January 10, 2014

Kenangan

            Hai, kamu pria bertubuh jangkung yang selalu mengganggu pikiranku... Bagaimana kabarmu disana? Aku berharap kamu selalu dalam keadaan baik, ya. Tidak terasa waktu bergerak begitu cepat, sudah hampir dua tahun berlalu sejak pesan terakhir yang kamu kirimkan padaku sebagai salam perpisahan, iya, kamu memutuskan untuk benar-benar menghilang dari duniaku dan semua berlalu begitu saja tanpa adanya hadirku lagi. Mungkin kamu yang sekarang jauh berbeda dengan kamu yang kukenal lalu. Kamu telah tumbuh menjadi pria dewasa yang aku yakin telah mampu memilih sendiri jalanmu, bersamanya, tanpa harus ada aku lagi yang mengganggu dalam hidupmu. Dan bagaimana juga kabar kedua orang tua beserta saudara-saudara kandungmu yang kesemuanya adalah wanita? Kakak tertua, adik pertama, juga adik bungsumu yang seringkali mengundang tawaku ketika kamu mulai bercerita tentang mereka, apakah mereka masih sejenaka dulu ketika pertama kali aku mengenalnya? Sepertinya kita sudah semakin jauh dan telah lupa untuk saling mengingat, juga merasakan segala hal yang pernah terjadi dulu.
            Tahukah kamu apa yang aku lakukan saat ini? Aku sedang duduk di sudut Lapangan Merdeka, tempat yang dulu sering kita kunjungi berdua hanya untuk memperlambat jalannya waktu sebelum akhirnya kita harus saling melepaskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Rasanya semua begitu cepat berganti, ya? Bukan hanya kita namun juga tempat ini. Lihat saja sendiri betapa tempat ini telah mengalami banyak perubahan. Mulai dari pemindahan toko-toko bukunya, sarana olahraganya yang kian lama semakin mengalami banyak kerusakan, renofasi tugu, hingga penutupan sebagian pintu masuk. Ternyata waktu berlalu dengan sangat cepat. Pertemuan dan perpisahan itu juga datang silih berganti seperti udara yang selalu kita hirup lalu kita hembuskan kembali. Dulu, kamu masih pria lugu yang sangat senang menghabiskan waktumu di depan komputer hanya untuk bermain game online, sementara aku sangat membenci pengabaianmu ketika kamu asyik dengan game online itu yang bahkan pernah kusebut sebagai “pacar keduamu”. Ya, aku juga masih ingat, kegemaranmu itu seringkali menjadi sebab pertengkaran di antara kita. Apakah kebiasaanmu itu masih sama seperti dulu? Aku dengar kamu mulai memiliki hobi baru yaitu menggambar, benarkah? Betapa bahagianya wanita yang kini ada di sampingmu kini karena dia tidak perlu lagi merasakan pengabaian yang dulu pernah kurasakan. Jika mengingat hal itu kembali, rasanya begitu manis namun miris. Kita bergulir bersama waktu, bertambah dewasa dalam takdir yang kita jalani, semua sudah berbeda dan tak pernah sama lagi. Apakah kamu masih menjadi pria lugu dengan senyum yang begitu manis yang seringkali kucuri keindahannya dengan diam-diam menatapmu? Apakah kamu masih menjadi pria yang sama, pria pemalu dengan sikap sederhana yang mampu mengubah apapun yang kita lewati bersama menjadi kebahagiaan tersendiri yang begitu rapi tersusun dalam ingatanku? Kita memang sudah lama tak saling bertatap mata, aku juga mulai lupa bagaimana sinar matamu yang begitu indah saat menatapku. Aku mulai lupa betapa manisnya senyummu yang seringkali menjadi sebab atas senyumku yang selalu ada saat aku bersamamu. Namun satu hal yang tak pernah dapat aku lupakan darimu... kenangan.
            Dulu, kita masih terlalu kecil untuk berbincang dan memahami tentang cinta? Walau pun begitu, kita telah menjalani hari yang cukup panjang, kebersamaan dengan perasaan sepasang anak SMP yang terasa begitu nyata dalam cinta. Kamu mengajarkan aku banyak rasa, malu, rindu hingga cemburu. Masih ingatkah kamu akan semua kebersamaan yang pernah kita lewati dulu? Masih ingatkah kamu bagaimana aku berbohong pada seorang guru atas ketidakhadiranmu di sekolah hanya karena aku tidak tega melihatmu mendapat hukuman? Mungkin, kamu telah melupakannya begitu saja namun aku tidak.
            Tahukah kamu, semenjak kehadiran sosokmu dalam duniaku beberapa tahun silam, aku sangat senang menuangkan semua luapan perasaanku dalam tulisan-tulisan kecil, sederhana namun indah. Bayangkan, betapa manisnya kita dulu walaupun semua hanyalah kenangan yang tak bisa terulang. Semua seperti mimpi yang sangat sulit untuk diputar kembali. Aku selalu berandai-andai bahwa hidup adalah sebuah kaset, aku pasti akan terus memutar lagu yang sama yang terdengar paling indah dalam telingaku tanpa pernah bosan mendengarnya. Sekali lagi aku katakan, waktu memang berlalu dengan sangat cepat namun bukan berarti aku telah melupakan segala hal tentangmu. Aku tentu masih ingat, kamu sangat berkeinginan melanjutkan pendidikanmu sebagai mahasiswa teknik, sementara aku ingin bergelut dalam dunia akuntansi. Jalan kita memang berbeda, namun aku tak pernah menyangka semua perbedaan itu kini memisahkan kita dalam jarak yang terbilang dekat namun akhirnya menutup semua kemungkinan kita untuk kembali bersama. Ah, aku terlalu cepat berprasangka terhadap takdir Tuhan, siapa tahu Tuhan telah menyiapkan pertemuan selanjutnya untuk kita yang aku yakin pasti akan lebih indah dari apa yang pernah kita lewati sebelumnya, perjalanan yang begitu miris namun mampu mengajarkan aku arti sebuah kehidupan.
            Rindukah kamu dengan percakapan kita yang mengundang tawa itu? Dengan riuhnya kelas yang sering mengganggu pembicaraan kita namun kita masih terus menikmatinya? Dulu, tak pernah terlintas dalam benakku untuk memperjuangkanmu. Aku hanya tahu, perasaanku begitu menyenangkan dan bersamamu begitu nyaman. Kamu orang yang benar-benar mampu mengguncang hatiku untuk pertama kalinya. Aku masih ingat bagaimana pertama kali kita bertengkar ketika pertama duduk di bangku kelas satu SMP, aku memarahimu hanya karena kamu lupa jadwal kebersihan kelas, aku masih ingat bagaimana dinginnya telapak tanganmu ketika pertama kali menggenggam tanganku di lapangan ini seusai kita mengikuti kegiatan renang, aku masih ingat betapa sulit perjuanganmu demi mengambilkanku setangkai bunga “eceng gondok”yang akhirnya membuatmu harus rela merasakan dinginnya air kolam karena kecerobohanmu sendiri, aku masih ingat bagaimana kita menikmati hujan sepanjang perjalanan pulang ketika selesai mengikuti les tambahan di kelas 3 SMP, aku masih ingat saat kita saling berkirim pesan hingga larut malam, membicarakan hal-hal di masa depan yang bahkan kita sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Hm, masa-masa yang begitu indah. Dan, tampaknya tempat-tempat lain yang pernah kita kunjungi bersama dulu telah banyak mengalami perubahan. Selain Lapangan Merdeka, Pertiwi, Nemo, Kinana, mereka juga telah mengalami banyak perubahan, jauh berbeda, begitu juga dengan aku dan kamu yang tak lagi sama seperti dulu. Perasaanku memang telah berubah namun bukan berarti aku telah melupakan begitu saja semua kenangan yang sudah lebih dulu terjadi. Pencapaian terbesar dalam hidupku saat ini adalah ketika aku berhasil meyakinkan hatiku agar tak lagi membuang air mataku dengan percuma hanya untuk menangisi kepergianmu yang serba mendadak itu. Di balik ingatan yang ada, memang menyakitkan jika aku selalu mengingat hal-hal indah yang rasanya sulit untuk terulang kembali, tapi mungkin telah kamu lupakan. Kita sudah sangat lama tak bertatap wajah, bagaimanakah wajahmu? Masihkah seindah dulu sinar matamu? Masihkah semanis dulu senyumanmu? Masihkah selembut dulu suaramu? Dan masihkah sehangat dulu pelukanmu? Aku merindukanmu...

No comments: