December 16, 2013

Dulu

            Ini bukan pertama kalinya aku duduk di bangku-bangku panjang di sudut kelas sambil memperhatikan tulisan yang lalu lalang di hadapanku. Setiap abjad yang tersusun dalam kata, lalu terangkai kembali menjadi kalimat dan entah bagaimana caranya sosokmu bisa menjadi dasar atas kalimat-kalimat itu, kamu ada dan karam dalam setiap hasil jentikan jari yang sebenarnya sangat enggan untuk aku terjemahkan lebih dalam oleh nalar. Ini bukan hal baru bagiku, duduk mematung di sebuah tempat yang terbilang cukup ramai, berjam-jam lamanya pula dan dengan bodoh membagi konsentrasi antara tulisan yang ada di hadapanku dengan ponsel yang selalu dalam keadaan stand by di dalam sakuku. Menunggu tanpa pasti kalau-kalau pesan singkatmu mampir dan bisa sedikit mengurangi resah yang telah hampir dua tahun lamanya aku rasakan dengan hangatnya perhatianmu, meskipun aku tahu itu hampir mustahil. Kekosongan dan kehampaan telah silih berganti mengganggu ketenangan hidupku semenjak hari itu, hari dimana aku merasakan apa yang seharusnya tidak aku rasakan, karena kamu. Sedikit beruntung rasanya karena aku masih bisa mengikat semua gejolak dalam hatiku dengan pikiran yang rasional, andai saja aku terlalu terbawa emosi, tentu aku akan menahan maluku sendiri, semuanya menjadi semakin berantakan, perasaanku terutama menjadi semakin parah lagi dan at least aku bisa saja mati kutu di hadapanmu. Aku yakin, kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan, iya kan? Kamu juga tidak pernah menyimpan rindu sedalam yang aku rasakan saat ini, untukmu. Aku memang sengaja menyembunyikan semuanya darimu, agar kita tak lagi saling mengganggu. Bukankah dengan saling menjauhi seperti ini, semua akan terasa lebih baik? Tunggu dulu, baru saja aku menyebutkan kata saling yang artinya satu sama lain, tapi kenyataannya itu semua hanya terjadi padaku dan hanya aku pula yang merasakannya. Aku berpura-pura seolah semuanya berjalan biasa saja, tak perlu lagi ada perhatian lebih di antara kita, tak perlu lagi ada canda tawa terlalu hangat, seolah aku tak memiliki rasa apapun dan seolah aku tak pernah peduli lagi atas segala hal tentangmu, hidupmu, bahagiamu, kesedihanmu, wanita yang keluar masuk duniamu, segala macam hal dalam duniamu. Bagiku, dengan tidak lagi melihat dan berhenti mendengar kabar tentangmu itu telah lebih dari cukup, cukup kamu dan aku, tanpa harus ada kita, karena aku begitu yakin bahwa kamu sendiri tidak pernah tahu akan semua gerak-gerikku yang seringkali terlihat kikuk setiap kali ingatan tentangmu datang secara tiba-tiba lalu mendesakku kembali masuk ke dalam pengapnya masa lalu.
            Kali ini aku tidak akan bercerita tentang kegalauan yang mengikat hatiku erat-erat, tentang kesepian yang setia menemaniku kapan pun dan dimana pun aku berada, tentang keadaan hatiku yang sekarang terasa begitu miris, tragis, rapuh atau apapun itu, tentang beragam cerita yang pasti akan sulit untuk kamu pahami. Aku tahu, kamu tipe orang yang susah diajak basa-basi apalagi soal cinta. Aku yakin, kamu pasti akan menutup telinga atau membesarkan volume lagu-lagu yang liriknya bahkan tak dapat kuterjemahkan, atau mungkin kamu akan langsung terang-terangan meninggalkanku demi menghindar dari percakapan yang terdengar absurd di telingamu. Seperti dulu ketika aku bertanya tentang cinta, kamu malah tertawa, aku berbicara soal rindu, kamu malah memamerkan senyum asimetris khas bibirmu yang aku sendiri bahkan tak mengerti apa maksudnya. Hanya sebuah cerita sederhana yang mungkin saja tak ingin lagi kamu dengar sebelum tidur. Kamu tentu tidak suka kan jika aku bercerita tentang air mata? Bagaimana jika aku ubah cerita air mata yang tragis itu menjadi sebuah cerita tentang sebuah senyuman palsu? Kamu tentu takkan tahu, iya kan? Karena sejauh yang aku lihat, kamu memang benar-benar tidak peka. Dan mungkin juga kebiasaan burukmu itu masih tetap sama, iya kan? Walaupun kita telah lama tidak saling menyapa dan bertatap mata, entah mengapa rasanya akhir-akhir ini aku merasakan begitu sepi yang menusuk, aku layaknya berbisik lalu mendengar suaraku sendiri. Lagi-lagi aku heran, gelapnya malam selalu menjadi tempat untuk mengingat kembali cerita-cerita yang pernah terlewatkan itu. Ya, ini tentang kita. Rasanya aku kembali ingin menyentuh bayangan samarmu, merasakan kembali hangatnya sinar matamu yang masih penuh ketulusan memandang jauh ke dalam kedua mataku, menikmati kembali senyum asimetrismu yang selalu bisa membuatku meleleh meski dalam keadaan marah yang memuncak sekalipun.
            Jika aku boleh jujur, sebenarnya kata dulu terdengar begitu akrab di dalam hati dan pikiranku. Seperti ada sebuah kekuatan dari kata itu yang mengikat hatiku agar selalu ingat, selalu dekat, sampai-sampai bayanganmu tak mampu terhapus oleh jarak dan waktu. Ini kesekian kalinya secara diam-diam aku menyebutkan namamu dalam sepi, membiarkan segala kenangan itu terbang bersama semilir angin yang terasa begitu sejuk di sekujur tubuhku, ia tertiup jauh namun bukan tidak mungkin ia akan kembali meskipun tanpa aku harapkan dan tanpa aku sadari. Lihat bagaimana diriku saat ini, mereka bilang banyak terjadi perubahan padaku padahal aku sama sekali tidak berniat mengubahnya, aku ingin jika suatu saat waktu mempertemukan kita kembali aku tetap terlihat sama seperti saat pertama kali kamu melihatku. Mereka bilang aku yang sekarang terlihat lebih baik dari sebelumnya, terutama terlihat lebih hangat dibandingkan dengan waktu perpisahan kita dulu. Aku tertawa dalam hati, benarkah? Aku justru tidak merasa demikian, aku melihat diriku yang masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Namun akhirnya aku mengerti, mungkin ini yang dinamakan sesuatu yang sangat kita harapkan seringkali tidak terjadi bukan karena Tuhan membenci kita, tapi justru Tuhan menyayangi kita lebih dari apa yang kita bayangkan. Dia memberikan kita semacam iya, takdir mungkin, yang sama sekali tidak pernah kita harapkan dan ternyata berdampak lebih baik dari apa yang pernah kita rencanakan. Jadi, berbicara soal perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah dan saling melupakan? Kembali lagi pada pernyataan awal, jika ada kata saling seharusnya kedua belah pihak ikut merasakan, nah kenyataannya sekarang kenapa hatiku masih terang-terangan belum rela melepaskanmu? Dan kenapa sampai saat ini kamu belum benar-benar pergi dan menjauh dari duniaku? Terkadang, jarak tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk tidak berbagi. Dalam suatu keadaan yang dengan hashtag tidak jelas statusnya, aku dan kamu masih saja menjalaninya, menjalani sesuatu yang tidak tahu harus aku sebut apa. Masih terselip rasa nyaman setiap kali suara santaimu menyeringai masuk ke dalam telingaku atau sewaktu kita bertatap mata, mungkin. Dan akhirnya, kepergianmu yang benar-benar mendadak itu meluluhlantahkan kembali serpihan-serpihan hati yang sedang kutata kembali karena pernah hancur parah sebelumnya.
            Maaf, kamu tak perlu menanggapi dengan serius. Ini hanyalah beberapa rangkaian kalimat bodoh yang mewakili gejolak dari dalam hatiku yang tak mampu lagi terungkapkan lewat ucapan. Tulisan-tulisan kecil, sederhana namun indah seringkali menemaniku bermain dalam sepi, apalagi semenjak kepergianmu yang, ah, serba mendadak itu. Masih sangat sulit dicerna dalam pikiranku, apakah alasannya? Terkadang aku berpikir, akankah suatu saat kamu muncul di hadapanku dan menjelaskan semuanya secara detail lalu mengungkapkan beribu bahkan berjuta rasa penyesalanmu, sementara aku telah berhasil menjalani hidup yang lebih baik tanpamu lagi? Aku berharap iya, sekali lagi, aku telah memaafkanmu untuk peristiwa itu. Bukan bermaksud  dendam. Tidak, aku sama sekali tidak pernah menyimpan dendam padamu karena aku yakin suatu saat balasan dari Tuhan akan lebih dari apapun yang pernah kita lakukan. Oh ya, sebentar lagi tanggal 16. Masih ingatkah kamu hampir tiga setengah tahun lalu, ketika pertama kali kita mengikat janji sepasang anak SMP dalam sebuah kata cinta? Hahaha... too stupid! But, this is love. Tidak peduli siapa, kapan, dimana. Atau masih ingatkah kamu peristiwa dua tahun yang lalu? Terakhir kali kita merayakan tanggal 16, waktu itu tanggal 16 yang ke delapan belas. Great! Tidak pernah menyangka hubungan kita akan sampai sejauh itu, satu setengah tahun. Aku masih ingat raut wajahmu kala itu, kamu baru beberapa hari kembali dari Korea dan aku begitu emosional karena jadwal study tourmu yang harusnya hanya sepuluh hari tiba-tiba saja bertambah menjadi lima belas hari dan lebih parahnya lagi selama terpisah jarak kurang lebih tiga ribu meter kita tak dapat berkomunikasi sama sekali. Sebagai seorang anak ABG menurutku wajar jika aku begitu marah, maklum saja saat itu kita masih belum mampu mengendalikan ego masing-masing juga belum mampu berpikir lebih rasional lagi. Jujur aku tak pernah menyangka juga bahwa itu akan menjadi perayaan tanggal 16 terakhir kita, kamu mengunjungi rumahku demi meminta maaf dan memberikanku sebuah liontin berwarna ungu, aku tentu masih sangat ingat itu adalah warna kesukaanmu, Sayang. Tapi, itu masa lalu, dulu. Telah aku katakan sejak awal kan, dulu itu menyenangkan. Aku masih tetap merindukanmu, Za...

No comments: