April 8, 2014

It's Us

Kita pernah tercipta lewat sebuah ketidak-sengajaan. Berawal dengan sedikit persamaan bersama berjuta perbedaan. Di sini, pernah ada Ghia, si cantik dengan segala kegalauannya tentang adik-kelas-yang-namanya-tidak-boleh-disebut. Ada Arifa, si tomboy yang gemar mengerjakan soal-soal eksakta. Ada Ulvi, si periang dengan tawa yang seringkali mengganggu ketenangan. Ada Tia, si mata panda dengan kombinasi pendiam-centil. Ada Umek, si kreatif yang selalu percaya diri dengan berbagai posenya di depan kamera. Juga ada Nanda, si gendut yang paling netral dengan berbagai kegilaan masing-masing temannya. Dan orang-orang menyebut kami "Anak Enam".
Lewat begitu banyak canda tawa yang kami hadirkan, bukan berarti kami selalu satu. Terkadang, keegoisan berdiri paling depan menghalangi hati dan pikiran untuk saling sejalan.
Namun di sinilah teman saling beradu peran, membenarkan apa yang memang benar dan menyalahkan apa yang memang salah. Menyadarkan satu sama lain ketika salah mengambil langkah, membimbing satu sama lain ketika salah menentukan arah juga saling bersandar dan merangkul satu sama lain ketika terjatuh.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan friendship is the hardest thing in the world to explain, it's not something you learn in school but if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything.
“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It’s not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything”
“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It’s not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything”
Dari sana kita bisa memahami bahwa teman adalah sosok yang mampu menempah kita menjadi pribadi yang lebih mengerti berbagai macam hal dalam hidup, terutama tentang kesetiaan, kepercayaan, kejujuran dan keinginan untuk saling berbagi.
Mungkin "Anak Enam" memang bukan persahabatan yang paling sempurna di dunia dan memang kami sendiri pun tidak pernah menyebutkan satu sama lain dengan panggilan sahabat. Karena makna yang terkandung di dalam sebuah persahabatan tidak hanya berasal dari teriakan "Dia sahabatku!".
Kami teman... teman yang pernah saling merangkul dalam suka dan duka. Kami teman... teman yang pernah saling beradu dalam keegoisan juga kesetiakawanan. Kami teman... teman yang pernah saling berpegangan saat menapaki batuan terjal. Kami teman... teman yang pernah bersama dalam "Anak Enam".
Mungkin kita memang tidak lagi saling bersama dalam menjejakkan langkah, tapi kita masih berdiri pada pijakan yang sama, kita masih berlindung di bawah langit yang sama, kita juga masih menghirup napas dengan udara yang sama. Makna terbaik yang pernah kudapatkan lewat pertemuan singkat ini adalah diam tidak selalu berarti melupakan, tawa tidak selalu berarti bahagia, tangis tidak selalu berarti duka dan pergi tidak selalu berarti menjauh.

I think if I've learned anything about friendship, it's to hang in, stay connected, fight for them and let them fight for you too. Don't walk away, don't be distracted, don't be too busy or tired, don't take them for granted. Friends are part of the glue that holds life and faith together. Powerful stuff. -Jon Katz-

No comments: