan melambaikan tangan padanya lalu melangkah menuju Sinta dan Mas Bayu yang sudah menunggu di depan mobil.

No comments: