March 1, 2014

Butterfly

Ketika waktu mendatangkan cinta
Aku putuskan memilih dirimu
Setitik rasa itu menetes dan semakin parah
Bisa kurasa getar jantungmu mencintaiku
Apalagi aku?
Jadikanlah diriku pilihan terakhir hatimu
Jalan ini jauh namun kita tempuh bagai bumi ini hanya milik berdua
Biarkan ku berlebihan mendekatimu
Namun ku tunggu

            “Rangga!” Aku terjaga dari tidur dan kembali menyebutkan nama itu.
            “Delisa...” Adera memelukku dengan erat. “Udah, Lisa, udah.”
            Tubuhku yang sempat menegang kini terkulai lemas. Setelah hampir sebulan, mimpi itu masih saja hadir. Mengingat apa yang telah terjadi, rasanya begitu sulit untuk menyadari bahwa aku masih menjejak bumi.
            “Excuse me, Miss. Are you okay?” Seorang pramugari mendatangiku dan Adera dengan wajah cemas.
            “No problem, she is my friend. She’s just being sick now.” Adera menjelaskan padanya sambil mengelus-ngelus bahuku.
            “If you need something, you can call me. I’m in the rear cabin, Miss. ” Lanjut pramugari itu dengan senyuman ramah.
            “Thank you.” Adera membalas senyumnya.
            Ia lalu pergi meninggalkan kami. Suasana kembali hening.
            “Mimpi Rangga lagi?” Adera menatapku khawatir.
            Aku hanya mengangguk perlahan lalu menyandarkan kembali tubuhku yang masih terasa begitu lemas. Bayangan Rangga... bukan, itu bukan bayangan, itu Rangga. Rangga selalu hadir menemani tidurku. Ia selalu ada, menepati janjinya untuk tidak pernah meninggalkanku sendirian. Rangga selalu bersamaku kemana pun aku pergi.
            “Gue ngerti, nggak mudah ngelupain apa yang udah elo lewati sama Rangga selama hampir lima tahun, Lisa. Tapi elo juga nggak boleh terus-terusan kayak gini. Liat keadaan lo sekarang, menyedihkan, Delisa. Menyedihkan banget. Selama sebulan berat badan lo turun drastis, elo keluar masuk rumah sakit, elo sering ngurung diri di kamar, kerjaan elo tinggalin gitu aja, elo sering ke makamnya Rangga sampai larut malam.”
            “Gue cuma butuh waktu, Ra. Gue belum siap.”
            “Iya, Delisa, itulah sebabnya kenapa gue bawa elo ke California. Elo butuh suasana baru, elo perlu menata hati, menata diri lo lagi.”
            Aku tersenyum lirih. “Segitu parahkah gue?”
            “Honestly, worst than it looks, worst than you think.”
            “Bisa nggak elo bayangin, Ra, semuanya udah disiapin dengan sangat-sangat sempurna. Yah, menurut gue itu udah bisa dibilang sempurna.” Aku menghela napas. “Gaun pengantin, cincin pernikahan, gedung resepsi, undangan yang udah disebar, kue pernikahan yang udah gue rencanain jauh-jauh hari, bahkan foto pre-wedding. Everything is made so perfectly, Adera. And suddenly, something I never expected come ruin everything. Crush my life.”
            “Lisa, kita sama sekali nggak pernah berharap peristiwa itu bakal terjadi. Tapi itu semua takdir Tuhan dan elo juga Rangga nggak bisa mencegahnya kan?”
            “Andai aja waktu itu gue nolak Rangga yang mau jemput gue di kantor, andai aja waktu itu gue nurutin saran elo supaya nggak lembur, andai aja waktu itu gue nyiapin semua laporan divisi gue lebih awal, ini semua nggak bakal terjadi kan, Ra? Pasti sekarang gue lagi jalan-jalan berdua sama Rangga di pinggiran kota London, gue sama Rangga lagi nikmatin bulan madu yang udah sejak lama kita rencanain.” Aku mulai terisak di pelukan Adera. “Gue bodoh banget, Ra, gue ceroboh kan?”
            “Sst, udah, Lisa, udah. Emang udah jalannya kayak gini. Kecelakaan itu emang ditakdirkan buat terjadi. Gue bawa lo jauh dari Jakarta bukan berarti gue mau ngejauhin elo dari semua kenangan tentang Rangga, gue cuma mau ngasih suasana baru ke elo yang siapa tahu bisa sedikit balikin semangat hidup lo kayak dulu lagi.”
            Aku melepaskan diri dari pelukan Adera sambil tetap memegangi sweater bermotif kupu-kupu pemberian Rangga, hadiah ulang tahunku yang ke dua puluh lima beberapa bulan lalu.
            Ingatanku kembali menerawang jauh hampir delapan tahun silam ketika aku dan Rangga bertemu dalam sebuah museum kupu-kupu ketika kami masih duduk di bangku SMA.
***
            “Suka kupu-kupu juga ya?” Seorang pria berkulit sawo matang dengan tubuh atletis berdiri di sampingku yang sedang sibuk memotret Australian Painted Lady, jenis kupu-kupu langka asal Australia yang juga dapat ditemukan di Selandia Baru.
            Aku tersenyum padanya. “Bukan suka aja, tapi suka banget.” Lalu kembali memotret berbagai jenis kupu-kupu yang berjejer di hadapanku.
            “Aku kan nggak ada bilang suka aja,” Ia memberi penekanan pada kata aja. “Aku bilang suka kupu-kupu juga ya?” Ia kembali memberi penekanan pada kata suka.
            “Kamu jago protes ya.” Aku membalikkan badan menghadap pria tersebut.
            “Aku Rangga,” Ia menyodorkan tangannya padaku.
            “Delisa.” Jawabku singkat sambil bersalaman dengan Rangga. “Kamu pecinta kupu-kupu?”
            “Banget.”
            “Oh ya?”
            “Kenapa? Ada yang salah?”
            “Nggak sih, cuma jarang-jarang aja ada cowok yang... yah suka kupu-kupu.” Aku berjalan bersisian di samping Rangga.
            “Nggak boleh ya?” Tanya Rangga dengan nada menyindir.
            Aku tertawa kecil lalu berhenti dan memutar tubuhku menghadap Rangga. “Aku nggak ada bilang nggak boleh kan, Tuan-Yang-Jago-Protes?”
            “Wow, aku dapat julukan baru dari seseorang yang bahkan baru kukenal belum sampai lima menit yang lalu.” Rangga menaikkan sebelah alisnya. “Coba lihat ini,” Rangga menunjuk sebuah kotak kaca berisi kupu-kupu berwarna biru yang sudah diawetkan. “Ini jenis kupu-kupu kesukaanku, namanya Blue Morpho. Banyak ditemukan di daerah Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Meksiko. Nah kalau yang sebelahnya ini juga salah satu jenis kesukaanku tapi aku lebih jatuh cinta sama Blue Morpho sih. Ini namanya Purple Spotted Swallowtail, aku suka banget bentuk sayapnya. Cuma ada di dataran tinggi Papua Nugini tapi sayangnya udah terancam punah. Kadang aku heran, buat apa sih kupu-kupu ini diawetkan kayak gini? Kan sama aja mengurangi populasi mereka.”
            “Kamu tahu banyak tentang kupu-kupu ya? Aku malah nggak tahu sama sekali. Cuma suka ngeliat warnanya aja, bagus-bagus sih.”
            Wajah Rangga bersemu merah.
            Aku melirik simbol sekolah di lengan seragam Rangga.
            “Kamu murid SMA Dwiwarna?” Tanyaku pada Rangga.
            “Iya. Dan kamu ketua ekskul seni SMA Sapta Budi kan?”
            “Loh, kamu kok tahu?”
            “Kita pernah ketemu, eh bukan-bukan, lebih tepatnya aku yang pernah lihat kamu waktu acara kontes seni se-Kota Medan bulan lalu. Kamu pemenang lomba fotografi kan?”
            “Iya.” Aku kembali tersenyum pada Rangga. “Kamu sendiri ikut lomba apa waktu itu?”
