December 14, 2013

Hujan Ini Milik Kita

            Ia masih saja sibuk memainkan gitarnya, berusaha melawan suara rintikan hujan yang menurutku lebih merdu. Ya, kami berdua memang memiliki banyak perbedaan tapi aku tak pernah mempermasalahkan hal itu, hanya saja mungkin perjuangan kami melawan semua perbedaan itu masih terbilang lemah sehingga kedua hati yang mulai saling menyapa harus menutup kembali segala kemungkinan untuk saling menjalin lebih dekat. Ia adalah sosok paling humoris yang pernah kukenal, bahkan terlalu humoris hingga aku begitu sulit mengartikan segala macam sikapnya. Bisa dikatakan, dunia kami berbeda, sangat berbeda. Ia sangat suka musik-musik beraliran rock dengan nada-nada keras memekakkan telinga yang seringkali kusebut dengan ‘musik dunia lain’, sementara aku begitu menyukai alunan musik-musik klasik atau pun berirama santai yang menurutku lebih membawa ketenangan. Ia juga begitu mencintai bidang olahraga terutama bulu tangkis, sementara aku lebih memilih tenggelam dalam dunia kepenulisan. Bagiku, tulisan mampu mewakili segala isi hati yang tak dapat diucapkan oleh bibir. Kami memang berputar dalam poros yang berbeda tapi setidaknya kami sama-sama mencintai segala hal dalam bidang eksakta.
            “Jadi, gimana sama Andre?” Ia mengakhiri keheningan yang sejak tadi mengikat kami untuk mengeluarkan suara.
            “Gimana apanya? Biasa aja.” Aku berusaha menjawab pertanyaannya dengan nada yang ringan.
            “Biasa gimana? Gue liat nggak ada kemajuan, perlu gue turun tangan?” Kali ini ia mulai berhasil mengalihkan perhatianku yang sejak tadi berusaha berdamai dengan beragam soal-soal fisika yang ada di hadapanku.
            “Nggak usah aneh-aneh, Mas. Gue nggak punya perasaan apa-apa sama dia.”
            “Yakin? Ntar nyesel loh.”
            “Dimas, denger ya. Yang pertama, gue cuma kagum sama keahliannya main basket dan yang kedua, dia juga udah punya pacar. Jadi berhenti deh nanya-nanya tentang dia sama gue, oke?”
            “Yah, gitu aja ngambek. Iya deh iya, I won’t talk about him, again.”
            Aku kembali mengalihkan pikiranku pada sekelompok soal-soal fisika itu, namun gagal. Pertanyaan-pertanyaan Dimas tentang Andre yang beberapa hari ini kudengar langsung darinya membuat konsentrasiku pecah. Aku pun memutuskan untuk membereskan semua buku-buku yang ada di hadapanku, bersiap untuk segera pulang jika hujannya agak mereda. Aku tidak ingin Dimas menyerbuku dengan berbagai pertanyaan semacam itu lagi yang hanya akan semakin membuatku kalang kabut untuk menjawabnya.
            “Ra, tadi malam gue mimpi. Aneh banget.”
            “Elo tidur, kan? Ya wajarlah kalo mimpi, apanya yang aneh coba? Elo mah yang aneh.”
            “Elo kok sewot amat sih, Ra? Lagi... pms ya?”
            “Gue masih sebel sama lo, belakangan ini terus-terusan nanyain Andre. Lo suka? Ambil gih.”
            “Gue masih normal kali, Ra. Meski pun jomblo masih doyan sama cewek. Lagian elo sih katanya nggak ada perasaan apa-apa, tapi tiap gue tanya soal Andre, sinis mulu bawaanya.”
            “Abis elo sotoy banget sih. Udah ah males gue bahas itu, tadi katanya mimpi lo aneh? Mimpi apaan emangnya? Dimakan paus?”
            “Hahaha... elo kalo ngambek gitu makin cantik aja.”
