Pernahkah Kamu Mengenang Tentang Kita?

“Pernahkah kamu mengenang tentang kita? Bayangkan saat pertama kali kita mengenal, bagaimana kita bisa dekat? Kemana saja kita pernah pergi? Apa saja yang kita lewati berdua? Saat kita marahan lalu baikan, saat aku tertawa bersamamu, saat aku bertingkah konyol di hadapanmu, saat pelukanmu menenangkan aku,saat aku marah tanpa alasan yang jelas lalu membuatmu merasa penat. Bayangkan jika saat itu takkan pernah ada lagi, bayangkan jika tiba-tiba suaraku menghilang. Saat tak terdengar lagi namamu terucap dari bibirku, saat tak ada lagi pangggilan dariku yang mungkin membuatmu risih, tak ada lagi suara amarah, celotehan berisik dariku dan isak tangisku yang pernah membuatmu bosan. Pernahkah kamu membayangkan hal itu terjadi pada kita? Saat semua tentang kita telah lenyap, adakah hal yang akan kamu lakukan untuk tetap mempertahankan aku? Adakah ucapan terpenting yang ingin kamu katakan?”
Tiba-tiba tubuhku bergetar saat membaca sebuah surat yang tanpa sengaja jatuh ketika aku membuka buku-buku lamaku yang hampir usang. Ya, surat bertanggal 16 Juni 2010. Pikiranku pun melayang-layang berusaha mengingat kembali masa silam itu, 3 tahun yang lalu... Rasanya sangat bodoh jika aku mengatakan pada mereka bahwa aku masih mengingatnya, sangat mengingatnya. Bagaimana bisa aku melupakan hal yang amat sangat menyakitkan bagiku begitu mudahnya? Aku selalu berandai-andai bagaimana jika Tuhan mengambil ingatanku? Bukankah Tuhan bisa melakukannya dengan sangat mudah? Mengambil semua ingatan masa laluku lalu membiarkan aku hidup dengan penuh kebahagiaan baru tanpa harus mengingat semua peristiwa kelam itu. Tapi nyatanya, Tuhan tidak melakukan hal itu dan aku yakin segala rencana-Nya pasti lebih baik dari apapun. 3 tahun yang lalu... Aku memejamkan kedua mataku berharap bisa mengingat wajah itu dengan jelas dan dapat! Aku bisa mengingatnya, mengingat kembali sinar mata penuh ketenangan itu, mengingat kembali senyuman yang selalu kulihat saat aku membuka hari, mengingat kembali betapa hangatnya pelukan itu dan mengingat kembali betapa lembutnya suara itu, suara yang selalu menjadi pengantar tidurku menuju mimpi-mimpi indah itu. Namun, semuanya berubah menjadi gelap, seketika! Ingatanku terhenti pada suatu sore dimana waktu terasa begitu cepat berlalu, secepat itukah? Secepat itukah hati yang masih sangat rapuh ini merasakan kembali sakitnya tusukan belati pengkhianatan? Secepat itukah hati yang masih berusaha bangkit ini harus jatuh dan terpuruk kembali di lubang yang sama? Ntahlah, aku membuka mataku dan mendapati semuanya sangat amat berbeda sekarang, takkan ada lagi sinar mata itu, takkan ada lagi senyuman indah itu, takkan ada lagi pelukan hangat itu, takkan pernah ada lagi suara lembut itu. Semuanya mulai hilang bagaikan batu yang harus rela terkikis oleh kemesraan belaian angin. Dan aku bersyukur, jalan yang diberikan Tuhan pasti akan lebih baik dari semua harapan-harapanku, bersamanya.

Comments