            “Melukis.” Jawabnya singkat sambil lanjut berjalan melihat-lihat koleksi kupu-kupu di museum ini.
            “Awesome!” Pekikku sambil mengikuti langkah Rangga.
            “Apanya yang awesome?”
            “Ya kamu, awesome. Suka kupu-kupu, bisa melukis lagi.”
            Rangga tersenyum. Senyuman yang memiliki arti lain bagiku.
***
            Sejak pertemuan dengan Rangga di museum kupu-kupu delapan tahun lalu, kami sering menghabiskan waktu bersama mengunjungi berbagai stan pameran kupu-kupu di Kota Medan. Bahkan, aku dan Rangga juga pernah bertemu ketika kami diutus pihak sekolah untuk ikut dalam penelitian hewan langka selama satu minggu di Yogyakarta. Benar-benar di luar dugaan kami dapat bertemu dalam hampir setiap event yang sama. Semua berlalu begitu cepat dan waktu pun sepertinya bergulir dengan sangat singkat hingga akhirnya berhasil menautkan perasaanku pada Rangga.
            Aku melanjutkan pendidikan dalam program studi akuntansi sementara Rangga kian bergelut dalam dunia kedokteran. Usia kami yang terpaut dua tahun membuat Rangga lebih dulu meninggalkan Kota Medan untuk melanjutkan kuliahnya. Dan sekali lagi tanpa pernah kami rencanakan sebelumnya, takdir Tuhan mempertemukan kembali aku dan Rangga dalam universitas yang sama di Jakarta. Ia sering mengajakku berkeliling di taman-taman kota sepulang kuliah, bermain bersama sekumpulan kupu-kupu yang beterbangan menjelang senja. Kehadiran Rangga membawa kedamaian yang berbeda dalam hatiku. Aku... aku mulai mencintainya.
            Setelah beranjak dari bangku kuliah, aku dan Rangga mulai berotasi dalam dunia yang berbeda. Pekerjaanku sebagai kepala divisi salah satu bank asing di Jakarta dan Rangga yang bekerja sebagai seorang dokter hewan tentu saja mengurangi kebersamaan kami untuk menghabiskan waktu menikmati suasana senja bersama kupu-kupu di taman kota. Namun, perbedaan semacam itu tidak membuat hubungan yang telah kami jalin merenggang. Rangga justru ingin membawaku pada jenjang yang lebih serius. Ia menganggap semua pertemuan kami yang selalu terjadi secara tidak sengaja mulai dari pertemuan pertama di museum kupu-kupu, pertemuan dalam berbagai event yang sama di penelitian hewan langka, hingga pertemuan kami dalam universitas yang sama adalah suatu pertanda bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersama.
***
            “Sa, pulang yuk. Udah jam setengah enam nih.”
            “Duluan aja, Ra, gue masih mau ngereview laporan meeting kemarin. Sekalian mau nyiapin kerjaan gue seminggu ke depan. Katanya ntar Rangga mau ke rumah jadi ya sekalian nganterin gue pulang, lagian juga hujannya masih deras banget tuh di luar.”
            “Jadi ceritanya mau lembur nih? Duh, yang tiga hari lagi mau jadi pengantin baru bikin gue envy aja deh. Kemana-mana berduaan mulu. Buru-buru nyiapin laporan biar bisa cuti minggu depan buat bulan madu ke London, gitu?” Adera menatapku dengan wajah centilnya dari balik kubikel.
            Aku tertawa kecil melihat tingkah Adera. “Ya udah, kita nikahannya barengan aja, gimana? Biar gue telepon Adit nih, nyuruh dia ngelamar lo ntar malam.”
            “Eh buset deh, Sa, ide lo aneh-aneh aja. Gue sama Adit belum ada komitmen mau nikah keles. Ah udah ah, kok jadi ngomongin soal gue sama Adit. Sekarang tuh waktunya buat ngomongin elo sama Rangga dulu.”
            “Ngomongin apaan? Elo udah mirip host di acara-acara infotainment itu deh.” Aku melirik Adera sekilas lalu kembali beralih pada monitor di hadapanku.
            “Gimana persiapannya? Udah pada beres kan? Lo juga aneh-aneh aja sih, bentar lagi elo tuh mau jadi Nyonya Hermawan loh, Delisa, istri dari seorang dokter hewan terkenal bernama Rangga Hermawan. Bukannya sibuk nyiapin acara yang tinggal tiga hari lagi atau paling nggak nyantai di salon kek, spa, luluran, facial, meni pedi atau ngapain gitu asal bisa rileks, nah ini malah masih anteng duduk di depan meja kerja sama setumpuk berkas-berkas yang padahal bisa gue bantu siapin. Nggak asik lo ah.”
            “Emang apa yang mau disiapin lagi? Everything’s okay, Ra. Mulai dari gedung, catering, gaun pengantin, cincin, kue, semuanya udah sembilan puluh sembilan persen tahu nggak? Satu persennya lagi ya tinggal acaranya doang, gue berharap semuanya berjalan lancar. Dan kayaknya gue harus berterima kasih banyak deh sama lo yang udah nguras tenaga dan waktu buat bantuin pernikahan gue ini.” Aku mengikat rambutku yang mulai kusut. “Gue udah cukup ngerepotin lo, kalau sampai gue ngerepotin lo lagi dengan ngebebanin kerjaan kantor gue ini sama lo, itu namanya gua sahabat yang nista banget.”
            “And then, i’m speechless, Lisa. Elo belajar dari mana sih kata-kata yang buat orang terharu kayak gitu? Lagian nih ya, kita itu udah sahabatan dari jaman SMP, dari jamannya culun-culun dulu. Susah senengnya harus bareng-bareng juga dong.”
            Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di atas meja kerja berbunyi. Muncul nomor yang tidak kukenal pada layarnya.
            “Halo?” Adera menaikkan sebelah alisnya, bermaksud menanyakan siapa yang meneleponku. “Iya, benar. Saya Delisa.” Tubuhku menegang mendengar suara sirene ambulans di seberang telepon “Apa? Iya, saya kesana sekarang.” Tanpa sengaja aku menjatuhkan handphone yang masih menempel di telinga. Tangisku pecah.
            “Lisa, Delisa, lo kenapa?” Raut wajah panik Adera kian bertambah.
            “Rangga, Ra, Rangga.” Aku masih belum mampu mencerna dengan baik setiap kata yang telah terkumpul dalam otakku.
            “Iya, Rangga kenapa?”
            Tubuhku yang begitu terasa lemas tiba-tiba langsung menegang. “Rangga kecelakaan, kita ke rumah sakit sekarang, Ra.” Aku mengambil handphone yang masih tergeletak di lantai lalu bergegas menuju lift.
***
            “Lisa...” Adera membuyarkan lamunanku. “Kita udah sampai. Yuk...”
            Aku membuka sabuk pengaman yang melingkar di pinggang lalu beranjak dari tempat duduk mengikuti langkah Adera menuju pintu keluar pesawat. Setelah membereskan semua barang bawaan, kami berjalan menuju terminal kedatangan di Bandara Internasional San Francisco. Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di County San Mateo. Tidak lama berselang, seorang wanita paruh baya mendatangi Adera dan memeluknya, wajahnya tentu tidak asing bagiku. Itu Tante Lyan, adik Mama Adera yang menetap di sini semenjak menikah dengan Om Deryl, pengusaha asal Kanada.
            Kulangkahkan kakiku mendekati posisi Adera.
            “Hi, Delisa. How are you? Glad to see you again.” Tante Lyan lalu memelukku dengan hangat namun belum mampu melelehkan jiwaku yang masih saja membeku. “Long time no see ya, it has been almost four years since the last time we met at Adera’s house. Delisa, i’m really sorry for what happened to you. You have to be tough to face it, Dear.”
            “Thank you so much, Aunty.” Aku hanya bisa membalas antusiasme Tante Lyan dengan ucapan seadanya sambil balik memeluknya. Hati dan pikiranku masih berusaha menyesuaikan perbedaan antara Jakarta dan San Francisco.
            Tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu yang kurang dari barang bawaanku. Sweaterku! Pekikku dalam hati lalu berubah sedikit panik.
            “Honey, are you okay?” Tante Lyan menatapku heran.
            “I’m sorry, Aunty. I have to go back to the plane, I left my sweater there.”
            “Gue temenin ya, Lisa. Lo masih keliatan linglung gitu.”
            “Nggak usah, Ra,” Aku mencegah Adera untuk ikut. Muncul sedikit perasaan sungkan dalam hatiku jika meninggalkan Tante Lyan sendirian menunggu kami di sini. “Gue nggak apa-apa kok. Percaya deh, gue bakal balik paling lambat dalam sepuluh menit, oke?”
            Tanpa menunggu jawaban dari Adera aku langsung bergegas masuk kembali ke dalam terminal kedatangan menuju pesawat yang membawa kami terbang hingga sampai di San Francisco.
            Setelah sampai di depan terowongan yang menghubungkan langsung pintu pesawat dengan terminal kedatangan, aku meminta ijin kepada seorang petugas untuk masuk ke dalam pesawat sambil mengeluarkan paspor dari dalam tas sandangku. Petugas itu pun lalu mengijinkanku masuk ke dalam pesawat yang sedang dibersihkan namun tidak tampak satu pun awak kabin di sana. Sambil berusaha mengingat seat number tempatku dan Adera duduk tadi, aku terus memperhatikan jejeran bangku di sebelah kiri dan kananku.
            “Duh, mana sih tadi sweaternya? Ceroboh banget gue.” Aku menggerutu sambil terus mencari sweater kupu-kupu itu.
            “Kamu cari ini?” Seorang pria tersenyum padaku lalu berdiri dari kursi paling belakang, suaranya yang tidak asing mengagetkanku hingga membuatku hampir terjatuh.
            Tubuhku menegang melihat sosok pria yang kini berjalan mendekat. Aku masih terus berusaha menormalkan kembali penglihatanku. Sesaat lidahku terasa begitu kelu untuk mengeluarkan sepatah kata pun, aku hanya berulang kali mengedipkan mata dan yang tampak adalah tetap sama. Pria itu semakin berjalan mendekatiku dengan sweater kupu-kupu milikku yang ada di tangannya.
            “Kamu pasti kedinginan kan? Pakai ini ya.” Ia melingkarkan sweater itu di bahuku.
            Aku masih mematung dengan begitu bodoh. Dunia nyata dan khayalku kini beradu menjadi satu.
            “Kamu nggak boleh kayak gini terus, Sayang. Kamu harus kuat, kamu harus jadi Delisa yang dulu aku kenal. Cerewet, ceria, penuh semangat. Kamu sayang sama aku kan? Janji ya kamu harus bangkit, harus kuat, harus tegar, nggak boleh kayak gini terus. Aku sedih ngeliat kamu terus-terusan sedih, Sayang. Aku bakal selalu nemenin kamu kok, aku bakal selalu ada di samping kamu, deket sama kamu, di dalam hati kamu.” Sejenak kehangatan menyusup jauh ke dalam ragaku. Pelukan ini, pelukan yang begitu kukenal, pelukan yang telah hampir sebulan ini tak pernah kurasakan.
            Air mataku menetes. Aku kembali terisak. Namun kali ini, air mataku jatuh dalam pelukan Rangga.
            “Rangga, kenapa kamu pergi? Jangan tinggalin aku lagi.” Bisikku lirih.
            “Delisa...” Tiba-tiba suara Adera terdengar dari pintu pesawat.
            Mendadak kakiku terasa lemas, tidak mampu lagi menopang tubuhku yang juga terasa begitu lemah. Semuanya berubah menjadi gelap. Aku terjatuh tepat saat Adera memegang lenganku. Dan Rangga... menghilang. Kembali pergi.

Butterfly terbanglah tinggi setinggi anganku untuk meraihmu
Memeluk batinmu yang sama kacau karena merindu
Butterfly fly away so high as high as hopes I pray to come and reach for you
Rescuing your soul
The precious messed up thoughts of me and you

No comments: