December 6, 2013

Karya Ilmiah Biologi "Fraktura"




Karya Ilmiah Biologi Fraktura


disusun oleh:
Arifa Hanim
Emmi Aulia Hasibuan
Nanda Mutia Sari
Silva Dwi Kurniati
Sintia Sari Harahap
Tannia

Kelas XI IPA 4
SMA Negeri 7 Medan
Tahun Ajaran 2012/2013
 



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dalam taraf industrialisasi, hal ini tentunya mempengaruhi tingkat mobilisasi masyarakat terutama dalam penggunaan alat-alat transportasi bermotor yang juga mengakibatkan bertambahnya “kesemrawutan” arus lalu lintas. Arus lalu lintas yang tidak teratur dapat meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan kendaraan bermotor yang sering kali menyebabkan cidera tulang atau disebut fraktur.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Penanganan segera pada penderita fraktur adalah dengan melakukan salah satu metode mobilisasi fraktur yaitu fiksasi interna melalui operasi. Penanganan tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Komplikasi umumnya diakibatkan tiga faktor utama yaitu penekanan lokal, kontraksi yang berlebihan dan infeksi.
Peran perawat pada kasus fraktur meliputi sebagai pemberi asuhan keperawatan langsung kepada penderita yang mengalami fraktur, sebagai pendidik memberikan pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi, serta sebagai peneliti yaitu dimana perawat berupaya meneliti asuhan keperawatan kepada  fraktur melalui metode ilmiah.

B.     Rumusan Masalah
a.       Memahami pengertian fraktura
b.      Mengetahui jenis-jenis/klasifikasi faktura
c.       Mengetahui penyebab terjadinya fraktura
d.      Menjelaskan proses penyembuhan tulang
e.       Merincikan konsep dasar penanganan faktura

C.    Tujuan
a.       Untuk memahami pengertian fraktura
b.      Untuk mengetahui jenis-jenis faktur
c.       Untuk mengetahui penyebab terjadinya fraktur
d.      Untuk menjelaskan proses penyembuhan tulang
e.       Untuk merincikan konsep dasar penanganan fraktur
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Fraktura
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer S.C & Bare B.G, 2001) atau setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves C.J, Roux G & Lockhart R, 2001).
            Fraktur adalah masalah yang akhir-akhir ini sangat banyak menyita perhatian masyarakat, pada arus mudik dan arus balik banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang sebagian korbannya mengalami fraktur. Banyak pula kejadian alam yang tidak terduga yang banyak menyebabkan fraktur. Sering kali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang tersedia contohnya ada seorang yang mengalami fraktur, tetapi karena kurangnya informasi untuk menanganinya hanya pergi ke dukun pijat, mungkin karena gejalanya mirip dengan orang yang terkilir.
            Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau kecelakaan (Smeltzer S.C & Bare B.G, 2001).  Namun banyak para ahli berpendapat, fraktur juga cenderung terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon.
2.2. Jenis fraktur
Pengklasifikasian jenis-jenis fraktur secara umum:
  1. Complete fraktur (fraktur lengkap), patah pada seluruh garis tengah tulang, luas dan melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
  2. Closed frakture (simple fracture), tidak menyebabkan robeknya kulit, integritas kulit masih utuh.
  3. Open fracture (compound frakture), fraktur dengan luka pada kulit (integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
Fraktur terbuka digradasi menjadi:
    • Grade I: luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm.
    • Grade II: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.
    • Grade III: sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.
  1. Greenstick, fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok.
  2. Transversal, fraktur sepanjang garis tengah tulang.
  3. Oblik, fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang.
  4. Spiral, fraktur memuntir seputar batang tulang.
  5. Komunitif, fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
  6. Depresi, fraktur dengan frakmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah).
  7. Kompresi, fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang).
  8. Patologik, fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, paget, metastasis tulang, tumor).
  9. Avulsi, tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlekatannya.
  10. Epifisial, fraktur melalui epifisis.
  11. Impaksi, fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

Pengklasifikasian jenis-jenis fraktur secara khusus:
*      Berdasarkan luas dan garis fraktur
1.      Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang).
2.      Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang).
*      Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah
1.      Fraktur kominit (garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan).
2.      Fraktur segmental (garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan).
3.      Fraktur multipel (garis patah lebih dari satu tapi pada tulang yang berlainan tempatnya, misalnya fraktur humerus, fraktur femur dan sebagainya).
*      Berdasarkan posisi fragmen
1.      Undisplaced (tidak bergeser)/garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser.
2.      Displaced (bergeser) / terjadi pergeseran fragmen fraktur
*      Berdasarkan hubungan fraktur dengan dunia luar
1.      Fraktur tertutup (tidak adanya perlukaan dikulit).
2.      Fraktur terbuka (adanya perlukaan dikulit).        
*      Berdasarkan bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma
1.      Garis patah melintang.
2.      Oblik / miring.
3.      Spiral / melingkari tulang.
4.      Kompresi
5.      Avulsi / trauma tarikan atau insersi otot pada insersinya. Misal pada patela.
*      Berdasarkan kedudukan tulangnya
1.      Tidak adanya dislokasi
2.      Adanya dislokasi
*      Berdasarkan mekanisme terjadinya fraktur
1.      Tipe Ekstensi: Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah dalam posisi supinasi.
2.      Tipe Fleksi:  Trauma terjadi ketika siku dalam posisi fleksi, sedang lengan dalam posisi pronasi. (Mansjoer, Arif, et al, 2000)
2.3. Penyebab Terjadinya Fraktur
Menurut Oswari E. (1993), penyebab fraktur adalah :
  1. Kekerasan langsung : Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
  2. Kekerasan tidak langsung : Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
  3. Kekerasan akibat tarikan otot : Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
Patofisiologis
            Fraktur paling sering disebabkan oleh trauma. Hantaman yang keras akibat kecelakaan yang mengenai tulang akan mengakibatkan tulang menjadi patah dan fragmen tulang tidak beraturan atau terjadi discontinuitas di tulang tersebut.
            Pada fraktur tibia dan fibula lebih sering terjadi dibanding fraktur batang tulang panjang lainnya karena periost yang melapisi tibia agak tipis, terutama pada daerah depan yang hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah dan karena berada langsung di bawah kulit maka sering ditemukan adanya fraktur terbuka.
Etiologi
  1. Cedera dan benturan seperti pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, kontraksi otot ekstrim.
  2. Letih karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti berjalan kaki terlalu jauh.
  3. Kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis pada fraktur patologis.
Manifestasi Klinis
  1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya hingga fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
  2. Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada eksremitas. Deformitas dapat diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot.
  3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
  4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
  5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera.
Komplikasi Fraktur
1.      Malunion adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring.
2.      Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
3.      Nonunion adalah patah tulang yang tidak menyambung kembali.
4.      Compartment syndroma adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang berlebihan di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu tempat.
5.      Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
6.      Fat embalism syndroma adalah tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah. Faktor resiko terjadinya emboli lemak meningkat pada usia 20-40 tahun.
7.      Tromboembolic complicastion (trombo vena dalam), sering terjadi pada individu yang imobil dalam waktu yang lama karena trauma atau ketidak mampuan lazimnya komplikasi pada perbedaan ekstremitas bawah atau trauma komplikasi paling fatal bila terjadi pada bedah ortopedi.
8.      Infeksi adalah suatu keadaan sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
9.      Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis iskemia.
10.  Refleks symphathethic dysthropy, hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf simpatik abnormal syndroma ini belum banyak dimengerti. Mungkin karena nyeri, perubahan tropik dan vasomotor instability.
2.4. Proses Penyembuhan
Pemeriksaan
Tanda dan gejala kemudian setelah bagian yang retak di imobilisasi, perawat perlu menilai pain (rasa sakit), paloor (kepucatan/perubahan warna), paralisis (kelumpuhan), parasthesia (kesemutan), dan pulselessnes (tidak ada denyut). Gunakan Rotgen sinar X Pemeriksaan CBC jika terdapat perdarahan untuk menilai banyaknya darah yang hilang.
Penatalaksanaan
Segera setelah cedera perlu untuk mengimobilisasi bagian yang cedera, apabila penderita akan dipindahkan perlu disangga bagian bawah dan atas tubuh yang mengalami cedera tersebut untuk mencegah terjadinya rotasi atau angulasi.
Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi fraktur yang berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis reduksi tertutup yaitu mengembalikan fragmen tulang ke posisinya dengan manipulasi dan traksi manual. Alat yang digunakan biasanya traksi, bidai dan alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku. Imobilisasi dapat dilakukan dengan metode eksterna dan interna Mempertahankan dan mengembalikan fungsi status neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan. Perkiraan waktu imobilisasi yang dibutuhkan untuk penyatuan tulang yang mengalami fraktur adalah kurang lebih 3 bulan tergantung dari regio mana yang mengalami fraktur, serta nutrisi yang diberikan.
Pemeriksaan Penunjang
1)      Radiologi :
X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur, deformitas dan metalikment. Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang kompleks.

2)      Laboratorium :
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hb, hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P mengikat di dalam darah.

Tujuan Pengobatan Fraktur
  1. Reposisi dengan maksud mengembalikan fragmen–fragmen ke posisi anatomi.
  2. Imobilisasi atau fiksasi dengan tujuan mempertahankan posisi fragmen–fragmen tulang tersebut setelah direposisi sampai terjadi union.
  3. Penyambungan fraktur (union).
  4. Mengembalikan fungsi (rehabilitasi).
2.5. Prinsip Dasar Penanganan Fraktur
  1. Revive: penilaian cepat untuk mencegah kematian, apabila pernafasan ada hambatan perlu dilakukan therapi ABC (Airway, Breathing, Circulation) agar pernafasan lancar.
  2. Review: berupa pemeriksaan fisik yang meliputi look feel, novemert dan pemeriksaan fisik ini dilengkapi dengan foto rontgent untuk memastikan adanya fraktur.
  3. Repair: tindakan pembedahan berupa tindakan operatif dan konservatif. Tindakan operatif meliputi orif, oref, menjahit luka dan menjahit pembuluh darah yang robek, sedangkan tindakan konservatif berupa pemasangan gips dan traksi.
  4. Refer: berupa pemindahan pasien ke tempat lain, yang dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak memperparah luka yang diderita.
  5. Rehabilitation: memperbaiki fungsi secara optimal untuk bisa produktif.
Proses Penyembuhan Tulang
  1. Stadium Satu (Pembentukan Hematoma): Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur.
  2. Stadium Dua (Proliferasi Seluler):  Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis.
  3. Stadium Tiga (Pembentukan Kallus): Sel-sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik (bersifat membentuk tulang), bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago.
  4. Stadium Empat (Konsolidasi): Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru.
  5. Stadium Lima (Remodelling): Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
a)     Fraktura adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
b)     Fraktur terbagi atas berbagai macam jenis, baik secara umum maupun khusus.
c)     Penyebab terjadinya fraktur diakibatkan oleh banyak faktor, yang paling umum ialah akibat kekerasan atau benturan.
d)     Proses penyembuhan fraktur terdiri atas 3 tahap yaitu pemeriksaan, penatalaksanaan, dan pemeriksaan penunjang.
e)     Pengobatan bagi penderita fraktur terdiri dari 5 stadium, dengan prinsip-prinsip dasar penanganan berupa Revive, Review, Repair, Refer, dan Rehabilitation.

3.2. Saran
1)      Untuk mengurangi resiko terjadinya fraktur antara lain tingkatkan keamanan diri, persiapkan segala sesuatu sebelum beraktivitas, perhatikan keadaan sekitar dimana pun kita berada.
2)      Untuk penanganan dan pengobatan fraktur harus dilakukan sesegera mungkin, dapat dilakukan secara medis maupun tradisional.


Daftar Pustaka

Nurhayati, Nunung. 2011. Biologi Bilingual SMA/MA Kelas XI. Bandung: Yrama Widya.
Maryati, Sri dkk. 2007. Biologi SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
Sujana, Arman. 2007. Kamus Lengkap Biologi. Jakarta: Mega Aksara.
Retnaninangti, Dewi dan M. Luthfi Hidayat. 2012. Biologi SMA/MA. Klaten: PT. Intan Pariwara.
Riandari, Henny. 2009. Biologi SMA/MA Kelas XI (Bilingual). Solo: Evo Bilingual.

No comments: