November 13, 2013

Kepada Si Pria Pecinta Drumband


Hai kamu, pria pecinta matematika dan drumband, lama sudah aku tak mendengar suaramu, lama juga aku tak pernah mendengar kabarmu lagi. Suaramu, apakah masih sama seperti dulu? Suara yang penuh kelembutan juga kedamaian bagi siapa pun yang mendengarnya, suara yang selalu menjadi pengantar tidurku menuju mimpi-mimpi yang pernah kita rencanakan. Namun itu dulu, jauh sebelum takdir yang telah digariskan Tuhan memisahkan kita, memisahkan raga juga hati kita. Aku dengar dari mereka telah ada seseorang yang baru yang kini mendampingimu, ya? Separuh hatiku turut berbahagia, namun separuh hatiku yang lain turut hancur mendengarnya. Secepat itukah? Ah, maaf, aku lupa bagaimana hubungan hati kita saat ini, jauh, sangat jauh berbeda. Kamu bahkan tak pernah lagi ada dalam pantulan kedua bola mataku, hanya bayanganmulah yang selalu menghantui semestaku dimana pun, kapan pun, bersama siapa pun aku berada. Aku menyadari segala kepentinganmu bukan lagi kepentinganku dan begitu pula sebaliknya. Kita telah berbeda, tak lagi berotasi pada poros yang sama. Lantas, masih bolehkah aku bertanya tentang Aiza? Sebuah nama yang pernah kita rencanakan untuk sosok di masa depan kita kelak, sosok khayalan yang hanya pernah ada dalam anganku dan anganmu, angan kita. Aku mengerti sekarang itu hanyalah sebuah khayalan bodoh yang takkan pernah menjadi nyata, namun bukan berarti bisa menghapuskan begitu banyak harapan yang pernah kita bangun bersama. Sosok khayalan itu akan selalu ada dalam pikiranku menjadi kenangan yang membisu, menjadi pembisik rindu saat aku mengingatmu, mengingat aku dan kamu yang sempat menjadi kita. Dan… bagaimana dengan pendamping pilihanmu saat ini? Siapakah wanita beruntung itu? Betapa bahagianya ia bisa menjadi milikmu, bisa membuatmu tersenyum karena tingkah manisnya, bisa selalu melihat tawamu karenanya, betapa senang hatinya bisa masuk dalam hidupmu dan tentu saja menemanimu membangun asa yang baru, benar bukan? Tidak seperti aku yang selalu mencintaimu dalam diam, hanya bisa merindukanmu lewat tetesan air mata, memelukmu dengan untaian doa dalam sujudku lalu harus tersingkir dari dalam hatimu dan tak lagi dapat menempati tempatku semula.
Tahukah kamu, aku memang masih sering merindukanmu, menyebut namamu dalam doaku, memikirkanmu sebelum aku terhanyut dalam mimpi yang tak pernah lagi seindah dulu. Masih bolehkah aku melakukan hal-hal kecil namun manis seperti dulu? Merindukanmu lalu menyampaikan rasa rindu itu, mencintaimu dengan segenap hati, memperhatikan segala gerak gerikmu meski dengan sepengetahuanmu atau pun tidak, mendoakan semua yang terbaik untukmu? Masih bolehkah aku mendengar suaramu meski hanya lewat sambungan telepon? Rasanya semua telah berbeda, jauh berbeda. Sifat pengalah dan lemah lembutmu serta sifat egois dan keras kepalaku yang mampu membuat kita saling jatuh cinta, tak peduli bagaimana cinta datang dan mengetuk pintu hati kita. Awal yang sederhana, melalui pesan singkat dan kita pun mulai saling bercerita, saling berbagi tentang kekosongan hati yang masing-masing pernah kita rasakan sebelum kita bersama. Betapa indahnya masa-masa itu, betapa indahnya masa dimana kamu dan aku masih menjadi kita, betapa indahnya masa lalu.