Menggenggammu Dengan Rasa

            Entah kenapa udara pagi ini terasa lebih menusuk daripada pagi-pagi sebelumnya. Kulangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang mengarah pada lapangan kampus sambil mengetatkan syal yang melilit di leher. Aku berhenti sejenak ketika melewati sebuah air mancur yang tepat berada di depan gedung kampus. Mataku lalu tertuju pada sepasang kekasih yang sepertinya sedang bertengkar, mereka berjalan meninggalkan area parkir dengan wajah yang dipenuhi amarah. Pemandangan yang sudah biasa kudapati selama berkuliah di kampus ini, semoga kali ini sebab pertengkaran mereka berbeda dari biasanya, gumamku dalam hati.
            “Kalau mau berhenti jangan di tengah jalan dong! Yang mau lewat jadi pada terhalang.” Wanita itu menabrak bahuku dengan kasar sebelum aku sempat menyapanya dengan sebuah senyum hangat.
            “Sorry...” Jawabku singkat sambil menaikkan kedua bahu dan berlalu dari hadapannya. Bukan waktu yang tepat untuk menambah pertengkaran mereka, pikirku.
            “Kamu bisa nggak sih berhenti menyalahkan orang lain yang nggak tahu apa-apa tentang masalah kita?”
            “Jadi kamu lebih membela dia daripada aku? Iya?”
            Kupercepat langkah kaki meninggalkan pasangan kekasih yang tampaknya masih ingin melanjutkan pertengkaran mereka itu.
***
            “De, De, tahu nggak tadi gue lihat Iqbal sama Mira berantem lagi pas baru sampai di parkiran. Si Mira tuh ya kalau marah nggak ingat tempat nggak ingat waktu, bisa-bisanya masih pagi gini dia ngomel-ngomel sampai dilihatin sama anak-anak yang lain.” Fero langsung menyerbu dengan berbagai investigasinya ketika aku baru menginjakkan kaki di depan pintu kelas.
            “Elo mau tahu sesuatu nggak, Fe?” Tanyaku dengan berbisik sehingga membuat Fero semakin antusias.
            “Mau dong, mau. Apaan, De? Ada berita baru? Ada hot news yang gue ketinggalan update?”
  “Bukan.”         
            “Nah, terus apaan?”
            “Menurut gue setelah tamat nanti elo cocok melamar pekerjaan sebagai host acara infotainment deh.” Aku tertawa geli di depan Fero yang memasang wajah manyunnya.
            “Eh, itu orangnya datang.” Fero langsung menarik tanganku dengan sigap ketika melihat Iqbal memasuki kelas.
***
            “Dea...” Iqbal menghampiriku setelah dosen beranjak keluar kelas.
            “Iya?”
            “Maaf ya soal kejadian tadi pagi. Aku benar-benar malu sama kamu, entah kenapa akhir-akhir ini Mira jadi sering marah-marah nggak jelas dan kamu selalu jadi sasarannya.” Wajah Iqbal terlihat penuh penyesalan.
            “Bad morning?” Aku tersenyum. “Santai aja, aku udah maklum kok. Ya kali lagi pms. Aku duluan ya, Bal.”
            Aku bangkit dari kursi namun Iqbal segera menahanku.
            “Besok malam aku main ke rumah, boleh ya? Udah lama aku nggak ketemu Mama kamu.”
            “Boleh.” Aku diam sejenak memandangi wajah Iqbal yang penuh harap. “Tapi aku nggak mau itu jadi alasan pertengkaran kamu sama Mira besok paginya.”
            Aku kembali tersenyum sambil berlalu meninggalkan Iqbal yang sepertinya masih mematung di sana.
***
            “Kalau gitu Tante tinggal dulu ya, Bal. Jangan lupa loh titip salam Tante sama Mama kamu ya.”
            “Iya, Tante.” Iqbal mengangguk dengan sopan.
            Mama berjalan masuk meninggalkanku dan Iqbal yang masih duduk di balkon rumahku.
            “Yakin nggak mau duduk di dalam aja? Hujan loh, Bal, nggak kedinginan?” Tanyaku sambil memberikan segelas cokelat hangat pada Iqbal.
            “Kan ada kamu.”
            “Ada aku?” Aku tertawa kecil. “Emang kenapa kalau ada aku?”
            “Ya setidaknya ada yang buatin aku cokelat hangat jadi nggak terlalu kedinginan.” Jawab Iqbal sambil meminum cokelat hangat yang sedang dipegangnya.
            Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala memandangi Iqbal yang mulai meletakkan gelas berisi cokelat hangat itu ke atas meja.
            “De?” Iqbal memanggilku hampir berbisik.
            Tatapannya beradu pada kedua bola mataku. Tatapan teduh penuh kehangatan itu kini bisa kunikmati tanpa merasa sungkan pada siapapun, termasuk pada Mira.
            “Makasih ya selama ini udah mau jadi pendengar yang baik buat setiap masalahku sama Mira.” Iqbal tersenyum hangat, namun tersirat sebuah luka dibalik senyum itu.
            “Kamu sakit?” Aku menempelkan telapak tangan pada kening Iqbal. “Tumben-tumbenan bilang kayak gitu. Ya wajarlah, kita udah sahabatan dari kecil, dari jamannya kita SD, jamannya kamu masih cengeng dulu.” Aku membalas dengan wajah meledek.
            Iqbal tersenyum simpul.
            “Maaf ya aku nggak bisa jadi sahabat yang baik buat  kamu. Nggak bisa melindungi kamu dari amukannya Mira yang kadang nggak beralasan itu.”
            “Iqbal, kita udah sering bahas masalah ini kan ya? Aku maklum kok. Siapa sih yang nggak cemburu kalau pacarnya punya teman cewek yang benar-benar akrab banget.”
            “Kamu.”
            Aku terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Iqbal.
            “Buktinya kamu bisa terima pacar kamu, eh maksud aku mantan pacar kamu punya sahabat cewek yang benar-benar akrab banget sampai akhirnya kamu tahu kalau ternyata mereka play behind.”
            “Itu namanya bodoh.” Aku menghela napas.
***
            Pagi ini aku berangkat ke kampus bersama Fero. Pukul enam pagi ia sudah mengetuk pintu rumahku demi meminta bantuan mengerjakan tugas presentasi miliknya yang baru selesai setengah bagian.
            Selama perjalanan menuju kampus, aku lebih banyak diam. Tiba-tiba pikiranku melayang pada ucapan Iqbal beberapa malam lalu saat ia berkunjung ke rumah. Entah angin apa yang membuat Iqbal terlihat begitu menyesal atas sikap Mira yang sangat posesif. Padahal aku sendiri menganggapnya sebuah hal yang wajar.
            “Tuh, De, lihat tuh. Baru juga beberapa hari baikan, udah berantem lagi. Nggak capek apa ya si Iqbal punya pacar kok posesif banget.” Fero berdecak sambil menunjuk Iqbal dan Mira yang masih berdiri di area parkir setelah turun dari kendaraan masing-masing. Biasanya setiap pagi Mira selalu datang ke kampus bersama Iqbal. Namun pagi ini, yang tampak justru mereka tidak sengaja bertemu di area parkir.
            Aku memperhatikan Iqbal dan Mira yang masih saja bertengkar meskipun tahu bahwa beberapa mahasiswa yang lewat mencuri pandang pada mereka.
            “Yuk, De.” Fero membuka pintu mobilnya dan beranjak turun. Entah kenapa pagi ini aku benar-benar enggan berurusan dengan Mira. Dengan malas aku membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Fero.
            “Dia kan penyebab kamu mutusin aku?” Tiba-tiba Mira menarikku dengan kasar ke hadapan Iqbal.
            “Mira, kamu apaan sih? Lepasin Dea.” Iqbal melepaskan genggaman Mira dari lenganku yang mulai memerah. “Berhenti deh bawa-bawa orang lain dalam masalah kita. Aku mutusin kamu karena memang aku yang nggak bisa bertahan sama kamu yang over posesif kayak gini.”
            Apa? Iqbal memutuskan hubungannya dengan Mira? Aku masih berusaha mencerna perkataan Iqbal dan Mira yang baru saja kudengar.
            “Aku udah cukup sabar menghadapi sikap kamu, Mira. Sekarang, mau Dea itu sahabat atau pacar aku, itu bukan urusan kamu.”
            Otakku masih terus berusaha mencerna apa yang baru saja kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Wajah Mira berubah pucat pasi, masih dengan tatapan penuh amarah memandangiku dan Iqbal.
            “Jangan pernah ganggu aku lagi, juga Dea.” Iqbal menggenggam erat tanganku lalu mengajakku masuk ke kampus tanpa menghiraukan Mira yang masih mematung di sana.
            Sekilas aku memandangi wajah Fero yang berjalan mengikutiku dan Iqbal sambil tersenyum penuh kemenangan, entah karena apa. Iqbal semakin mempererat genggamannya pada sela-sela jariku.
            “Akhirnya aku bisa menggenggam tangan kamu tanpa harus merasa canggung di depan siapa pun, termasuk Mira.” Ucapnya berbisik sambil tersenyum menatap ke depan.

Comments