January 12, 2014

Hati Yang Tersembunyi

            Aku memandang langit, berharap melihat setitik mendung yang bisa membawaku pergi dari dari tempat ini. Nyatanya, cerah. Bintang-bintang saling menyapa lewat kelipannya hingga awan gelap pun sepertinya enggan mengganggu gemerlap mereka. Sayangnya, langit tak secerah hatiku yang kini begitu kelabu. Dunia nyata dan mimpiku beradu menjadi satu, merusak kinerja hati dan mengganggu otakku hingga tidak lagi dapat berpikir rasional. Aku masih dapat merasakan genggaman tangannya yang begitu hangat, namun belum cukup mampu menghangatkan jiwaku yang kini beku. Aku melepaskan genggaman itu lalu menyilangkan tangan di depan dada, berharap bisa mendapatkan kehangatan dengan caraku sendiri.
            “Kamu kedinginan?” Alan mengalihkan tatapannya kepadaku.
            Aku mengangguk.
            Pria yang kini duduk di sampingku melepaskan sweater yang ia pakai lalu melingkarkannya di bahuku. Bukan ini yang kumau, ucapku dalam hati. Batinku berteriak, menangis, namun bibirku rasanya belum cukup kuat untuk mengungkapkan itu padanya. Alan adalah teman kecilku, aku sudah mengenalnya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sayangnya, sejak saling mengenal aku dan Alan tidak begitu dekat hingga beberapa tahun berlalu dan kami dipertemukan kembali dalam sebuah pesta ulang tahun seorang temanku yang ternyata juga merupakan teman Alan. Sepertinya waktu bergulir dengan sangat cepat, hingga akhirnya disinilah aku sekarang, bersama Alan.
            Ia menarik tanganku dan kembali menggenggamnya. Entah sudah yang keberapa kalinya untuk malam ini dan aku tidak sedikit pun melakukan penolakan. Pikiranku masih meracau, harus sampai kapan seperti ini? Aku tahu bahwa aku bukanlah sesuatu yang nyata di mata Alan, atau mungkin aku salah, Alan bukanlah sesuatu yang nyata bagiku. Kehadirannya begitu semu. Ini bukan kali pertama aku menghabiskan malam bersamanya di depan sebuah paviliun yang ada di halaman belakang rumahku. Kami duduk bersisian di atas sebuah trampolin memandang lurus ke arah api unggun yang mulai kehabisan baranya.
            “Jadi kamu mau ngelanjutin kuliah dimana?” Ia kembali membuka pembicaraan.
            “Aku bakal ke Jakarta, mau ngelanjutin kuliah di PTK. Yah, bergelut dalam dunia statistik.” Jawabku mantap.
            “Gimana sama cita-cita kamu buat jadi penulis?”
            Aku mengubah posisi dudukku menghadap Alan. “Penulis nggak selamanya berasal dari dunia sastra, kan? Aku memang jatuh cinta sama hal kepenulisan, tapi bukan berarti itu yang utama buat aku.”
            “Jadi apa yang utama buat kamu? Aku?” Alan tertawa sambil mencubit hidungku. Aku tahu, ia sedang menggodaku.
            “Lihatlah, kamu melucu lagi. Yang utama bagiku cuma dua hal, kebahagiaan orang-orang yang menyayangiku juga kebahagiaan orang-orang yang aku sayangi.”
            “Aku termasuk kategori yang mana?”
            “Menurut kamu?”
            “Dua-duanya.” Ia mendekatkan posisi duduknya di sampingku.
            Aku tersenyum. “Kamu sendiri mau ngelanjutin kuliah dimana?”
            “PTN di Surakarta. Mungkin ke sistem informasi atau teknik sipil.”
            “Oh ya?” Aku menjawabnya dengan wajah dingin.
            “Kenapa jadi sinis gitu?” Alan memandangiku dengan tatapan aneh.
            “Nggak apa-apa. Surakarta...” Lagi-lagi aku tersenyum lalu membuang pandanganku darinya.
            “Hani, aku datang kesini bukan untuk memperdebatkan masalah itu lagi. Please,” Ucapan Alan terdengar menggantung. “Aku kangen banget sama kamu, Han. Udah hampir sebulan kita nggak ketemu, masa giliran ketemu kayak gini harus ngebahas masalah nggak penting itu, Sayang.”
            “Masalah nggak penting kamu bilang? Ini justru lebih penting dari segala sesuatu yang kamu anggap paling penting, Lan.”
            Tiba-tiba ponsel Alan berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
            “Halo...” Suara Alan terdengar begitu lembut. Aku sudah bisa menebak siapa orang di seberang sana yang meneleponnya hampir tengah malam seperti ini. “Iya, Sayang, nggak apa-apa. Happy anniversary juga ya. Udah kok, kamu udah makan belum? Jangan telat-telat lagi dong makannya, kamu itu baru sembuh loh, Shabina. Iya, aku lagi di rumah kok. Ya udah, istirahat deh kamu. Love you...” Sambungan telepon terputus, Alan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana dan beralih menatapku yang kini duduk tepat di depan api unggun. Aku tahu ia memperhatikan gerak-gerikku yang menjauh sesaat setelah ia mengangkat telepon tadi.
            Langkah kaki Alan terdengar mendekat. Ia memelukku dari belakang namun kali ini entah kekuatan dari dalam hatiku yang mana yang bisa membuatku menolak pelukan itu. Aku tahu ia sedikit terkejut. Alan lalu duduk bersisian denganku, tepat di sampingku.
