April 23, 2014

The Best Farewell Party Ever

We Start Together, We Finish Together 
Starting from XI Science 4th, we’re ending our beautiful story in XII Science 4th.

Sejenak rasa haru mulai menelusup ke dalam kalbu ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di ruangan itu, Raz Hotel Convention Hall, salah satu convention hall yang berada di pusat kota Medan dan dijadikan sebagai tempat acara perpisahan siswa-siswi kelas XII tahun ajaran 2013-2014 SMA Negeri 7 Medan. Just a simple farewell party tapi mampu menghadirkan begitu banyak kesan dan pesan bermakna juga meninggalkan kenangan yang tentu saja nggak akan mudah terlupakan. Binar-binar penuh bahagia itu kian tampak dan semakin memuncak di wajah-wajah para belia dalam balutan kebaya dan long dress aneka warna dengan segala macam pernak-pernik yang menambah anggun penampilan mereka. Begitu juga dengan para siswa lelaki yang terlihat gagah mengenakan outfit jas hitam maupun kelabu. It’s our day! Semuanya seakan berlomba untuk menjadi nomor satu.
Salah seorang guru yang begitu berjasa dalam berlangsungnya acara ini, Ibu Andrita Nababan, mengatur seluruh siswa agar berbaris sesuai kelas mereka, bersiap dengan pasangan masing-masing dan saling bergandeng tangan menyusuri sisi demi sisi karpet merah yang terbentang mengantarkan kami masuk ke dalam convention hall. Sungguh, aku sendiri bukan ahli dalam hal seperti ini tapi suasana yang begitu elegan ini seolah menghisapku untuk masuk ke dalamnya tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Ketika rasa bingung untuk memilih pasangan merayapi setiap sudut otakku, sebuah sosok yang begitu kukenal tiba-tiba berdiri di sampingku sambil melengkungkan tangannya sebagai pertanda letakkan tanganmu di sini, kita akan berjalan bersama bagai sepasang putri dan pangeran. Rizky. Kehadirannya ternyata mampu melukis senyum bahagia di raut wajahku. Tanpa ada rasa enggan sedikit pun, kami berjalan bersisian layaknya seorang bangsawan di tengah-tengah acara yang begitu formal, tentu bukan hanya kami namun ratusan siswa kelas tiga lainnya.
It’s the best farewell party ever! Kalimat sederhana itulah yang ada di dalam pikiranku ketika pertama kali menginjakkan kaki di atas red carpet. Tidak pernah terpikirkan aku akan beradu dengan banyak blitz kamera bersama seseorang yang bahkan nggak pernah aku bayangkan akan menjadi pasanganku di acara seperti ini. Perlahan kami mulai menapaki ruangan yang telah diatur sedemikian rupa oleh pihak dekorasi dan mengambil tempat duduk di posisi yang telah ditentukan berdasarkan kelasnya.
Semua sesi acara berlangsung dengan khidmat meskipun ada beberapa siswa yang sibuk berfoto di saat acara tengah berlangsung, bahkan termasuk kelasku sendiri. Begitu banyak canda tawa yang terdengar dalam ruangan ini. Semua saling berangkulan dalam bahagia, menikmati hari ini dengan segenap rasa seakan ini adalah hari terakhir kami bisa berkumpul bersama sebagai seorang siswa SMA Negeri 7 Medan.
Berbagai ekspresi haru, bahagia, konyol, aneh, lucu bahkan sedih seakan menyatu di raut wajah penuh senyuman ini. Pikiran kembali menerawang ke masa-masa lampau yang telah dilewati bersama dalam segala suka duka selama hampir tiga tahun lamanya.
Pertama kali menginjakkan kaki sebagai siswa SMA Negeri 7 Medan, tentu saja kami tidak berada dalam satu kelas. Ada X-4, X-5 juga X-6. Setahun berlalu dengan begitu cepat lalu kami dipertemukan bersama dalam sebuah kelas dengan beragam karakter siswa, XI IPA 4. Ikan Sepat… entah siapa yang pertama kali menjadi pencetus nama itu tapi kami memang lebih senang menyebut kelas dengan sebutan Ikan Sepat yang merupakan singkatan dari Ikatan Sebelas IPA Empat. Waktu itu wali kelas kami sendiri adalah Ibu Sri Salma Wiswi Lubis, seorang guru Biologi yang masih terbilang muda, berwajah cantik dengan tampilan yang begitu modis, juga terkadang sedikit centil. Kami biasa memanggilnya Ibu Sri namun ada sebagian yang memanggilnya Mama Sri. Ia adalah wali kelas yang begitu hebat, sangat menyayangi kami sebagai anak didik juga kelas yang diasuhnya selama setahun lamanya, juga begitu hebat dalam memperjuangkan agar kami seluruhnya bisa naik ke kelas XII dengan nilai yang memuaskan.
Setelah melewati satu tahun yang penuh warna dibawah asuhan Ibu Sri, kami pun memasuki tahap-tahap akhir dalam dunia putih abu-abu. Kelas XII IPA 4. Ya, siapa sangka semua akan berlalu begitu cepat? Dua tahun telah berotasi dan mengantarkan kami berada di bawah asuhan Ibu Rosmit Rustam, seorang guru Bahasa Indonesia yang biasa kami panggil Mami Rosmit. Berbeda dengan Ibu Sri yang berjiwa muda, Mami Rosmit adalah wanita paruh baya yang sangat berjiwa keibuan. Membimbing, menjaga dan selalu memberikan nasihat untuk selalu disiplin dalam segala hal. Meskipun sering terjadi selisih paham antara XII IPA 4 dengan Mami Rosmit, tapi ia tetap wali kelas terhebat yang pernah kami punya sama seperti Ibu Sri.
Jangan mengira kalau kelas kami begitu kompak, salah besar! Kelas kami justru memiliki banyak perbedaan yang terkadang mengundang perselisihan antar sesama siswa. Kelas ini sendiri juga terkadang terlihat “berkotak-kotak” tapi satu hal yang harus kita pahami, perbedaan bukanlah masalah besar dan perselisihan juga bukanlah sebuah ancaman. Perbedaan dan perselisihan itulah yang menjadi warna dalam dunia putih abu-abu kami. Kelas kami tidak pernah kompak? Itu juga pemikiran yang salah besar! Ada kalanya kami begitu menyatu dalam kehangatan layaknya sebuah keluarga karena selalu ada momen-momen tertentu yang menarik kami bagai medan magnet untuk saling berdekatan, saling berangkulan dan saling melindungi satu sama lain.
Akhirnya tiga tahun yang begitu singkat itu pun mengharuskan kami untuk menutup cerita lama dalam balutan putih abu-abu. Bukan berarti harus mengakhiri cerita indah yang telah kami rangkai bersama waktu, namun melanjutkan cerita-cerita indah lainnya dan menyimpannya dengan rapi dalam setiap pelosok hati dan pikiran. Di sini pernah ada Aizka, si wajah Barbie yang begitu lembut.
Ada Alfi juga Winda, wanita kalem yang nggak banyak bicara. Ada Tannia, Emmi juga Sintia, mereka teman-teman yang unik.
Ada Nisari dan Siti, sahabat yang mirip perangko. Ada Ulvi dan Tia, teman satu meja selama tiga tahun berturut-turut, mereka tentu saja punya kesamaan yang unik, suara tawa yang… mengerti sendirilah. Ada Qistina, sekretaris yang paling nervous setiap kali mendapat giliran hapalan di depan kelas.
Ada Ariza, yang mengidolakan banyak gorgeous man bahkan termasuk seorang lelaki yang baru ia lihat selama lima menit. Ada Anita, ketua ekskul pramuka yang kalem tapi biasa disebut sebagai abangnya XII IPA 4. Ada Rini, bendahara PMR dan aktivis kesehatan di sekolah. Ada Arifa (yaitu aku sendiri), bendahara yang selalu membawa buku kas dimana pun berada karena menjadi pusat dan sumber keuangan di kelas.
Ada Nanda, teman satu mejaku dari kelas X hingga kelas XII yang easy going, selalu membenarkan apa yang benar, menyalahkan apa yang salah, kami juga punya hobi yang sama, makan!
Ada juga Silva Dwi, penjual gorengan di kelas, bakwannya the best banget. Dia yang paling T-O-P-B-G-T kalau urusan nonton film, selalu mau diajak ke bioskop meskipun harus mengorbankan jadwal bimbel. For me, Nanda and Silva are the best close friend in Senior High, no doubt! 
Selain mereka masih banyak juga teman-teman asyik di kelas. Ada Aqib, si ganteng yang selalu aktif dalam kegiatan OSIS bahkan pernah menjabat sebagai ketua OSIS ketika kelas XI, he’s the best teen musician I ever know! Pemain gitar yang handal juga telah banyak menciptakan lagu meskipun belum masuk ke studio rekaman.
Ada Dhandi, si telinga caplang yang errr… paling nggak bisa diam di kelas. Ada Vindy, si ganteng yang kalau bicara sering terputus-putus dengan sapu tangan yang nggak pernah lepas dari kantongnya. Ada Bibur, yang sepertinya paling anti sama semua pelajaran kecuali pelajaran Penjaskes.
Lailan, masternya Bahasa Inggris di kelas, kalau sudah speaking English like air mengalir, I swear! Ada Fariz, yang… oh, well, he had been my boyfriend when we were grade one in Senior High School State 7 Medan, can also be called pengoleksi mantan se-SMA Negeri 7 Medan, maybe.
Ada Alfin dan Rahmad, si gamers yang paling handal urusan komputer.
Ada si Adrian, sst… he’s the ex-boyfriend of Nanda and Silva Dwi. Ada Oky dan Suangga, siswa yang termasuk kategori perangko di kelas. Ada Hadil dan Kocik a.k.a Putri Khairani, cute couple yang sudah dua tahun berpacaran dalam satu kelas.
Ada Arief, ketua kelas yang well, he said that he was metal.
Ada Nindy, si Arief’s girlfriend. Ada Silva Tina, Tokek a.k.a Putri Asjar, Windy dan Febby, empat serangkai yang kompak habis, mereka teman yang asyik buat lucu-lucuan. Ada Rizky, he also had been my boyfriend when we were grade one in Senior High School State 7 Medan dan harus kuakui he was my best ex-boyfriend that I ever had.
Ada Dika, si ganteng yang juga kalem di kelas. And the last, ada Sarah, yang biasa disebut sebagai ibunya XII IPA 4 karena sifat keibuannya yang selalu mengayomi teman-teman satu kelas juga ada Fisca, si kakak-yang-selalu-mengatakan-kalau-dirinya-seksi, dia penggilanya Mikha Angelo!
It’s us, it’s our beloved class. Maybe it’s not the best farewell party in the world but it’s the best for us. You must know that this is the greatest day I ever had in senior high and I’ve got it all because of you too, Comfort. You're my greatest class, you're my greatest friend.

2 comments:

Aizka Syafira said...

Hei.. You said that I have a barbie face.. Jadi maluu :$ but thank you{} you're the best young writer I ever know :)

Firlya Aisyah Putri said...

Arifa, firlya terharu membaca ceritamu. Jadi pengen balik lagi ke masa SMA dulu lah. Andai masa-masa itu bisa terulang kembali ya...