Promise

            Aku memandangi jam yang melingkar di pergelangan tangan untuk kesekian kalinya, pukul 4.30, masih ada beberapa jam lagi untuk menikmati indahnya deburan ombak di penghujung 2012. Sebentar lagi pantai ini pasti akan sangat ramai dipenuhi orang-orang yang ingin menikmati matahari terbenam, apalagi akan ada pesta kembang api menjelang pergantian tahun nanti malam. Aku membuka sebuah buku sketsa yang sejak tadi ada di pangkuanku. Buku sketsa ini layaknya sahabat, ia sudah menjadi bagian dari hidupku, barang wajib yang selalu aku bawa kemana pun. Entah kenapa aku lebih suka mengabadikan peristiwa menarik dalam lembaran gambar hasil karya tanganku sendiri daripada menyimpannya dalam lembaran foto. Aku mulai menggoreskan pensil di atasnya dan tidak perlu waktu lama bagiku untuk menghasilkan sebuah gambar sketsa, gulungan ombak yang ada di hadapanku kini telah tersalin indah dalam lembaran kertas sketsa. 31 Desember 2012, aku membubuhkan tanggal di sudut atas gambar tersebut.
            “Excuse me, Miss. Would you like to get me a picture?” Seorang pria asing telah berdiri di hadapanku sambil memegang sebuah kamera. Wajar saja pikirku, ini Bali, banyak orang ingin mengabadikan keindahannya.
            “Of course.” jawabku singkat sambil tersenyum padanya. Pria itu lalu memanggil seorang wanita yang sedang menggendong bayi, tidak jauh dari tempat ia berdiri. Sebuah keluarga yang harmonis, kataku dalam hati.
            “Thank  you very much.” Wanita asing yang menggendong bayi itu tersenyum ramah padaku dan mereka pun berlalu.
            Aku kembali duduk pada tempatku semula, membuka kembali buku sketsa itu, membalikkan lembaran sketsanya satu per satu lalu berhenti pada sebuah gambar yang sontak membuat jantungku berdegup begitu kencang. Aku berusaha memutar kembali ingatanku menuju tanggal yang tertera pada sketsa itu, 9 Januari 2010. David... It’s been so long since we split up and decided to go in our own way.
***
         “Arina, happy third anniversary, Sayang. Tiga tahun bukan waktu yang singkat buat perjalanan kita tapi kita berhasil buktiin ke orang-orang kalau kita bisa bertahan, meski pun dalam perbedaan.” David mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. “Kita udah saling dewasa, menurutku waktu tiga tahun itu juga udah cukup jadi bukti kalau aku serius sama kamu.”
            Aku tidak pernah menyangka ia akan mengucapkan kata-kata sederhana namun terdengar begitu indah itu di telingaku. Mataku mulai berkaca-kaca menahan rasa haru yang kini meliputi. David memakaikan sebuah cincin di jari manisku. Sejenak, aku membiarkan rasa bahagia ini menghanyutkanku dan tidak ingin menghancurkan setiap detik kebahagiaan yang juga dirasakan David, meskipun kami tahu bahwa ini hanyalah sebuah kebahagiaan semu.
***
            “Hai, maaf ya aku terlambat, tadi ad...”
            “Iya nggak apa-apa, aku juga baru datang kok.” Aku sengaja memotong ucapan David karena tidak ingin berlama-lama menyelesaikan semua ini.
            “Aku nggak bisa tidur semalaman.” David kembali membuka pembicaraan.
            “Aku juga.” Jawabku singkat.
            “Arina, kamu marah?”
            “Nggak kok.” Aku berusaha memberikan senyum terindah untuknya sebelum semua ini benar-benar berakhir.
            “Kamu nyesal?” David kembali bertanya. Suaranya terdengar begitu khawatir.
            “Nyesal? Buat apa? David, I don’t angry with you, I never regret three years we've spent together. I just have not willing to release you.” Tiba-tiba seluruh emosiku memuncak dan tangis ini pun  tidak dapat lagi tertahan.
            David memelukku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku tidak pernah merasakan pelukannya sehangat ini. Ia terlihat begitu sabar menghadapi kenyataan pahit yang harus kami ambil sebelum semuanya terjalin terlalu jauh. Norma dalam pandangan masyarakat tidak pernah bisa mengerti bagaimana cinta tercipta meskipun dalam keyakinan yang berbeda. Bukankah pertemuan terjadi atas izin Tuhan? Dan bukankah cinta hadir juga karena takdir yang telah digariskan Tuhan? Betapa indahnya pertemuanku dengan David yang dahulu tidak terlalu memandang atribut sosial kehidupan manusia yang disebut “agama”.
            “Arina, kita udah saling dewasa, aku yakin kita bisa saling ngerti, nggak mungkin kan kita bersatu dalam keyakinan yang beda? Bukannya kita udah berhasil buktiin sama mereka yang menganggap remeh hubungan kita? Kita bisa bertahan sejauh ini tanpa mempermasalahkan perbedaan yang ada, itu udah sesuatu yang luar biasa bagi aku. Tuhan memang satu, tapi kita yang nggak sama. Benteng yang menghalangi kita terlalu tinggi dan sulit untuk kita gapai, Na.” David masih berusaha menenangkanku.
            “Kenapa Tuhan mempertemukan kita dalam perbedaan, David? Dia menakdirkan kita untuk saling cinta, tapi kenapa Dia nggak menakdirkan kita buat bersatu?”
            “Sst...” David mendekatkan telunjuknya ke bibirku. “Kamu nggak boleh nyalahin Tuhan, Dia udah cukup baik bahkan sangat baik mempertemukan kita berdua, mempertemukan aku sama cewek secantik kamu, sebaik kamu, sepintar kamu, sehebat kamu.”
            Sejenak suasana berubah hening. Kami terdiam, hanya mampu menikmati merdunya suara gulungan ombak yang pecah ketika menyentuh pasir. Dalam kebahagiaan kadang terselip tangisan, namun terlalu menyakitkan bagiku jika tangisan itu ada karena sebuah perbedaan. Bukankah beda belum tentu buruk? Bukankah beda tidak berarti salah? Manusia selalu takut dengan perbedaan, mereka selalu merasa nyaman dengan apa yang terlihat sama di mata mereka, tapi tidak untukku. Bukankah dengan perbedaan aku dan David bisa saling melengkapi? Kenapa perbedaan selalu dijadikan sesuatu untuk disalahkan, dicela, dihakimi?
            Aku melepaskan pelukan David dan berusaha menghapus air mataku, aku ingin terlihat tegar di hadapannya. Aku tidak ingin pertahanan hatinya runtuh melihatku yang terus menyesali hal ini, aku tahu ia juga begitu hancur, aku tahu ia kini sangat rapuh. David berusaha menutupi semua itu tapi aku tetap bisa merasakannya.
            “David, aku masih belum bisa ngerti rencana Tuhan. Di saat-saat kayak gini, air mata memang sia-sia. Yang kita butuhin cuma kedewasaan. Dulu, di awal pertemuan kita, semua terasa manis walau pun juga begitu asing. Rasa nyaman yang kita nikmati berubah jadi perasaan takut kehilangan. Tasbih yang ada di tanganku dan kalung salib yang melingkar di leher kamu, perbedaan itu bahkan nggak pernah bisa menghapus perasaan kita.”
            “Kita memang memanggil Tuhan dalam sebutan yang berbeda, Arina, tapi aku nggak pernah nyesal pernah mencintai kamu meskipun kita dibatasi perbedaan. Kamu ingat kan, tiga tahun yang lalu, kita udah mikirin semua konsekuensi yang harus kita hadapi jauh sebelum kita mengucapkan janji itu.”
            “Sebesar apapun perbedaan yang menghalangi kita, aku bakal selalu mencintai kamu layaknya pasangan dalam satu keyakinan. Kita jalani apa yang ada di hadapan kita sekarang, sampai nanti tiba saatnya setelah kita berhasil buktiin ke orang-orang seberapa dalam perasaan kita, aku yakin kita bakal bisa melepas satu sama lain.” Aku mengucapkan kembali kalimat sederhana penuh makna yang pernah kuucapkan pada David tiga tahun silam.
            “Arina, kamu harus janji bakal lebih bahagia tanpa aku, bakal nemuin pria yang lebih dari aku, yang nantinya bakal jadi masa depan kamu.” Suara David terdengar begitu lembut mengalun dalam telingaku.
            “I promise, David.”
            Suara deburan ombak seakan menghibur keheningan di antara hati kami. Aku tidak lagi mampu menahan bendungan air mata yang ada di balik pelupuk mataku. Tangisku kembali pecah dalam pelukan David. Pertemuan kami adalah rencana Tuhan yang tidak pernah kami ketahui sebelumnya, namun dunia seakan menjebak kami untuk kembali mengingkari takdir Tuhan ini. Bukankah setiap pertemuan pasti berakhir dengan perpisahan? Tapi kenapa harus secepat ini perpisahan yang menanti kami? Tiga tahun, rasanya belum cukup bagiku untuk mengenal seorang pria yang sangat istimewa bernama David Hendratama.

***

            Lima belas menit lagi menuju pergantian tahun, orang-orang mulai berkumpul di pinggir pantai sambil menyalakan kembang api di tangan mereka masing-masing. Aku hanya berjalan di balik kerumunan turis-turis asing itu mencari tempat yang nyaman untuk melihat mereka merayakan tahun baru. Ya, ini bukan tahun baru untukku, ini tahun baru mereka, ini tahun baru untuk David, karena tahun baru yang aku rayakan adalah tahun baru Hijriah, 1 Muharram, pikirku dalam hati. Aku sedikit tertawa geli memikirkan hal itu, lagi-lagi perbedaan yang menghalangi.

             “Three, two, one, happy new year...”

            Terdengar tembakan kembang api yang mulai dilayangkan ke udara. Semua orang tampak begitu bahagia dalam perayaan menyambut tahun baru kali ini. Mereka meniup terompet saling bersahutan. Aku hanya membalasnya dengan seyuman setiap kali salah seorang dari mereka mengucapkan happy new year kepadaku. Terlihat seorang turis bersama istri dan bayinya yang tadi sore memintaku untuk mengambilkan foto mereka. Aku mengedarkan pandangan pada orang-orang yang sibuk bersorak di sekitarku, namun terhenti pada sebuah sosok yang begitu mencuri perhatianku. Seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah kental campuran Indonesia-Perancis. Aku memperhatikannya lekat-lekat. Ia berdiri bersama seorang wanita asing, mereka terlihat begitu serasi. Tidak salah lagi, ia adalah pria yang wajahnya tergambar begitu indah dalam buku sketsaku, sketsa bertanggal 9 Januari 2010. David, it’s not as easy as it seems, there is a situation where you and I had to go away and forget each other.   to be continued to Promise Part 2

Comments