Adalah Caramu

            “Ayo cepat anak-anak, kumpulkan kertas ulangannya. Kita lanjutkan minggu depan, sebentar lagi akan ada sosialisasi untuk kalian.”
            Lamunanku buyar ketika mendengar suara Ibu Linda, guru fisika kesayanganku sejak kelas satu SMA yang meminta kami untuk segera mengumpulkan kertas ulangan.
            “Sosialisasi? Sosialisasi apa? Untuk UN atau PTN? Bukankah sosialisasinya akan diadakan semester dua nanti?” gumamku sambil merapikan buku-buku yang berserakkan di atas meja.
            “Katanya sih mau ada sosialisasi tentang HIV/AIDS gitu, tadi aku denger dari anak kelas sebelah waktu jam istirahat.” Jelas Nana, teman semejaku di kelas.
            Mataku lalu menatap ke arah pintu, membayangkan seperti apa orang yang akan masuk ke dalam kelasku untuk melakukan sosialisasi tentang hal semacam itu. Aku mulai menerka-nerka apakah yang akan masuk adalah beberapa pria atau wanita paruh baya bersama alat peraga mereka dan siap berceloteh ini itu di hadapanku? Atau mungkin para intelek yang sering berkeliaran di layar kaca, yang sering mengisi acara talkshow tentang kesehatan? Pasti sangat membosankan, untungnya bel pulang tinggal setengah jam lagi.
            Mataku masih saja memandangi ke arah pintu hingga seorang pria berhidung mancung masuk lalu berjalan ke arahku. Tuhan, gerangan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa sulit menggerakkan kakiku? Bahkan untuk menginjak lantai, semua terasa melayang. Mataku begitu berat untuk mengedipkan kelopaknya hanya karena tidak ingin melewatkan waktu untuk menatap mahluk ciptaan Tuhan yang telah mendekati kata ‘sempurna’ atau bahkan bisa dikatakan telah sempurna ini. Ia melemparkan senyum termanisnya yang membuat duniaku terasa meleleh, ada apa denganku? Kenapa bisa menjadi segila ini berhadapan dengan seorang pria yang bahkan baru kulihat beberapa detik lalu.
            “Ra? Rara?” Suara Nana mengganggu konsentrasiku yang sedang menghayati setiap keindahan yang Tuhan hadapkan di depan kedua bola mataku saat ini.
            “Eh, apaan sih Na, teriak-teriak gitu? Aku belum budek loh.” Omelku pada Nana.
            “Nah, terus kalo bukan budek apa dong namanya? Tuli? Di ajakin ngomong dari tadi malah diem aja. Jangan bilang kalo, hm kayaknya aku tahu nih.” Ledekan Nana berhasil membuatku panik seketika.
            “Sst, jangan buat malu sekarang deh. Ntar kalo anak-anak yang lain pada tahu gimana? Kan...” belum sempat aku melanjutkan omelanku, pria itu sudah berada di depan mejaku sambil menyodorkan selebaran.
            “Kasian banget temennya diomelin gitu, jangan galak-galak loh.” Suara yang santai namun lembut itu menyeringai masuk ke dalam telingaku. Tak lupa di bubuhi sedikit senyum yang kini menghibur indera penglihatanku. Mulutku yang tadinya siap mengeluarkan berbagai jurus andalan untuk memberikan sedikit siraman rohani bagi Nana, sontak terhenti digantikan dengan senyum temanis yang aku siapkan tapi mungkin jadi terlihat aneh dengan ekspresi wajahku yang juga menahan malu.
            “Awas ya, Na. Pulang sekolah nanti aku lanjutin deh ceramahnya.” Kataku dalam hati.
            “Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang adik-adik semua, maaf ya mengganggu waktunya sebentar. Kakak dari PENATA, Peduli Generasi Kita, sebuah organisasi resmi dari Universitas Harapan Bangsa yang menaungi bidang sosialisasi terhadap permasalahan sosial berupa HIV/AIDS dan Napza yang ingin mengundang adik-adik sekalian untuk berpartisipasi dalam acara peringatan hari AIDS sedunia yang akan diadakan pada tanggal...” suara salah seorang dari pria-pria itu berlalu begitu saja tanpa terdengar jelas olehku yang masih sibuk memperhatikan pria yang kini ada di hadapanku.
            “Kak, kakak kok mau ikut organisasi ginian? Nggak capek apa kak ngejelasin kesana kemari waktu sosialisasinya kayak kakak yang disana itu?” tanya Nana memecahkan keheningan di antara kami bertiga.
            “Nggak kok dek, malah kakak tertarik banget sama hal-hal yang berhubungan dengan sosial kayak gini. Kita jadi bisa nambah wawasan, pengalaman, iya pokoknya serulah ketemu banyak orang-orang baru.” Jelas pria itu dan tak lupa mengakhirinya dengan senyuman menawan itu lagi.
            “Kakak udah gabung di PENATA dari awal kuliah ya?” tanya Nana lagi, kali ini mulai membuatku iri karena ia bisa mengobrol dengan pria yang sejak tadi sudah mencuri perhatianku. Nana memang terkenal sebagai anak yang supel di kelasku, ia mudah berbaur dengan siapa saja bahkan dengan orang yang belum dikenalnya sekali pun.
            “Iya dek, kakak gabung disini dari semester pertama kuliah, sekarang kakak semester lima jadi udah sekitar dua tahunan gitu gabung sama mereka.”
            Aku hanya bisa menjadi pendengar yang budiman antara percakapan Nana dengan pria itu.
            “Temen kamu ini lagi sakit gigi ya? Atau lagi sariawan? Kakak perhatiin dari tadi diem aja.” Pria itu lalu bertanya pada Nana sambil melirik ke arahku dan tentu saja membuat wajahku serasa menabrak tembok raksasa.
            “Nggak tahu nih kak, mungkin biasalah ya cewek lagi...”
            “Nana, apaan sih ngomongnya aneh-aneh aja.” aku menyela ucapan Nana, berjaga-jaga supaya ia tidak mengeluarkan kata-kata polos yang terkadang membuat orang di sekitarnya mati kutu. “Nggak kok kak, nggak apa-apa. Cuma lagi agak nggak enak badan aja.” Lanjutku.
            “Kalian kan udah kelas tiga nih, pasti capek banyak kegiatan ini itu jadi mesti pinter-pinter jaga kesehatan, dek.”
            Aku hanya tersenyum mendengar nasihat pria berhidung mancung itu, begitu juga dengan Nana. Kami bertiga pun terlibat percakapan yang cukup hangat tanpa menghiraukan penjelasan dari anggota PENATA yang lain tentang sosialisasi itu.
            “Si Nana tadi katanya kuliah mau ambil jurusan fisika, kalo Rara mau jurusan apa nih?” tanya pria itu sambil menatapku, kedua mata kami pun saling memandangi untuk yang kesekian kalinya.
            “Loh?” Aku sedikit terkejut mendengar dia menyebut namaku. Mungkin dari papan nama yang ada di seragam sekolah yang aku kenakan, aku buru-buru menyadari hal itu. “Rara pengen ambil jurusan sistem informasi kak.” Jawabku dengan penuh keyakinan.
            “Wah, bagus itu, Ra. Berarti nanti kita bisa satu jurusan dong.” Ucapnya dengan penuh antusias, membuatku merasa semakin melayang. Kembali aku memperhatikan setiap lekukan keindahan ciptaan Tuhan yang kini ada di hadapanku, kemeja cokelat yang ia kenakan sangat cocok berpadu dengan kulit putihnya, begitu juga dengan rambut yang tertata rapi seolah semua telah dipersiapkan sedemikian rupa. Secara fisik, tampilannya memang terlihat sempurna namun pembawaannya yang sangat berwibawa tapi tetap terkesan santai yang menjadi nilai plusku untuknya.
