Langit Senja

                Aku mengetuk-ngetukkan sepatu pada lantai bus yang kutumpangi. Di luar sana, pepohonan yang tertanam di sepanjang jalan tampak menjauh. Sore mulai merayap menuju gelap. Dan kudapati diriku yang mulai gelisah sesaat setelah menuruni bus. Sejenak aku berpikir, apa yang kulakukan di sini? Sendirian? Gadis berambut hitam dengan dress bermodel V neck selutut berwarna merah jambu dan sepatu keds biru dongker berada sejauh ribuan kilometer dari tepat tinggalnya... seorang diri? Aku menghela napas dengan satu tarikan panjang. Bodoh... bukan, bukan bodoh tapi ceroboh. Hanya karena emosi sesaat lalu menenggelamkan diri dalam keramaian para penduduk New York yang lalu lalang dengan tujuan mereka masing-masing.
                Ini memang bukan kali pertamaku menginjakkan kaki di New York, lebih tepatnya di Manhattan. Namun rasanya terlalu asing jika aku berjalan mengitari kota hanya untuk menata lagi perasaanku yang baru saja hancur, mengobati hatiku yang begitu remuk redam beberapa hari lalu.
***
                “Na, ntar malam ada acara nggak? Nonton, yuk? Ada premier film bagus, nih.” Hanan duduk di sampingku sambil meletakkan semangkuk bakso di atas meja.
                “Boleh, berdua aja? Mana seru. Ajak yang lain dong.” Aku kembali menyendok mie goreng di hadapanku.
                “Ajak siapa lagi, ya? Dika sama Bima lagi pada sibuk rapat buat ospek mahasiswa baru tuh. Eh, kenapa  nggak ajak Arfan?”
                “Arfan lagi di Hongkong, tugas kantor lagi katanya.”
                “Jadwal Arfan padat juga, ya? Baru juga tiga hari lalu balik dari Sidney, eh ini udah di Hongkong aja.”
                Aku hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Hanan. Selama hampir satu bulan aku dan Arfan memang jarang bertemu. Terlebih lagi karena Arfan baru saja diangkat sebagai salah satu kepala divisi di kantornya.
                “Nina, kok jadi ngelamun gitu?” Hanan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.
                “Eh? Ngelamun? Nggak, ah.” Aku berusaha memalingkan wajahku dari Hanan.
                “Ada masalah sama Arfan? Cerita dong, gue emang bukan motivator yang baik sih dalam hubungan cinta-cintaan tapi setidaknya i can be a good listener.” Ia mengacungkan jempolnya padaku.
                “Makasih, Han.” Aku berusaha memberikan senyum termanis pada Hanan, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang terus merayapi hatiku. “Gue nggak apa-apa kok, ntar juga kalau ada apa-apa pasti elo orang pertama yang gue kasih tahu.”
                Hanan memang bukan sahabatku, bukan. Sebentar, tadi aku menyebutkan sahabat? Apa sih itu? Aku bahkan masih sulit mempercayai makna sebenarnya dari kata sahabat itu sendiri semenjak kejadian beberapa tahun silam. Yah, rasanya hidupku terlalu tragis untuk mengingat kejadian yang sangat menyesakkan itu. Seorang sahabat yang mencintai kekasih sahabatnya, miris bukan? Apa tidak ada lelaki lain yang bisa dijadikan sebagai kekasih selain kekasih dari sahabatmu sendiri? Shasa, sahabatku sejak kami sama-sama duduk di bangku SMP, orang yang paling kupercaya setelah kedua orang tuaku sendiri justru tega mengkhianatiku dengan cara play behind bersama Dendi, yang saat itu masih menjadi kekasihku.
                Lupakan kisah pahit antara aku, Shaha dan Dendi. Kembali pada Hanan, aku baru mengenalnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini sebagai mahasiswa baru. Ia seorang wanita yang begitu energik, mencintai segala kegiatan ekstrem seperti hiking, rafting, climbing, diving dan yang paling kukagumi adalah surfing. Aku bahkan sangat terkagum-kagum ketika pertama kali melihatnya dengan lihai meliuk-liukkan badan di atas papan selancar melawan ombak di sekitar pantai Lagundri, Nias, saat liburan akhir semester lima yang lalu. Di kampus, ia termasuk orang yang berpengaruh dalam organisasi pecinta alam. Jauh berbeda denganku yang lebih memilih menghabiskan waktu bersama gulungan-gulungan kain kanvas, setumpuk kuas dan palet, juga berbagai macam warna cat. Aku memang bukan mahasiswa di fakultas seni tapi rasanya darah seni begitu mengalir dalam tubuhku.
***
                “Na, kok ngelamun? Nih, mau pop corn?” Andre menyodorkan tube pop corn berukuran jumbonya padaku.
                “Nggak, Ndre, makasih.”
                “Nina kenapa, nih, Han? Lesu amat.” Andre melirik Hanan yang duduk di sebelah kananku.
                “Ya kali kangen pacarnya.”
                Andre menyerupai bibirnya membentuk huruf O. “Eh, emangnya dia kemana, Na? Kenapa nggak diajakin nonton aja bareng kita?” Andre tampak hati-hati menanyakan hal tersebut.
                “Lagi di Hongkong, ada urusan kerja.”
                Andre mengulangi lagi aksi membulatkan bibirnya menyerupai huruf O.
                “Sst, filmnya udah mulai, Ndre. Jangan berisik.” Hanan berbisik dari sampingku.
                Selama berlangsungnya film Insidious 2, Andre dan Hanan tampak sangat menikmati. Sementara aku hanya berulang kali mengecek Blackberryku kalau-kalau ada BBM atau pun pesan singkat yang masuk dari Arfan. Nyatanya setelah hampir satu jam pemutaran film, layar ponselku masih tampak sama. Hanya ada beberapa pemberitahuan baru dari jejaring sosialku seperti twitter dan facebook, namun tetap saja bukan dari Arfan. Sudah dua hari Arfan tidak memberi kabar padaku, entah karena saking sibuknya atau karena... Ah, aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk itu. Hubunganku dengan Arfan sudah hampir mencapai dua tahun dan selama ini kami belum pernah sekali pun bertengkar karena adanya orang ketiga. Aku yakin Arfan adalah pria yang setia. Sejauh ini, aku juga belum pernah melihatnya pergi dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku sampai tiba-tiba...
                “Arfan?” Aku setengah berteriak hingga membuat seorang wanita di belakangku berdecak kesal.
                “Na, lo kenapa?” Konsentrasi Hanan terhadap film sepertinya terganggu.
                Jantungku berdegup tidak karuan. Dinginnya AC tidak menghambat keringat dingin yang mulai membasahi telapak tanganku. Aku masih memperhatikan sosok itu dengan lekat. Menajamkan penglihatanku demi membuktikan bahwa sosok itu adalah Arfan.
                “Han, i... itu Arfan, kan?” Suaraku tercekat di tenggorokan sambil menunjuk pria yang duduk dua baris di depanku dan tampak sedang... apa? Berciuman? Benar-benar hal yang memalukan. Aku mengepalkan kedua tangan.
                Andre tampak ikut memperhatikan sepasang pria dan wanita yang kini menjadikan fokus penglihatanku dan Hanan.
                “Na, Nina...” Suara Hanan terdengar cemas. “Itu Arfan, kan?” Hanan menatapku iba begitu juga Andre, menunggu reaksiku selanjutnya.
                Aku belum juga memalingkan wajahku dari Arfan dan... wanita itu. Namun air mata terasa sudah mengaliri pipiku.
                Hanan mengelus bahuku perlahan.
                Aku masih juga belum mempercayai apa yang baru saja kulihat. Arfan, sosok yang begitu kupercayai. Bagaimana mungkin? Ia bahkan tega membohongiku dengan mengatakan bahwa ia sedang berada di Hongkong karena urusan kerja. Sudah berapa kali ia melakukan ini? Sudah berapa kali Arfan membohongiku?