            “Aku sayang kamu, Hani.” Suara lembut yang sebelumnya kudengar menyapa seseorang lewat sambungan telepon itu kini mengalun indah dalam telingaku.
            “Tapi kamu juga sayang dia, Lan. Dan aku nggak tahu harus sampai kapan semua kebohongan ini bakal berlanjut.”
            Alan mendekatkan jarak di antara kami lalu mengulurkan tangannya ke wajahku. Sebelum aku sempat berkata apa-apa, ia menyampirkan poniku yang sudah agak panjang ke balik telinga. “Terkadang lebih baik menjadi yang kedua tapi selalu diutamakan daripada menjadi yang pertama tapi selalu diduakan.” Belaian lembutnya terasa hangat di kepalaku.
             Aku menghela napas. Memikirkan setiap kata demi kata yang baru saja keluar dari mulut Alan. Kebiasaan buruknya adalah selalu menganggap sepele masalah hati. Terkadang berada dalam keadaan seperti ini membuatku merasa seperti wanita murahan, mencintai seseorang yang mencintaiku namun ia juga mencintai wanita lain. Aku juga seorang wanita, harusnya aku bisa berpikir bagaimana jika aku berada dalam posisi Shabina, wanita yang telah delapan bulan menjadi kekasih Alan, kekasih yang sebenarnya. Bukan seperti aku yang hanya bisa menjadi kekasih gelap baginya, hanya bisa bersembunyi di balik semua topengku, hanya bisa merasakan kehangatan pelukan Alan setelah ia memeluk Shabina. Betapa sakitnya menjadi diri Shabina jika kelak ia mengetahui yang sebenarnya tentang aku dan Alan, namun betapa sakitnya pula menjadi diriku sendiri yang harus terus-menerus bersembunyi dan baru bisa muncul setelah Alan memintaku keluar. Aku mungkin bisa merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Shabina. Kasih sayang Alan, perhatian dan pengertiannya, tatapan lembut, pelukan hangat, suara merdunya, namun aku tentu saja tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti apa yang dirasakan Shabina ketika orang-orang mengenalnya sebagai kekasih Alan. Perbedaan kecil, memang terkesan sangat kecil, namun memiliki makna yang tidak sederhana.
            “Biarkan aku berpikir sejenak, Han. Biarkan aku memikirkan pilihan terbaik untuk kita, bukanya hidup ini penuh dengan pilihan?”
            “Hidup memang penuh dengan pilihan tapi bukan berarti kamu bisa menjadikan aku dan Shabina sebagai pilihan.” Aku berusaha mengeluarkan kata-kata sesakartis mungkin kepadanya, berharap ia mengerti.
            “Waw, it hurts, Sayang.” Alan tertawa kecil menanggapi ucapanku. Sudah kubilang, ia adalah tipikal orang yang selalu menganggap sepele masalah hati. Dan entah mengapa aku bisa membiarkannya mempermainkan hatiku, hati kecilku yang seharusnya kujaga dan kuberikan pada orang yang tepat, orang yang benar-benar bisa melindunginya.
            “Mau sampai kapan sih kamu menganggap enteng semua ini, Lan? Apa kamu nggak pernah bayangin gimana hancurnya Shabina kalau sampai dia tahu tentang kita? Apa kamu nggak pernah mikirin gimana sakitnya aku kalau tiba saatnya nanti aku benar-benar harus melepas kamu buat Shabina?” Emosiku memuncak dan kembali menghadirkan air mata yang sejak lama kutahan agar tidak muncul di hadapan Alan. “Aku sayang kamu, Shabina sayang kamu, kamu sayang aku dan Shabina. Ini semua nggak masuk akal. Kita nggak bisa lama-lama bertahan dalam keadaan kayak gini.”
            Alan menghapus jarak di antara kami. Membawaku yang mulai terisak ke dalam pelukan hangatnya. “Aku sama sekali nggak pernah menjadikan kamu atau Shabina sebagai pilihan, Hani. Yang harus aku pilih bukan kalian tapi jalan hidupku. Maafin aku udah bawa kamu dalam situasi kayak gini. Kamu kenal aku udah lama, percaya sama aku, aku nggak pernah berniat mempermainkan kamu atau pun  Shabina. Kita hanya udah terlanjur salah mengambil langkah sampai sejauh ini.” Alan membenamkan wajahnya di rambutku.
            Aku memang bisa merasakan pelukan Alan yang begitu tulus tapi semua ini belum mampu menghapus kekhawatiran yang selama ini kupendam. Ia sudah terlanjur masuk dalam hidupku, begitu juga aku yang sudah terlanjur berada dalam dunianya.
            “Alan, aku belajar untuk nggak mendapatkan apa yang aku mau sekarang. Karena aku mau menunggu sampai apa yang aku inginkan itu benar-benar menjadi yang terbaik bagiku.” Aku melepaskan pelukan Alan.
            “Kamu pasti akan mendapatkan apa yang terbaik buat kamu, my little angle. Aku yakin itu.” Alan kembali memberikan senyum terindah yang ia punya di hadapanku. Selalu saja ia berhasil meredam amarahku yang kian memuncak, sayangnya ia belum cukup mampu membunuh semua perasaan cemas dan takut akan kehilangan yang juga terikat dalam hatiku. Alan, seandainya aku bisa membaca pikiranmu, mungkin sekarang aku tahu harus lanjut atau berhenti mencintaimu.

No comments: