May 13, 2014

Bunga Edelweiss, Keindahan Cinta Abadi


Edelweiss… Awalnya aku begitu asing dengan bunga yang satu ini, karena memang sejak kecil aku tidak pernah memiliki ketertarikan apapun terhadap bunga. Namun lama-kelamaan kata Edelweiss menarik perhatianku. Berawal dari sebuah lagu berjudul Edelweiss yang pernah kumainkan dengan alat musik saat ujian praktek menjelang kelulusan SMP, aku lantas merasa senang dengan nama unik tersebut. Dan akhirnya aku tahu bahwa Edelweiss adalah salah satu dari sekian banyak bunga yang begitu dikagumi. Bunga yang satu ini sangat terkenal sebagai Bunga Gunung Eropa. Nama bunga ini berasal dari bahasa Jerman edel yang berarti mulia (noble) dan weiß yang berarti putih (white). Nama genusnya adalah Leontopodium yang berarti lion’s paw atau cakar macan. Ada pula yang menyebutnya berasal dari bahasa Yunani, leon yang berarti singa dan podion yang berarti kaki. Edelweiss biasa mekar sekitar bulan April hingga September. Dan uniknya penyebaran bunga ini lebih menyukai daerah berbatu dan berkapur pada ketinggian 2000-2900 mdpl. Seperti kita ketahui, bunga Edelweiss biasa tumbuh di lokasi yang tidak terjangkau, yang mana ini banyak terjadi di pegunungan-pegunungan Slovenia. Karena warna putihnya maka Switzerland juga menjadikannya sebagai simbol kemurnian dan kecantikan sehingga bangsa Romania menyebutnya sebagai Floarea Reginei (Queen's flower). Bunga ini tidak beracun dan sudah sering digunakan sebagai obat tradisional untuk melawan penyakit yang berhubungan dengan pembedahan perut dan pernapasan.
Adapun Edelweiss merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Mikoriza adalah jamur yang berada di perakaran yang bertugas menambat nitrogen dan dekomposisi materi organik. Dari peran mikoriza tersebut Edelweiss mendapatkan nutrisi, sehingga mampu hidup ditanah tandus sekalipun. Bunga-bunga Edelweiss sangat disukai oleh serangga. Lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya. Jika cabang-cabang tumbuhan ini dibiarkan tumbuh cukup kokoh, Edelweiss bisa menjadi tempat bersarang bagi burung Tiung Batu Licik atau Myophonus Glaucinus. Bagian-bagian Edelweiss sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Edelweiss merupakan sebuah tanaman eksotik dan endemik khas daerah alpina atau montana. Tanaman dari family Asteraceae ini tumbuh dan berkembang di daerah pegunungan dengan iklim yang sangat dingin dan pada ketinggian diatas 2000 mdpl. Hampir semua pegunungan ditumbuhi Edelweiss. Beragam spesies muncul sehingga menciptakan keragaman yang menarik. Dari morfologi bunganya saja, terlihat ada Edelweiss berwarna putih, ungu dan kuning serta mungkin masih ada lagi di tempat lain.
Beragam istilah muncul untuk menyebut nama tanaman eksotis ini. Ada yang menyebutnya sebagai bunga keabadian, ketulusan, perjuangan dan masih banyak lagi intepretasi yang lain. Disebut bunga keabadian karena bunganya yang terus awet dan berada dipuncak gunung sebagai simbol keabadian. Lambang ketulusan karena Edelweiss tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem sehingga seolah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakan. Edelweiss juga mengandung arti sebagai lambang perjuangan karena bunga ini tumbuh ditempat yang tandus, dingin, miskin unsur hara dan untuk mendapatkannya harus bersusah payah mendaki gunung. Karena demikian hebatnya bunga ini, membuat mereka yang mengaku pecinta alam atau penggiat alam bebas berusaha mengabadikan bunga tersebut bahkan harus rela memindahkan habitatnya walau hanya setangkai bunganya saja. Di beberapa tempat wisata, Edelweiss menjadi barang dagangan yang cukup menjanjikan karena banyak diburu mereka yang tak sanggup memetik di gunung. Saking laris manisnya, eksploitasi Edelweiss dilakukan penduduk untuk diperdagangkan. Tidak berbeda jauh dengan tangan-tangan jahil penggiat alam bebas walau tidak melakukan jual beli Edelweis, tetap saja mengambil tanpa memikirkan dampaknya. Memetik tanpa menanam, begitulah yang terjadi dan kenyataannya demikian. Entah sampai kapan perilaku tersebut akan berhenti, apakah menunggu kesadaran masing-masing pribadi atau setelah bunga keabadian tersebut habis dari habitatnya.
Mungkin banyak orang mempertanyakan dari mana Edelweiss berasal. Apakah ada yang sengaja menanam atau tumbuh dengan sendirinya? Family Asteraceae ini memiliki karangan bunga dan menghasilkan banyak sekali bunga generatf. Oleh angin, serbuk-serbuk bunga yang berisi bunga-bunga generatif diterbangkan dan ketika mendapat media yang tepat akan tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan Edelweiss tergolong cepat walau hanya memiliki tinggi 1 meter, akan menghasilkan bunga-bunga generatif yang melimpah. Dari kajian ekologis, Edelweiss memiliki peran sebagai pioner dalam revegetasi dan suksesi. Ia menjadi tanaman pertama yang tumbuh dan menghasilkan unsur-unsur hara sebagai media tumbuh tanaman lain. Selain tanaman perintis, Edelweis menjadi “cover corp” atau tanaman penutup yang mampu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehinga meminimalkan resiko erosi. Disisi lain, banyak serangga yang hidup didalam bunga untuk sekedar menghisap nektar atau berlindung didalam rimbunya dedaunan.
Lantas mampukah kita menjaga dan mengapresiasi tanaman eksotis tersebut? Jangan karena embel-embel bunga keabadian lantas memetik dan mempersembahkan kepada kekasih, tidak ada yang abadi kecuali bunga plastik yang perlu ratusan tahun agar terurai. Naif juga rasanya jika memetik Edelweiss sebagai wujud ketulusan cinta, sebab Edelweiss sudah lebih tulus dari cinta siapapun. Ia rela menjadi yang pertama untuk sebuah kehidupan. Jangan tanyakan tentang perjuangan untuk Edelweiss, karena bunga ini harus benar-benar survive agar mampu menjadi yang pertama dalam suksesi dan revegetasi. Bijak sekali jika kita bisa belajar dari Edelweiss tentang keabadian, ketulusan dan pengorbanan, baik kepada orang terkasih, sesama dan alam ini, seperti yang ditunjukan Edelweiss dalam habitatnya. 
Perhatikan bunga Edelweiss berikut ini. Daunnya yang panjang, tipis dan berbulu lebat serta bagian tengah bunganya yang berwarna kuning dan kepala bunga yang menyerupai bunga aster. Bunga Edelweiss bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun, untuk itulah disebut bunga abadi. Jenis ini merupakan tumbuhan perintis yang kuat dan mampu mendiami lereng yang tandus akibat kebakaran. Edelweiss cocok tumbuh pada kondisi panas terik di daerah terbuka di kawah dan puncak, tidak bisa bersaing untuk tumbuh di hutan yang gelap dan lembab. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat dihadapi.
Di Eropa, bunga Edelweiss sering ditemukan di ketinggian 1.700-2.700 meter dan tumbuh di celah kecil antara tebing berbatu di muka tebing. Selama Perang Dunia II, tentara Jerman dari Divisi Infanteri Gebirsjager Alpine digunakan untuk mendaki gunung dan mengumpulkan sebuah bunga Edelweiss untuk dipakai di seragam mereka. Ini yang dianggap simbol keberanian, mendaki gunung untuk mengambil satu dan banyak kehilangan nyawa dalam melakukannya. Selama peristiwa itu berlangsung banyak yang meninggal karena jatuh atau menyarah pada paparan serta kurang siap menghadapi perubahan cuaca tiba-tiba. Itulah sebabnya sampai sekarang bunga ini dikenal sebagai Lambang Cinta Abadi. Edelweiss sendiri sebenarnya adalah spesies yang dilindungi dan izin harus diberikan sebelum pendaki gunung bisa memilih satu dari tempat mereka tumbuh. Negara-negara yang telah mengeluarkan perintah perlindungan pada tanaman ini berasal dari Jerman, Spanyol, Perancis, Italia, Swiss, Mongolia, Kroasia, Bulgaria, Polandia, Slovakia, Slovenia, Rumania dan Austria.
Di Indonesia sendiri, Edelweiss yang hidup kebanyakan berjenis Edelweiss Jawa (Anaphis Javanicus) atau yang biasa juga disebut bunga Senduro, tumbuh secara endemik di zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 meter dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 meter. Tumbuhan ini sekarang dikategorikan sebagai langka. Salah satu tempat terbaik untuk melihat Edelweiss Jawa adalah di Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani). Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir tumbuhan ini. Di taman ini terdapat hamparan bunga Edelweiss yang tumbuh subur di alun-alun Suryakencana, sebuah lapangan seluas 50 hektar di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat ditoleransi. Sementara di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tumbuhan ini dinyatakan punah.
Di Jalan Lingkar Salatiga, di sekitar kanan kiri bekas galian untuk jalan, banyak sekali ditumbuhi Edelweiss. Edelweiss merupakan tanaman perintis dalam suksesi lahan. Pada awalnya lahan yang dipangkas menjadi tebing-tebing yang curam, serta terlihat lapisan-lapisan tanahnya. Tampak tanah lapisan atas yang berwarna kecoklatan, lalu tanah liat “clay” kemudian tanah berpasir, berkerikil dan berbatu. Irisan tanah secara vertikal ini menyulitkan beragam tumbuhan untuk hidup dan hanya tanaman pioner saja yang mampu tumbuh dan berkembang disana. Ibarat lahan tandus, hanya beberapa tanaman perintis yang mampu tumbuh seperti paku-pakuan, lumut, rerumputan dan Edelweiss adalah salah satunya. Lahan yang dipangkas vertikal menjadi habitat yang cocok untuk Edelweiss, sehingga banyak ditemui di tebing-tebing curam disepanjang Jalan Lingkar Salatiga. Dengan perakaran yang kokoh dan mampu menembus celah-celah bebatuan memungkinkan Edelweiss mampu hidup di tempat-tempat yang sulit dijangkau.
Jangan mengira Edelweis di Jalan Lingkar Salatiga sama seperti yang ada di pegunungan. Jalan Lingkar Salatiga dengan ketinggian 670 mdpl berbeda dengan Edelweiss di ketinggian diatas 2000 mdpl. Faktor lingkungan seperti ketinggian, suhu, cahaya, nutrisi, kelembapan dan lain sebagainya berpengaruh terhadap pertumbuhan Edelweiss. Di lokasi yang bukan habitat aslinya, Edelweiss akan mengalami gangguan pertumbuhan. Di lokasi tersebut misalnya, Edelweiss terlihat dengan daun dan bunga yang tak serimbun di pegunungan serta terkesan kurus. Namun adanya pembatas faktor lingkungan tak menghalangi Edelweiss untuk tetap hidup, yakni dengan beradaptasi walau dengan pertumbuhan yang tidak normal. Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi Edelweiss agar tetap hidup dilingkungan barunya. Yang menjadi ancaman bukanlah kondisi lingkungan tetapi ulah tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Namun tampaknya fenomena yang ada sekarang ini justru mengharuskan kita agar dapat bijaksana dan membuat benang merah supaya bunga Edelweiss tetap ada sebagai pelepas dahaga jika seandainya suatu saat kita berdiri di sebuah puncak yang tinggi, dimana sekeliling kita adalah hamparan bunga abadi ini.
Di balik keindahan dari bunga Edelweiss ternyata tersimpan sebuah mitos, dimana bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangan maka cintanya akan abadi. Tidak sedikit para pencinta yang menjadikan bunga abadi ini menjadi salah satu hadiah spesial bagi pasangannya. Konon, hal itu dimaksudkan agar cintanya abadi. Edelweiss merupakan lambang cinta yang penuh ketulusan mengingat teksturnya yang halus dan lembut dengan warnanya yang putih walau ini sebenarnya tergantung kepada habitat di mana ia tumbuh yang menyebabkan warnanya agak kekuning-kuningan, keabu-abuan ataupun kebiru-biruan. 

Asal Usul Bunga Edelweiss
Banyak kabar yang tersiar bahwa dahulu, di daerah pegunungan Alpen terdapat sebuah istana yang dihuni oleh para peri yang terdiri dari seorang raja beserta putrinya yang dikawal para penjaga. Istana itu tersembunyi dalam sebuah gua pada salah satu puncak di pegunungan tersebut. Disebutkan sang putri begitu cantik namun hatinya sangat dingin, ia tidak pernah tersenyum apalagi tertawa. Para pemuda yang tinggal di lembah banyak yang mencoba mendatangi istana sang putri untuk melihat dan mengagumi kecantikannya. Sebagian besar dari mereka biasanya gagal, karena medan yang berat dan dingin yang sangat menusuk. Beberapa yang berhasil menemukan istana akan terpesona oleh keindahan bangunannya dan terkagum-kagum kepada kecantikan sang putri. Para pemuda ini biasanya berusaha merayu dan menunjukkan kebaikan untuk merebut hati dan cinta dari sang putri. Sayangnya sang putri tidak pernah tergerak untuk meladeni apalagi menerima cinta mereka. Ia malah menyuruh peri penjaga untuk mengusir mereka.
Suatu hari ada seorang pemuda mencoba memenuhi rasa penasarannya. Ia mendaki gunung itu hingga akhirnya berhasil menemukan istana dan bisa melihat sang putri. Sang putri yang merasa terusik mencoba memanggil para peri penjaga namun sebelum ia sempat berteriak, sang pemuda membalikkan badannya dan sambil menunduk ia berjalan menuruni lereng gunung menuju ke lembah.
Sang putri merasa heran dan ia menghampiri pemuda itu sambil bertanya “Mengapa engkau berpaling? Apakah aku tidak menarik hatimu?”
Sambil tetap menunduk pemuda berujar. “Putri sangatlah cantik dan menawan, setiap pemuda yang melihat putri pastilah akan jatuh cinta, begitu juga dengan saya. Namun saya hanyalah penggembala miskin yang tidak mungkin mampu memberikan barang-barang yang bagus apalagi perhiasan yang indah untuk menyenangkan hati putri.” Sang pemuda terdiam dan kemudian melanjutkan. “Saya juga bukan seorang terpelajar yang bisa merangkai kata dan kalimat yang indah untuk memikat hati sang putri, bagi saya pertemuan ini saja sudah merupakan anugerah.”
Pemuda itu melanjutkan langkahnya menuju lembah. Sang putri terpana, karena baru kali ini ia bertemu laki-laki yang tidak merayu dan memikatnya dengan janji-janji manis.
Lirih sang putri berkata. “Kalau engkau merasa senang bertemu denganku, datanglah berkunjung kembali kesini nanti.”
Sang pemuda tersenyum gembira sambil melambaikan tangannya. Akhirnya pemuda itu pun rajin mengunjungi sang putri, setiap bulan ia mendaki gunung untuk menemui pujaan hatinya. Mereka pun semakin dekat dan akrab. Sang putri merasa kagum dengan kepolosan dan kejujuran sang pemuda, begitu juga dengan kegigihannya saat melewati rintangan ketika mengunjunginya. Sang putri yang biasanya bersikap dingin, kini mulai mencair dan hangat. Singkat cerita akhirnya sang putri pun jatuh cinta kepada sang pemuda. Namun ditengah kegembiraan yang mereka rasakan, berita inipun sampai kepada raja.
Sang putri dipanggil menghadap raja dan menerima wejangan “Anakku, dunia kita berbeda. Seorang peri terlarang untuk menikahi manusia. Kita haruslah berjodoh dengan sesama peri juga.” Raja berdiam beberapa saat kemudian melanjutkan. “Aku telah memerintahkan peri penjaga untuk menghalangi pemuda itu datang mengunjungimu lagi, bulan depan adalah pertemuan terakhir yang bisa engkau lakukan bersama dengannya, beritahukanlah hal ini.”
Ketika bertemu untuk terakhir kalinya dengan sang pemuda, putri pun mengabarkan pertemuannya dengan sang raja. Sang pemuda terdiam dan tertunduk sedih.
Sang putri berucap lembut. “Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali berpisah, karena alam kita memang berbeda. Percayalah aku akan selalu mengingat dan mengenangmu.”
Sang pemuda menengadah dan berkata. “Ketika pertama bertemu denganmu, begitu juga kini ketika terakhir aku bisa melihatmu, yang aku punya hanyalah sebuah hati yang terukir namamu dan tidak akan pernah kutuliskan nama lain disana. Aku akan menjaga tulus dan sucinya hati ini hingga akhir hidupku.”
Sang pemuda lalu berdiri dan mencium kening sang putri. Ia pun kemudian berjalan menuruni lereng menuju lembah diikuti oleh para peri penjaga. Semenjak hari itu sang putri selalu bersedih dan menangis. Setiap tetes air matanya mengeras dan memutih indah diatas hamparan salju yang kemudian berubah menjadi hamparan bunga putih indah yang seringkali disebut sebagai Edelweiss. Hingga akhir hayat keduanya tidak pernah menikah dengan orang lain.

Filosofi Bunga Edelweiss
Bunga Edelweiss memang tidak begitu indah bentuknya tetapi perjuangan untuk memperolehnya telah membuat ia sangat berkesan dan indah untuk diceritakan. Untuk mendapatkannya, kita akan mengalami kepanasan, kedinginan, kehujanan (bila sedang musim hujan), memasuki hutan yang lebat dan menempuh perjalanan yang jauh. Bunga ini tumbuh membentuk rimbunan kecil di permukaan tanah. Ketika dipetik dan disimpan di tempat kering dan temperatur ruangan, bunga ini tidak akan berubah warna seolah-olah ia tetap hidup dan abadi. Inilah keistimewaannya sehingga ia sering menjadi lambang kecintaan seorang remaja pria terhadap kekasihnya. Hal ini jugalah yang memancing para pendaki untuk memetik dan membawanya pulang. Bunga ini tidak akan layu jika sudah dipetik tetapi hanya akan mengering. Lewat bunga Edelweiss kita bisa mengambil sebuah pelajaran berharga. Berusahalah untuk selalu berguna bagi orang lain meskipun seringkali kita terasingkan. Layaknya bunga Edelweiss yang telah berjuang dengan keras namun rela berkorban menjadi yang pertama untuk sebuah kehidupan meskipun ia sendiri berada dalam keadaan yang tidak layak untuk hidup dan tumbuh secara normal. Belajarlah tentang sebuah ketulusan dan pengorbanan yang abadi dari bunga Edelweiss, kepada siapa pun yang ada di sekitar kita.

No comments: