April 23, 2014

The Best Farewell Party Ever

We Start Together, We Finish Together 
Starting from XI Science 4th, we’re ending our beautiful story in XII Science 4th.

Sejenak rasa haru mulai menelusup ke dalam kalbu ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di ruangan itu, Raz Hotel Convention Hall, salah satu convention hall yang berada di pusat kota Medan dan dijadikan sebagai tempat acara perpisahan siswa-siswi kelas XII tahun ajaran 2013-2014 SMA Negeri 7 Medan. Just a simple farewell party tapi mampu menghadirkan begitu banyak kesan dan pesan bermakna juga meninggalkan kenangan yang tentu saja nggak akan mudah terlupakan. Binar-binar penuh bahagia itu kian tampak dan semakin memuncak di wajah-wajah para belia dalam balutan kebaya dan long dress aneka warna dengan segala macam pernak-pernik yang menambah anggun penampilan mereka. Begitu juga dengan para siswa lelaki yang terlihat gagah mengenakan outfit jas hitam maupun kelabu. It’s our day! Semuanya seakan berlomba untuk menjadi nomor satu.
Salah seorang guru yang begitu berjasa dalam berlangsungnya acara ini, Ibu Andrita Nababan, mengatur seluruh siswa agar berbaris sesuai kelas mereka, bersiap dengan pasangan masing-masing dan saling bergandeng tangan menyusuri sisi demi sisi karpet merah yang terbentang mengantarkan kami masuk ke dalam convention hall. Sungguh, aku sendiri bukan ahli dalam hal seperti ini tapi suasana yang begitu elegan ini seolah menghisapku untuk masuk ke dalamnya tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Ketika rasa bingung untuk memilih pasangan merayapi setiap sudut otakku, sebuah sosok yang begitu kukenal tiba-tiba berdiri di sampingku sambil melengkungkan tangannya sebagai pertanda letakkan tanganmu di sini, kita akan berjalan bersama bagai sepasang putri dan pangeran. Rizky. Kehadirannya ternyata mampu melukis senyum bahagia di raut wajahku. Tanpa ada rasa enggan sedikit pun, kami berjalan bersisian layaknya seorang bangsawan di tengah-tengah acara yang begitu formal, tentu bukan hanya kami namun ratusan siswa kelas tiga lainnya.
It’s the best farewell party ever! Kalimat sederhana itulah yang ada di dalam pikiranku ketika pertama kali menginjakkan kaki di atas red carpet. Tidak pernah terpikirkan aku akan beradu dengan banyak blitz kamera bersama seseorang yang bahkan nggak pernah aku bayangkan akan menjadi pasanganku di acara seperti ini. Perlahan kami mulai menapaki ruangan yang telah diatur sedemikian rupa oleh pihak dekorasi dan mengambil tempat duduk di posisi yang telah ditentukan berdasarkan kelasnya.
Semua sesi acara berlangsung dengan khidmat meskipun ada beberapa siswa yang sibuk berfoto di saat acara tengah berlangsung, bahkan termasuk kelasku sendiri. Begitu banyak canda tawa yang terdengar dalam ruangan ini. Semua saling berangkulan dalam bahagia, menikmati hari ini dengan segenap rasa seakan ini adalah hari terakhir kami bisa berkumpul bersama sebagai seorang siswa SMA Negeri 7 Medan.
Berbagai ekspresi haru, bahagia, konyol, aneh, lucu bahkan sedih seakan menyatu di raut wajah penuh senyuman ini. Pikiran kembali menerawang ke masa-masa lampau yang telah dilewati bersama dalam segala suka duka selama hampir tiga tahun lamanya.
Pertama kali menginjakkan kaki sebagai siswa SMA Negeri 7 Medan, tentu saja kami tidak berada dalam satu kelas. Ada X-4, X-5 juga X-6. Setahun berlalu dengan begitu cepat lalu kami dipertemukan bersama dalam sebuah kelas dengan beragam karakter siswa, XI IPA 4. Ikan Sepat… entah siapa yang pertama kali menjadi pencetus nama itu tapi kami memang lebih senang menyebut kelas dengan sebutan Ikan Sepat yang merupakan singkatan dari Ikatan Sebelas IPA Empat. Waktu itu wali kelas kami sendiri adalah Ibu Sri Salma Wiswi Lubis, seorang guru Biologi yang masih terbilang muda, berwajah cantik dengan tampilan yang begitu modis, juga terkadang sedikit centil. Kami biasa memanggilnya Ibu Sri namun ada sebagian yang memanggilnya Mama Sri. Ia adalah wali kelas yang begitu hebat, sangat menyayangi kami sebagai anak didik juga kelas yang diasuhnya selama setahun lamanya, juga begitu hebat dalam memperjuangkan agar kami seluruhnya bisa naik ke kelas XII dengan nilai yang memuaskan.
Setelah melewati satu tahun yang penuh warna dibawah asuhan Ibu Sri, kami pun memasuki tahap-tahap akhir dalam dunia putih abu-abu. Kelas XII IPA 4. Ya, siapa sangka semua akan berlalu begitu cepat? Dua tahun telah berotasi dan mengantarkan kami berada di bawah asuhan Ibu Rosmit Rustam, seorang guru Bahasa Indonesia yang biasa kami panggil Mami Rosmit. Berbeda dengan Ibu Sri yang berjiwa muda, Mami Rosmit adalah wanita paruh baya yang sangat berjiwa keibuan. Membimbing, menjaga dan selalu memberikan nasihat untuk selalu disiplin dalam segala hal. Meskipun sering terjadi selisih paham antara XII IPA 4 dengan Mami Rosmit, tapi ia tetap wali kelas terhebat yang pernah kami punya sama seperti Ibu Sri.
Jangan mengira kalau kelas kami begitu kompak, salah besar! Kelas kami justru memiliki banyak perbedaan yang terkadang mengundang perselisihan antar sesama siswa. Kelas ini sendiri juga terkadang terlihat “berkotak-kotak” tapi satu hal yang harus kita pahami, perbedaan bukanlah masalah besar dan perselisihan juga bukanlah sebuah ancaman. Perbedaan dan perselisihan itulah yang menjadi warna dalam dunia putih abu-abu kami. Kelas kami tidak pernah kompak? Itu juga pemikiran yang salah besar! Ada kalanya kami begitu menyatu dalam kehangatan layaknya sebuah keluarga karena selalu ada momen-momen tertentu yang menarik kami bagai medan magnet untuk saling berdekatan, saling berangkulan dan saling melindungi satu sama lain.
Akhirnya tiga tahun yang begitu singkat itu pun mengharuskan kami untuk menutup cerita lama dalam balutan putih abu-abu. Bukan berarti harus mengakhiri cerita indah yang telah kami rangkai bersama waktu, namun melanjutkan cerita-cerita indah lainnya dan menyimpannya dengan rapi dalam setiap pelosok hati dan pikiran. Di sini pernah ada Aizka, si wajah Barbie yang begitu lembut.
Ada Alfi juga Winda, wanita kalem yang nggak banyak bicara. Ada Tannia, Emmi juga Sintia, mereka teman-teman yang unik.
Ada Nisari dan Siti, sahabat yang mirip perangko. Ada Ulvi dan Tia, teman satu meja selama tiga tahun berturut-turut, mereka tentu saja punya kesamaan yang unik, suara tawa yang… mengerti sendirilah. Ada Qistina, sekretaris yang paling nervous setiap kali mendapat giliran hapalan di depan kelas.
Ada Ariza, yang mengidolakan banyak gorgeous man bahkan termasuk seorang lelaki yang baru ia lihat selama lima menit. Ada Anita, ketua ekskul pramuka yang kalem tapi biasa disebut sebagai abangnya XII IPA 4. Ada Rini, bendahara PMR dan aktivis kesehatan di sekolah. Ada Arifa (yaitu aku sendiri), bendahara yang selalu membawa buku kas dimana pun berada karena menjadi pusat dan sumber keuangan di kelas.
Ada Nanda, teman satu mejaku dari kelas X hingga kelas XII yang easy going, selalu membenarkan apa yang benar, menyalahkan apa yang salah, kami juga punya hobi yang sama, makan!
Ada juga Silva Dwi, penjual gorengan di kelas, bakwannya the best banget. Dia yang paling T-O-P-B-G-T kalau urusan nonton film, selalu mau diajak ke bioskop meskipun harus mengorbankan jadwal bimbel. For me, Nanda and Silva are the best close friend in Senior High, no doubt! 
Selain mereka masih banyak juga teman-teman asyik di kelas. Ada Aqib, si ganteng yang selalu aktif dalam kegiatan OSIS bahkan pernah menjabat sebagai ketua OSIS ketika kelas XI, he’s the best teen musician I ever know! Pemain gitar yang handal juga telah banyak menciptakan lagu meskipun belum masuk ke studio rekaman.
Ada Dhandi, si telinga caplang yang errr… paling nggak bisa diam di kelas. Ada Vindy, si ganteng yang kalau bicara sering terputus-putus dengan sapu tangan yang nggak pernah lepas dari kantongnya. Ada Bibur, yang sepertinya paling anti sama semua pelajaran kecuali pelajaran Penjaskes.
Lailan, masternya Bahasa Inggris di kelas, kalau sudah speaking English like air mengalir, I swear! Ada Fariz, yang… oh, well, he had been my boyfriend when we were grade one in Senior High School State 7 Medan, can also be called pengoleksi mantan se-SMA Negeri 7 Medan, maybe.
Ada Alfin dan Rahmad, si gamers yang paling handal urusan komputer.
Ada si Adrian, sst… he’s the ex-boyfriend of Nanda and Silva Dwi. Ada Oky dan Suangga, siswa yang termasuk kategori perangko di kelas. Ada Hadil dan Kocik a.k.a Putri Khairani, cute couple yang sudah dua tahun berpacaran dalam satu kelas.
Ada Arief, ketua kelas yang well, he said that he was metal.
Ada Nindy, si Arief’s girlfriend. Ada Silva Tina, Tokek a.k.a Putri Asjar, Windy dan Febby, empat serangkai yang kompak habis, mereka teman yang asyik buat lucu-lucuan. Ada Rizky, he also had been my boyfriend when we were grade one in Senior High School State 7 Medan dan harus kuakui he was my best ex-boyfriend that I ever had.
Ada Dika, si ganteng yang juga kalem di kelas. And the last, ada Sarah, yang biasa disebut sebagai ibunya XII IPA 4 karena sifat keibuannya yang selalu mengayomi teman-teman satu kelas juga ada Fisca, si kakak-yang-selalu-mengatakan-kalau-dirinya-seksi, dia penggilanya Mikha Angelo!
It’s us, it’s our beloved class. Maybe it’s not the best farewell party in the world but it’s the best for us. You must know that this is the greatest day I ever had in senior high and I’ve got it all because of you too, Comfort. You're my greatest class, you're my greatest friend.

