November 16, 2013

Adalah Caramu

            “Ayo cepat anak-anak, kumpulkan kertas ulangannya. Kita lanjutkan minggu depan, sebentar lagi akan ada sosialisasi untuk kalian.”
            Lamunanku buyar ketika mendengar suara Ibu Linda, guru fisika kesayanganku sejak kelas satu SMA yang meminta kami untuk segera mengumpulkan kertas ulangan.
            “Sosialisasi? Sosialisasi apa? Untuk UN atau PTN? Bukankah sosialisasinya akan diadakan semester dua nanti?” gumamku sambil merapikan buku-buku yang berserakkan di atas meja.
            “Katanya sih mau ada sosialisasi tentang HIV/AIDS gitu, tadi aku denger dari anak kelas sebelah waktu jam istirahat.” Jelas Nana, teman semejaku di kelas.
            Mataku lalu menatap ke arah pintu, membayangkan seperti apa orang yang akan masuk ke dalam kelasku untuk melakukan sosialisasi tentang hal semacam itu. Aku mulai menerka-nerka apakah yang akan masuk adalah beberapa pria atau wanita paruh baya bersama alat peraga mereka dan siap berceloteh ini itu di hadapanku? Atau mungkin para intelek yang sering berkeliaran di layar kaca, yang sering mengisi acara talkshow tentang kesehatan? Pasti sangat membosankan, untungnya bel pulang tinggal setengah jam lagi.
            Mataku masih saja memandangi ke arah pintu hingga seorang pria berhidung mancung masuk lalu berjalan ke arahku. Tuhan, gerangan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasa sulit menggerakkan kakiku? Bahkan untuk menginjak lantai, semua terasa melayang. Mataku begitu berat untuk mengedipkan kelopaknya hanya karena tidak ingin melewatkan waktu untuk menatap mahluk ciptaan Tuhan yang telah mendekati kata ‘sempurna’ atau bahkan bisa dikatakan telah sempurna ini. Ia melemparkan senyum termanisnya yang membuat duniaku terasa meleleh, ada apa denganku? Kenapa bisa menjadi segila ini berhadapan dengan seorang pria yang bahkan baru kulihat beberapa detik lalu.
            “Ra? Rara?” Suara Nana mengganggu konsentrasiku yang sedang menghayati setiap keindahan yang Tuhan hadapkan di depan kedua bola mataku saat ini.
            “Eh, apaan sih Na, teriak-teriak gitu? Aku belum budek loh.” Omelku pada Nana.
            “Nah, terus kalo bukan budek apa dong namanya? Tuli? Di ajakin ngomong dari tadi malah diem aja. Jangan bilang kalo, hm kayaknya aku tahu nih.” Ledekan Nana berhasil membuatku panik seketika.
            “Sst, jangan buat malu sekarang deh. Ntar kalo anak-anak yang lain pada tahu gimana? Kan...” belum sempat aku melanjutkan omelanku, pria itu sudah berada di depan mejaku sambil menyodorkan selebaran.
            “Kasian banget temennya diomelin gitu, jangan galak-galak loh.” Suara yang santai namun lembut itu menyeringai masuk ke dalam telingaku. Tak lupa di bubuhi sedikit senyum yang kini menghibur indera penglihatanku. Mulutku yang tadinya siap mengeluarkan berbagai jurus andalan untuk memberikan sedikit siraman rohani bagi Nana, sontak terhenti digantikan dengan senyum temanis yang aku siapkan tapi mungkin jadi terlihat aneh dengan ekspresi wajahku yang juga menahan malu.
            “Awas ya, Na. Pulang sekolah nanti aku lanjutin deh ceramahnya.” Kataku dalam hati.