                Tiba-tiba pikiranku melayang pada kejadian beberapa tahun silam, pada Shasa dan Dendi. Ada apa ini? Kenapa semesta sepertinya sangat senang mempermainkan hatiku? Apa salahku pada dunia? Rasanya aku belum pernah menyakiti hati pria mana pun. Tapi semua terulang kembali. Kejadian yang sama, selingkuh! Aku masih bisa mentoleransi berbagai macam kesalahan Arfan, tapi untuk kesalahan yang sama dengan apa yang dilakukan Dendi? Tidak akan. Aku bahkan pernah bersumpah dalam hatiku sendiri setelah apa yang terjadi antara aku dan Dendi bahwa tidak akan pernah ada istilah forgiven but not forgotten dalam kasus selingkuh.
                Tiba-tiba lampu teater menyala, film Insidious 2 pun berlalu begitu saja tanpa kuhiraukan. Aku menatap tajam kembali ke arah Arfan dan oh... ternyata itu seorang wanita asing yang kini menggandeng erat tangan Arfan sambil berjalan menuju pintu keluar. Darahku serasa naik hingga ke ubun-ubun, mataku begitu panas dan tenggorokanku juga terasa kering menyadari kejadian apa yang baru saja kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku bergegas beranjak dari kursi dan mengejar Arfan tanpa menghiraukan Hanan dan Andre yang meneriakkan namaku dari belakang.
                “Arfan...” Ucapku lirih saat berdiri hanya dengan jarak setengah meter di belakangnya.
                Arfan membalikkan badannya.
                “Siapa ini, Darling?” Tanya wanita asing yang masih terus menggandeng tangan Arfan dengan logat luarnya yang masih kental.
                Wajah Arfan berubah menjadi pucat pasi.
                Air mataku tidak mampu lagi tertahan untuk segera jatuh. Tepat saat itu juga Andre dan Hanan berdiri di sampingku.
                “Nina?” Suara Arfan tercekat.
                Aku tidak mampu lagi berkata apapun. Hanya menutup mulutku dengan kedua tangan dan memejamkan mata. Arfan hanya bisa terpaku di hadapanku. Tampak berbagai macam perasaan di wajahnya yang berganti dengan cepat, kaget-bingung-terkejut dan... merasa bersalah.
                Aku menggeleng dalam diam sementara air mataku kian membanjiri pipi dengan begitu deras.
                “Aku nggak pernah nyangka kamu bakal ngelakuin ini, aku...” Mulutku terasa sulit untuk melanjutkan. “Aku nggak mau ketemu kamu lagi!”
                Aku berlari menuju pintu keluar dengan langkah gontai disusul oleh Hanan juga Andre. Sementara Arfan? Entahlah, tampaknya ia hanya bisa diam mematung di tempat itu sambil meneriakkan namaku. Sambil berusaha menyelusup di dalam antrean orang-orang yang ingin masuk ke dalam lift, isak tangisku kian menderu. Terdengar beberapa orang yang berdesis sambil memperhatikan wajahku yang bersimbah air mata, namun aku tidak peduli. Yang kuinginkan saat ini hanyalah satu, pergi sejauh-jauhnya. Kemana pun itu asalkan aku bisa berada jauh bahkan sangat jauh dari Arfan.
***

                Sinar matahari yang menelusup lewat celah-celah bangunan yang menjulang tinggi di bawah langit New York terasa begitu hangat. Setidaknya mampu sedikit mengobati hatiku yang masih saja pilu jika mengingat kejadian beberapa hari lalu di bioskop. Angin segar berhembus saat sebuah bus melesat melewatiku dan berbelok pada ujung jalan tempatku berdiri saat ini. Aku melemparkan pandangan pada beberapa titik langit yang masih terlihat biru cerah tertutupi sedikit gumpalan awan putih menyerupai kapas yang berarak mengikuti belaian lembut angin. Matahari mulai condong beberapa derajat sebelum kembali ke peraduannya.
                Kulangkahkan kaki menyusuri 42nd Street yang menjadi titik perpotongan Broadway dan Seventh Avenue. Tempat ini memang digunakan orang untuk jalan santai, Time Square, The Crossroads of The World. Aku memandangi gedung Ripley’s Believe It or Not dengan warna cat depan yang mendominasi merah dan emas, layaknya bangunan Cina. Di sebelahnya berdiri museum wax Madame Tussauds bercat abu-abu dengan patung besar di atas pintu. Iklan dan billboard raksasa bertebaran di mana-mana. Toko-toko ternama seperti Toys “я” US , cokelat Hershey’s dan M&M terlihat berjejer di satu jalur. Gedung  Maxell yang berslogan “Where Maximum Performance Lives” bersisian dengan gedung Mamma Mia juga berseberangan dengan Bank of America yang beratap oranye dengan tulisan berwarna biru.
                Sejenak rasa sakit yang merayapiku mulai tertutupi oleh ketenangan yang entah berasal dari mana. Suasana New York kali ini sepertinya mampu membiusku untuk bisa sedikit melupakan ingatan kelamku tentang Arfan juga Dendi.
                Tiba-tiba aku teringat sesuatu, Manhattanhenge! Sebuah istilah yang diberikan untuk fenomena sunset di New York. Ini adalah ketika matahari terbit dan terbenam dalam garis lurus di jalan utama Manhattan. Uniknya, sunset semacam ini hanya ada pada musim panas. Orang-orang juga menyebutnya Solstice Manhattan karena posisi matahari sejajar dengan gedung-gedung pencakar langit layaknya posisi matahari yang sejajar dengan batu-batu Solstice di Stonehenge.
                Aku lalu berjalan ke arah barat sambil menengadah ke langit, tempat pemandangan kontras gedung menyatu dengan langit yang mulai menggelap. Beberapa orang yang memenuhi Time Square juga melakukan hal yang sama, memusatkan pandangan menuju matahari.
                Beberapa menit kemudian warna matahari senja berubah menjadi jingga, perpaduan sempurna antara merah-kuning-oranye. Matahari merayap menuju ufuk barat dengan perlahan, memberi kesan bahwa ia akan tenggelam di ujung jalan tempat gedung-gedung tinggi di sepanjang 42nd Street berdiri kokoh. Seolah menjadi lampu besar yang menyorot lurus jejeran gedung-gedung itu. Memberikan semburat warna menenangkan dan memantulkan pantulan cahaya yang menyenangkan. Seulas senyum terbentuk dari sudut bibirku. Rasa hangat kian menjalari tubuhku, membuatku merasa lebih kuat untuk menerima kenyataan bahwa Arfan ternyata tidak jauh berbeda dengan Dendi.
                Tiba-tiba sebuah genggaman hangat menyentuh jemariku. Aku tersadar dan nyaris tersentak sebelum menyadari sosok yang begitu kukenal kini berdiri tepat di sampingku.
                “Hai...” Sebuah senyum manis keluar dari bibir mungil itu. Senyum yang begitu kukenal.
                “Andre? Kamu kok bisa...”
                “Sst,” Andre meletakkan telunjuknya di bibirku. “Nikmati dulu Manhattanhenge-nya.”
                Andre melepaskan genggamannya lalu merengkuh bahuku.
                Bersamaan dengan itu, LED dan penerangan lain yang memenuhi seantero Time Square menyala dengan serentak setelah langit menggelap dan matahari tertelan oleh ufuk barat. Cahaya kemerahan gelap yang sempat memudar tergantikan oleh cahaya lampu beraneka warna di sepanjang 42nd Street. Aku menyandarkan kepala di bahu Andre. Sebuah rasa nyaman hadir kembali bersama langit senja yang telah lama kurindukan.

Comments