April 20, 2014

Menyambut Keindahan Bunga Sakura

Hanami…
Menyambut Keindahan Bunga Sakura
Siapa yang tidak mengenal bunga Sakura? Bunga yang satu ini begitu melegenda hingga ke berbagai belahan dunia. Sakura adalah bunga khas yang menjadi ikon negeri matahari terbit, Jepang. Mekarnya bunga Sakura dijadikan tanda hadirnya musim semi. Ada sebuah tradisi di Jepang dalam menyambut keindahan mekarnya bunga Sakura, tradisi unik itu disebut dengan Hanami.



Asal Usul Perayaan Hanami
Hanami berasal dari kata Hana Wo Miru yang berarti melihat bunga atau ohanami. Tradisi Jepang yang satu ini digunakan secara khusus untuk menikmati keindahan bunga, khususnya bunga Sakura. Selain itu, Hanami juga bisa diartikan sebagai piknik dengan menggelar tikar untuk pesta makan-makan di bawah pohon Sakura. Unik bukan? Pada saat perayaan Hanami, orang-orang berpiknik menggelar tikar dan duduk-duduk di bawah pepohonan Sakura untuk bergembira bersama, minum sake juga memakan makanan khas Jepang.
Berbicara tentang sejarah Hanami, kebiasaan perayaan ini dipengaruhi oleh tradisi raja-raja Cina yang gemar menanam pohon plum di sekitar istana mereka. Di Jepang, para bangsawan pun mulai menikmati bunga Ume (plum). Pada abad ke-8 atau awal periode Heian, objek bunga yang dinikmati mulai bergeser dari bunga Plum ke bunga Sakura. Dikisahkan bahwa Raja Saga di era Jepang dahulu gemar menyelenggarakan pesta Hanami di taman Shinsenen di Kyoto. Para bangsawan menikmati Hanami di berbagai sudut istana dan para petani masa itu melakukannya dengan mendaki gunung terdekat di awal musim semi untuk menikmati bunga Sakura yang tumbuh disana sambil tidak lupa membawa bekal untuk makan siang. Hingga kini Hanami menjadi kebiasaan yang mengakar di seluruh masyarakat Jepang dan telah diterima sebagai salah satu cirri khas bangsanya.





Cara Masyarakat Jepang Merayakan Hanami
Pada saat perayaan Hanami, semua orang berkumpul di bawah rindangnya pohon Sakura dengan menggelar tikar untuk makan dan minum bersama sambil bernyanyi dan menari sepanjang malam. Umumnya mereka membawa makanan yang dipersiapkan sendiri dari rumah (bento). Namun ada juga yang membeli dari penjual makanan di tempat acara Hanami berlangsung. Dalam perayaan Hanami saat ini, terjadi sedikit pergeseran. Jika orang-orang tua menari-nari dengan gaya tradisionalnya, ada kalangan muda yang berjingkrak-jingkrak dengan musik kerasnya. Suasana pun menjadi hingar-bingar.



Hanami dan Loyalitas Tradisi
Hanami yang berupa acara perayaan untuk melihat bunga khas negeri Matahari Terbit ini merupakan satu dari beberapa perayaan tahunan di Jepang yang diselenggarakan pada musim semi, tepatnya pada bulan April. Adanya tradisi ini memang cukup menarik perhatian. Memang bisa jadi bukan bunga Sakura itu sendiri yang menjadi poin penekanan perayaan Hanami, melainkan datangnya musim semi yang hangat dan bersahabat untuk melaksanakan segala aktivitas. Hanya saja, musim semi di Jepang memang identik dengan muncul dan mekarnya bunga sakura.
Perayaan semacam ini mungkin tidak bisa kita jumpai di negara-negara lain, yang menakjubkan adalah masyarakat Jepang tetap melestarikan budaya Hanami meskipun di era modern ini banyak pilihan tempat untuk bersantai bersama keluarga, misalnya dengan pergi ke tempat karaoke. Pada saat-saat mekarnya bunga Sakura, masyarakat Jepang tetap memilih berkumpul dan bersantai bersama keluarga di bawah pohon Sakura sambil menikmati keindahan bunga tersebut. Kemajuan teknologi tidak lantas menggeser tradisi sederhana ini. Mereka lebih memilih untuk berkumpul bersama bersama keluarga dan sahabat dibandingkan pergi ke tempat karaoke.
Konon, bunga Sakura hanya mekar selama tujuh sampai sepuluh hari. Musim mekarnya bunga sakura adalah pada bulan April yang juga bertepatan dengan awal masuk sekolah dan masuk kerja di Jepang, sehingga dianggap juga sebagai titik balik terbesar dalam hidup manusia. Oleh karena itu bunga Sakura juga melambangkan masa depan yang penuh sinar cerah dan harapan. Singkatnya masa bermekaran bunga Sakura tentu tidak dilewatkan begitu saja oleh masyarakat jepang. Secara umum, bunga Sakura akan mulai bermekaran secara bertahap. Mekarnya bunga dimulai dari daerah selatan yang berudara lebih hangat. Di Jepang, mekarnya Sakura jenis someiyoshino dimulai dari Okinawa di bulan Februari, dilanjutkan di pulau Honshu bagian sebelah barat, kuncup bunga Sakura jenis someiyoshino mulai terlihat di akhir musim dingin dan bunganya mekar di akhir bulan Maret sampai awal bulan April di saat cuaca mulai hangat. Di Tokyo, Osaka dan Kyoto, bunga Sakura jenis someiyoshino mekar sekitar akhir Maret sampai awal April, lalu bergerak sedikit demi sedikit ke utara dan berakhir di Hokkaido saat liburan Golden Week.







Lokasi perayaan Hanami
Karena Hanami berlangsung satu tahun sekali, rasanya memang sayang untuk dilewatkan. Lalu, tempat mana saja yang biasa digunakan untuk merayakan Hanami? Ada sebuah tempat khusus yang biasa dijadikan sebagai pusat perayaan Hanami yakni Osaka Castle yang terletak di kota Osaka. Tempat ini termasuk salah satu tempat favorit untuk ber-Hanami. Puri ini dikelilingi taman yang penuh dengan pohon cherry, plum dan sakura yang berbunga indah saat musim semi. Namun tidak hanya di Osaka, tempat lain yang bisa digunakan untuk menikmati keindahan bunga Sakura antara lain adalah sebagai berikut.
Tokyo: Taman Ueno (Taito-ku), Taman Inogashira (kota Musashino), Taman Koganei (kota Koganei), Taman Shinjuku-gyoen (Shinjuku-ku), Taman Sumida (Sumida-ku).
Prefektur Gifu: Kamagatani (kota Ikeda), Taman Usuzumi/Neodani (kota Motosu), Pinggir Sungai Shinsakai (kota Kakamigahara).
Prefektur Hyogo: Taman Akashi (kota Akashi), Taman Shukugawa (Nishinomiya), Taman Istana Himeji (kota Himeji).
Prefektur Nara: Pegunungan Yoshino (kota Yoshino), Taman Kooriyamajoshi (Yamato Kooriyama), Taman Nara (kota Nara).
Prefektur Osaka: The Mint Bureau (Osaka), Taman Expo ’70 (kota Suita), Taman Istana Osaka (Osaka).

Klasifikasi Bunga Sakura
Pohon Sakura adalah salah satu pohon yang tergolong dalam famili Rosaceae, genus Prunus sejenis dengan pohon prem, persik atau aprikot, tetapi secara umum Sakura digolongkan dalam subgenus Sakura. Asal-usul kata Sakura adalah kata saku yang dalam bahasa Jepang berarti mekar lalu ditambah akhiran yang menyatakan bentuk jamak ra. Dalam bahasa Inggris, bunga Sakura disebut cherry blossoms.
Warna bunga tergantung pada spesiesnya, ada yang berwarna putih dengan sedikit warna merah jambu, kuning muda, merah jambu, hijau muda atau merah menyala. Bunganya digolongkan menjadi 3 jenis berdasarkan susunan daun mahkota yakni bunga tunggal dengan daun mahkota selapis, bunga ganda dengan daun mahkota berlapis dan bunga semi ganda.
Setiap tahunnya pengamat Sakura mengeluarkan peta pergerakan mekarnya bunga Sakura someiyoshino dari barat ke timur lalu utara yang disebut Sakurazensen. Dengan menggunakan peta Sakurazensen dapat diketahui lokasi bunga Sakura yang sedang mekar pada saat tertentu.

Filosofi Bunga Sakura
Mekarnya bunga Sakura memiliki makna tersendiri yang mungkin tidak akan pernah bisa terungkapkan lewat untaian kata. Makna tersebut dapat berupa kesejukan, keheningan, kebahagiaan dan ketenangan. Sakura juga bermakna perpisahan saat bunga tersebut mulai jatuh berguguran ditiup angin.
Kecantikan bunga Sakura juga memiliki arti spiritual dan filosofis tentang kehidupan manusia. Bagi orang Jepang, bunga Sakura melambangkan kegembiraan dan kesedihan serta mengingatkan manusia untuk selalu bersyukur dalam menghargai kehidupan dan kesedihan.
Sakura juga mengingatkan bahwa segalanya memiliki kebalikan. Ada sedih, ada gembira. Ada hidup, ada saatnya mati. Ada saatnya merekah dengan indahnya dan ada saatnya berguguran. Dan itulah yang bunga Sakura lakukan, mekar dengan memberikan keindahan bagi jiwa-jiwa yang berkelana.
Selain itu, bunga Sakura dianggap sebagai pembawa rejeki dan keberuntungan. Pada upacara pernikahan dan perayaan tradisional lainnya, seringkali diharuskan meminum sup bunga Sakura yang direbus dalam sebuah wadah keramik, yang maknanya menyerap keberuntungan yang terkandung di dalam bunga Sakura. Ada pula sebagian orang yang mempercayai bahwa bunga Sakura bermakna janji, layaknya bunga-bunga lain yang juga memiliki makna masing-masing.

Berikut adalah kutipan tentang bunga Sakura yang seringkali kita dengar.
“Bunga Sakura… Saat mekar tanpa pamrih, tanpa beban apapun dengan ketulusan untuk memberikan kepuasan dan kekaguman pada setiap orang untuk menikmatinya. Gugurnya bunga Sakura akan sangat disayangkan banyak orang. Hidup Sakura bak cermin keberhasilan seseorang yang apabila kita mati, orang lain akan merasa kehilangan. Sakura adalah janji yang meskipun usianya terlalu singkat tapi ia berjanji akan kembali mekar di musim semi selanjutnya. Ia akan kembali membagi keindahannya, ia akan kembali membagi keceriaan bagi siapa saja yang memandang. Sakura berjanji akan datang lagi.”


April 17, 2014

Mencintaimu Dengan Caraku

            “Nggak terasa ya, Din, waktu kita di sini tinggal beberapa minggu lagi. Rasanya baru aja kemarin kita masuk ke sekolah ini, ikut ospek bareng-bareng, kena hukum bareng-bareng, hiking di Bromo bareng-bareng, eh sekarang ujian kelulusan malah udah di depan mata aja.” Naura memantulkan bola basket yang ada di tangannya ke dinding.
            “Iya, Ra. Gue juga nggak nyangka bakal secepat ini.”
            “Eh, ngomong-ngomong elo beneran mau kuliah di Austria?
            “Kayaknya sih gitu, tiga bulan lagi Papa mau pindah tugas ke sana. Ya gue sama Mama ikutan aja. Elo udah ada planning kemana?”
            “Nggak jauh-jauh lah, gue mau ke Yogya aja. Nemenin Eyang, kali aja dapat cowok Yogya.” Naura tertawa kecil.
            “Huh, dasar lo.” Tanganku merebut bola basket dari Naura.
            Naura bergumam. “Eh, tapi apa lo nggak sedih gitu ninggalin Yudi di sini, ntar kalau digebet orang gimana?” Suara Naura terdengar menggoda.
            Tiba-tiba perutku terasa geli mendengar pertanyaan Naura.
            “Loh, kok malah ketawa?”
            “Ya habis elo lucu, emangnya apa yang harus gue takutin? Yudi itu sahabat gue bukan, pacar juga bukan, saudara apalagi.”
            “Setidaknya elo sama Yudi punya ikatan… mantan!” Suara Naura merendah saat menyebutkan kata itu. Membuatku semakin tertawa geli. “Elo pernah cinta dia dan dia juga pernah cinta sama lo, ya intinya kalian pernah saling cintalah hanya aja karena sahabat gue yang satu ini punya penyakit gagal move on akut, akhirnya…” Naura terdiam dan mendekatkan wajahnya padaku. “CRUSH! Putus.” Ia merebut bola basket dari tanganku dan kembali memantul-mantulkannya pada dinding.
            Separah itukah aku? Seorang wanita dengan penyakit gagal move on akut?
***
            “Hai.” Seorang siswa laki-laki dengan softcase gitar berlambangkan Y yang tersampir di punggungnya tiba-tiba berdiri di hadapanku.
            “Hai.” Jawabku singkat sambil mencabut sebelah headset dari telinga lalu tersenyum kikuk padanya.
            “Aku cari kemana-mana ternyata kamu di sini. Boleh aku duduk?”
             “Nggak ada tulisan pria-dengan-softcase-gitar-di-punggung-dilarang-duduk-di sini kan?”
            Dia tertawa. Sebuah tawa yang selalu mampu menyisipkan rasa hangat dalam celah-celah nadiku.
            “Seminggu lagu Ujian Nasional. Cepat banget ya, Din?”
            Aku berusaha mencerna maksud ucapan singkatnya.
            “Maksud kamu, Yud?” Tanyaku menggantung sambil menaikkan sebelah alis. “Emangnya kamu mau terus-terusan sekolah di sini? Mau jadi siswa abadi? Nggak mau lanjut kuliah?”
            “Bukan, Dini, bukan itu maksud aku.” Ucapnya lembut sambil menyampirkan poniku yang sudah mulai panjang ke balik telinga.
Sepertinya Yudi masih ingat betul hal-hal kecil yang bisa membuat pipiku bersemu merah.
“Cepat banget rasanya aku harus pisah dari kamu. Biasanya setiap pagi ada aja celotehan kecil kamu yang selalu bisa jadi moodboosterku. Nah, setelah kita tamat nanti?” Yudi menghela napas.
            Aku sendiri masih memilih untuk diam. Tidak tahu apakah aku harus terharu atau marah mendengar ucapan Yudi barusan. Dan tidak tahu juga apa yang harus kukatakan padanya.
            “Yud, aku…” Aku berpikir sejenak. Masih belum berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. “Aku nggak tahu mau bilang apa.”
            Bodoh! Hanya itu yang ada dalam pikiranku setelah aku mengucapkan enam kata yang sepertinya sangat tidak pantas kuucapkan di depan Yudi saat ini. Aku-nggak-tahu-mau-bilang-apa.
            “Iya, aku tahu. Kamu emang selalu bilang kayak gitu kalau lagi gugup.”
            Entah kenapa aku masih diam dan tidak berusaha menolak apa yang baru saja Yudi katakan. Karena memang pada kenyataanya aku sedang gugup.
            “Dua minggu lagi aku bakal berangkat ke Amerika, rencananya sih mau masuk sekolah musik di sana. Kamu sendiri gimana, Din?
            “Austria.” Jawabku singkat. “Papa bakal pindah tugas kesana dan otomatis Mama juga bakal ikut. Kalau aku ya kamu tahu sendiri, anak tunggal, apalagi yang bisa aku pilih selain ikut mereka? Nothing.” Tambahku sambil tersenyum.
            “Austria ke Amerika, Amerika ke Austria…” Yudi tampak menimbang-nimbang. “Cukup jauh sih, perjalanan di pesawat juga lama ya. Bakal jarang ketemu dong.”
            “Nggak usah aneh-aneh deh, Yud, terlalu terobsesi banget.”
            “Nggak boleh ya terobsesi sama kamu?” Kali ini tatapan Yudi terlihat jauh lebih serius. “Dini, cinta sama obsesi itu beda tipis. Tipis banget.”
            Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
            “Ngomong-ngomong gimana hubungan kamu sama Akbar, Din?”
            DEG! Aku seolah kehilangan tempat berpijak. Mendadak tubuhku merasa seperti lost in space. Itu adalah pertanyaan terakhir sebelum aku bertengkar hebat dengan Yudi. Ya, pertanyaan yang menjadi sebab berakhirnya hubunganku dengannya.
***
            Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, pukul sembilan malam dan Yudi sama sekali belum menunjukkan kehadirannya di acara promnight ini. Semua siswa kelas tiga tampak begitu senang merayakan pesta dansa sekaligus malam perpisahan namun berbeda denganku. Entah kenapa perkataan Yudi dua minggu lalu bahwa ia akan melanjutkan kuliah di Amerika masih saja terngiang dalam ingatanku. Muncul sebuah rasa tidak rela ketika menyadari bahwa nantinya aku akan berada jauh dari Yudi.
            Ah, bicara apa aku ini?
            Aku berusaha keras menghilangkan perasaan gelisah itu dan ternyata gagal. Hatiku masih saja gelisah. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Dua minggu lagi aku bakal berangkat ke Amerika.
Hari ini tepat dua minggu semenjak Yudi mengatakan akan berangkat ke Amerika. Tapi, Yudi tidak mungkin pergi begitu saja tanpa pamit? Yudi tidak mungkin meninggalkanku begitu saja seperti aku yang meninggalkannya begitu saja di taman sekolah dua minggu lalu. Tapi, aku juga bukan siapa-siapa lagi bagi Yudi. Kenapa aku harus merasa takut kehilangannya? Pikiranku berkecamuk. Perasaan gelisah semakin merayapi tubuhku. Terlebih lagi aku memang menghindari Yudi semenjak pertemuan kami di taman sekolah. Itu adalah pertemuan terakhirku dengannya sebelum Ujian Nasional. Hingga satu minggu berselang setelah ujian pun aku masih sama sekali belum berniat untuk bertemu Yudi. Dan tiba-tiba, aku sangat mengharapkan kehadiran Yudi malam ini, aku merindukan senyum hangatnya yang bisa membuatku tersipu malu, aku merindukan perlakuan-perlakuan kecilnya yang selalu bisa membuat pipiku bersemu merah, aku merindukan suara tawanya yang menyeringai santai masuk ke dalam telingaku. Aku merindukan Yudi! Ucapku lirih sambil mengepalkan kedua tangan.
“Kamu cantik banget, Dini.” Suara lembut yang begitu kukenal itu sontak menghilangkan semua rasa gelisahku.
Aku membalikkan tubuh pada sumber suara itu, berusaha meyakinkan bahwa pendengaranku masih bekerja dengan normal.
“Yudi!” Suaraku sedikit memekik hingga beberapa teman lain ikut mengalihkan pandangannya padaku.
Sosok yang begitu kukenal berdiri di hadapanku dengan posturnya yang menjulang dan bidang. Yudi, iya, itu Yudi dengan celana jeans, T-shirt dan jas kasual yang ditarik hingga ke siku. Ya Tuhan, kenapa ia terlihat lebih menarik dari sebelumnya? Dan tampaknya aku juga harus mengakui belum pernah melihat Yudi dengan outfit seperti ini. Jas itu terlihat begitu pas di tubuh Yudi dan lantas membuatnya tampak berbeda. I swear, he looks gorgeous!
“Kamu cantik banget, lebih cantik lagi kalau wajah gelisahnya dibuang jauh-jauh.” Yudi melangkah mendekatiku. Membunuh jarak di antara kami.
Dan setelah sepersekian detik berlalu, aku baru menyadari kalau Naura berdiri di samping Yudi dengan wajahnya yang menyimpan ribuan ledekan untukku.
“Well, tugas gue mempersatukan stupid couple ini selesai ya. Sisanya lanjutin sendiri deh, biar kelihatan gimana usahanya. Lagian juga udah jelas pada tahu kalau sama-sama suka, tetap aja gengsinya nomor satu.” Naura menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melirikku centil. “Gue tunggu cerita kelanjutannya di rumah lo besok malam, Din. Gue gabung sama anak-anak yang lain dulu ya.” Naura pun berlalu. Meninggalkanku bersama Yudi yang masih diliputi rasa canggung.
“Jadi?” Suara Yudi terdengar menggantung.
“Apanya yang jadi?” Aku mengutuki diriku sendiri yang masih saja mengeluarkan kata-kata dengan nada sinis pada Yudi.
Yudi hanya tersenyum. Senyum yang beberapa saat lalu begitu kurindukan. “Will you dance with me?
Aku tidak membalas. Hanya meletakkan jemariku di atas telapak tangan Yudi yang ia sodorkan di hadapanku. Sungguh, aku bukan ahli dalam hal seperti ini.
Aku mengikuti  langkah Yudi menuju sebuah area berukuran sekitar 10x10 meter di sudut lapangan sekolah yang telah dihias sedemikian rupa, menyerupai sebuah balkon istana yang ada dalam dongeng Cinderella. Di depannya terukir tulisan dengan tinta berwarna emas di atas kertas hitam, especially for anyone who wants to spend this night for dancing (with their love). Terlukis seulas senyum dari sudut bibirku setelah membaca tulisan itu. Dan aku tahu Yudi pun melakukan hal yang sama.
Yudi menggenggam erat jemariku dan meletakkan sebelah tangannya lagi di pinggangku. Aku menatapnya dengan ragu dan sepertinya Yudi mengerti.
“Ikuti aja iramanya, jangan lihat ke kiri atau kanan. Cukup lihat ke depan.” Ucapnya sambil tersenyum lalu tanpa kusadari ia mulai mengayunkan kaki membawaku bergerak bersama ayunan musik. Ini adalah kali pertama bagiku, benar-benar yang pertama kalinya.
            Aku masih terdiam. Hanya bisa menatap jauh ke dalam jernihnya kedua mata Yudi dan tidak ingin merusak momen ini dengan berbagai macam pertanyaan yang menumpuk dalam kepalaku. Namun akhirnya Yudi memulai pembicaraan dan menghilangkan perasaan canggungku.
            “Tahu nggak ini hari apa, Din?” Tanya Yudi berbisik langsung di samping telingaku. Membuatku sedikit merasa kikuk.
            “Hari keberangkatan kamu ke Amerika.” Jawabku singkat dan tepat. Ya, logika dan hatiku saling beradu untuk mengeluarkan jawaban yang sebenarnya. Then, that’s the answer.
            Yudi menghentikan langkahnya. “Aku kira kamu lupa.”
            Jika aku adalah sebuah boneka salju, tubuhku pasti sudah habis meleleh dan tidak lagi berbentuk karena berhadapan dengan wajah Yudi yang hanya berjarak beberapa senti di depan wajahku.
            “Kamu berhutang banyak penjelasan, Yud.”
            “Penjelasan pertama, aku batalin keberangkatanku ke Amerika siang tadi. Penjelasan kedua, semua itu aku lakuin demi berada di sini bareng kamu, malam ini. Dan penjelasan terakhir, aku juga bakal kuliah di Austria.”
            Mataku membelalak mendengar ucapan terakhir Yudi.
            Pardon me?
            I'm going to lecture in Austria, Din. For my parents, for you too.
            But, how can? Please, Mahendra Prayudi, don’t make me dead curious now.
            “Sederhana, aku baru tahu kalau Papa punya teman dekat di Austria, namanya Om Hans, dia guru musik ternama di sana. Papa bilang kalau aku mau ke Austria, selain aku bisa kuliah di sekolah musik, aku juga bisa belajar banyak dari Om Hans. That’s a gold chance that I shouldn’t be wasted, Din. Apalagi itu Austria, you will be there, right?
            Aku mengangguk perlahan. Sejenak, luapan rasa haru mengembang dalam hatiku. Yudi menyelipkan aku di balik rencana besarnya, rencana tentang kuliahnya, masa depannya.
            “Kamu tahu, Dini, terserah dunia mau menjuluki kamu cewek dengan patah hati kronis, penyakit gagal move on akut, pengidap sakit hati stadium akhir atau apapun itulah aku nggak peduli.” Yudi tertawa kecil menyebutkan berbagai julukan aneh yang tampaknya memang cocok bagi keadaan hatiku yang masih saja mengenaskan.  “Semua orang pernah patah hati kan? But now, all you have to do is move on. Teruslah tersenyum walaupun itu rasanya sakit. Kamu yang terluka pasti bakal sembuh, karena pada akhirnya cuma waktu dan orang barulah yang bakal jadi obat buat kamu. Kamu yang terluka itu juga pasti bakal bahagia. Kamu yang bahagia pasti bakal lupa sama sakitnya masa lalu, yang kamu ingat hanyalah pelajaran-pelajaran bermakna dari sana. So, if Akbar, ups sorry, I mean your ex isn’t enough to treat you right, forget him and let me try to be yours, Dini.”

            Yudi menarikku dengan lembut dalam pelukannya. Yudi benar, mungkin aku memang tidak bisa mengulang masa lalu bersama orang yang tepat tapi setidaknya aku masih bisa menata masa depanku bersama orang yang jauh lebih baik dan mencintai orang tersebut dengan caraku sendiri.

April 12, 2014

Hadapi Dengan Berani, Ikhlas dan Kuat

12 April 2014. Entah kenapa ada sedikit rasa khawatir, bimbang, takut, cemas juga down setiap kali melirik ke arah kalender. H-2! Sejenak, berbagai macam rasa yang muncul sedikit demi sedikit itu mulai berkumpul membentuk rasa gelisah yang semakin menjadi. Saat ini memasuki masa-masa maha genting dimana seluruh siswa kelas XII sibuk mencari 'pencerahan'. Ada yang sharing kesana kemari tapi ternyata tetap nggak membantu. Ada juga yang dari seminggu lalu sudah serba nggak enak dan nggak nyaman, mulai dati hati, pikiran sampai fisik. Pernah nggak berpikir kalau kita semua punya masa-masa dimana kita benar-benar merasa down? Nah mungkin ini salah satu timingnya. Setiap masalah itu punya inti, ibarat pohon yang berawal dari akar. Kalau mau menyelesaikan masalah ya harus dari intinya. Hadapi segala sesuatu yang dianggap masalah itu dengan berani, ikhlas dan kuat. Berani adalah dimana kita bisa melampau batas kelemahan kita, ikhlas adalah ketika kita mampu merelakan sesuatu yang paling berarti bagi kita dengan lapang dada, sedangkan kuat adalah ketika kita bisa melakukan sesuatu yang kata orang nggak bisa kita lakukan. Dan kayaknya dua poin terakhir ini adalah yang tersulit. Kalau kamu memiliki sedikit saja rasa kekurangan dalam hatimu, sama halnya dengan kamu memberi peluang bagi orang lain untuk menjatuhkanmu. Sebenarnya nasib atau rezeki itu sudah ditentukan, jadi tugas kita hanyalah tinggal mencari dan menghadapinya. Kembali lagi ke statement awal, intinya cuma satu, hadapi dengan berani, ikhlas dan kuat.

April 8, 2014

It's Us

Kita pernah tercipta lewat sebuah ketidak-sengajaan. Berawal dengan sedikit persamaan bersama berjuta perbedaan. Di sini, pernah ada Ghia, si cantik dengan segala kegalauannya tentang adik-kelas-yang-namanya-tidak-boleh-disebut. Ada Arifa, si tomboy yang gemar mengerjakan soal-soal eksakta. Ada Ulvi, si periang dengan tawa yang seringkali mengganggu ketenangan. Ada Tia, si mata panda dengan kombinasi pendiam-centil. Ada Umek, si kreatif yang selalu percaya diri dengan berbagai posenya di depan kamera. Juga ada Nanda, si gendut yang paling netral dengan berbagai kegilaan masing-masing temannya. Dan orang-orang menyebut kami "Anak Enam".
Lewat begitu banyak canda tawa yang kami hadirkan, bukan berarti kami selalu satu. Terkadang, keegoisan berdiri paling depan menghalangi hati dan pikiran untuk saling sejalan.
Namun di sinilah teman saling beradu peran, membenarkan apa yang memang benar dan menyalahkan apa yang memang salah. Menyadarkan satu sama lain ketika salah mengambil langkah, membimbing satu sama lain ketika salah menentukan arah juga saling bersandar dan merangkul satu sama lain ketika terjatuh.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan friendship is the hardest thing in the world to explain, it's not something you learn in school but if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything.
Dari sana kita bisa memahami bahwa teman adalah sosok yang mampu menempah kita menjadi pribadi yang lebih mengerti berbagai macam hal dalam hidup, terutama tentang kesetiaan, kepercayaan, kejujuran dan keinginan untuk saling berbagi.
Mungkin "Anak Enam" memang bukan persahabatan yang paling sempurna di dunia dan memang kami sendiri pun tidak pernah menyebutkan satu sama lain dengan panggilan sahabat. Karena makna yang terkandung di dalam sebuah persahabatan tidak hanya berasal dari teriakan "Dia sahabatku!".
Kami teman... teman yang pernah saling merangkul dalam suka dan duka. Kami teman... teman yang pernah saling beradu dalam keegoisan juga kesetiakawanan. Kami teman... teman yang pernah saling berpegangan saat menapaki batuan terjal. Kami teman... teman yang pernah bersama dalam "Anak Enam".
Mungkin kita memang tidak lagi saling bersama dalam menjejakkan langkah, tapi kita masih berdiri pada pijakan yang sama, kita masih berlindung di bawah langit yang sama, kita juga masih menghirup napas dengan udara yang sama. Makna terbaik yang pernah kudapatkan lewat pertemuan singkat ini adalah diam tidak selalu berarti melupakan, tawa tidak selalu berarti bahagia, tangis tidak selalu berarti duka dan pergi tidak selalu berarti menjauh.
I think if I've learned anything about friendship, it's to hang in, stay connected, fight for them and let them fight for you too. Don't walk away, don't be distracted, don't be too busy or tired, don't take them for granted. Friends are part of the glue that holds life and faith together. Powerful stuff. -Jon Katz-

April 7, 2014

Kenapa Harus Kamu?

            “Permisi, kak. Pengumuman hasil try out minggu lalu dimana ya?”
            “Pengumumannya ada di mading dekat tangga pertama setelah pintu masuk, dek.” Jawabnya dengan sangat ramah.
            “Makasih, kak.” Aku pun segera berlalu menuju tempat yang disebutkan mahasiswa tersebut.
            Tampak beberapa siswa SMA dari sekolah lain juga berkumpul di depan papan pengumuman itu. Sebenarnya hasil try out perguruan tinggi kedinasan yang kuikuti minggu lalu dapat diakses melalui internet, hanya saja mungkin rasa penasaran mereka sama sepertiku yang ingin melihatnya dengan langsung.
            Berdiri beberapa meter dari sekumpulan siswa SMA itu, aku mengedarkan pandangan sambil memperhatikan keadaan sekeliling. Suasana kampus ini terasa begitu nyaman, entah karena memang keinginanku yang sangat besar untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi kedinasan ini atau memang seperti itulah keadaannya. Benar-benar menyenangkan rasanya jika aku bisa memakai seragam seperti kakak-kakak yang sedang duduk di depan meja pendaftaran try out itu, menjadi bagian dari mereka adalah impianku sejak lama.
            “Key...” Seseorang memanggil namaku dari arah pintu masuk kampus.
            “Fani.” Aku menoleh pada sumber suara tersebut.
            “Udah lama? Sorry tadi gue kejebak macet.”
            “Nggak apa-apa, tuh masih pada ramai juga.” Aku menunjuk sekumpulan siswa SMA yang berkerumun di depan papan pengumuman hasil try out.
            Setelah beberapa dari mereka mulai beranjak dari sana, Fani menarik tanganku.
            “Sini, Key. Gue penasaran tahu nggak, kira-kira kita peringkat berapa ya?” Tanya Fani sambil memperhatikan satu per satu nama dalam beberapa lembar kertas yang tertempel di papan pengumuman. “Keylaaaaa! Wah selamat, elo urutan 106. Nah kalau gue,” Fani mengedarkan lagi pandangan pada lembaran selanjutnya. “urutan 364.” Sambung Fani dengan tawa kecilnya.
            “Ya udah, nggak apa-apa sih. Masih ada dua bulan lagi buat kita belajar, siapa tahu ntar waktu seleksi sebenarnya kita bisa masuk peringkat sepuluh besar.” Jawabku dengan tidak kalah semangat.
             Aku mendekatkan diri pada papan pengumuman berwarna hitam itu sambil memandangi satu per satu nomor urut dan nama peserta try out dari lembaran paling akhir.
            Darahku seolah berhenti mengalir ketika melihat sebuah nama pada lembar ke empat. Seketika itu juga lututku bergetar dan terasa lemas. Aku berjalan mundur, mendekati jejeran bangku kosong di sekitar taman kampus lalu menjatuhkan tubuh ketika bangku itu tepat berada di belakangku. Fani menyadari sesuatu yang aneh padaku. Ia berjalan mendekat dengan raut penuh tanda tanya.
            “Key, muka lo pucat banget. Ada apa?” Tanyanya sambil menepuk bahuku.
            “Riza.” Jawabku lirih.
            Raut wajah Fani terlihat semakin bingung.
            “Riza? Maksud lo, Key?”
            “Riza ikut try out ini juga, nama dia di urutan 75, Fan.”
            “Keyla, please deh. Nama kayak dia itu banyak, bukan cuma satu. Kenapa elo langsung mikir kalau itu dia?”
            “Fani, perasaan gue nggak bisa dibohongi. Itu pasti dia, gue yakin banget.”
            Logikanku mulai beradu, aku dan Riza berada dalam di tempat yang sama? Riza, how can it happen? Semesta nggak mungkin sejahat itu mempertemukan kita kembali dalam rotasi yang sama.
            “Oke, that’s your feeling, not mine. Eh tapi tunggu dulu, bukannya dulu lo pernah bilang sama gue ya kalau Riza itu pengen banget jadi mahasiswa teknik. Nah, terus kenapa sekarang malah beralih ke perguruan tinggi kedinasan yang sama sekali nggak berhubungan dengan teknik? Oh come on, Key, jangan langsung mikir yang nggak-nggak gitulah.” Fani menarikku menuju papan pengumuman itu lagi.
            “Mau ngapain?” Tanyaku dengan cepat.
            “Mau ngasih pencerahan buat lo, mau membuka mata lo supaya nggak Riza melulu yang dilihat.”
            “Maksudnya?” Tanyaku lagi setelah kami berada di depan papan pengumuman itu.
            “Seseorang yang mengubah arah pikirannya dengan cukup jauh, pasti punya alasan kuat. Ya kali aja ikut-ikutan temennya kek atau mungkin ikut-ikutan pacar.” Fani melirikku dengan tatapan ragunya. “Masih belum ngerti juga?”
            Aku menggelengkan kepala.
            “Ya ampun, Key, masa analogi sederhana gitu aja nggak ngerti?
            “Emang gue nggak ngerti, ntar kalau pura-pura ngerti yang ada malah salah paham.” Aku menaikkan sebelah alis.
            “Key, dengerin gue. Teknik ke statistik itu jauh banget, nggak ada hubungannya sama sekali malahan. Jadi kalau tiba-tiba jalan pikirannya si Riza berubah, pasti ada alasan kuat yang mendorong. Yah kayak yang gue bilang tadi, ikut-ikutan temen atau ikut-ikutan pacar mungkin. Elo tahu nggak nama temen-temen deket Riza di sekolahannya?”
            “Tahu, beberapa.” Jawabku dengan nada meragukan.
            “Kalau pacarnya, tahu nggak?” Kali ini suara Fani terdengar lebih lembut. Ia tahu akan sangat berat bagiku menyebutkan sebuah nama yang... sama-sekali-tidak-ingin-kuucapkan-apalagi-kuingat.
            “Sifa? Asifa Hidayanti.” Jawabku diiringi dengan hembusan napas penuh putus asa.
            “Oke, sekarang kita cek satu per satu nama pesertanya, ada nggak nama-nama mereka?”
            Aku mengikuti Fani memperhatikan satu per satu nama peserta try out yang tertera pada setiap lembaran. Sejenak, kupandangi dengan lekat sebuah nama yang ada pada urutan 75. Riza, why should you? Is no one can settle down with a long time in my heart, except you? Aku menarik napas cukup panjang sebelum menghembuskannya dengan lemah.
            “See? Sejauh yang gue lihat nggak ada tuh yang namanya Asifa Hidayanti, jangankan itu, yang namanya menyangkut dengan kata Asifa doang juga nggak ada. Berarti itu bukan Pangeran Riza lo tersayang kan ya, lagian mau sampai kapan sih hati lo stuck di dia? Buka hati buat yang lain dong, Key. Lo nggak mau kan hidup lo terbuang sia-sia cuma buat tersangkut sama kenangan tentang Riza? Sebelum lo berdamai dengan masa lalu, berdamailah dengan hati lo sendiri. Hidup itu harus realistis, Key.” Fani berusaha menenangkanku.
            Fan, sekarang kita cek dulu nama temen-temennya. Kalau memang ada aja salah satu, berarti lo juga harus hidup realistis dan menerima kalau Riza yang ikut try out ini adalah Riza gue dulu. Dulu, pakai tanda kutip.”
            “Ergh, whatever.” Jawab Fani dengan wajah kesal.
            Aku tahu sifat Fani, dia mungkin seringkali kesal melihatku yang masih saja hidup dalam bayang-bayang masa lalu, hidup dalam segala kenanganku bersama Riza. Tapi aku tahu, jauh di dalam hatinya, Fani sangat ingin aku benar-benar melupakan seseorang yang bahkan lupa untuk mengingatku. Ia ingin aku melupakan Riza, hidup dengan tenang tanpa serpihan masa lalu yang menyakitkan dan membuka hati untuk orang lain lalu bahagia dengan kisah baruku. Sayangnya, sejauh ini aku masih belum sanggup. Aku dan Fani memang baru saling mengenal semenjak kami sama-sama duduk di bangku SMA. Sejak hari pertama masa orientasi sekolah, Fani adalah satu-satunya siwa yang paling dekat denganku. Hingga saat ini, kurang dari satu bulan menjelang ujian kelulusan, Fani tetap menjadi orang terdekatku di sekolah meskipun aku tidak pernah mengatakannya sebagai sahabat. Ya, sahabat adalah sesuatu yang semu bagiku atau mungkin memang tidak akan pernah ada lagi. Semenjak aku kehilangan satu-satunya sosok sahabat yang begitu sempurna, semenjak aku kehilangan satu-satunya sosok kekasih yang hampir mendekati penilaian sempurna bagiku, semenjak aku kehilangan Riza.
            Fan...” Pita suaraku hampir tercekat.
            Aku mengerutkan kening sambil beberapa kali mengedipkan mata, berharap bahwa penglihatanku saat ini sedang terganggu.
            “Urutan 71, Mukti Anggara.” Fani membaca sebuah nama yang tepat berada tepat di ujung telunjukku. “Itu temen Riza?”
            Aku mengangguk perlahan sambil menoleh pada Fani. Kualihkan lagi pandangan pada lembaran kertas lain. Menggerakkan telunjuk sambil memerhatikan setiap deret nama peserta.
            Arlini, urutan 330.” Fani mengucapkan sekali lagi nama yang sedang kutunjuk.
            “Sekarang lo percaya kan kalau itu beneran Riza? Riza yang gue kenal.” Tatapan mataku mulai tertutupi oleh air mata. Fani memelukku dengan erat.
            “Udah, Key, yang penting kan elo nggak ketemu dia pas try out apalagi sekarang.”
            Fan, kenapa harus dia sih?” Aku terisak dalam pelukan Fani.
            “Gue nggak tahu mau jawab apa, Key. Mungkin Tuhan punya rencana lain buat lo dan Riza.”
            “Kalau rencana Tuhan itu mau mempertemukan lagi gue sama Riza, gue nggak mau, Fan. Gue nggak mau.” Aku melepas pelukan Fani. Beberapa mahasiswa yang lewat tampak memperhatikanku, namun aku benar-benar tidak peduli.
            “Apa sih sebenarnya yang elo takutin kalau ketemu Riza? Elo takut dia menyaingi lo? Elo takut kalah dari dia?”
            “Nggak, Fan, bukan itu. Sama sekali bukan itu yang gue takutin.” Aku mengusap air mata yang sesekali masih menghangatkan pipi. “Hampir dua tahun gue berjuang buat ngelupain dia, hampir dua tahun gue berusaha bangkit, memulai semuanya dari awal lagi, dari nol. Dan sekarang dia malah datang gitu aja di kehidupan gue, dia hadir lagi tanpa pernah gue harapkan. Hati gue masih belum sembuh, Fan, belum. Masih luka parah. Pertahanan hati yang udah susah payah gue bangun pasti bakal hancur kalau gue melihat dia, gue nggak mau itu terjadi.” Suaraku semakin terdengar penuh putus asa. “Masuk di perguruan tinggi kedinasan ini udah cita-cita gue dari dulu, Fan. Gue nggak mau semua itu hancur cuma karena kehadiran Riza lagi.”
            Tiba-tiba terdengar suara riuh tawa yang memecah keheningan antara aku dan Fani. Semua terjadi begitu saja hingga aku menyadari tiga siswa SMA yang baru melewati pintu masuk itu kini telah berada tepat di depanku. Aliran listrik yang entah berasal dari mana seolah menyengat sekujur tubuhku dengan sangat hebat. Kali ini pita suaraku benar-benar tercekat untuk mengeluarkan suara sekecil apa pun. Lututku tidak lagi bergetar namun lemas seketika. Hanya tersisa kekuatan kecil yang membuatnya masih mampu berdiri menopang tubuhku.
            Sinar mata itu, sinar mata yang telah hampir dua tahun lamanya tidak pernah kulihat lagi. Garis wajah itu, garis wajah yang telah lama berusaha kulupakan namun nyatanya selalu gagal.
            Semua terjadi dengan sangat cepat. Hingga angin pun seolah berhenti berhembus demi menyaksikan sesuatu yang begitu mengejutkan hati ini. Awan gelap mulai menutupi wajah langit tua yang tampak layuh. Langit mulai menangis, kini tetesan itu membasahi lagi pipiku bercampur dengan air mataku sendiri. Di saat semua orang yang tadinya ingin melihat hasil pengumuman try out mulai sibuk mencari tempat untuk berteduh, termasuk Fani, aku justru bagaikan terpatri di tempatku berdiri saat ini. Bersama seseorang yang tampaknya juga enggan melangkahkan kakinya.
            “Keyla...” Suara lembut itu terdengar bersama sambaran petir yang menggelegar.
            Aku masih belum sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Masih menikmati tatapan mata yang selama ini begitu kurindukan.
            Sejenak, sebuah luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kini terkuak kembali. Rasa sakit itu kembali hadir, menyesap ke dalam tubuhku dan mengalir bersama darah yang hampir membeku.
            Ketika sebuah genggaman yang telah basah oleh hujan mulai menyentuh jemariku, sebuah kekuatan pun merasukiku untuk segera beranjak meninggalkan tempat itu.
            “Riza,” Aku menelan kembali setiap kata yang telah tersusun dengan sangat indah dalam pikiran, membuang jauh setiap untaian kalimat yang bahkan sangat ingin kuteriakkan sejak pertama sinar mata itu menyentuh pandanganku. Aku memejamkan mata sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan setengah berlari melewati pintu masuk kampus. Aku harus pergi dari tempat ini sekarang juga. Hanya untaian kalimat sesederhana itulah yang menjadi sumber kekuatanku untuk segera berlalu dari hadapan Riza. Melewati kerumunan orang yang sedang berteduh di koridor kampus, melewati meja pendaftaran try out yang kulewati sebelum menuju ke papan pengumuman, meninggalkan Fani yang tampak kedinginan akibat udara dingin yang sangat menusuk ini. Aku masih berlari, terus berlari dibawah langit tua yang sedang menangis juga petir yang menggelegar saling memanggil, terus berlari sejauh-jauhnya dari tempat ini, berlari dari Riza.

April 1, 2014

Tugas Akhir Sekolah "Recount Text"

Hi! This time, I'll share a post about my English exam material practice a few days ago. Yup, of course this is a practice exam before the graduation from senior high school. My English teacher gave us an assignment to make a recount text whose content includes about family, school, experience also goals. After that one by one of us have to practice in front of the class. Interesting, right? This is a recount text made ​​by myself, which know one day you also need a reference like this. May be useful ya.

My name is Arifa hanim. I was born on August 26th, 1996. I was born into a simple family that full of love. My father was a great man. He was born fifty four years ago in an area called Tanjung Mulia. For me, he was just not a head of the family but also a hero and a guardian angel for us. My mom was a super mom. Women aged forty seven years spent her childhood in Tebing Tinggi. I had a younger sister, her name was dila. Our age within four years, she currently sat in second grade Junior High School State 11th in Medan. Many people said that Dila and I were twins because our face were very similar. Both of my father and mother came from a family with a military background, they were fully educated with good manners and discipline. That was why they were also highly taught discipline to my sister and I. My parents always reminded of the important things “when you do good, do good to everyone, but when you do evil, don’t ever”.
I stepped on education at the age of five years, but since I was 4th years old, I was able to read fluently. Started with kindergarten and elementary school when I was 6th years old. For my parents, the child was a major asset in their lives. Thus education was paramount. With a good education and family background, the future of a child would be better. In terms of accomplishments, my parents said that I was quite proud of. Since sitting at the elementary school level, I often won various competitions, ranging from mathematics olympiad to small physician race. In 2008, I entered junior high school level . Still the same as elementary school, I used to participated in various olympic. And the summit was when I got the second rank of social science olympiad. I wanted my parents to be happy even if only through the small accomplishments. Next, I continued my education at the Senior High School State 7th Medan. And finally I reached the last years of school.
Time span very quickly. Everything was rolled up. Currently, almost my age eighteen. So many memories and experience had I passed in my life, both sweet and bitter. Every moments happened like a wonderful imagination that God has determined the destiny of my life. The most beautiful experience I ever got was when I could have my parents happy with my school achievements. Their smiles and their cries of happy was the biggest encouragement in my life. I had the worst experience ever in my life was when I lost someone that I loved, my grandfather. Liver cancer took his life at the age of seventy three years. My grandpa was eager to see me on my graduation, that was the greatest desire to see me finished college.
Therefore, before I lost more and more people that I loved, I wanted to make them happy first. I had desire to be an accounting experts. My biggest dream was only one, to continue studying in STAN. I promised myself that I would finish college be one of the best student on my graduation. That was all for my grandpa who now could only see me from heaven, for my parents who always supported and prayed for my success, for the people that I loved who always there when my sadness and happiness and especially for those who hated and underestimated me, maybe you said I couldn’t but I would prove that I could.