            “Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang adik-adik semua, maaf ya mengganggu waktunya sebentar. Kakak dari PENATA, Peduli Generasi Kita, sebuah organisasi resmi dari Universitas Harapan Bangsa yang menaungi bidang sosialisasi terhadap permasalahan sosial berupa HIV/AIDS dan Napza yang ingin mengundang adik-adik sekalian untuk berpartisipasi dalam acara peringatan hari AIDS sedunia yang akan diadakan pada tanggal...” suara salah seorang dari pria-pria itu berlalu begitu saja tanpa terdengar jelas olehku yang masih sibuk memperhatikan pria yang kini ada di hadapanku.
            “Kak, kakak kok mau ikut organisasi ginian? Nggak capek apa kak ngejelasin kesana kemari waktu sosialisasinya kayak kakak yang disana itu?” tanya Nana memecahkan keheningan di antara kami bertiga.
            “Nggak kok dek, malah kakak tertarik banget sama hal-hal yang berhubungan dengan sosial kayak gini. Kita jadi bisa nambah wawasan, pengalaman, iya pokoknya serulah ketemu banyak orang-orang baru.” Jelas pria itu dan tak lupa mengakhirinya dengan senyuman menawan itu lagi.
            “Kakak udah gabung di PENATA dari awal kuliah ya?” tanya Nana lagi, kali ini mulai membuatku iri karena ia bisa mengobrol dengan pria yang sejak tadi sudah mencuri perhatianku. Nana memang terkenal sebagai anak yang supel di kelasku, ia mudah berbaur dengan siapa saja bahkan dengan orang yang belum dikenalnya sekali pun.
            “Iya dek, kakak gabung disini dari semester pertama kuliah, sekarang kakak semester lima jadi udah sekitar dua tahunan gitu gabung sama mereka.”
            Aku hanya bisa menjadi pendengar yang budiman antara percakapan Nana dengan pria itu.
            “Temen kamu ini lagi sakit gigi ya? Atau lagi sariawan? Kakak perhatiin dari tadi diem aja.” Pria itu lalu bertanya pada Nana sambil melirik ke arahku dan tentu saja membuat wajahku serasa menabrak tembok raksasa.
            “Nggak tahu nih kak, mungkin biasalah ya cewek lagi...”
            “Nana, apaan sih ngomongnya aneh-aneh aja.” aku menyela ucapan Nana, berjaga-jaga supaya ia tidak mengeluarkan kata-kata polos yang terkadang membuat orang di sekitarnya mati kutu. “Nggak kok kak, nggak apa-apa. Cuma lagi agak nggak enak badan aja.” Lanjutku.
            “Kalian kan udah kelas tiga nih, pasti capek banyak kegiatan ini itu jadi mesti pinter-pinter jaga kesehatan, dek.”
            Aku hanya tersenyum mendengar nasihat pria berhidung mancung itu, begitu juga dengan Nana. Kami bertiga pun terlibat percakapan yang cukup hangat tanpa menghiraukan penjelasan dari anggota PENATA yang lain tentang sosialisasi itu.
            “Si Nana tadi katanya kuliah mau ambil jurusan fisika, kalo Rara mau jurusan apa nih?” tanya pria itu sambil menatapku, kedua mata kami pun saling memandangi untuk yang kesekian kalinya.
            “Loh?” Aku sedikit terkejut mendengar dia menyebut namaku. Mungkin dari papan nama yang ada di seragam sekolah yang aku kenakan, aku buru-buru menyadari hal itu. “Rara pengen ambil jurusan sistem informasi kak.” Jawabku dengan penuh keyakinan.
            “Wah, bagus itu, Ra. Berarti nanti kita bisa satu jurusan dong.” Ucapnya dengan penuh antusias, membuatku merasa semakin melayang. Kembali aku memperhatikan setiap lekukan keindahan ciptaan Tuhan yang kini ada di hadapanku, kemeja cokelat yang ia kenakan sangat cocok berpadu dengan kulit putihnya, begitu juga dengan rambut yang tertata rapi seolah semua telah dipersiapkan sedemikian rupa. Secara fisik, tampilannya memang terlihat sempurna namun pembawaannya yang sangat berwibawa tapi tetap terkesan santai yang menjadi nilai plusku untuknya.
            “Ra, kamu tahu nggak tipe anak kuliahan itu ada dua yang harus dihindari.”
            “Apaan tuh kak? Hm, pasti yang suka bolos kuliah sama yang males buat tugas ya?”
            “Bukan Ra, yang pertama namanya kupu-kupu, kuliah-pulang-kuliah-pulang. Kalo yang kedua tipe kura-kura, kuliah-rapat-kuliah-rapat. Bayangin deh betapa membosankannya kegiatan kayak itu. Nanti kalo Rara kuliah jangan ikutin tipe-tipe kayak gitu ya, yang santai tapi pasti aja.” Lagi-lagi ia menjelaskan dengan penuh kewibawaan namun tetap terasa sangat ramah.
            “Hahaha... ada-ada aja kakak nih, tapi ada benernya juga sih. Pasti ngebosenin banget ngejalanin beberapa tahunnya dengan cara kayak gitu.”
            “Iya tapi bukan berarti kakak ngelarang berorganisasi, Ra. Kakak sendiri nih juga gabung organisasi, yang penting pinter-pinter bagi waktu aja karena kalo pun sama sekali nggak ikut organisasi juga pasti bakal flat banget hidupnya. Biasanya juga orang-orang yang interview kerja pasti ditanyain dua hal umum, pertama pernah mimpin atau jadi anggota di organisasi apa, kedua pernah punya usaha dagang apa, karena dua hal ini pasti berhubungan sama gimana kita memanage kerjaan kita nanti.”
            “Duh kakak, multitalent banget. Mahasiswa sistem informasi tapi ngerti masalah manajemen.”
            “Itulah serunya kalo kita kenal banyak orang baru, Ra, bisa saling sharing. By the way, Rara gimana jadi ikut seminar ini?”
            “Jadi kak, Rara ikut kok.”
            “Ya udah deh kalo gitu kakak pamit dulu ya Ra, kak Harun udah siap tuh sosialisasinya sama temen-temen kamu yang lain. Minggu depan kakak kesini lagi buat mastiin siapa aja yang mau jadi simpatisan acaranya ntar. See you, Ra.” Ia lalu berjalan keluar dari kelasku dan sekali lagi tak lupa memberi senyum simpulnya yang paling menawan.
            “Hayo! Ketahuan! Benerkan perkiraan aku tadi, kamu pasti, ehem, naksir kakak itu.” Suara Nana mengejutkanku dari belakang.
            “Duh, Na, untung deh aku udah duduk semeja sama kamu dari kelas satu. Coba kalo nggak, bisa bolak balik keluar masuk rumah sakit aku gara-gara hobi ngagetin kamu itu.”
            “Ra, inget loh kata kakak itu jangan suka ngomel. Eh, tadinya aku sengaja sih pindah duduk bareng Icha, ninggalin kamu ngobrol berdua sama kakak itu biar lebih heart to heart gitu deh, tapi kamu nggak ada inisiatif banget. Coba deh aku tanya, pasti kamu nggak tahukan namanya siapa, nggak tahukan username akun twitternya, facebook, line, kakao, ym atau apalah gitu socmed yang lain. Jiah Raraaa, parah banget apa ya naksirnya sampe berubah jadi bego gini.” Kali ini giliran Nana yang mengeluarkan jurus omelannya.
            “Hehe... lupa, Na. Abis keasikkan sih.” Aku menanggapi celotehan Nana dengan santai. Santai tapi pasti, ucapan pria yang beberapa waktu lalu dihadirkan Tuhan dihadapanku dengan tujuan tertentu masih terngiang dalam ingatanku. Caranya berbicara di hadapanku, caranya menatapku, caranya memberikan senyum-senyum terindah. Apakah ini yang dinamakan pengagum rahasianya? Ah, ntahlah, siapa pun namanya, kapan pun kami akan bertemu lagi, aku akan tetap mengagumi setiap keindahan yang dianugerahakan Tuhan padanya.

November 14, 2013

With Love, With Cupcake♥

            Aku terbangun dari tidur lalu memandangi kalender yang berada di dekat meja belajarku. Masih berusaha mengumpulkan nyawa yang semalaman berkelana sementara aku tertidur nyenyak menikmati mimpi yang gelap. Mimpi yang gelap? Tersimpul senyum di ujung bibirku ketika mengingat kata-kata itu. Dulu, setiap pagi kita bertemu, kamu hampir selalu menanyakan apa yang kumimpikan tadi malam dan ketika aku menjawab tidak ada, kamu malah mengatakan aku bermimpi gelap. Kamu memang selalu beranggapan bahwa setiap mereka yang tidur pasti akan selalu bermimpi, indah, buruk, maupun gelap. Aku menghela napas panjang lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil meraih kalender kecil itu, 16 Juni 2013. “Happy anniversary, Za...”  ucapku lirih sambil berusaha menahan air mata yang telah siap meluncur sejak tadi. Mengapa harus kamu yang menghadirkan berjuta tanda tanya dan bisu yang menyeringai santai seperti ini? Aku bahkan masih merayakan hari ini, meskipun tanpamu. Mengapa harus kamu yang dulu datang dengan sangat tiba-tiba lalu menerobos masuk ke dalam pintu hatiku? Apa tak ada orang lain selain kamu yang bisa membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka? Aku masih berdiam menatap tanggal itu. Ini hari Minggu, jika aku mau, aku bisa bersantai seharian tanpa harus melakukan apapun tapi aku memilih untuk segera bersiap demi pergi ke suatu tempat yang telah lama aku rindukan.
            Hujan yang turun sejak malam tadi sepertinya masih enggan untuk menghentikan rintiknya, namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi apa yang telah aku rencanakan sejak enam bulan lalu. Aku masih tak tahu dan tak mengerti, betapa bodohnya aku dengan berbagai macam rencana yang akan kujalankan hari ini. Semua perlengkapan telah aku siapkan, termasuk jaket kesayangan yang tak pernah lupa kubawa kemana pun aku pergi. Sepanjang jalan aku tak henti-hentinya bertanya dalam hati, mengapa harus kamu yang mengisyaratkan hati untuk menyimpan perasaan sedalam ini? Mengapa harus kamu yang memaksa otakku agar tak berhenti memikirkanmu? Mengapa harus kita? Mengapa bukan mereka? Aku masih saja terus bertanya meski tak pernah ada satu pun pertanyaanku yang terjawab, sepertinya waktu masih ingin mempermainkanku, ia belum bersedia menjawab semua rasa penasaranku ini.
            Aku telah menginjakkan kaki di tempat ini, masih sama, semuanya masih sama seperti dulu, seperti saat kita bergandengan tangan di tempat ini beberapa tahun silam. Sebenarnya aku bisa saja datang ke tempat ini kapan pun aku mau, hanya saja semenjak kepergianmu yang serba mendadak itu, aku berusaha menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan baik itu penting atau pun tidak, hanya demi mempersempit waktu luangku untuk mengingat tentangmu. Dan sepertinya aku berhasil, hanya sedikit waktuku menjelang tidur saja yang dapat kugunakan untuk mengenang tentangmu. Aku mengeluarkan semua yang telah aku persiapkan dari rumah. Sebuah surat dengan tinta ungu, iya aku masih ingat ungu adalah warna kesukaanmu, dan dua buah cupcake coklat bertuliskan with love, 3rd anniversary for us. Tempat ini sangat sepi, tidak seperti minggu-minggu sebelumnya. Mungkin karena udara pagi ini yang tidak bersahabat sehingga membuat orang-orang lebih memilih meringkuk dalam selimutnya dari pada harus berolahraga atau setidaknya berjalan-jalan santai di tempat ini. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada sesosok anak kecil berbaju kumal yang berlari menuju tempatku saat ini, ia kehujanan dan sama sepertiku ia juga mencari tempat berteduh. Ia berdiri tidak jauh dari tempatku sambil memegangi perutnya. Kupandangi wajah anak itu, siapa pun yang melihatnya pasti bisa menebak bahwa ia adalah anak jalanan yang biasa meminta-minta di tempat ini, wajahnya tidak terlihat seperti anak yang nakal tapi dimana orang tuanya? Mengapa tega membiarkan anak kecil ini berkeliaran di tengah hujan dan udara yang sangat menusuk di pagi ini? Lagi-lagi, seorang anak harus melakukan hal-hal seperti ini hanya karena keterbatasan ekonomi. Seketika rasa haruku muncul. Betapa beruntungnya aku yang pagi ini masih bisa terbangun di atas kasur yang empuk bersama selimut yang begitu hangat, masih bisa menikmati sarapan bersama kedua orang tuaku. Aku memandangi cupcake yang sedari tadi berada di tanganku lalu berkata dalam hati “Jika Tuhan berkenan, aku yakin suatu saat nanti kita akan dipertemukan kembali dalam keadaan hati yang lebih baik lagi. Jangan biarkan aku terus mencari hal yang sebenarnya tak pernah ada, ya. Jangan biarkan aku merasakan perasaan yang mungkin sebenarnya tak pernah kau rasakan. Jangan biarkan aku terus menunggu. Jangan biarkan sisa waktuku terbuang dengan percuma hanya karena kamu yang sulit untuk kulupakan. Aku tak ingin waktuku sia-sia hanya untuk melamun sepanjang waktu atau harus membuang air mataku dengan percuma ketika memikirkanmu. Semoga kamu selalu dalam keadaan baik disana.
            Aku mendekati anak kecil itu lalu menanyakan namanya. Mirza, iya, nama itu keluar dari bibir mungilnya. Kalian adalah dua sosok yang memiliki nama yang sama dengan nasib berbeda. Aku senang bisa bertemu Mirza yang lain, Mirza kecil. Namun aku berharap kedua Mirza yang pernah kutemui memiliki sifat yang berbeda, semoga Mirza kecil ini kelak memiliki nasib lebih baik dari Mirza sebelumnya. Semoga tidak ada lagi pengkhianatan, sakit hati, penyesalan, apalagi kebencian.
            “Mirza, kamu udah makan belum? Kakak punya kue cokelat nih. Kalo kamu mau, kamu boleh ambil dua-duanya.” ucapku seramah mungkin agar membuatnya tidak takut.
            “Kue kakak ada dua, pasti kakak nunggu temen kakak, iya kan?” jawabnya dengan nada yang begitu polos namun sangat mengejutkanku. Bagaimana bisa anak sekecil ini memikirkan apa yang aku harapkan?
            “Iya nih, kakak nunggu temen kakak tapi kayaknya dia nggak bakal dateng deh soalnya hujannya masih belum reda.”
            “Temen kakak kok jahat banget sih, kakak aja rela hujan-hujanan dateng kesini, masa dia nggak.”
            Bagaikan kilatan petir yang menyambar, ucapan itu sontak terngiang-ngiang dalam telingaku. Aku berusaha mencerna jawaban sesederhana mungkin agar Mirza kecil ini bisa mengerti.
            “Mungkin temen kakak ada urusan mendadak jadinya dia nggak bisa dateng kesini. Oh iya, nama temen kakak itu sama kayak kamu loh, Mirza” Jelasku sambil menyodorkan kedua cupcake cokelat yang telah kumasukkan ke dalam bungkusnya.
            “Oh gitu.” Jawabnya singkat. “Kuenya enak, kak. Makasih ya. ” Suara Mirza kecil yang begitu nyaring terdengar sesaat setelah ia memakan kue itu.
            “Ya udah, habisin ya kuenya. Kakak mau pulang dulu, kapan-kapan kakak main kesini lagi.”
            “Kak, tunggu! Nama kakak siapa? Nanti kalo aku ketemu sama temen kakak, aku bilang deh kalo kakak nungguin dia disini.”
            “Emangnya kamu tahu temen kakak yang mana?”
            “Nggak tahu sih, tapi kan bisa aku tanyain namanya kalo ada yang kesini.”
            “Kesya, nama kakak Aiza Kesya. Kalo kamu ketemu sama dia, bilangin ya jangan suka pergi tiba-tiba lagi. ”
            Sambil tersenyum aku melambaikan tangan pada Mirza kecil, sedikit geli membayangkan bagaimana jadinya jika ia benar-benar melakukan hal itu? Menanyakan nama setiap pria yang datang ke tempat ini hanya demi menyampaikan pesanku.

Pernahkah Kamu Mengenang Tentang Kita?

“Pernahkah kamu mengenang tentang kita? Bayangkan saat pertama kali kita mengenal, bagaimana kita bisa dekat? Kemana saja kita pernah pergi? Apa saja yang kita lewati berdua? Saat kita marahan lalu baikan, saat aku tertawa bersamamu, saat aku bertingkah konyol di hadapanmu, saat pelukanmu menenangkan aku,saat aku marah tanpa alasan yang jelas lalu membuatmu merasa penat. Bayangkan jika saat itu takkan pernah ada lagi, bayangkan jika tiba-tiba suaraku menghilang. Saat tak terdengar lagi namamu terucap dari bibirku, saat tak ada lagi pangggilan dariku yang mungkin membuatmu risih, tak ada lagi suara amarah, celotehan berisik dariku dan isak tangisku yang pernah membuatmu bosan. Pernahkah kamu membayangkan hal itu terjadi pada kita? Saat semua tentang kita telah lenyap, adakah hal yang akan kamu lakukan untuk tetap mempertahankan aku? Adakah ucapan terpenting yang ingin kamu katakan?”
Tiba-tiba tubuhku bergetar saat membaca sebuah surat yang tanpa sengaja jatuh ketika aku membuka buku-buku lamaku yang hampir usang. Ya, surat bertanggal 16 Juni 2010. Pikiranku pun melayang-layang berusaha mengingat kembali masa silam itu, 3 tahun yang lalu... Rasanya sangat bodoh jika aku mengatakan pada mereka bahwa aku masih mengingatnya, sangat mengingatnya. Bagaimana bisa aku melupakan hal yang amat sangat menyakitkan bagiku begitu mudahnya? Aku selalu berandai-andai bagaimana jika Tuhan mengambil ingatanku? Bukankah Tuhan bisa melakukannya dengan sangat mudah? Mengambil semua ingatan masa laluku lalu membiarkan aku hidup dengan penuh kebahagiaan baru tanpa harus mengingat semua peristiwa kelam itu. Tapi nyatanya, Tuhan tidak melakukan hal itu dan aku yakin segala rencana-Nya pasti lebih baik dari apapun. 3 tahun yang lalu... Aku memejamkan kedua mataku berharap bisa mengingat wajah itu dengan jelas dan dapat! Aku bisa mengingatnya, mengingat kembali sinar mata penuh ketenangan itu, mengingat kembali senyuman yang selalu kulihat saat aku membuka hari, mengingat kembali betapa hangatnya pelukan itu dan mengingat kembali betapa lembutnya suara itu, suara yang selalu menjadi pengantar tidurku menuju mimpi-mimpi indah itu. Namun, semuanya berubah menjadi gelap, seketika! Ingatanku terhenti pada suatu sore dimana waktu terasa begitu cepat berlalu, secepat itukah? Secepat itukah hati yang masih sangat rapuh ini merasakan kembali sakitnya tusukan belati pengkhianatan? Secepat itukah hati yang masih berusaha bangkit ini harus jatuh dan terpuruk kembali di lubang yang sama? Ntahlah, aku membuka mataku dan mendapati semuanya sangat amat berbeda sekarang, takkan ada lagi sinar mata itu, takkan ada lagi senyuman indah itu, takkan ada lagi pelukan hangat itu, takkan pernah ada lagi suara lembut itu. Semuanya mulai hilang bagaikan batu yang harus rela terkikis oleh kemesraan belaian angin. Dan aku bersyukur, jalan yang diberikan Tuhan pasti akan lebih baik dari semua harapan-harapanku, bersamanya.

November 13, 2013

Kepada Si Pria Pecinta Drumband


Hai kamu, pria pecinta matematika dan drumband, lama sudah aku tak mendengar suaramu, lama juga aku tak pernah mendengar kabarmu lagi. Suaramu, apakah masih sama seperti dulu? Suara yang penuh kelembutan juga kedamaian bagi siapa pun yang mendengarnya, suara yang selalu menjadi pengantar tidurku menuju mimpi-mimpi yang pernah kita rencanakan. Namun itu dulu, jauh sebelum takdir yang telah digariskan Tuhan memisahkan kita, memisahkan raga juga hati kita. Aku dengar dari mereka telah ada seseorang yang baru yang kini mendampingimu, ya? Separuh hatiku turut berbahagia, namun separuh hatiku yang lain turut hancur mendengarnya. Secepat itukah? Ah, maaf, aku lupa bagaimana hubungan hati kita saat ini, jauh, sangat jauh berbeda. Kamu bahkan tak pernah lagi ada dalam pantulan kedua bola mataku, hanya bayanganmulah yang selalu menghantui semestaku dimana pun, kapan pun, bersama siapa pun aku berada. Aku menyadari segala kepentinganmu bukan lagi kepentinganku dan begitu pula sebaliknya. Kita telah berbeda, tak lagi berotasi pada poros yang sama. Lantas, masih bolehkah aku bertanya tentang Aiza? Sebuah nama yang pernah kita rencanakan untuk sosok di masa depan kita kelak, sosok khayalan yang hanya pernah ada dalam anganku dan anganmu, angan kita. Aku mengerti sekarang itu hanyalah sebuah khayalan bodoh yang takkan pernah menjadi nyata, namun bukan berarti bisa menghapuskan begitu banyak harapan yang pernah kita bangun bersama. Sosok khayalan itu akan selalu ada dalam pikiranku menjadi kenangan yang membisu, menjadi pembisik rindu saat aku mengingatmu, mengingat aku dan kamu yang sempat menjadi kita. Dan… bagaimana dengan pendamping pilihanmu saat ini? Siapakah wanita beruntung itu? Betapa bahagianya ia bisa menjadi milikmu, bisa membuatmu tersenyum karena tingkah manisnya, bisa selalu melihat tawamu karenanya, betapa senang hatinya bisa masuk dalam hidupmu dan tentu saja menemanimu membangun asa yang baru, benar bukan? Tidak seperti aku yang selalu mencintaimu dalam diam, hanya bisa merindukanmu lewat tetesan air mata, memelukmu dengan untaian doa dalam sujudku lalu harus tersingkir dari dalam hatimu dan tak lagi dapat menempati tempatku semula.
Tahukah kamu, aku memang masih sering merindukanmu, menyebut namamu dalam doaku, memikirkanmu sebelum aku terhanyut dalam mimpi yang tak pernah lagi seindah dulu. Masih bolehkah aku melakukan hal-hal kecil namun manis seperti dulu? Merindukanmu lalu menyampaikan rasa rindu itu, mencintaimu dengan segenap hati, memperhatikan segala gerak gerikmu meski dengan sepengetahuanmu atau pun tidak, mendoakan semua yang terbaik untukmu? Masih bolehkah aku mendengar suaramu meski hanya lewat sambungan telepon? Rasanya semua telah berbeda, jauh berbeda. Sifat pengalah dan lemah lembutmu serta sifat egois dan keras kepalaku yang mampu membuat kita saling jatuh cinta, tak peduli bagaimana cinta datang dan mengetuk pintu hati kita. Awal yang sederhana, melalui pesan singkat dan kita pun mulai saling bercerita, saling berbagi tentang kekosongan hati yang masing-masing pernah kita rasakan sebelum kita bersama. Betapa indahnya masa-masa itu, betapa indahnya masa dimana kamu dan aku masih menjadi kita, betapa indahnya masa lalu.

Pesan Terakhir Di Akhir Tahun

5 November 2012
Bagaikan kehilangan udara untuk bernapas, bagaikan kehilangan cahaya untuk dapat melihat ke depan, bagaikan besi panas yang menusuk ke dalam hati, tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Mendadak tubuh kecil ini terasa begitu lemas hingga aku hanya bisa terjatuh tanpa ada seorang pun yang tahu. Bagaimana bisa semuanya terjadi begitu cepat? Bagaimana bisa semuanya berakhir dengan menyisakan beribu bahkan berjuta tanda tanya dalam hatiku yang kini terasa begitu sesak? Lantas, pikiranku menerawang jauh ke masa lalu, mengingat semua yang telah berlalu namun masih tetap ada dalam ingatanku. Mataku terpejam, namun pikiranku masih saja berusaha mencerna apa yang baru saja kulihat. Bagaikan petir di siang bolong, lidahku bahkan terasa begitu kelu hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Air mata yang tak lagi dapat ku bendung perlahan jatuh, menetes, hingga akhirnya mengalir membasahi layar telepon genggam yang telah lebih dulu jatuh dari pada tubuhku yang lemah ini. Bagaimana bisa sebuah pesan singkat yang baru saja ku baca memutuskan semua harapanku tentang hidup? Sebuah pesan singkat yang tampak begitu sederhana, namun dengan begitu mudah mampu menghancurkan sebuah hati yang sedang berusaha bangkit dari kehancuran di masa lalunya yang begitu kelam. Pikiranku masih saja menerawang masa lalu, menerawang pada masa dimana kita masih berpegang pada janji untuk selalu bersama, menerawang pada masa dimana langakah kita masih saling beriringan menapaki jalan yang terjal, tiba-tiba semuanya terhenti pada pertemuan yang begitu singkat itu. Minggu, 25 November 2012, tak pernah terlintas dalam pikiranku akan menjadi pertemuan terakhir kita, menjadi kali terakhir aku menatap sinar matamu yang begitu menenangkan, menjadi kali terakhir aku merasakan pelukanmu yang begitu hangat, menjadi kali terakhir aku mendengar suaramu yang begitu lembut, bahkan kita belum sempat saling mengucapkan selamat tinggal. 

November 10, 2013

Berawal dari Hati

berawal dari hati yang tak sengaja berucap
tersirat rasa yang tak pernah kuharap
lelah memaksa mata untuk terpejam
namun hati terus menerawang jauh ke masa lalu
di ujung kebisuan malam
alunan ombak kerinduan kian meriak
sampai kapan akan terus membelenggu?
sampai kapan akan terus menyayat kalbu?

masih saja terhanyut dalam keraguan
masih saja berharap akan berlabuh pada sebuah pembuktian
biarlah hati saling mendekap dalam doa
biarlah mereka saling merindu lewat keheningan malam
meskipun raga masih terhuyung dalam terjal likuan hati
memegang setia yang terasah tajam
mengulas lelah yang berpijak dalam keyakinan

biarlah hati temaram ini akan terus mencinta
tak hanya untuk hidup dan matinya
namun untuk jiwa yang telah menjadi abu sekali pun