            “Tuh kan malah makin buat kesel. Udah ah gue mau pulang, agenda buat rapat OSIS besok udah siap, kan? Anak-anak yang lain juga udah pada banyak yang pulang.” Aku membawa tas keluar ruangan OSIS dengan tatapan ragu melihat hujan yang masih turun dengan deras.
            “Eh tunggu, tunggu, Ra. Maaf deh maaf, becanda doang. Gue seneng ngeliat jutek lo masih kayak dulu, nggak kayak yang lain, centil-centil nggak ketentuan gitu.” Dimas berjalan menghalangi langkahku menuju pintu.
            “Hmm...”
            “Yah, masih marah? Kan udah minta maaf gue. Lagian masih hujan loh, elo mau pulang naik apa? Taksi di depan sekolah juga udah pada nggak ada. Ntar aja deh gue anterin, tunggu hujannya agak reda dulu, oke? Mendingan sekarang lo bantuin gue beresin ruangan yang udah kayak kapal pecah ini, liat tuh berantakan banget dibuat anak-anak.”
            “Dasar, kalo ada maunya aja baik-baikin gue.” Aku kembali meletakkan tas dan mulai membereskan barang-barang yang berserakan di atas meja OSIS. Dimas juga meletakkan gitarnya lalu merapikan meja dan kursi yang sangat berantakan itu.
***
            Aku menatap jam dinding yang tergantung di atas pintu OSIS, tidak butuh waktu lama bagiku membereskan ruangan yang tadinya terlihat saperti bangunan runtuh yang diterjang puting beliung ini, apalagi dengan bantuan Dimas. Wajar saja, jabatan Dimas sebagai ketua dan aku sebagai sekretaris di kepengurusan OSIS membuat kami memiliki andil yang besar terhadap segala sesauatu yang berhubungan OSIS, termasuk ruangan yang biasa dijadikan tempat berkumpul para anggota OSIS sebelum melakukan tugasnya.
            “Gue haus banget, kantin yuk, Ra.” Dimas duduk di dekat pintu melihat keluar ruangan berharap hujannya mulai mereda.
            “Hello, what time is it? Udah jam empat kali, Mas. Kantin mah udah pada tutup dari tadi. Nih, minum gue masih banyak.” Aku menyodorkan botol minumku pada Dimas. “Nggak mungkin kan lo jalan keluar sekolah hujan deras gini cuma buat beli minum? Yang ada ntar lo malah minum air hujan.” Aku tertawa geli melihat eksresi wajah Dimas yang menerima botol minum dariku.
            “Lo yakin, Ra?”
            “Yakin apaan?
            “Katanya nih ya, kalo ada cowok sama cewek yang minum pake satu tempat, sama aja kayak mereka ciuman secara nggak langsung.”
            “Dih, amit-amit deh. Yang kayak gituan lo percaya, sempat-sempatnya malahan ya lagi haus mikir kesitu.” Aku kembali sewot mendengar apa yang baru Dimas katakan.
            “Iya, kan, mencegah lebih baik daripada mengobati.”
            “Ah, bawel banget. Ya udah sini botol minumnya, gue aja yang minum kalo lo nggak mau.” Aku mengambil kembali botol minum yang ada tangan Dimas namun dia mengelak.
            “Eh, jangan dong. Gue juga haus.”
            “Makanya, tinggal minum aja repot banget.” Aku menarik dasi Dimas, kebiasaanku yang paling ia benci.
            “Nauraaa, resek banget sih lo, ah.” Ia membuka ikatan dasinya lalu memasangnya kembali.
            “Sok rapi deh, udah pulang sekolah juga.”
            Tidak berapa lama, Dinda dan Heru masuk ke ruang OSIS membawa setumpuk formulir pendaftaran anggota OSIS yang baru.
            “Jiah, yang lain pada sibuk, yang ini malah beduaan aja. Awas ntar balikan loh.” Heru meletakkan berkas itu diatas meja Dimas.
            “Apaan sih, Heru. Nggak liat apa gue sama Naura kecapekan abis ngeberesin ruangan yang kalian buat kayak kapal pecah tadi ini.”
            “Hahaha... Dimas bisa beres-beres juga? Bagus deh, Naura dapat anggota baru buat beres-beres. Gue sama Heru ke ruang guru, ya. Tadi Pak Indra bilang ada yang mau ditambahin lagi dalam proposal acara perpisahan kita ntar. Yuk, Her, buruan.” Dinda dan Heru pun berlalu dari ruangan OSIS.
            Sejenak aku dan Dimas sama-sama terdiam, tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan terlebih dulu. Ntah kenapa aku melihat ada sesuatu yang berbeda dari wajah Dimas.
            “Gue...” Aku dan Dimas tanpa sengaja membuka suara bersamaan.
            “Ya udah, lo duluan deh, Ra. Mau ngomong apaan tadi?”
            “Nggak deh, lo aja duluan, Mas.”
            “Gantian deh, lo dulu, abis itu gue.”
            “Nggak usah, elo aja yang... ah sial!” Aku sangat terkejut mendengar suara petir yang menggelegar di luar dan langsung menggenggam Dimas yang duduk di sampingku, seketika itu juga lampu di ruangan OSIS padam.
            “Sst... ada gue, Ra. Nggak usah panik gitu kali.” Dimas berusaha menenangkan aku.
            “Elo mah nggak tahu gimana rasanya jadi gue kalo udah gelap kayak gini.”
            “Iya gue mah tahu elo phobia gelap, tapi mau gimana lagi? Elo mau ngomel sampai tua juga belum tentu listriknya langsung nyala. Mending kita duduk di koridor aja, yuk. Di sana agak terang tuh, lagian kerjaan kita kan juga udah siap tinggal nunggu hujannya reda aja abis itu gue anterin lo pulang deh.”
            Aku menjawab ucapan Dimas hanya dengan anggukan yang tentu saja menandakan iya. Kami berjalan keluar ruangan OSIS, lalu duduk pada bangku-bangku panjang yang ada di koridor sekolah.
            “Ra...” Dimas menoleh padaku.
            “Hmm?”
            “Kok momennya pas gini ya?”
            “Pas gimana, Mas?”
            “Lo inget nggak kejadian dua tahun lalu? Pas lagi hujan deras kayak gini. Kalo gue ulang lagi, kira-kira lo mau nerima nggak ya?”
            “ Gue nggak ngerti. Emangnya momen mana?”
            “Malam tahun baru, Ra. Acara malam tahun baru di rumah lo.”
            Aku melihat ke arah Dimas, tepat di kedua bola matanya. Dimas mengucapkan kembali hal itu, ia masih mengingatnya? Bagaimana mungkin? Setelah sekian banyak hari yang kami lewati tanpa pernah membahasnya sekali pun.
            “Kok lo diem aja, Ra?” Dimas membuyarkan lamunanku.
            “Eh, iya iya gue masih inget kok, inget banget malahan. Tapi, Mas...”
            “Sst... Nggak usah lo jelasin juga gue ngerti, Ra. Gue tahu lo masih trauma sama gue dan masih belum bisa ngilangin sakit hati lo yang dulu, iya, kan? Pasti lo kira gue nggak sadar, padahal gue peka banget sama semua tingkah laku lo selama ini. Hampir dua tahun dan lo masih tetep berusaha nunjukin kalo lo baik-baik aja meski pun tanpa gue, meski pun lo sering ngeliat gue sama cewek lain, satu sekolahan lagi. Bodoh banget gue ya, Ra. Gue tahu hampir setahun ini lo emang sengaja jaga jarak sama gue, kan?” Dimas tersenyum simpul sambil memalingkan wajahnya dariku, memandang pada butiran air hujan yang turun tepat di hadapan kami. Ntah apa yang ada dalam pikirannya.
            “Mas, elo kok? Eh, tapi gue nggak maksud...”
            “Naura, gue jarang ngobrol sama lo bukan berarti gue nggak pernah merhatiin lo. Lagian kita juga satu kelas, satu organisasi, satu ekskul, iya jelaslah hampir di semua kegiatan yang mana ada lo pasti ada gue juga. Tapi gue yakin lo pasti belum bisa nerima dengan masuk akal dari mana gue bisa tahu semuanya, iya, nggak?”
            Aku hanya mengangguk di hadapan Dimas, kembali melihat lekat ke dalam kedua matanya.
            “Jadi gini, sebelumnya gue minta maaf kalo gue melanggar privasi lo. Tapi gue juga nggak mau terus-terusan bohong sama lo. Enam bulan yang lalu, waktu kita selesai ngetik proposal buat acara bazar, laptop lo ketinggalan di rumah gue. Masih inget kan?”
            “Hmm, iya gue inget. Terus?”
            “Awalnya sih gue nggak ada niat buat ngotak-ngatik, cuma mau liat  dokumentasi acara pensi tahun lalu aja. Pas gue buka, nggak sengaja gue liat ada folder yang namanya 9 Januari 2012. Gue penasaran aja apa isinya tuh folder, ya akhirnya gue buka.”
            “Mas, nggak masuk akal banget apa yang lo bilang. Folder itu gue password, jadi nggak mungkin aja ada orang lain tahu selain gue.”
            “Naura, untuk hal ini gue nggak sebodoh yang elo bayangin. Dua kali masukin password, gue emang salah tapi yang ketiga akhirnya gue bener, tiga satu satu dua kosong sembilan kosong satu, iya, kan?”
            “Hah? Kok elo bisa mikir kesitu?”
            “Nggak tahu deh, itu yang ada dalam pikiran gue, ya gue coba aja, nggak tahunya bener. Gue kaget banget ngeliat isinya, nggak nyangka elo masih pada ngesave foto-foto kita dulu, foto dari mulai pertama pdkt, foto waktu acara malam tahun baru di rumah lo, foto-foto terakhir kita pas acara pensi sama perpisahan, sebelum putus.” Tersirat nada penyesalan dalam ucapan Dimas. “Dan yang lebih buat gue kaget, waktu baca semua hasil ketikan elo tentang kita, tentang gue, tentang sakit hati, marah, cemburu yang selama ini lo pendam sendiri. Jadi semacam kayak digital’s diary gitu ya, Ra.”
            “Bagi gue, foto itu ibarat pengobat rasa rindu disaat apa yang kita rindukan nggak mungkin lagi buat tergapai, sedangan tulisan bisa jadi perwakilan isi hati kita disaat apa yang kita rasain nggak mampu lagi diungkapkan lewat uacapan, Mas.”
            “Ra, gue nggak tahu perasaan ini muncul sejak kapan. Tapi yang gue tahu sekarang, gue sayang banget sama lo. Dan gue juga nggak tahu apa sebabnya gue jadi bisa ngerasain perasaan aneh kayak gini lagi. Sekarang apa yang lo kangenin selama ini, udah bisa lo gapai lagi.”
            “Dimas, I never hate you and my feeling for you was never gone. I just...” Aku memandang jauh ke dalam mata indah itu, kembali merasakan sebuah ketulusan yang pernah kurasakan dulu, hampir dua tahun yang lalu. “Gue cuma masih takut,”
            Genggaman tangan Dimas yang terasa begitu hangat menghancurkan setiap susunan kata yang ada dalam pikiranku.
            “Gue bakal buang rasa takut lo itu jauh-jauh, Ra. Gue nggak bakal biarin rasa takut itu ngejerat hati lo lagi. Gue tahu nggak mudah, tapi masih boleh kan kita ngerasain lagi apa yang dulu pernah kita rasain? Ruang hati lo masih ada sisa buat gue, kan, nona bawel? Atau kalo nggak, gue mau nempatin posisi gue yang dulu deh di hati lo, boleh, kan?” Dimas mengerlingkan matanya, sepertinya ia masih ingat hal itu selalu dapat membuatku tersipu malu di hadapannya.
            “Kebetulan hati gue masih kosong, kalo lo mau ambil aja semua.” Aku tersenyum, begitu juga Dimas.
            “Lo bakal selalu jadi Shaun The Sheep gue, sama kayak hujan ini yang bakal selalu milik kita, Ra.”

No comments: