December 9, 2013

Pemuja Rahasia

            “Lo kenapa? Aneh banget ngeliatin gue kayak gitu?”Untuk kesekian kalinya aku berhasil memergoki Kevin yang sedang memperhatikanku diam-diam.
            “Eh, nggak kok nggak apa-apa. Lo... lo keliatan beda aja malam ini.” Senyum Kevin kembali menyeringai santai, meski pun aku tahu dia menjawab pertanyaanku dengan sangat gugup.
            “Dasar jomblo! Hahaha...” Aku tertawa geli melihat ekspresi wajah Kevin yang melongo mendengarku mengucapkan ejekan itu di tengah keramaian. Namun seperti biasa, Kevin begitu sabar menghadapi berbagai kejailanku, ia bahkan tidak pernah marah walau pun aku terus menjadikannya “sasaran”.
            “Yuk, Vin, kita langsung ngantri aja. Udah mulai ramai orang nih. Eh, pokoknya gue nggak mau pulang ya sebelum denger Duta nyanyi lagu Pemuja Rahasia, gue pengen liat langsung pokoknya, titik. Jadi elo janji ya nungguin gue sampai acaranya selesai, oke? ”
            “Ah, gila lo ya, Nad. Emangnya tuh lagu udah pasti bakal dinyanyiin Duta cs? Terus kalo mereka nggak nyiapain tuh lagu buat dibawain ntar gimana? Elo mau tidur disini? Nungguin sampai tua? Nungguin sampai Sheila On 7 konser disini lagi terus bawain lagu itu? Ntar kalo lo jadi jomblo lumutan gimana? Karatan gitu?”
            “Ah, resek lo. Bodo, ah! Gue nggak mau tahu.”
            Aku menarik tangan Kevin melewati kerumunan orang-orang yang mulai memadati pelataran gedung Jakarta Convention Centre malam ini. Tangannya benar-benar dingin, ntah apa yang terjadi pada Kevin. Ia menggenggam tanganku begitu erat, sangat erat, bagaikan seorang anak kecil yang takut kehilangan ibunya di tengah keramaian. Dan aku pun benar-benar tak mengerti rasa aneh apa yang menyergapku kini, bukannya merasa risih dengan sikap Kevin, aku justru merasa begitu nyaman bisa terus berada di dekatnya. Perasaan Kevin mungkin tidak sepeka perasaanku, ia bahkan tidak mampu merasakan tatapan yang kulayangkan pada gerak-geriknya sejak perjalanan kami menuju JCC tadi sore. Kevin bukanlah anak manja yang takut mengotori kulitnya dengan debu di jalanan kota Jakarta, ia lebih memilih menjemputku dengan sepeda motor kesayangannya daripada harus mengendarai mobil yang justru bisa saja membawa kami terperangkap dalam kemacetan, apalagi ini malam minggu, pikirku. Aku kembali melakukan analisis parameter terhadap Kevin. Analisis parameter? Aku tertawa dalam hati membayangkannya, kata-kata yang baru pertama kali aku kenal ketika membaca sebuah novel tentang penculikan itu. Kevin bagaikan malaikat yang selalu siap menjagaku dari desakan keramaian ini. Bagaimana tidak? Postur tubuh Kevin yang lebih tinggi dariku membuatnya dengan mudah melindungiku dari kerumunan orang-orang yang juga ingin berebut masuk untuk segera menyaksikan aksi panggung band kesayanganku itu, Sheila On 7, yang tentu saja telah siap menggetarkan hati seluruh penonton.
            “Vin, si Rere apa kabarnya? Udah lama gue nggak denger lo cerita soal dia.”
            “Nggak ada topik lain buat diomongin ya, Nad? Males gue bahas dia.” Jawab Kevin ketus.
            “Dih, dasar jomblo! Kalo udah ngomongi mantan, sewot mulu.”
            “Hahaha... siapa yang sewot? Gr banget lo. Eh, sorry ya, gue single loh not jomblo, oke?”
            “Iya, iya, lo single. Single akut.” Tawaku kembali lepas di depan Kevin. Kami memang berteman cukup dekat, bahkan menjadi begitu akrab semenjak Kevin memutuskan hubungannya dengan Rere. Hanya saja, mungkin aku salah mengartikan sikap Kevin belakangan ini. Ia bukan hanya akrab denganku, namun juga wanita lain, misalnya dengan teman-teman sekelas atau pun adik-adik kelas kami. Ya, kembali lagi ke awal, aku dan Kevin hanya berteman. Kami memang pernah menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman atau sahabat, sebagai sepasang kekasih, namun hal itu hanya berjalan beberapa bulan. Tampaknya kami masih belum bisa mengendalikan ego masing-masing, hingga akhirnya harus berujung perpisahan, hampir satu tahun yang lalu.
***
            Aku berdecak kagum melihat panggung yang kini telah ada di hadapanku. Semua diatur sedemikian rupa, sederhana namun begitu klasik. Gedung JCC mulai terlihat dipenuhi para penonton. Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, tepat pukul 8.
            “It’s time!” Teriakan Kevin mengagetkanku dilanjutkan dengan sorakan dan tepukan tangan para penonton.
            Kemunculan Akhdiyat Duta Modjo, Brian Kresna Putro, Eross Candra dan Adam Muhammad Subarkah membuat gedung JCC begitu riuh dipenuhi teriakan penonton. Lagu Bila Kau Tak Di Sampingku sebagai lagu pembuka berhasil menaikkan kembali semangat para penonton yang tadinya sempat bosan menunggu acara dimulai. Aku terlarut dalam kemeriahan penonton yang menyanyikan lagu tersebut. Kami berdiri mengikuti alunan musik...
            Takkan ku biarkan kau menangis
            Takkan kubiarkan kau terkikis
            Terluka perasaan oleh semua ucapanku
            Maafkanlah semua sikap kasarku
            Bukan maksudku tuk melukaimu        
            Aku hanyalah orang yang penuh rasa cemburu
            Dan bila kau tak disampingku
            Seketika tubuhku terdiam, Kevin kembali memegang tanganku ketika kami berdiri namun kali ini genggamannya terasa lebih hangat dibandingkan saat kami melewati kerumunan orang-orang menuju pintu masuk tadi. Teriakan Kevin menyeringai masuk ke dalam indera pendengaranku. Apakah aku bermimpi? Kevin begitu terlihat bebas dan lepas. Setahuku, ia adalah sosok yang begitu menjaga imagenya di depan keramaian, apalagi di depan wanita. Konsentrasiku terpecah, menikmati kepiawaian Duta dkk juga menikmati keindahan mahluk ciptaan Tuhan yang kini membuat jantungku bedegup begitu kencang. Kevin menatapku, menusuk tepat ke dalam kedua bola mataku, namun ia hanya tersenyum dengan terus menyanyikan lagu itu. Tuhan, aku mohon jangan hadirkan perasaan itu lagi sekarang.
            Kevin Dwi Atmaja, ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, yang semuanya adalah laki-laki. Aku cukup mengenal baik keluarganya, karena ayah Kevin dan ayahku sudah berteman sejak mereka duduk di bangku SMA, sama seperti aku dan Kevin yang kini duduk di bangku kelas XII. Jika kembali mengingat bagaimana beberapa bulan yang indah yang pernah aku lewati bersama Kevin, rasanya terlalu miris jika diakhiri dengan perpisahan seperti itu. Namun, semua telah berakhir, itu dulu, kataku meyakinkan dalam hati. Kami menjalani hari seperti biasa, layaknya teman biasa yang berada dalam kelas yang sama. Melupakan semua sakit hati yang mungkin sama-sama pernah kami rasakan. Tahun kembali berganti, aku berhasil melenyapkan perasaanku pada Kevin, hingga akhirnya aku bisa benar-benar rela melepaskannya. Sebagai teman yang berada dalam kelas yang sama, mau tidak mau, segala perkembangan Kevin pasti sampai di telingaku. Namun, aku tidak terlalu peduli terhadap hal itu. Nindy, Icha, hingga yang terakhir kali kudengar adalah Rere. Semua silih berganti. Dasar, Kevin! Belakangan, semenjak aku dan Kevin menginjakkan kaki sebagai siswa kelas XII di salah satu sekolah swasta di Jakarta, kedekatan itu kembali mengikat kami. Ntah siapa yang memulai, ntah siapa yang mengawalinya. Kami semakin akrab, hingga akhirnya pada saat ini. Aku sama sekali tidak pernah merencanakan untuk menonton konser bersama Kevin, semuanya mengalir.
            Waktu kian bergulir, kami tenggelam bersama alunan lagu yang terus dibawakan Sheila On 7.
            Ribuan hari aku munuggumu, jutaan lagu tercipta untukmu
            Apakah kau akan terus begini
            Masih adakah celah di hatimu yang masih bisa ku tuk singgahi
            Cobalah aku kapan engkau mau
            Tahukah lagu yang kau suka, tahukah bintang yang kau sapa
            Tahukah rumah yang kau tuju, itu aku...
            Lagu kedua, Itu Aku, kembali berhasil menghipnotis seluruh penonton terhanyut dalam perasaan masing-masing. Aku berusaha melupakan sejenak perasaan aneh yang kini semakin menggangguku.
            “Lo kok nggak ikut nyanyi, Nad? Bukannya lo termasuk SheilaGank.” Kevin berbicara tepat di telingaku, berusaha melawan riuhnya suara penonton.
            “Hah? Gue? Eh gue nyanyi kok, lo aja yang dengerin, abis lo asik sendiri sih.” Aku sedikit terkejut. Kevin memperhatikanku? Apa mungkin?
            “Nggak tahu kenapa, malam ini gue ngerasa free banget. Santai aja gitu bawaanya, Nad.”
            “Lo sih, biasanya kalo di depan cewek sok jaim banget.”
            Kevin hanya membalas sindiranku dengan senyum simpulnya.
            Sheila On 7 kembali membawakan hits-hits andalannya. Kita, Yang Terlewatkan, Melompat Lebih Tinggi, Sephia, Mudah Saja, Betapa, Seberapa Pantas, dan juga lagu-lagu lainnya begitu menggetarkan suasana Jakarta Convention Centre malam ini.
            Suasana kembali memuncak ketika Duta dkk menyanyikan lagu Anugerah Terindah mereka, suara Kevin yang duduk di sebelahku juga kembali terdengar.
            Melihat tawamu, mendengar senandungmu
            Terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu
            Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu
            Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah kumiliki
            Sifatmu yang selalu redakan ambisiku
            Tepikan khilafku dari bunga yang layu
            Saat kau di sisiku kembali dunia ceria
            Tegaskan bahwa kamu anugerah terindah yang pernah kumiliki
            Kevin, please jangan buat aku merasakan yang tak seharusnya aku rasakan ini. Di tengah indahnya suasana lambaian tangan para penonton, aku hanya bisa memusatkan pandanganku lagi-lagi pada mahluk indah yang kini duduk di sampingku. Mengapa harus kamu yang menghadirkan perasaan semacam ini lagi di dalam hatiku, Kevin? Apakah tak ada orang lain selain kamu? Aku tidak ingin kita kembali menyatu jika akhirnya juga kita harus kembali terpisah.
            “Nad, ternyata jadi single itu enak ya. Hahaha... pantesan aja lo betah banget ngejomblo” Kevin melirikku dengan wajah sindiran.
            “Emangnya lo mau jadi single mulu?” Tanyaku sedikit penasaran.
            “Buat sekarang mungkin iya, palingan sampai kita selesai UN deh. Gue pengen fokus dulu.” Jawabnya singkat.
            Aku terdiam. Tak lagi dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Kevin adalah seorang pria yang konsisten dengan ucapannya, jadi itu artinya untuk saat ini dia akan menutup hati untuk siapa pun, mungkin termasuk untukku. Lalu apa arti dibalik semua sikap manisnya padaku belakangan ini? Aku semakin tak mengerti, juga tak mampu mengartikannya. Saat ini, aku begitu memahami bahwa aku hanyalah seorang wanita yang mampu menikmati indahnya dari sisi gelapku. Indah senyumnya, cahaya matanya yang begitu dalam, ucapannya yang terdengar begitu lembut, caranya menatapku, Kevin, kenapa harus kamu? Terlalu bodoh rasanya aku yang terus memendam perasaan ini pada Kevin, menyembunyikan semua rasa cemburu yang aku rasakan ketika melihatnya bersikap akrab dengan wanita lain, menahan berat jutaan rindu. Mungkin, cerita ini akan berbeda jika aku memiliki sedikit saja keberanian untuk mengatakannya pada Kevin.
            Beberapa jam telah berlalu dengan cepat, lantas harus secepat inikah kebersamaanku dan Kevin? Terasa semua mengalir begitu sempurna bersama alunan lagu-lagu terbaik Sheila On 7 yang mengiringi kebersamaan kami. Dan, aku kembali antusias mendengar lagu penutup di penghujung acara, Pemuja Rahasia. Lagu yang begitu mewakili perasaanku saat ini, pada Kevin.
            “Tuh, kan, bener. Apa gue bilang, mereka pasti bakal nyanyiin lagu ini. Awesome banget tahu nggak, Vin!” Aku berteriak penuh kemenangan menikmati intro lagu Pemuja Rahasia.
            “Iya deh iya, feeling lo emang kuat banget udah mirip dukun aja. Salut gue.”
            “Kevin! Orang lagi seneng juga. Kalo mau muji ya muji aja deh, huh.”
            Kuawali hariku dengan mendoakanmu
            Agar kau selalu sehat dan bahagia disana
            Sebelum kau melupakanku lebih jauh
            Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh
            Ku tak pernah berharap kau kan merindukan
            Keberadaanku yang menyedihkan ini
            Ku hanya ingin bila kau melihatku
            Kapan pun dimana pun hatimu kan berkata seperti ini
            Pria inilah yang jatuh hati padamu
            Pria inilah yang kan selalu memujamu
            Aha, yeah, aha, yeah, begitu para rapper coba menghiburku
            Akulah orang yang selalu menaruh bunga
            Dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
            Akulah orang yang kan selalu mengawasimu
            Menikmati indahmu dari sisi gelapku
            Dan biarkan aku jadi pemujamu
            Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
            Tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang
            Aku takkan sampai hati bila menyentuhmu
            Mungkin kau takkan pernah tahu betapa mudahnya kau tuk dikagumi
            Mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau tuk dicintai
            Thanks Sheila On 7, you’re amazing! Aku dan Kevin tenggelam dalam guliran waktu bersama alunan melodi kalian.
***
            “Nad, lo nyanyiin lagu Pemuja Rahasianya menghayati banget. Emang buat siapa? Nggak pernah cerita lagi lo ya sama gue.”
            “Nggak buat siapa-siapa kok.”
            “Gue kenal lo lama, Nadya, bukan sehari dua hari. Setiap lagu yang lo suka pasti punya makna yang dalem banget, iya, kan?”
            “Nah, tuh lo tahu. Mirip dukun juga lo ya lama-lama.”
            “Nad, gue serius. Katanya temen, masa nggak mau cerita sih sama gue.”
            “Vin, iya, gue emang lagi suka sama seseorang. But sorry, gue bener-bener belum bisa cerita sama lo sekarang. Ntar deh kapan-kapan gue ceritain ke elo yah, jomblo lumutan...”
            “Orangnya bukan gue, kan?” Kevin menggenggam tanganku. Kali ini ia berhasil membuat jantungku seolah ingin berhenti untuk berdetak.
            “Hah? Elo kok? Eh, nggak kok nggak, bukan, Vin...”
            “Oh... Bukan gue ya? Ya udah deh. Pulang sekarang yuk, udah hampir jam dua belas. Udah puas, kan? Udah seneng, kan, bisa dengerin lagu Pemuja Rahasianya langsung dari Duta. Awas kebawa mimpi.”
            Kevin menggandeng erat tanganku, kami berjalan menuju pelataran parkir. Aku hanya membalas ucapan Kevin dengan senyuman, senyuman yang mungkin saja bisa menutupi semuanya. Jika Kevin benar-benar peka, ia pasti akan mengerti arti dibalik senyuman itu. Namun, aku sendiri masih juga belum mampu mengartikan sikap Kevin. Mengapa ia bertanya seperti itu? Bukankah ia mengatakan tidak ingin menbuka hati untuk siapa pun saat ini? Ya, setidaknya hingga Ujian Nasional bagi kami selesai.
            “Nih, Nad, pake jaket gue. Lo nggak bawa jaket kan?” Kevin memberikan jaketnya padaku.
            “Terus lo pake apa? Udah deh lo aja yang pake jaketnya.”
            “Gue mah cowok, Nad, gampang... Lo pake aja jaketnya, Senin masih ujian loh. Ntar lo sakit gimana? Nggak ada lagi sumber gue buat nyontek.”
            “Dih dasar lo, baik pas ada maunya aja.”
            “Becanda kali, Nad. Beneran nih nggak mau pake jaket? Ya udah kalo gitu gue nggak mau pake juga deh, biarin aja sama-sama kedinginan, biar sakitnya barengan juga.” Kevin mengeluarkan kembali senyum simpulnya. Senyum khas ala Kevin yang seringkali kucuri keindahannya dengan memandangi Kevin diam-diam. Dan, kali ini, untuk yang kesekian kalinya tingkah Kevin lagi-lagi berhasil mengeluarkan senyum dari bibirku.

untuk kamu, untuk mengenang satu tahun sebelas bulan yang dulu milik kita
selamat tanggal 9...

No comments: