December 31, 2013

Yang Kedua, Tanpamu

            Aku duduk di sudut Champ de Mars memandangi kerumunan orang yang sedang berkumpul tepat di depan Menara Eiffel. Wajah-wajah itu terlihat begitu bahagia tanpa ada seraut duka pun di sana, teriakan dan tawa mereka begitu terdengar meski pun aku berada jauh dari mereka. Bagaimana mungkin aku merasa asing di tengah para sahabat dan keluargaku sendiri? Bagaimana mungkin aku bisa merasakan dinginnya kesepian di tengah kehangatan canda tawa mereka? Entahlah, namun kenyataannya disinilah aku sekarang, Paris... dan sendirian.
            Sebuah kebetulan yang sangat kebetulan aku bertemu mereka disini, Champ de Mars, Paris. Jauh sebelum malam ini tiba, aku sudah berencana akan menghabiskan malam ini seorang diri, bukan berarti dalam keadaan yang benar-benar tanpa orang lain, namun aku ingin melewati malam ini tanpa orang-orang yang kukenal... dan kusayang. Aku tidak mengerti apa yang salah pada diriku. Aku begitu menyenangi kesendirian. Aku senang menikmati indahnya kesunyian dalam ramainya rintik hujan, aku senang membenamkan diriku bersama deburan ombak, aku senang duduk berjam-jam di puncak sebuah gedung hanya untuk menikmati keramaian yang berlalu-lalang di bawahnya. Kesendirian, kekosongan, kehampaan, mereka begitu nyata dan indah. Dan malam ini adalah malam yang kesekian kalinya terasa begitu indah kulewati sendirian. Jika tepat satu tahun lalu aku sangat membenci kesendirian, saat ini aku justru begitu mencintai bahkan selalu mencari keberadaannya. Waktu berlalu begitu cepat, semua peristiwa terjadi dengan sangat singkat. Tepat satu tahun yang lalu, aku masih mengayunkan langkahku di atas hamparan pasir putih pantai Kuta, memegang buku sketsa kesayanganku dan menikmati kebahagiaan orang-orang dalam suasana malam tahun baru. Lantas, satu tahun kemudian atau tepatnya malam ini, aku juga masih bisa menikmati kebahagiaan mereka menghabiskan malam pergantian tahun ini, terlebih lagi mereka adalah orang-orang yang sangat kukenal, orang-orang yang selalu ada dalam tiga ratus enam puluh lima hari terakhir yang kulewati dalam kehampaan. Kehampaan itu bernama... tanpamu.
            Kenangan itu masih setia menempel di setiap sudut otakku, seakan membekukan kinerja hati. Aku berharap semua yang telah kualami hanyalah mimpi, semuanya, segala macam peristiwa yang aku lewati semenjak tak ada lagi kamu dalam duniaku, berpuluh bahkan beratus orang-orang baru yang kutemui, hingga orang-orang terdekat yang selalu menemani hari-hariku dalam masa-masa yang begitu sulit ini. Aku berharap akan ada seseorang yang dengan sukarela membangunkanku atau menampar wajahku dengan sangat keras hingga aku tersadar. Sungguh... aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang kelihatannya tak pernah lelah untuk mengejarku. Sekali lagi, aku masih sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak pernah ingin kuingat. Aku semakin mengerti tak semua yang baru menjamin kebahagiaan dan tidak pula semua masa lalu menghasilkan air mata. Aku begitu yakin pada hal itu, sampai pada akhirnya aku tahu rasanya perpisahan. Aku tahu rasanya melepaskan diri dari segala hal yang sebenarnya tak ingin kutinggalkan. Aku semakin mengerti, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab, sebab jatuhnya air mataku ditengah-tengah malam yang begitu dingin.
            Mereka menghampiriku, memelukku dengan sangat hangat namun belum mampu mengalahkan dinginnya suasana Champ de Mars saat ini. Aku mengencangkan syal di leherku lalu memasukkan tangan yang telah tertutup sarung tangan ke dalam saku jaket. Menyapa orang-orang dengan sangat ramah dan hangat mungkin adalah dosa terbesarku karena itu adalah sebuah kepura-puraan dan aku selalu melakukannya pada setiap orang yang kutemui. Aku tidak ingin ada satu orang pun yang tahu tentang apa yang kurasakan, hanya Tuhan, iya, hanya Tuhan. Mereka lalu pamit meninggalkanku yang lagi-lagi... terlihat sendirian. Tidak, sebenarnya bukan mereka yang meninggalkanku namun aku yang menolak ajakan mereka untuk bergabung. Aku tidak ingin merusak malam tahun baru mereka.
            Aku berjalan mendekati kerumunan orang-orang di tengah Champ de Mars, memperhatikan sepasang muda-mudi yang sedang berciuman. Aku tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala. Ini Paris, pikirku, pemandangan semacam itu adalah hal biasa yang akan kulihat disini. Tiba-tiba saja pikiranku melayang pada kejadian beberapa waktu silam...
***
            “Happy birthday, Fa... Semoga di usia kamu yang udah sampai level 16 ini, kamu bisa lebih baik lagi ya, sayang, kedepannya.” Mirza memberikan tiga buah kotak sekaligus dengan ukuran yang berbeda dan sudah dibungkus kertas kado juga pita kupu-kupu yang melekat di atasnya.
            “Ya ampun, Za, banyak banget harusnya kamu tuh...” Aku tidak dapat melanjutkan kata-kata dan langsung memeluk Mirza. Rasa haru dan bahagia menyelimuti perasaanku. “Harusnya kamu nggak usah repot-repot buat nyiapin semua ini, sayang. Kamu ada nemenin aku malam ini aja aku udah seneng banget. Eh, tunggu dulu, tadi kamu bilang umur aku level 16? Selalu deh kamu ah bawa-bawa ke game mulu.” Aku memasang wajah cemberut namun tidak mengurangi raut bahagia disana. Tanpa sadar tetesan air mata telah mengalir di pipiku.
            Mirza tertawa kecil lalu mengusap air mataku. “Udah ah jangan cengeng, udah gede loh. Yah anggap aja ini kado ulang tahun kamu yang akan datang kalo ngerayainnya tanpa aku.”
            “Tanpa kamu? Maksudnya? Kamu mau ninggalin aku?” Aku menatap jauh ke dalam kedua mata indah di depanku saat ini.
            “Nggak, bukan gitu, sayang. Maksud aku, kalo di ulang tahun kamu yang akan datang kamu nggak bisa ngerayainnya bareng aku entah karena aku sakit, karena aku lagi nggak di Bandung atau aku lagi ada sesuatu yang nggak bisa ditinggalin, setidaknya aku udah ngasih sesuatu yang selalu bisa ngingetin kamu ke aku.”
            Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Mirza. Dan sesaat kemudian, bibir kami pun saling bersentuhan. Tidak peduli pada apa yang akan terjadi selanjutnya, tidak peduli bagaimana dan dengan siapa aku merayakan ulang tahunku berikutnya, yang kuinginkan sekarang hanyalah kebersamaan ini sebagai hadiah ulang tahunku.
***
            Aku tersadar dari lamunan itu ketika seseorang menabrakku dari belakang. Aku menoleh, lalu terdiam menatap pria yang sedang sibuk membersihkan jaketnya dari salju. Wajahnya tidak asing dalam ingatanku.
            Je suis désolé. Je n'ai pas intentionnellement, êtes-vous d'accord?” Pria itu meminta maaf padaku dengan bahasa Perancis. Untunglah aku masih mengingat percakapan sehari-hari yang sering kuucapkan ketika aku mengikuti kursus bahasa Perancis dua tahun lalu. Namun aku mengurungkan niatku menjawab pertanyaanya dalam bahasa Perancis.
            Nggak apa-apa, Reno.” Aku tersenyum ramah padanya.
            Pria itu menatapku beberapa saat, lalu bibirnya melengkungkan sebuah senyuman penuh arti. “Arifa, hai apa kabar? Nggak nyangka bakal ketemu kamu disini.”
            “Baik, kamu sendiri gimana? Long time no see, Reno. Kamu kelihatan beda tahu nggak. Aku aja hampir nggak ngenalin kamu tadi.”
            “Oh iya? Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja. Hampir dua tahun nggak ketemu kamu masih tetap sama kayak dulu, Fa.”
            “Iya dong, emangnya mau berubah kayak gimana lagi? Jadi power rangers?” Kami berdua sama-sama tertawa.
            “By the way, kamu sama siapa disini? Liburan ya?”
            “Yap, spend time during the holiday sendirian aja. Kalo kamu?”
            Reno menunjukkan wajah tidak percayanya. “Alone? Kamu nggak salah? Jauh-jauh liburan ke Paris cuma sendiri? Aku bareng temen-temen deket aja ada beberapa orang, tuh mereka yang ngumpul disana.”
            Aku melihat ke arah Reno menunjuk. Terlihat tiga orang anak laki-laki seumuran Reno sedang berbicara. “Emang kenapa kalo aku sendiri? Nggak ada yang berani nyulik aku kok, percaya deh, makanku banyak banget.”
            Reno kembali tertawa. “Gabung yuk, ntar aku kenalin sama mereka.”
            “Hm, so sorry Reno. Kayaknya kali ini aku nggak bisa, ada yang mau aku beli dulu nanti. Mungkin a later time kita ketemu lagi ntar aku gabung deh bareng kalian, gimana?”
            “Oke, nggak masalah. Nomor telepon aku masih yang lama ya, Fa. Kalo ada apa-apa atau kalo kamu perlu bantuan, hubungi aja aku.”
            “Thanks ya...” Aku melambaikan tangan pada Reno yang segera berlalu karena salah seorang teman telah memanggilnya.
            Aku dan Reno sama-sama pernah mengikuti kursus bahasa Perancis disini. Kami bertemu dua tahun lalu, waktu itu aku dan Reno sedang liburan semester dan memutuskan mengikuti kursus bahasa Perancis selama dua minggu di Paris. Semenjak kursus itu selesai kami tidak pernah bertemu lagi karena Reno bertempat tinggal di Medan sementara aku di Bandung. Kami hanya masih sering berkomunikasi lewat telepon, e-mail ataupun jejaring sosial.
            Setelah Reno benar-benar hilang dari pandanganku, aku kembali berjalan mengitari Champ de Mars. Suasananya semakin ramai. Sejenak aku melirik jam tanganku, pukul 23.48 waktu setempat, tidak lama lagi pergantian tahun, pantas saja semakin banyak orang yang berkumpul disini.
            Udara malam ini terasa begitu dingin, tidak seperti musim dingin yang pernah aku rasakan sebelumnya, kali ini begitu terasa menusuk. Aku duduk di bangku panjang yang tidak jauh dari Menara Eiffel dan memilih tempat di tengah kerumunan orang, tidak lagi menyudut sendirian. Namun, meskipun aku dikelilingi banyak orang yang saling berbicara dengan berbagai macam logat bahasa, aku tetap saja merasakan sebuah kesunyian. Mungkin karena aku tidak memiliki teman untuk diajak bercengkerama saat ini, pikirku.
            Lagi-lagi, kesendirian ini membawa ingatanku padamu. Kamu, yang dulu kumiliki namun saat ini tidak lagi dapat kugenggam dengan jemari. Kita berpisah tanpa alasan yang jelas, tanpa hati yang saling bertanya dan menjawab. Iya, berpisah, begitu saja. Seolah semua hanyalah masalah kecil, bisa begitu mudah hilang dalam satu kedipan mata. Sangat mudah, sampai aku tak benar-benar mengerti, apakah kita memang telah berpisah? Atau dulu, sebenarnya kita tidak punya keterikatan apa-apa. Hanya saja, aku dan kamu senang mendengungkan rasa yang sama, cinta yang dulu kita agung-agungkan begitu manis menggelitik. Lirih... hangat... mempesona... segala yang semu menggoda kita, kemudian menyatukan kita dalam rasa yang kita sebut cinta. Aku mulai berani melewati banyak hal bersamamu. Kita habiskan waktu dengan langkah yang sama, dengan denyut yang tidak jauh berbeda, begitu seirama. Sempurna. Finally, I’m happy. Bahagia? Benarkah aku dan kamu pernah bahagia? Jika iya, mengapa kita memilih perpisahan sebagai jalan? Jika bahagia adalah jawaban, mengapa begitu banyak waktu yang terlewatkan begitu saja tanpa kita yang saling menyapa? Mengapa kamu ubah mimpi indah menjadi mimpi buruk yang sangat kelam? Mengapa kamu bawa aku dalam kegelapan jika ternyata ada cahaya yang menanti kita? Mengapa harus kamu ciptakan luka, jika selama ini kamu merasa kita telah sampai di puncak bahagia?
            Kegelisahanku meningkat  ketika aku memikirkanmu. Aku menarik napas dalam-dalam, memejamkan mataku dan tanpa dapat kucegah, air mata kembali membasahi pipiku. Terlalu banyak hal yang mengingatkanku padamu, mendengar lagu-lagu yang dulu sering kita nyanyikan bersama, memandangi sketsa wajah yang pernah kamu berikan di hari ulang tahunku yang ke enam belas, memainkan pasir waktu yang bertuliskan nama kita hingga mengenakan liontin ungu yang sampai saat ini masih menggantung di leherku. Kamu memberikannya bersamaan di ulang tahunku yang ke enam belas, tanpa aku sadari mungkin itulah sebabnya mengapa kamu memberikan ketiga kotak kado itu secara bersamaan. Kotak berukuran paling besar berisi bingkaian sketsa wajah kita, kotak berukuran sedang berisi mainan pasir waktu yang bertuliskan nama kita dan kotak terakhir yang berukuran paling kecil berisi sebuah liontin berwarna ungu. Aku mengerti, hari itu adalah ulang tahun terakhir yang aku rayakan bersama kamu, ulang tahun terakhir... Aku mampu mencerna perkataan terakhirmu ketika kita telah jauh berpisah. Kamu pernah bilang, mungkin saja suatu saat nanti aku merayakan ulang tahunku tanpamu, entah karena kamu sakit atau kamu tidak sedang berada di satu wilayah denganku atau... ada sesuatu yang benar-benar tidak dapat kamu tinggalkan. Dan sekarang aku mengerti, sesuatu yang tidak dapat kamu tinggakan adalah, dia. Penggantiku.

No comments: