May 29, 2014

Senyumku Untukmu

Saat ku melangkah
Menjauh dari masa lalu
Hatiku semakin bergetar
Perih itu kian menyayat
Saat ku berhenti menatap ke belakang
Bayangmu menjelma
Tak lelah menarikku agar tetap bertahan
Jiwaku semakin rapuh
Tangis pun kian mendera
Saat ku lepas rengkuhmu yang semu
Raga semakin melemah
Tapi seulas senyum terlukis untukmu
Menguatkan kembali asaku
Mereda luka yang telah lama menganga
Senyumku untukmu
Yang akan selalu terkenang
Senyumku untukmu
Yang akan selalu kurindu
Senyumku untukmu
Untuk semua kisah kita di sudut sana
Senyumku untukmu
Yang telah merangkai kisah dan bahagia dengannya

May 28, 2014

Purnama Tak Lagi Merindu

Cinta, dimana geranganmu saat ini? Mengapa kau belum juga datang menghampiriku lagi setelah beberapa waktu yang buruk terlewati? Cinta, di hati mana kini kau berlabuh? Mengapa kau belum kembali berlayar dan mengunjungi hatiku yang tampak begitu tandus tak berpenghuni ini? Dua tahun berlalu dan aku masih menjaga hatiku untukmu. Dua tahun terakhir adalah saat-saat terburuk dalam hidupku. Dan sampai saat ini semua masih tampak sama. Hancur. Kepergianmu ternyata merampas semua kebahagiaan yang pernah kurasa hingga tiada setitik cahaya pun yang menerangi langkahku. Aku masih mencari. Terus mencari arah kemana hidupku kan berputar. Kepergianmu yang sama sekali tak pernah kusangka ternyata meninggalkan lubang yang cukup dalam di hati. Lubang itu ternyata mampu menelan habis semua harapan. Lubang itu ternyata mampu menenggelamkan dan membawaku pada arus deras tak bertuan. Aku terombang-ambing di tengah peliknya gelombang yang mengamuk. Semakin kucoba berlari, ia justru semakin mengikatku. Cinta, sampai kapan kau akan terus tak acuh di seberang sana? Sampai nyawa terhapus waktu? Sampai hati ini membusuk di dasar lautan? Cinta, kau pernah membangunkanku dari mimpi-mimpi indah tentangmu. Kau pernah sadarkan aku bahwa hadirmu nyata. Kau pernah ijinkan aku sejenak mencicipi rasa bahagia. Tapi kenapa kau tinggalkan aku di saat aku masih berdahaga akan hadirmu? Kenapa kau menghilang bersama semua asaku? Kenapa kepergianmu mematahkan hidupku? Aku ingin menangis sekencang-kencangnya lalu berteriak sekuat-kuatnya. Tapi apa mungkin kau akan mengerti? Sedang kini kau berpijak di negeri antah-berantah. Aku ingin mengadu akan semua perih lalu berlari meninggalkan luka ini. Tapi kepada siapa aku harus mengadu? Sedang purnama pun tak lagi merindu senandung gelapku. Dunia sudah terlalu lelah dengan semua keluh kesahku. Semesta sudah terlalu bosan mendengar jerit tangisku. Aku pun sudah terlalu lelah. Dua tahun lamanya aku berusaha bangkit. Dua tahun lamanya aku berusaha tetap tegar dan melukis senyum palsu di hadapan mereka. Dua tahun lamanya aku menyimpan tangis yang kunjung henti dalam hati. Dua tahun lamanya pula aku tersudut, terinjak dan terlupakan. Kenapa kau lakukan semua ini padaku, Cinta? Aku bahkan tak pernah sekali pun mengucap kata setajam pedang padamu. Aku juga tak pernah berlaku sekeras karang padamu. Tapi kau pergi dan membawa jauh semua kebahagiaanku.


May 24, 2014

Panggung Kita

Aku memaksa mata ini terpejam tapi hati semakin bercerita. Tentang mereka yang saling berpegang tangan di penghujung jalan, dengan pikiran yang penuh dilema menentukan tujuan selanjutnya. Tetap bersama ataukah berpisah? Aku juga memaksa kaki ini melangkah pada jalan setapak penuh kerikil, menuju cahaya yang tampak di seberang jalan, justru hati semakin dipenuhi kebimbangan. Tetap bertahan disini ataukah berpisah? Mari bernostalgia mengingat kembali detik-detik pertama kita berada di sini, detik-detik pertama kita dalam balutan putih abu-abu, detik-detik dimana kita memulai semuanya dari awal, mengenal teman baru, sahabat baru, bahkan mungkin kekasih baru. Mereka bilang masa SMA adalah masa-masa paling indah. Benar atau tidak, tergantung dari sisi mana kita menilai. Di sini kita saling mengenal juga saling mewarnai hidup masing-masing, hitam, putih, abu-abu, semuanya.
Memang terkadang kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Perlahan tapi pasti tirai pun mulai menutup panggung kita. Panggung dimana kita menghabiskan lebih dari seribu hari dalam berbagai canda, tawa, tangis, benci, rindu, kekonyolan, haru dan berbagai hari penuh makna lainnya. Sebuah pertanda untuk memulai cerita baru di panggung yang baru. Lembaran kertas baru terbuka lalu membiarkan sang pena melangkah di sana tanpa melupakan setiap makna yang ada pada lembaran lama. Ketahuilah, musim terindah yang pernah kudapati selama berada di panggung ini adalah ketika kau nyalakan pagi dengan senyummu, ketika kau payungi siang dengan sapaan jenaka dan teriakanmu yang terkadang memekakkan telinga, ketika kau tutup malam dengan sebuah janji agar kita bertemu kembali di pagi yang akan datang. Seringkali aku berharap kita bisa seperti kembang api. Naik ke atas memancarkan cahaya, bertebaran di udara lalu berpisah bila saatnya tiba. Namun kita tidak perlu lenyap seperti kembang api, tetaplah bersinar sampai kapan pun. Perpisahan memang datang untuk menyadarkan kita bahwa ada saat dimana waktu akan sulit terulang kembali dan yang tertinggal hanyalah berbagai macam kenangan dalam ingatan. Panggung kita, tempat dimana kita memainkan berbagai sandiwara, akan tetap menjadi panggung kita. Panggung kita, tempat dimana cinta masa sekolah yang pernah terjadi, akan selalu menjadi milik kita. That was the best moment and part of sweet memories. Di panggung ini, kita ciptakan hangat sebuah cerita. Tapi kini saatnya kita bergegas, menyambut masa depan meskipun tidak lagi saling berpegang tangan. Kita ciptakan senandung-senandung penuh kedamaian juga kebencian, kita ciptakan tawa juga tangis, kita ciptakan perasaan amarah juga rindu. Semua terjadi di sini, di panggung kita. Panggung ini mungkin hanya tempat kecil dimana kita menghabiskan sebagian waktu tapi aku yakin kau juga pernah berharap agar waktu ini tidak berlalu. Panggung ini yang akhirnya membawa kita pada sebuah persimpangan, panggung ini pula yang akhirnya memaksa kita untuk menentukan arah dan mengalahkan sebagian rasa demi menggapai asa.
Bagaimana mungkin mentari berkabung dalam selimut gelap? Sementara tidak satu pun angin bersenandung. Ratap perih menggema dalam sebuah jurang kesunyian. Raga ingin pergi, hati pun ingin lalui tapi tidak satu pun gerak bergeming. Hanya diam, tanpa bicara. Kita merasakan tangan yang saling menggenggam. Keduanya erat mengayun mengikuti nafas bersama langkah kaki hingga kita sama-sama lupa rasanya berjalan tanpa bersama. Di sini kita bertemu, di sini pula kita berpisah. Semua kenangan seakan berlalu, segalanya berganti begitu cepat. Detik yang berganti hari seakan mempercepat pertemuan kita. Ada harapan di setiap pertemuan, ada keinginan di setiap perpisahan. Dalam puing-puing waktu, telah jauh kita arungi arti sebuah pertemuan. Terus melangkah hingga bertemu pada sebuah perpisahan. Berawal dari sebuah pertemuan yang berkembang menjadi kebersamaan lantas menjelma dalam sebuah keakraban. Lajur kehidupan berputar membawa alur cerita dalam suka dan duka. Awal adalah akhir dan akhir adalah awal. Semua yang berawal pasti akan berakhir, semua yang berakhir juga pasti berawal kembali. Mata yang berkaca, jantung yang berdetak tidak menentu, pikiran yang melayang membelah angkasa, gemuruh yang menerpa rasa. Ketika terucap salam perpisahan, walau air mata tidak berlinang bukan berarti suatu kerelaan. Saat-saat langkah terayun, jarak kita pun semakin membentang. Berharap semua akan terkenang dan tidak akan hanyut terbawa gelombang
Berikan senyuman terindah untuk sebuah perpisahan. Kenanglah panggung ini bersama segala yang telah kita lewati, kenanglah kita untuk selamanya. Saatnya melangkah dan menemukan panggung baru untuk dijadikan pijakan menuju masa depan. Tidak perlu menjadi orang lain agar disenangi banyak orang, jadilah dirimu sendiri karena setiap manusia memiliki karakter masing-masing yang membuatnya berbeda dari yang lain dan justru terlihat lebih menarik. Tidak perlu pula merasa kesepian meskipun kau sedang sendiri. Sendiri itu perlu tapi jangan sampai membuatmu merasa kesepian karena yang terpenting adalah bukan berada bersama seseorang tapi berada untuk seseorang.

May 16, 2014

Selamat Tanggal 16 Ke 47

Aku tahu senyum menenangkan itu bukan lagi milikku. Ia tak lagi dapat terekam nyata oleh kedua retina mataku. Lamunan ini pun meredup. Bayangmu kembali lenyap dan menyatu bersama air mata. Harus sampai kapan? Hanya pertanyaan sesederhana itulah yang terus mendengung dalam telinga. Semuanya kian berlalu, bergulir bersama waktu. Tapi rasa itu tak pernah berubah bahkan hingga enam belas ke 47. Bayangkan, betapa hebatnya rasa yang tak bisa kujelaskan lewat aksara itu kini mampu membangunkanku di malam yang begitu sunyi? Bertemankan rintik yang menyentuh tanah, kupejamkan mata. Berusaha mencari kembali lelap yang sempat hilang karena hadirmu. Nyatanya aku gagal. Harus berapa kali kuteriakkan pada dunia bahwa malam dan hujan selalu punya cerita berbeda dalam setiap hadirnya, mereka kian mampu meresonansikan dawai-dawai dalam sudut pikirku hingga menggetarkan hati untuk kembali menggemakan namamu. Aku lelah, sangat lelah. Bahkan hingga sejauh ini? Tanggal 16 selalu berawal dan berakhir manis sejak hampir empat tahun lalu, sayangnya semua kisah indah bak dongeng itu harus berhenti tanpa sebab pada bulan ke 18. Rindu ini terasa begitu menyayat. Jika boleh kutahu, bersama siapa kamu lewatkan malam ini?
Ternyata bukan hanya lidah tak bertulang itu yang mampu berdusta, mata yang seringkali dilambangkan sebagai pintu hati ini pun juga menyimpan banyak sandiwara di balik hangat sinarnya. Aku terpejam, bukan berarti telah berhasil masuk ke dalam dunia mimpiku tapi kini aku tengah mencari serpihan masa lalu, iya, aku berusaha berada di dalamnya walaupun sekejap saja. Masa dimana kita bisa menghabiskan malam lewat puluhan bahkan ratusan pesan singkat hingga hari beranjak dini. Saling bergurau, menyatu dalam canda tawa dan khayalan-khayalan kita yang sedikit gila tentang masa depan. Mungkin kita terlalu berani mendahului takdir hingga telah berpikir jauh ke masa depan, tapi bukankah manusia boleh berencana sementara Tuhan yang menentukan? Jadi, masih bisakah kita mengulang sejenak waktu? Bukan, bukan waktu. Lebih tepatnya mengulang keadaan. Masih dapatkah kita saling memeluk dalam rindu dan untaian doa dalam sujud serta perbincangan hangat kita dengan Tuhan? Aku lelah, semakin lelah jika harus kembali bercerita tentang masa lalu, aku letih jika harus terus mengulang kisah sedih yang sempat bahagia dalam sekejap itu. Tapi bukankah masa lalu adalah sejarah? Di dalamnya tersimpan begitu banyak kenangan dan segala bentuk pelajaran yang seharusnya kita petik agar ia bisa tumbuh kembali di masa depan. Jika boleh sedikit mengenang, masih adakah sosok Aiza dalam pikirmu? Sosok yang dulu hanya ada dalam labirin-labirin khayal kita, sosok yang dulu kita anggap begitu nyata, sosok yang dulu pernah ada dalam cerita kita tentang masa depan. Berharap bahwa ia akan menjadi nyata suatu saat nanti. Berharap kelak ia akan memanggilmu dengan sebutan ayah lewat suara lembutnya lalu memanggilku ibu di sela-sela tangis manjanya. Sayang, sosok wanita sempurna itu hanya ada dalam kumpulan fiksi, tidak dalam dunia nyata dimana kita berpijak saat ini. Kamu mungkin akan terus mencari pengisi kekosongan hati itu, berharap akan datang seorang bidadari yang sempurna untuk mengiringi langkahmu, tapi ketahuilah Sayang, ia tak akan pernah benar-benar ada kecuali di dalam ruang mimpimu. Jika kamu bersedia sejenak menoleh ke belakang, lihatlah… aku masih di sini. Meskipun tak lagi berputar dalam poros yang sama tapi lihatlah, bahuku masih cukup kuat untuk menopang lelahmu jika kamu terjatuh. Aku mungkin merindukanmu tapi bukan berarti aku mencintaimu karena rindu tak selamanya datang hanya karena cinta. Malam semakin larut dalam pekat dan tampaknya aku pun masih akan terus meringkuk dalam isak tangis yang tak pernah kumengerti ini, kebahagiaan ataukah penuh luka? Selamat tanggal 16 yang ke 47. Ketahuilah, sejauh ini aku tak pernah lupa merapal namamu dalam doaku. Katakan betapa bodohnya aku, tapi aku selalu berharap di sana kau pun begitu.

May 13, 2014

Bunga Edelweiss, Keindahan Cinta Abadi


Edelweiss… Awalnya aku begitu asing dengan bunga yang satu ini, karena memang sejak kecil aku tidak pernah memiliki ketertarikan apapun terhadap bunga. Namun lama-kelamaan kata Edelweiss menarik perhatianku. Berawal dari sebuah lagu berjudul Edelweiss yang pernah kumainkan dengan alat musik saat ujian praktek menjelang kelulusan SMP, aku lantas merasa senang dengan nama unik tersebut. Dan akhirnya aku tahu bahwa Edelweiss adalah salah satu dari sekian banyak bunga yang begitu dikagumi. Bunga yang satu ini sangat terkenal sebagai Bunga Gunung Eropa. Nama bunga ini berasal dari bahasa Jerman edel yang berarti mulia (noble) dan weiƟ yang berarti putih (white). Nama genusnya adalah Leontopodium yang berarti lion’s paw atau cakar macan. Ada pula yang menyebutnya berasal dari bahasa Yunani, leon yang berarti singa dan podion yang berarti kaki. Edelweiss biasa mekar sekitar bulan April hingga September. Dan uniknya penyebaran bunga ini lebih menyukai daerah berbatu dan berkapur pada ketinggian 2000-2900 mdpl. Seperti kita ketahui, bunga Edelweiss biasa tumbuh di lokasi yang tidak terjangkau, yang mana ini banyak terjadi di pegunungan-pegunungan Slovenia. Karena warna putihnya maka Switzerland juga menjadikannya sebagai simbol kemurnian dan kecantikan sehingga bangsa Romania menyebutnya sebagai Floarea Reginei (Queen's flower). Bunga ini tidak beracun dan sudah sering digunakan sebagai obat tradisional untuk melawan penyakit yang berhubungan dengan pembedahan perut dan pernapasan.
Adapun Edelweiss merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Mikoriza adalah jamur yang berada di perakaran yang bertugas menambat nitrogen dan dekomposisi materi organik. Dari peran mikoriza tersebut Edelweiss mendapatkan nutrisi, sehingga mampu hidup ditanah tandus sekalipun. Bunga-bunga Edelweiss sangat disukai oleh serangga. Lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan dan lebah terlihat mengunjunginya. Jika cabang-cabang tumbuhan ini dibiarkan tumbuh cukup kokoh, Edelweiss bisa menjadi tempat bersarang bagi burung Tiung Batu Licik atau Myophonus Glaucinus. Bagian-bagian Edelweiss sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Edelweiss merupakan sebuah tanaman eksotik dan endemik khas daerah alpina atau montana. Tanaman dari family Asteraceae ini tumbuh dan berkembang di daerah pegunungan dengan iklim yang sangat dingin dan pada ketinggian diatas 2000 mdpl. Hampir semua pegunungan ditumbuhi Edelweiss. Beragam spesies muncul sehingga menciptakan keragaman yang menarik. Dari morfologi bunganya saja, terlihat ada Edelweiss berwarna putih, ungu dan kuning serta mungkin masih ada lagi di tempat lain.
Beragam istilah muncul untuk menyebut nama tanaman eksotis ini. Ada yang menyebutnya sebagai bunga keabadian, ketulusan, perjuangan dan masih banyak lagi intepretasi yang lain. Disebut bunga keabadian karena bunganya yang terus awet dan berada dipuncak gunung sebagai simbol keabadian. Lambang ketulusan karena Edelweiss tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem sehingga seolah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakan. Edelweiss juga mengandung arti sebagai lambang perjuangan karena bunga ini tumbuh ditempat yang tandus, dingin, miskin unsur hara dan untuk mendapatkannya harus bersusah payah mendaki gunung. Karena demikian hebatnya bunga ini, membuat mereka yang mengaku pecinta alam atau penggiat alam bebas berusaha mengabadikan bunga tersebut bahkan harus rela memindahkan habitatnya walau hanya setangkai bunganya saja. Di beberapa tempat wisata, Edelweiss menjadi barang dagangan yang cukup menjanjikan karena banyak diburu mereka yang tak sanggup memetik di gunung. Saking laris manisnya, eksploitasi Edelweiss dilakukan penduduk untuk diperdagangkan. Tidak berbeda jauh dengan tangan-tangan jahil penggiat alam bebas walau tidak melakukan jual beli Edelweis, tetap saja mengambil tanpa memikirkan dampaknya. Memetik tanpa menanam, begitulah yang terjadi dan kenyataannya demikian. Entah sampai kapan perilaku tersebut akan berhenti, apakah menunggu kesadaran masing-masing pribadi atau setelah bunga keabadian tersebut habis dari habitatnya.
Mungkin banyak orang mempertanyakan dari mana Edelweiss berasal. Apakah ada yang sengaja menanam atau tumbuh dengan sendirinya? Family Asteraceae ini memiliki karangan bunga dan menghasilkan banyak sekali bunga generatf. Oleh angin, serbuk-serbuk bunga yang berisi bunga-bunga generatif diterbangkan dan ketika mendapat media yang tepat akan tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan Edelweiss tergolong cepat walau hanya memiliki tinggi 1 meter, akan menghasilkan bunga-bunga generatif yang melimpah. Dari kajian ekologis, Edelweiss memiliki peran sebagai pioner dalam revegetasi dan suksesi. Ia menjadi tanaman pertama yang tumbuh dan menghasilkan unsur-unsur hara sebagai media tumbuh tanaman lain. Selain tanaman perintis, Edelweis menjadi “cover corp” atau tanaman penutup yang mampu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehinga meminimalkan resiko erosi. Disisi lain, banyak serangga yang hidup didalam bunga untuk sekedar menghisap nektar atau berlindung didalam rimbunya dedaunan.
Lantas mampukah kita menjaga dan mengapresiasi tanaman eksotis tersebut? Jangan karena embel-embel bunga keabadian lantas memetik dan mempersembahkan kepada kekasih, tidak ada yang abadi kecuali bunga plastik yang perlu ratusan tahun agar terurai. Naif juga rasanya jika memetik Edelweiss sebagai wujud ketulusan cinta, sebab Edelweiss sudah lebih tulus dari cinta siapapun. Ia rela menjadi yang pertama untuk sebuah kehidupan. Jangan tanyakan tentang perjuangan untuk Edelweiss, karena bunga ini harus benar-benar survive agar mampu menjadi yang pertama dalam suksesi dan revegetasi. Bijak sekali jika kita bisa belajar dari Edelweiss tentang keabadian, ketulusan dan pengorbanan, baik kepada orang terkasih, sesama dan alam ini, seperti yang ditunjukan Edelweiss dalam habitatnya. 
Perhatikan bunga Edelweiss berikut ini. Daunnya yang panjang, tipis dan berbulu lebat serta bagian tengah bunganya yang berwarna kuning dan kepala bunga yang menyerupai bunga aster. Bunga Edelweiss bisa mencapai umur lebih dari 100 tahun, untuk itulah disebut bunga abadi. Jenis ini merupakan tumbuhan perintis yang kuat dan mampu mendiami lereng yang tandus akibat kebakaran. Edelweiss cocok tumbuh pada kondisi panas terik di daerah terbuka di kawah dan puncak, tidak bisa bersaing untuk tumbuh di hutan yang gelap dan lembab. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat dihadapi.
Di Eropa, bunga Edelweiss sering ditemukan di ketinggian 1.700-2.700 meter dan tumbuh di celah kecil antara tebing berbatu di muka tebing. Selama Perang Dunia II, tentara Jerman dari Divisi Infanteri Gebirsjager Alpine digunakan untuk mendaki gunung dan mengumpulkan sebuah bunga Edelweiss untuk dipakai di seragam mereka. Ini yang dianggap simbol keberanian, mendaki gunung untuk mengambil satu dan banyak kehilangan nyawa dalam melakukannya. Selama peristiwa itu berlangsung banyak yang meninggal karena jatuh atau menyarah pada paparan serta kurang siap menghadapi perubahan cuaca tiba-tiba. Itulah sebabnya sampai sekarang bunga ini dikenal sebagai Lambang Cinta Abadi. Edelweiss sendiri sebenarnya adalah spesies yang dilindungi dan izin harus diberikan sebelum pendaki gunung bisa memilih satu dari tempat mereka tumbuh. Negara-negara yang telah mengeluarkan perintah perlindungan pada tanaman ini berasal dari Jerman, Spanyol, Perancis, Italia, Swiss, Mongolia, Kroasia, Bulgaria, Polandia, Slovakia, Slovenia, Rumania dan Austria.
Di Indonesia sendiri, Edelweiss yang hidup kebanyakan berjenis Edelweiss Jawa (Anaphis Javanicus) atau yang biasa juga disebut bunga Senduro, tumbuh secara endemik di zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 meter dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 meter. Tumbuhan ini sekarang dikategorikan sebagai langka. Salah satu tempat terbaik untuk melihat Edelweiss Jawa adalah di Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani). Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir tumbuhan ini. Di taman ini terdapat hamparan bunga Edelweiss yang tumbuh subur di alun-alun Suryakencana, sebuah lapangan seluas 50 hektar di ketinggian 2.750 meter di atas permukaan laut. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat ditoleransi. Sementara di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tumbuhan ini dinyatakan punah.
Di Jalan Lingkar Salatiga, di sekitar kanan kiri bekas galian untuk jalan, banyak sekali ditumbuhi Edelweiss. Edelweiss merupakan tanaman perintis dalam suksesi lahan. Pada awalnya lahan yang dipangkas menjadi tebing-tebing yang curam, serta terlihat lapisan-lapisan tanahnya. Tampak tanah lapisan atas yang berwarna kecoklatan, lalu tanah liat “clay” kemudian tanah berpasir, berkerikil dan berbatu. Irisan tanah secara vertikal ini menyulitkan beragam tumbuhan untuk hidup dan hanya tanaman pioner saja yang mampu tumbuh dan berkembang disana. Ibarat lahan tandus, hanya beberapa tanaman perintis yang mampu tumbuh seperti paku-pakuan, lumut, rerumputan dan Edelweiss adalah salah satunya. Lahan yang dipangkas vertikal menjadi habitat yang cocok untuk Edelweiss, sehingga banyak ditemui di tebing-tebing curam disepanjang Jalan Lingkar Salatiga. Dengan perakaran yang kokoh dan mampu menembus celah-celah bebatuan memungkinkan Edelweiss mampu hidup di tempat-tempat yang sulit dijangkau.
Jangan mengira Edelweis di Jalan Lingkar Salatiga sama seperti yang ada di pegunungan. Jalan Lingkar Salatiga dengan ketinggian 670 mdpl berbeda dengan Edelweiss di ketinggian diatas 2000 mdpl. Faktor lingkungan seperti ketinggian, suhu, cahaya, nutrisi, kelembapan dan lain sebagainya berpengaruh terhadap pertumbuhan Edelweiss. Di lokasi yang bukan habitat aslinya, Edelweiss akan mengalami gangguan pertumbuhan. Di lokasi tersebut misalnya, Edelweiss terlihat dengan daun dan bunga yang tak serimbun di pegunungan serta terkesan kurus. Namun adanya pembatas faktor lingkungan tak menghalangi Edelweiss untuk tetap hidup, yakni dengan beradaptasi walau dengan pertumbuhan yang tidak normal. Sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi Edelweiss agar tetap hidup dilingkungan barunya. Yang menjadi ancaman bukanlah kondisi lingkungan tetapi ulah tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Namun tampaknya fenomena yang ada sekarang ini justru mengharuskan kita agar dapat bijaksana dan membuat benang merah supaya bunga Edelweiss tetap ada sebagai pelepas dahaga jika seandainya suatu saat kita berdiri di sebuah puncak yang tinggi, dimana sekeliling kita adalah hamparan bunga abadi ini.
Di balik keindahan dari bunga Edelweiss ternyata tersimpan sebuah mitos, dimana bagi yang memberikan bunga ini kepada pasangan maka cintanya akan abadi. Tidak sedikit para pencinta yang menjadikan bunga abadi ini menjadi salah satu hadiah spesial bagi pasangannya. Konon, hal itu dimaksudkan agar cintanya abadi. Edelweiss merupakan lambang cinta yang penuh ketulusan mengingat teksturnya yang halus dan lembut dengan warnanya yang putih walau ini sebenarnya tergantung kepada habitat di mana ia tumbuh yang menyebabkan warnanya agak kekuning-kuningan, keabu-abuan ataupun kebiru-biruan. 

Asal Usul Bunga Edelweiss
Banyak kabar yang tersiar bahwa dahulu, di daerah pegunungan Alpen terdapat sebuah istana yang dihuni oleh para peri yang terdiri dari seorang raja beserta putrinya yang dikawal para penjaga. Istana itu tersembunyi dalam sebuah gua pada salah satu puncak di pegunungan tersebut. Disebutkan sang putri begitu cantik namun hatinya sangat dingin, ia tidak pernah tersenyum apalagi tertawa. Para pemuda yang tinggal di lembah banyak yang mencoba mendatangi istana sang putri untuk melihat dan mengagumi kecantikannya. Sebagian besar dari mereka biasanya gagal, karena medan yang berat dan dingin yang sangat menusuk. Beberapa yang berhasil menemukan istana akan terpesona oleh keindahan bangunannya dan terkagum-kagum kepada kecantikan sang putri. Para pemuda ini biasanya berusaha merayu dan menunjukkan kebaikan untuk merebut hati dan cinta dari sang putri. Sayangnya sang putri tidak pernah tergerak untuk meladeni apalagi menerima cinta mereka. Ia malah menyuruh peri penjaga untuk mengusir mereka.
Suatu hari ada seorang pemuda mencoba memenuhi rasa penasarannya. Ia mendaki gunung itu hingga akhirnya berhasil menemukan istana dan bisa melihat sang putri. Sang putri yang merasa terusik mencoba memanggil para peri penjaga namun sebelum ia sempat berteriak, sang pemuda membalikkan badannya dan sambil menunduk ia berjalan menuruni lereng gunung menuju ke lembah.
Sang putri merasa heran dan ia menghampiri pemuda itu sambil bertanya “Mengapa engkau berpaling? Apakah aku tidak menarik hatimu?”
Sambil tetap menunduk pemuda berujar. “Putri sangatlah cantik dan menawan, setiap pemuda yang melihat putri pastilah akan jatuh cinta, begitu juga dengan saya. Namun saya hanyalah penggembala miskin yang tidak mungkin mampu memberikan barang-barang yang bagus apalagi perhiasan yang indah untuk menyenangkan hati putri.” Sang pemuda terdiam dan kemudian melanjutkan. “Saya juga bukan seorang terpelajar yang bisa merangkai kata dan kalimat yang indah untuk memikat hati sang putri, bagi saya pertemuan ini saja sudah merupakan anugerah.”
Pemuda itu melanjutkan langkahnya menuju lembah. Sang putri terpana, karena baru kali ini ia bertemu laki-laki yang tidak merayu dan memikatnya dengan janji-janji manis.
Lirih sang putri berkata. “Kalau engkau merasa senang bertemu denganku, datanglah berkunjung kembali kesini nanti.”
Sang pemuda tersenyum gembira sambil melambaikan tangannya. Akhirnya pemuda itu pun rajin mengunjungi sang putri, setiap bulan ia mendaki gunung untuk menemui pujaan hatinya. Mereka pun semakin dekat dan akrab. Sang putri merasa kagum dengan kepolosan dan kejujuran sang pemuda, begitu juga dengan kegigihannya saat melewati rintangan ketika mengunjunginya. Sang putri yang biasanya bersikap dingin, kini mulai mencair dan hangat. Singkat cerita akhirnya sang putri pun jatuh cinta kepada sang pemuda. Namun ditengah kegembiraan yang mereka rasakan, berita inipun sampai kepada raja.
Sang putri dipanggil menghadap raja dan menerima wejangan “Anakku, dunia kita berbeda. Seorang peri terlarang untuk menikahi manusia. Kita haruslah berjodoh dengan sesama peri juga.” Raja berdiam beberapa saat kemudian melanjutkan. “Aku telah memerintahkan peri penjaga untuk menghalangi pemuda itu datang mengunjungimu lagi, bulan depan adalah pertemuan terakhir yang bisa engkau lakukan bersama dengannya, beritahukanlah hal ini.”
Ketika bertemu untuk terakhir kalinya dengan sang pemuda, putri pun mengabarkan pertemuannya dengan sang raja. Sang pemuda terdiam dan tertunduk sedih.
Sang putri berucap lembut. “Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali berpisah, karena alam kita memang berbeda. Percayalah aku akan selalu mengingat dan mengenangmu.”
Sang pemuda menengadah dan berkata. “Ketika pertama bertemu denganmu, begitu juga kini ketika terakhir aku bisa melihatmu, yang aku punya hanyalah sebuah hati yang terukir namamu dan tidak akan pernah kutuliskan nama lain disana. Aku akan menjaga tulus dan sucinya hati ini hingga akhir hidupku.”
Sang pemuda lalu berdiri dan mencium kening sang putri. Ia pun kemudian berjalan menuruni lereng menuju lembah diikuti oleh para peri penjaga. Semenjak hari itu sang putri selalu bersedih dan menangis. Setiap tetes air matanya mengeras dan memutih indah diatas hamparan salju yang kemudian berubah menjadi hamparan bunga putih indah yang seringkali disebut sebagai Edelweiss. Hingga akhir hayat keduanya tidak pernah menikah dengan orang lain.

Filosofi Bunga Edelweiss
Bunga Edelweiss memang tidak begitu indah bentuknya tetapi perjuangan untuk memperolehnya telah membuat ia sangat berkesan dan indah untuk diceritakan. Untuk mendapatkannya, kita akan mengalami kepanasan, kedinginan, kehujanan (bila sedang musim hujan), memasuki hutan yang lebat dan menempuh perjalanan yang jauh. Bunga ini tumbuh membentuk rimbunan kecil di permukaan tanah. Ketika dipetik dan disimpan di tempat kering dan temperatur ruangan, bunga ini tidak akan berubah warna seolah-olah ia tetap hidup dan abadi. Inilah keistimewaannya sehingga ia sering menjadi lambang kecintaan seorang remaja pria terhadap kekasihnya. Hal ini jugalah yang memancing para pendaki untuk memetik dan membawanya pulang. Bunga ini tidak akan layu jika sudah dipetik tetapi hanya akan mengering. Lewat bunga Edelweiss kita bisa mengambil sebuah pelajaran berharga. Berusahalah untuk selalu berguna bagi orang lain meskipun seringkali kita terasingkan. Layaknya bunga Edelweiss yang telah berjuang dengan keras namun rela berkorban menjadi yang pertama untuk sebuah kehidupan meskipun ia sendiri berada dalam keadaan yang tidak layak untuk hidup dan tumbuh secara normal. Belajarlah tentang sebuah ketulusan dan pengorbanan yang abadi dari bunga Edelweiss, kepada siapa pun yang ada di sekitar kita.

May 11, 2014

Tipe Kepribadian Saya Adalah Realis Tepercaya

Tipe Realis Tepercaya rendah hati dan sangat memikirkan tanggung jawab. Mereka cermat, pendiam, dan menuntut. Sifat mereka yang paling menonjol adalah dapat diandalkan dan mereka akan selalu berusaha memenuhi janji yang pernah mereka lontarkan. Tipe Realis Tepercaya adalah orang-orang yang cenderung tidak banyak bicara dan serius, mereka tidak banyak bicara namun pendengar yang baik. Kadang-kadang mereka kelihatan pendiam dan menjaga jarak bagi mereka yang belum kenal walaupun biasanya mereka memiliki kejenakaan dan semangat yang tinggi. Kekuatan mereka adalah ketelitian, rasa keadilan yang tinggi, kegigihan yang hampir menuju keras kepala, dan sikap pragmatis, penuh semangat, dan tekad. Tipe Realis Tepercaya tidak pernah ragu ketika sesuatu harus dilakukan. Mereka melakukan apa yang perlu tanpa mengumbar kata-kata.
Jenis kepribadian ini tidak hanya berharap banyak pada diri sendiri namun juga pada orang lain. Begitu tipe Realis Tepercaya menetapkan diri pada sesuatu, sulit membujuk mereka untuk berpaling. Mereka tidak suka mempertaruhkan sesuatu. Merencanakan berarti keamanan bagi tipe Realis Tepercaya, begitu juga halnya dengan keteraturan dan disiplin. Mereka tidak keberatan menghormati otoritas dan hirarki namun tidak suka mendelegasikan tugas. Mereka yakin orang lain tidak akan mengerjakannya sesungguh-sungguh mereka. Di posisi manajemen, mereka sangat berorientasi pada tugas – mereka memastikan semuanya dikerjakan dengan baik; namun demikian, mereka tidak terlalu berminat menjalin hubungan pribadi dalam lingkungan pekerjaan.
Dalam hubungan asmara, tipe Realis Tepercaya juga amat tepercaya. Sebagai pasangan, mereka dapat dipercaya dan konsisten, seimbang dan berpikir dengan akal sehat. Keamanan dan kestabilan sangat penting bagi mereka. Mereka nyaris tidak punya waktu untuk bermewah-mewah dan main-main. Siapa pun yang mendapatkan mereka sebagai teman atau pasangan dapat mengandalkan mereka seumur hidup. Namun demikian, butuh cukup banyak waktu bagi tipe Realis Tepercaya untuk memasuki suatu hubungan asmara atau pertemanan. Mereka tidak terlalu membutuhkan kontak sosial; oleh karena itu mereka sangat cermat ketika memilih pasangan dan teman dan membatasi diri dengan lingkaran kecil namun eksklusif yang sesuai dengan tuntutan tinggi mereka. Mereka cenderung menunjukkan keakraban mereka kepada orang-orang yang penting bagi mereka dengan tindakan – pasangan mereka sebaiknya tidak mengharapkan deklarasi cinta yang romantis. Check this out Tes Kepribadian iPersonic

May 9, 2014

Ketika Patah Hati Mencoba Mematahkan Hidupmu

Malam ini aku baru saja mendarat dengan salah satu maskapai penerbangan nasional di Bandara Soekarno Hatta. Kulirik jam tangan yang jarum pendeknya parkir di antara angka sepuluh dan sebelas sementara jarum panjangnya lagi santai sama angka tujuh. Yup, sekitar pukul setengah sebelas malam. Begitu keluar dari terminal kedatangan, kuaktifkan ponsel yang sejak dua jam lalu menyala dengan flight mode. Nggak lama, masuk sebuah pesan singkat yang setelah kubuka ternyata datang dari sepupuku, Sinta. Isinya ya sudah bisa kutebak, dia bakal terlambat meng-drop out ku dari bandara karena mobilnya yang mogok. Mau gimana lagi? Alhasil aku putuskan untuk sejenak berkeliling area bandara sambil mencari tempat yang enak buat istirahat selagi menunggu Sinta dan Mas Bayu datang. Mataku lalu tertuju pada sebuah tempat yang bisa dibilang mirip kafe kecil, kulangkahkan kaki dan masuk ke dalamnya lalu segera memesan segelas cokelat panas. Sebenarnya sih namanya saja cokelat panas tapi pas diminum ya terasa hangat.
Ini adalah kali pertamaku berangkat ke Jakarta sendirian. Menempuh perjalanan dua jam lamanya dari Kuala Namu Internasional Airport atau yang biasa disebut KNIA hingga sampai di Bandara Soetta dan harus menunggu entah berapa lama lagi sampai Sinta dan Mas Bayu menjemput itu benar-benar terasa double boring. Aku mengedarkan pandangan pada keadaan sekeliling bandara yang masih tetap saja kelihatan ramai meskipun sudah hampir tengah malam. Ya iyalah, secara ini ibukota negara kali. Hujan deras yang entah sejak kapan mengguyur Jakarta pun tampaknya masih belum menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti. Dari pada bosan, buru-buru aku mengeluarkan laptop dari dalam tas ranselku dan berniat untuk blogging. Ini sudah seperti kebiasaan rutinku setiap kali menemukan wi-fi gratis. Setelah tahu passwordnya dari mbak-mbak yang berdiri di depan kasir, aku pun langsung masuk ke web page blogku yang sebelumnya sudah kusimpan di bookmark supaya cepat kalau ingin mengaksesnya.
Awalnya sih aku nggak punya inisiatif apapun buat diposting, eh tiba-tiba muncul ide sewaktu kulihat sepasang muda-mudi yang baru saja keluar dari mobil dan lagi mengarah ke kafe tempat dimana aku berada sekarang. Mereka melangkah melewati pintu masuk kafe dengan wajah yang entah disebut apa. Galau, sendu, sedih, semua seperti menyatu menjadi satu. Setelah memesan minuman mereka pun duduk di depan meja yang berada tepat di sampingku. Jarak yang tidak lebih dari empat meter ini membuatku mendengar sedikit percakapan mereka dengan samar-samar. Sebenarnya aku sama sekali nggak berniat mendengar obrolan mereka, hanya saja aku terpaksa mendengarnya karena jarak kami yang berdekatan. 
Setelah hampir lima belas menit kulekatkan mataku menatap screen laptop dengan telinga yang juga mendengar apa yang nggak seharusnya kudengar, aku sedikit mengerti permasalahan yang sedang mereka alami. Ya Tuhan, apa kehidupan remaja-remaja di kota metropolitan pada zaman modern ini harus berakhir dengan kekacauan seperti itu? Wanita itu yang awalnya kuperkirakan berumur nggak jauh berbeda denganku ternyata seorang pecandu narkoba. What a terrible thing! Dan ternyata benar, usia kami sama-sama baru akan menginjak angka delapan belas pada tahun ini. Masih terlalu belia rasanya untuk masuk dalam sebuah jerat perangkap yang bernama narkoba. Sejenak kuperhatikan penampilan wanita itu. Wajahnya sama sekali nggak menunjukkan sifat nakal apalagi kriminal, pakaiannya juga terbilang sopan untuk ukuran remaja-remaja yang hidup di kota besar seperti Jakarta ini. Lalu, apa yang membuatnya bisa terjerumus dalam dunia yang seharusnya dihindari bahkan dijauhi? Patah hati. Apa? Aku nggak salah dengar kan ya? Tiba-tiba saja aku tersedak setelah mendengar sesuatu yang baru saja mereka bicarakan. Aku menoleh pada mereka yang sepertinya merasa terganggu lalu mengucapkan kata “sorry”. Buru-buru kukeluarkan ponsel dari dalam kantong sweaterku lalu berpura-pura untuk menelepon seseorang. Mereka lalu kembali serius melanjutkan pembicaraan.
Mataku kini tertuju pada screen ponsel yang tengah menampilkan timeline Twitter. Aku meng-scroll down satu demi satu tweet yang muncul berusaha menghilangkan kecanggunganku karena hal yang benar-benar memalukan tadi. Pikiranku masih saja berputar, mencoba menemukan logika yang tepat yang bisa menghubungkan drugs with broken heart. Jangan bilang aku nggak pernah merasakan yang namanya patah hati. Hei, masalah cintaku juga nggak kalah peliknya, termasuk dalam tingkat menengah ke atas… parahnya. Kalau kalian pernah merasakan sakit yang teramat sangat sakit ketika harus bertemu dengan sebuah kehilangan padahal sedang berada di puncak kebahagiaan, maka aku pernah merasakannya. Kalau kalian pernah ditinggalkan oleh seseorang yang sama sekali nggak pernah kalian bayangkan bakal pergi begitu saja tanpa sedikit penjelasan atau sepatah kata pun, maka aku juga pernah mengalaminya. Tapi, masalah cinta nggak seharusnya membuat kita down, drop dan stuck dalam waktu yang cukup lama dalam sebuah kehancuran kan?
Pernah nggak kalian berpikir “she/he is the one”? Pernah nggak berpikir “well, dia orang yang sangat baik, sangat sempurna sampai Tuhan mempertemukanku dengannya dan hidupku memang ditakdirkan buat dia setelah waktu panjang yang sudah dilalui bersama”? Atau bahkan pernah nggak berpikir untuk stuck mencintai satu orang, mengabdi, saling melindungi, menikah, punya anak lalu tua bersama? Mungkin terlalu klise atau mungkin juga terlalu aneh rasanya di usia yang masih sebelia ini sempat muncul pikiran-pikiran semacam itu but that’s the truth. Cinta itu nggak memandang usia, keyakinan bahkan status sosial tapi cinta itu tentang rasa. Dan karena alasan itu pulalah mulai bertebaran orang-orang dengan penyakit susah move on zaman sekarang. Tapi, kembali lagi pada permasalahan yang tiba-tiba saja muncul di benakku sesaat setelah mendengar percakapan sepasang muda-mudi di sampingku ini, apa kehancuran hati harus selalu berakhir dengan ikut menghancurkan diri kita juga? Terlalu bodoh rasanya untuk melakukan hal semacam itu.
Jika ada yang berpikir lukaku sudah sembuh sehingga aku bisa berbicara segampang ini, maka kalian salah besar. It’s almost two years! Dua belas bulan, lebih dari puluhan minggu bahkan sudah entah berapa ratus hari yang terlewati semenjak hari paling buruk dalam hidupku itu terjadi. Kalau hatiku bisa berteriak mengeluarkan aspirasinya dengan bebas, mungkin ia sudah kehabisan suara karena segala perasaan sakit, hancur, perih dan luka yang selama ini ia pendam sendiri lalu memaksa bibir agar melukis sebuah senyum palsu untuk menutupinya. Aku selalu mencoba berpikir realistis karena mengingat permasalahan yang ada di dunia ini nggak cuma melulu soal cinta. Kita semua pernah merasakan yang namanya patah hati, tapi bukan berarti semangat hidup kita juga harus patah kan?
Aku menghela napas panjang. Dari kejauhan tampak Sinta dan Mas Bayu, sepupuku, melambaikan tangan mereka padaku. Aku mengemasi barang-barangku dan mulai ingin beranjak keluar dari kafe. Tapi sebelum aku melangkahkan kaki, aku menoleh pada sepasang mud-mudi yang tadinya duduk di sampingku itu.
“Maaf, aku nggak bermaksud ikut campur masalah kamu. Ternyata umur kita sama ya, pasti kamu berpikir di usia yang bahkan belum menginjak delapan belas tahun kenapa harus separah ini masalah hati yang kamu alami? Kita semua pernah ngerasain yang namanya patah hati, tapi bukan berarti semangat hidup kita juga harus patah kan? Masih terlalu muda…” Suaraku terdengar menggantung. “Kamu mau hancurin hidup yang sangat berharga ini cuma karena dia yang pergi ninggalin kamu gitu aja? If I may give a little advice, which you should be doing is try to heal, from drugs and also from your broken heart.”
Kulangkahkan kaki menuju pintu keluar sambil menarik koperku. Nggak ada sedikit pun raut marah di wajah mereka atas apa yang baru saja kuucapkan. Ketika langkahku mulai menjauh dari kafe itu, tiba-tiba terdengar seorang wanita berteriak di belakangku mengucapkan kata “Hei”.
Aku membalikkan badan dan mendapati wanita yang tadi duduk di sampingku berdiri di depan pintu kafe.
“Makasih ya.” Ucapnya lembut sambil tersenyum dan menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Aku nggak menjawab. Hanya tersenyum dan melambaikan tangan padanya lalu melangkah menuju Sinta dan Mas Bayu yang sudah menunggu di depan mobil.