Goodbye my bad 16th

            Aku mengedipkan mata beberapa kali, berusaha memperjelas penglihatan setelah tidur nyenyak yang kulewati beberapa jam silam. Dengan sedikit perasaan enggan, aku bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Tanganku terjulur pada kalender kecil di atas meja kerja. Mengamati sebuah tanggal yang telah kulingkari dengan spidol merah. Betapa bodohnya aku yang masih saja mengingat hal itu, perayaan tanggal 16. Tersirat sebuah senyum  sudut bibirku. Aku meletakkan kembali kalender kecil itu pada tempatnya lalu mengalihkan pandanganku pada sebuah bingkai foto kecil di sudut lain meja belajarku. Tepat pukul 12. Aku membenamkan kembali wajahku pada selimut tebal yang tadi terasa begitu hangat namun sekarang jutsru dingin menusuk.
            “Mau sampai kapan kayak gini terus?” Aku mengucap lirih.
            Segera aku bangkit dari tempat tidur lalu beranjak menuju kamar mandi. Membasuh wajah dengan air wudhu biasanya mampu menenangkan hati yang sedang gelisah. Selesai berwudhu, aku mengambil seperangkat mukena beserta sajadah yang ada di meja kecil di samping tempat tidur. Hanya ini satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini. Mengahadap yang Maha Kuasa, bersimpuh di hadapannya memohon ketenangan hati. Tanpa kusadari, air mataku mulai mebasahi pipi. Setiap gerakan sholat kukerjakan dengan khusyuk sedikit beradu dengan isakan tangis. Setelah selesai salam, aku menengadahkan tangan. Hanya satu hal yang kuinginkan saat ini, melupakannya.
            Aku mengusapkan kedua telapak tangan pada wajahku. Sejenak, rasa gelisah yang sejak tadi merayapiku mulai menghilang berganti dengan sebuah ketenangan. Setelah melipat kembali mukena itu, aku meletakkannya di atas tempat tidur lalu berjalan menuju jendela. Rasa penasaran mendorongku untuk membuka jendela itu, melihat dunia macam apa yang ada di luar sana saat ini. Amsterdam... mungkin sama dengan kota-kota besar lainnya di penjuru dunia, keramaiannya seolah menyapaku dari balik jendela kecil ini. Apartemenku yang berada di pinggiran jalan utama Amsterdam memungkinkanku untuk melihat setiap sudut kota dari sini.
            Tiga hari lagi aku akan kembali ke Medan, rasanya begitu enggan. Sulit bagiku untuk menjaga hati dari segala macam kenangan yang akan kudapati disana. Jika boleh memilih, aku ingin pergi dari tempat kelahiranku itu selamanya. Hanya saja seluruh keluarga besarku masih tetap bertahan tinggal di sana. Seandainya Papa dan Mama mau kuajak pindah ke Bandung, mungkin aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di Medan. Medan adalah kota yang begitu indah dengan segala macam suku, adat istiadat, sumber sejarah juga dengan berbagai makanan khasnya yang begitu kusukai. Hanya saja, kenangan pahit itu seakan menutupi setiap rasa manis yang pernah kukecap di sana. Andai saja aku tidak mengenalmu, aku tentu tidak akan menghindari kota kelahiranku sendiri.
            Lamunanku terusik dengan suara ponsel berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Kali ini, aku sudah bisa menebak siapa orang di seberang sana yang rela terjaga tengah malam demi menghubungiku di tanggal 16. Aku menatap layar ponselku dengan wajah sumringah.
            “Halo...” Sapaku dengan manja setelah menekan tombol accept.
            “Happy anniversary, Dear. Ini adalah dua tahun terbaik yang pernah aku lewati dalam hidupku, karena kamu.” Ucap seseorang dari seberang sana.
            “Happy anniversary too, Darl. I will always love you, today, tommorow, the day after tommorow, next week, next month, next year and forever.”
            “Cepat pulang ya, aku kangen. Tiga hari lagi pernikahan kita dan kamu masih sempat pergi ke Amsterdam ninggalin aku sendiri di sini yang udah hampir mati kekangenan.”
            “Kekangenan?” Aku tertawa kecil. “Kamu kalau lagi kangen selalu kayak gini deh.”
            “Kayak gini gimana, Sayang?”
            “Ya kayak gini, ngangenin banget.” Gelak tawa kami kembali menyatu menjadi sebuah kehangatan yang sedikit mampu meredakan dinginnya udara yang menusuk tulangku.
            “Kamu kok belum tidur?”
            “Tadi terbangun, nggak bisa tidur lagi. Jadinya ya siap sholat duduk aja di depan jendela sambil ngeliatin orang di luar sana yang masih lalu lalang. Amsterdam, nggak ada tidurnya nih kota. Kamu belum berangkat ke kantor?”
            “Sayang, ini hari Minggu. Aku bisa aja seharian males-malesan sambil nelepon kamu kalau kamu mau.”
            “Masalahnya aku nggak mau.”
            “Yup, that’s the problem.”
            “Ya udah, mandi dulu sana, sarapan. Oh iya, lusa nanti pesawatku take off jam 8 pagi dari sini, Sayang.”
            “Okay, pangeran berkuda kamu bakal udah hadir di bandara jauh sebelum kamu landing, Sayang.”
            “Kamu ya ada aja tingkahnya yang buat aku pengen cepet balik ke Bandung. Well, see you there, Darl.”
            “See you too, Honey. I’ve missed you.”
            “I know,” Aku memutus sambungan telepon sambil tersenyum mengamati fotoku bersama Aulia yang menjadi wallpaper ponselku. Bisa kupastikan ia bersungut-bersungut karena pembicaraan yang berakhir gantung itu.
            Aulia, sosok yang hampir mendekati kata sempurna, yang selama dua tahun terkahir telah menemani setiap suka dukaku. Sejenak aku tidak bergeming, apa yang kurang dari Aulia? Tidak ada. Usianya terpaut empat tahun di atasku, cukup dewasa untuk menjadi kepala rumah tangga bagiku. Tidak ada yang perlu kukhawatirkan dari segi finansial, ia adalah direktur salah satu perusahaan travel di Bandung. Keluarga kami yang juga telah saling mengenal tampaknya tidak akan menjadi penghalang bagi kelanggengan hubunganku dengannya. Orang ketiga? No, I know him. Aulia bukanlah tipe pria seperti itu, sejauh yang kukenal. Letak semua permasalahan ada padaku yang masih saja terjebak pada serpihan masa lalu.
            Tanggal 16, sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku untuk merayakan dua hal sekaligus di setiap tanggal 16. Hubunganku dengan Aulia juga hubungan dengan Mr. Worst. Ya, aku menyebutnya dengan nama Mr. Worst, sebuah nama yang rasanya lebih pantas kuberikan padanya atas semua kesalahan yang pernah terjadi dalam hidupku. Kesalahan karena pernah bertemu dengannya, kesalahan karena pernah memberikan perasaanku padanya hingga kesalahan karena masih saja mengingatnya.
            Aku menutup kembali jendela dan berjalan menuju tempat tidur. Saat melewati sisi meja kecil di samping tempat tidur, kuraih sebuah bingkai yang menghiasi keliling foto sepasang anak SMP yang tengah duduk di pinggir danau.
            “Selamat tinggal, Mr. Worst. Goodbye my bad sixteenth.” Aku melemparkan bingkai kecil itu pada sudut kamar. Ia hancur, lebih hancur berkeping.

Comments