            “Ra, kamu tahu nggak tipe anak kuliahan itu ada dua yang harus dihindari.”
            “Apaan tuh kak? Hm, pasti yang suka bolos kuliah sama yang males buat tugas ya?”
            “Bukan Ra, yang pertama namanya kupu-kupu, kuliah-pulang-kuliah-pulang. Kalo yang kedua tipe kura-kura, kuliah-rapat-kuliah-rapat. Bayangin deh betapa membosankannya kegiatan kayak itu. Nanti kalo Rara kuliah jangan ikutin tipe-tipe kayak gitu ya, yang santai tapi pasti aja.” Lagi-lagi ia menjelaskan dengan penuh kewibawaan namun tetap terasa sangat ramah.
            “Hahaha... ada-ada aja kakak nih, tapi ada benernya juga sih. Pasti ngebosenin banget ngejalanin beberapa tahunnya dengan cara kayak gitu.”
            “Iya tapi bukan berarti kakak ngelarang berorganisasi, Ra. Kakak sendiri nih juga gabung organisasi, yang penting pinter-pinter bagi waktu aja karena kalo pun sama sekali nggak ikut organisasi juga pasti bakal flat banget hidupnya. Biasanya juga orang-orang yang interview kerja pasti ditanyain dua hal umum, pertama pernah mimpin atau jadi anggota di organisasi apa, kedua pernah punya usaha dagang apa, karena dua hal ini pasti berhubungan sama gimana kita memanage kerjaan kita nanti.”
            “Duh kakak, multitalent banget. Mahasiswa sistem informasi tapi ngerti masalah manajemen.”
            “Itulah serunya kalo kita kenal banyak orang baru, Ra, bisa saling sharing. By the way, Rara gimana jadi ikut seminar ini?”
            “Jadi kak, Rara ikut kok.”
            “Ya udah deh kalo gitu kakak pamit dulu ya Ra, kak Harun udah siap tuh sosialisasinya sama temen-temen kamu yang lain. Minggu depan kakak kesini lagi buat mastiin siapa aja yang mau jadi simpatisan acaranya ntar. See you, Ra.” Ia lalu berjalan keluar dari kelasku dan sekali lagi tak lupa memberi senyum simpulnya yang paling menawan.
            “Hayo! Ketahuan! Benerkan perkiraan aku tadi, kamu pasti, ehem, naksir kakak itu.” Suara Nana mengejutkanku dari belakang.
            “Duh, Na, untung deh aku udah duduk semeja sama kamu dari kelas satu. Coba kalo nggak, bisa bolak balik keluar masuk rumah sakit aku gara-gara hobi ngagetin kamu itu.”
            “Ra, inget loh kata kakak itu jangan suka ngomel. Eh, tadinya aku sengaja sih pindah duduk bareng Icha, ninggalin kamu ngobrol berdua sama kakak itu biar lebih heart to heart gitu deh, tapi kamu nggak ada inisiatif banget. Coba deh aku tanya, pasti kamu nggak tahukan namanya siapa, nggak tahukan username akun twitternya, facebook, line, kakao, ym atau apalah gitu socmed yang lain. Jiah Raraaa, parah banget apa ya naksirnya sampe berubah jadi bego gini.” Kali ini giliran Nana yang mengeluarkan jurus omelannya.
            “Hehe... lupa, Na. Abis keasikkan sih.” Aku menanggapi celotehan Nana dengan santai. Santai tapi pasti, ucapan pria yang beberapa waktu lalu dihadirkan Tuhan dihadapanku dengan tujuan tertentu masih terngiang dalam ingatanku. Caranya berbicara di hadapanku, caranya menatapku, caranya memberikan senyum-senyum terindah. Apakah ini yang dinamakan pengagum rahasianya? Ah, ntahlah, siapa pun namanya, kapan pun kami akan bertemu lagi, aku akan tetap mengagumi setiap keindahan yang dianugerahakan Tuhan padanya.

Comments