With Love, With Cupcake♥

            Aku terbangun dari tidur lalu memandangi kalender yang berada di dekat meja belajarku. Masih berusaha mengumpulkan nyawa yang semalaman berkelana sementara aku tertidur nyenyak menikmati mimpi yang gelap. Mimpi yang gelap? Tersimpul senyum di ujung bibirku ketika mengingat kata-kata itu. Dulu, setiap pagi kita bertemu, kamu hampir selalu menanyakan apa yang kumimpikan tadi malam dan ketika aku menjawab tidak ada, kamu malah mengatakan aku bermimpi gelap. Kamu memang selalu beranggapan bahwa setiap mereka yang tidur pasti akan selalu bermimpi, indah, buruk, maupun gelap. Aku menghela napas panjang lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil meraih kalender kecil itu, 16 Juni 2013. “Happy anniversary, Za...”  ucapku lirih sambil berusaha menahan air mata yang telah siap meluncur sejak tadi. Mengapa harus kamu yang menghadirkan berjuta tanda tanya dan bisu yang menyeringai santai seperti ini? Aku bahkan masih merayakan hari ini, meskipun tanpamu. Mengapa harus kamu yang dulu datang dengan sangat tiba-tiba lalu menerobos masuk ke dalam pintu hatiku? Apa tak ada orang lain selain kamu yang bisa membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka? Aku masih berdiam menatap tanggal itu. Ini hari Minggu, jika aku mau, aku bisa bersantai seharian tanpa harus melakukan apapun tapi aku memilih untuk segera bersiap demi pergi ke suatu tempat yang telah lama aku rindukan.
            Hujan yang turun sejak malam tadi sepertinya masih enggan untuk menghentikan rintiknya, namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi apa yang telah aku rencanakan sejak enam bulan lalu. Aku masih tak tahu dan tak mengerti, betapa bodohnya aku dengan berbagai macam rencana yang akan kujalankan hari ini. Semua perlengkapan telah aku siapkan, termasuk jaket kesayangan yang tak pernah lupa kubawa kemana pun aku pergi. Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya bertanya dalam hati, mengapa harus kamu yang mengisyaratkan hati untuk menyimpan perasaan sedalam ini? Mengapa harus kamu yang memaksa otakku agar tak berhenti memikirkanmu? Mengapa harus kita? Mengapa bukan mereka? Aku masih saja terus bertanya meski tak pernah ada satu pun pertanyaanku yang terjawab, sepertinya waktu masih ingin mempermainkanku, ia belum bersedia menjawab semua rasa penasaranku ini.
            Aku telah menginjakkan kaki di tempat ini, masih sama, semuanya masih sama seperti dulu, seperti saat kita bergandengan tangan di tempat ini beberapa tahun silam. Sebenarnya aku bisa saja datang ke tempat ini kapan pun aku mau, hanya saja semenjak kepergianmu yang serba mendadak itu, aku berusaha menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan baik itu penting atau pun tidak, hanya demi mempersempit waktu luangku untuk mengingat tentangmu. Dan sepertinya aku berhasil, hanya sedikit waktuku menjelang tidur saja yang dapat kugunakan untuk mengenang tentangmu. Aku mengeluarkan semua yang telah aku persiapkan dari rumah. Sebuah surat dengan tinta ungu, iya aku masih ingat ungu adalah warna kesukaanmu, dan dua buah cupcake coklat bertuliskan with love, 3rd anniversary for us. Tempat ini sangat sepi, tidak seperti minggu-minggu sebelumnya. Mungkin karena udara pagi ini yang tidak bersahabat sehingga membuat orang-orang lebih memilih meringkuk dalam selimutnya dari pada harus berolahraga atau setidaknya berjalan-jalan santai di tempat ini. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada sesosok anak kecil berbaju kumal yang berlari menuju tempatku saat ini, ia kehujanan dan sama sepertiku ia juga mencari tempat berteduh. Ia berdiri tidak jauh dari tempatku sambil memegangi perutnya. Kupandangi wajah anak itu, siapa pun yang melihatnya pasti bisa menebak bahwa ia adalah anak jalanan yang biasa meminta-minta di tempat ini, wajahnya tidak terlihat seperti anak yang nakal tapi dimana orang tuanya? Mengapa tega membiarkan anak kecil ini berkeliaran di tengah hujan dan udara yang sangat menusuk di pagi ini? Lagi-lagi, seorang anak harus melakukan hal-hal seperti ini hanya karena keterbatasan ekonomi. Seketika rasa haruku muncul. Betapa beruntungnya aku yang pagi ini masih bisa terbangun di atas kasur yang empuk bersama selimut yang begitu hangat, masih bisa menikmati sarapan bersama kedua orang tuaku. Aku memandangi cupcake yang sedari tadi berada di tanganku lalu berkata dalam hati “Jika Tuhan berkenan, aku yakin suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali dalam keadaan hati yang lebih baik lagi. Jangan biarkan aku terus mencari hal yang sebenarnya tak pernah ada, ya. Jangan biarkan aku merasakan perasaan yang mungkin sebenarnya tak pernah kau rasakan. Jangan biarkan aku terus menunggu. Jangan biarkan sisa waktuku terbuang dengan percuma hanya karena kamu yang sulit untuk kulupakan. Aku tak ingin waktuku sia-sia hanya untuk melamun sepanjang waktu atau harus membuang air mataku dengan percuma ketika memikirkanmu. Semoga kamu selalu dalam keadaan baik disana.
            Aku mendekati anak kecil itu lalu menanyakan namanya. Mirza, iya, nama itu keluar dari bibir mungilnya. Kalian adalah dua sosok yang memiliki nama yang sama dengan nasib berbeda. Aku senang bisa bertemu Mirza yang lain, Mirza kecil. Namun aku berharap kedua Mirza yang pernah kutemui memiliki sifat yang berbeda, semoga Mirza kecil ini kelak memiliki nasib lebih baik dari Mirza sebelumnya. Semoga tidak ada lagi pengkhianatan, sakit hati, penyesalan, apalagi kebencian.
            “Mirza, kamu udah makan belum? Kakak punya kue cokelat nih. Kalo kamu mau, kamu boleh ambil dua-duanya.” ucapku seramah mungkin agar membuatnya tidak takut.
            “Kue kakak ada dua, pasti kakak nunggu temen kakak, iya kan?” jawabnya dengan nada yang begitu polos namun sangat mengejutkanku. Bagaimana bisa anak sekecil ini memikirkan apa yang aku harapkan?
            “Iya nih, kakak nunggu temen kakak tapi kayaknya dia nggak bakal dateng deh soalnya hujannya masih belum reda.”
            “Temen kakak kok jahat banget sih, kakak aja rela hujan-hujanan dateng kesini, masa dia nggak.”
            Bagaikan kilatan petir yang menyambar, ucapan itu sontak terngiang-ngiang dalam telingaku. Aku berusaha mencerna jawaban sesederhana mungkin agar Mirza kecil ini bisa mengerti.
            “Mungkin temen kakak ada urusan mendadak jadinya dia nggak bisa dateng kesini. Oh iya, nama temen kakak itu sama kayak kamu loh, Mirza” Jelasku sambil menyodorkan kedua cupcake cokelat yang telah kumasukkan ke dalam bungkusnya.
            “Oh gitu.” Jawabnya singkat. “Kuenya enak, kak. Makasih ya. ” Suara Mirza kecil yang begitu nyaring terdengar sesaat setelah ia memakan kue itu.
            “Ya udah, habisin ya kuenya. Kakak mau pulang dulu, kapan-kapan kakak main kesini lagi.”
            “Kak, tunggu! Nama kakak siapa? Nanti kalo aku ketemu sama temen kakak, aku bilang deh kalo kakak nungguin dia disini.”
            “Emangnya kamu tahu temen kakak yang mana?”
            “Nggak tahu sih, tapi kan bisa aku tanyain namanya kalo ada yang kesini.”
            “Kesya, nama kakak Aiza Kesya. Kalo kamu ketemu sama dia, bilangin ya jangan suka pergi tiba-tiba lagi. ”
            Sambil tersenyum aku melambaikan tangan pada Mirza kecil, sedikit geli membayangkan bagaimana jadinya jika ia benar-benar melakukan hal itu? Menanyakan nama setiap pria yang datang ke tempat ini hanya demi menyampaikan pesanku.

Comments