Tentang Kita

Jadi, apakah persahabatan memang merupakan hal yang nyata? Apakah ia memang benar-benar terjadi pada kedua orang yang berlawanan jenis? Aku masih belum bisa mempercayai hal itu, entah sampai kapan, entahlah. Hai, pria dengan senyum asimetris yang sering kucuri keindahannya dengan menatapmu diam-diam, hari ini tanggal 16 Desember, tanggal 16 yang keempat puluh dua. Kamu tahu, sama seperti tanggal 16 sebelumnya, aku selalu melakukan perayaan kecil, iya, sesuatu yang sangat sederhana untuk hal yang begitu istimewa. Boleh aku sedikit bercerita? Malam ini aku baru selesai membaca sebuah novel bertemakan persahabatan. Antara percaya atau tidak, aku memang masih ragu. Pikiranku meracau entah kemana, hatiku begitu terenyuh. Sosok Nata dan Niki dalam novel itu terasa begitu nyata bagiku, meskipun aku sama sekali tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Oh iya, satu hal, aku pernah merasakan keberuntungan dan keceriaan yang dirasakan oleh Niki ketika memiliki sahabat seperti Nata, layaknya aku yang pernah memiliki sahabat sepertimu. Dan aku juga pernah merasakan kepedihan luar biasa seperti apa yang dirasakan Niki ketika harus melepas kepergian Nata selama hampir lima tahun lamanya demi mengejar sebuah mimpi. Za, kamu tahu, Niki mampu merelakan perasaannya terhalang oleh jarak karena ia masih memiliki kesempatan untuk kembali memiliki Nata seutuhnya, lantas bagaimana denganku? Aku mengerti, takdir yang telah digariskan Tuhan dalam hidup kita terkadang tidak semudah alur yang disusun oleh para penulis dalam novelnya, tidak semudah alunan melodi bersama bait-bait yang sering diciptakan pemiliknya ketika ia tak memiliki cara lain dalam mengungkapkan perasaannya, atau bahkan tidak semudah adegan dalam sinetron stripping atau FTV yang selalu berakhir dengan indah. Hidup butuh perjuangan, Za, memperjuangkan kebahagiaan bagi kita, bagi orang-orang di sekitar kita, memperjuangkan kebahagiaan bagi mereka yang kita sayangi, memperjuangkan impian hingga memperjuangkan perasaan, iya, memperjuangkan orang yang kita sayangi. Tapi, ketika perjuangan yang kita lakukan juga tak kunjung berhasil, apa masih pantas kita terus memperjuangkannya? Sama seperti aku yang kini masih sangat tidak mengerti, unuk lanjut memperjuangkan perasaanku padamu atau menutup segala kemunginan yang bisa saja terjadi.
Entah mengapa, semenjak kepergianmu yang serba mendadak itu, aku begitu mudah terhanyut dalam hal-hal sendu. Bukan karena hatiku yang begitu lemah, justru karena aku dapat merasakan hadirmu lewat suasana sendu itu. Sudah satu tahun berlalu semenjak hari itu, hari dimana mimpi burukku dimulai. Bukan, lebih tepatnya hari dimana lembaran baru hidupku dimulai. Mereka datang silih berganti, si A, si B, si C. Begitu mudahnya mereka masuk dalam duniaku, namun tak satupun yang mampu menggantikan kehadiranmu. Semuanya masih tetap sama, terasa hampa, kosong. Masih sama dengan hari dimana kamu memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Jika aku boleh berkata jujur, sosok Nata telah menghadirkan kembali bayanganmu dalam duniaku. Aku sedikit menyesal mengetahui kisah mereka, aku bahkan pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi mengetahui bahkan mengenal lebih dalam tentang arti sebuah persahabatan. Namun ternyata aku salah, bukankah dengan membaca kisah persahabatan itu membuat aku lebih mampu untuk mengendalikan perasaanku sendiri? Aku pernah bertanya dalam hati, untuk apa ada pertemuan jika akhirnya akan selalu berujung pada perpisahan? Mengapa ada hitam bila putih menyenangkan? Dan perlahan aku mulai mengerti, there’s always goodbye after hello. Semua orang pernah patah hati bukan? Yang harus dilakukan tentunya adalah move on. Memang benar, melupakan suatu hal yang menyakitkan adalah hal yang sangat sulit bahkan mungkin mustahil. Namun biar bagaimana pun, kita tentu harus belajar agar tidak lagi merasakan sakit ketika mengingat hal tersebut. Tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri, tidak perlu terlalu kejam pada perasaan sendiri. Just let it flows. Aku yakin semua masa sedih itu akan tergantikan oleh waktu, maupun orang baru.
Oh iya, aku hampir lupa, beberapa malam yang lalu aku juga baru selesai membaca sebuah novel yang mengisahkan tentang Fedrian dan Syiana. Seakan hidupku terefleksikan melalui alur sebuah novel, ya? Tapi tidak, aku tetaplah aku. Tuhan bagaikan seorang penulis dengan imajinasi indahnya telah menentukan apa dan bagaimana hidupku berjalan. Kepergianmu, pasti sudah ada dalam rencana Tuhan sejak dulu, bahkan jauh-jauh hari bahkan sebelum aku mengenalmu, kan? Siapa yang tahu. Bagaimana jika Dia mempertemukan kita lagi dalam sebuah keadaan yang tidak pernah kita sangka? Apakah kamu siap? Hatiku sendiri saja masih memekik, takut akan hal itu benar-benar terjadi. Jadi, kembali pada kisah antara Fedrian dan Syiana. Lewat mereka aku belajar, bahwa jodoh tak selamanya harus kita dapatkan semasa sekolah. Masih banyak perjalanan dalam waktu yang panjang yang harus kita selami sebelum benar-benar bertemu dengan seorang penjaga hati. Masih banyak tempat yang harus kita kunjungi, masih banyak orang-orang yang harus kita kenal lebih dalam sebelum akhirnya kita tahu pada siapa harus berlabuh setelah sekian banyak pelajaran berharga yang kita dapat dalam hidup.
Za, kamu tahu, aku masih merasa asing dengan apa yang mereka sebut sahabat. Ntahlah, aku benar-benar tidak mengerti. Aku pernah merasakan betapa indahnya sebuah persahabatan yang murni dilandasi rasa saling percaya, kejujuran, kesetiaan. Tapi, semua berubah menjadi kelam ketika perasaan yang tidak seharusnya datang malah menghancurkan persahabatan itu sendiri. Mungkinkah jika dulu kita tidak saling merasakannya, kita masih tetap bisa menjadi sepasang sahabat hingga saat ini? Kamu, pria kelahiran 30 Januari itu, you know, I’ve missed you. Always.

Comments