March 23, 2017

Perihal Menggenapi

Aku bisa melihatmu, di sudut ruang itu. Tawamu mampu menyerap perhatianku begitu saja. Sayang, aku tak pernah tahu kebahagiaan apa yang sudah mengundang tawamu sedemikian menyenangkan.
Aku bisa melihatmu, kau berdiri di sana. Di bawah pohon yang tak begitu rindang, kau berjalan menuju tempatku melambaikan tangan. Senyum hangat tersimpul di sudut bibirmu. Sayang, rasanya aku masih belum menemukan bagian yang hilang dari sana.
Dulu, kau adalah seutuh-utuhnya bagian yang menggenapiku. Tanpa aku harus meminta, hadirmu saja sudah mampu memenuhi bagian kosong dariku. Tapi kini, ada sebagian ruang kosong yang aku sendiri tak tahu kemana perginya. Segala hal tentangmu masih saja mampu menyerap seluruh radarku agar berpusat padamu, tapi kenapa kau tak lagi menggenapiku seperti dulu? Pudarkah rasamu?

Fly To The Sky

Bertemu denganmu tidak pernah ada dalam agendaku.
Begitu pula mungkin denganmu, tak tebersit namaku dalam hari-harimu, dulu.
Tetapi, siapa yang menyangka, ujung benang merah milikku ternyata tersangkut di kelingkingmu.
Saat pertama kali bertemu, tak ada yang asing.
Kau seperti dikirimkan dari masa lalu, seperti seseorang yang memang seharusnya menghuni ruang hatiku.
Namun, tak ada dari kita yang menyadarinya.
Sampai aku bergerak menjauh, dan kau berbalik menghilang.
Padahal, rinai tawamu kusimpan, dan selalu kujaga dengan rindu menderu.
Diam-diam, aku membisikkan harap, kapan kita bersama lagi?
Bukankah sudah diikat-Nya ujung benang merahmu di kelingkingku?
Jadi, sejak perpisahan kita dulu, aku selalu percaya kau akan menemukanku seperti saat ini.
Kau akan selalu menggenapkan rinduku yang separuh.

February 22, 2017

Hampir

Cinta tidak selalu mengundang perasaanmu untuk terus maju. Pada titik tertentu kesadarannya, cinta juga bisa mempersilahkanmu mundur. Bukan, bukan karena kemauan sendiri. Tapi karena keterpaksaan yang mau tidak mau memang harus dilakukan. Mencintai seseorang di bawa label "Jalani Saja Dulu" tentu bukan hal mudah. Menghabiskan akhir pekan bersama, melakukan banyak percakapan romantis, berbincang tentang ini dan itu hingga larut malam, tentu tidak akan bisa dilakukan oleh dua anak manusia yang tidak memiliki perasaan satu sama lain. Tapi, bagaimana jika keduanya saling memiliki perasaan, sementara salah seorang dari mereka hanya mengatakan "Kita jalani saja dulu"? Rasanya memang terdengar begitu konyol. Ingin mempertahankan, perasaan tumbuh semakin dalam. Ingin melepaskan, belum memiliki kesanggupan untuk menahan rasa sakit sendiri.

February 3, 2017

Menetaplah

Bisakah kita cukupi kepura-puraan ini dan berhenti bersembunyi? Kemudian, mari berbicara. Mari saling mengingatkan tentang kita yang pernah sibuk saling merindukan. Mari buka satu per satu halaman kenangan, kemudian kita ungkap tabir di episode-episode lalu yang gagal kita terjemahkan. Mari temukan kembali jejak-jejak kata kita. Jejak-jejak kata yang bahkan tidak ingat pernah kita torehkan.

Menetaplah sejenak, mari bicara tentang cita, cinta dan kita. Mari bicara tentang keinginan kita yang terpaling dari saat kita memilih mengasing. Mari bicara tentang sudah sejauh mana kita saling melupakan dan sebanyak apa kita temui kegagalan. Mari bicara tentang ingatan-ingatan yang kita kira sudah mengentah namun ternyata tidak pernah. Menetaplah sejenak, mari lakukan lagi segala yang pernah, mari rasakan lagi segala yang sudah.

Mari saling berhenti, ―menghukum diri. Mari pikirkan rencana untuk kita berbahagia, terserah itu dengan cara apa. Bercanda sampai pagi sehingga sunyi merasa dipecundangi, mendengarkan lagu kesukaan lalu ikut bernyanyi, atau sekadar membuat origami.

Bisakah kita sudahi kepura-puraan ini, lalu mulai melangkah bersama lagi? Kemudian, mari nyalakan kembali lilin-lilin dengan apa yang mereka sebut harapan, rakit lagi mimpi-mimpi, lalu kita mulai saling mencintai, dari awal lagi.

***

oleh Jimmy Kurniawan (@jimniawan)

January 30, 2017

Denganmu, Aku Kembali Jatuh Cinta


Langit masih kelabu. Titik-titik air pun kian terasa menyejukkan.
"Dingin." Ucapku sambil meniup telapak tangan yang terkepal erat.
Tiba-tiba kau menarik jemariku. Menggenggamnya erat di antara kedua tangan hangatmu.
Aku diam. Memandang senyummu yang hanya berjarak satu jengkal di hadapanku. Jika boleh, aku ingin memelukmu saat ini juga. Jika boleh, aku ingin merasakan bagaimana detak jantungmu di sana. Apakah sama gemuruhnya denganku?
Menemukanmu ternyata jauh lebih menyenangkan daripada bermain pasir di tepi pantai, mencari kerang di sepanjang pasir putih, atau membangun istana pasir di bawah gerimis yang manja.
Tak banyak yang bisa kulakukan selain berharap waktu mampu melambat agar aku bisa menikmati hangat senyummu lebih lama lagi.
Sebentuk rasa pun tumbuh di sana. Jauh di luar dugaan, aku mengingkari janjiku sendiri untuk tak mencintaimu. Tapi, siapa yang bisa disalahkan atas suatu hal klise bernama cinta?
Denganmu, aku kembali jatuh cinta. Denganmu, aku bisa kembali menuliskan banyak puisi cinta. Denganmu, aku ingin berhenti menerka perjalanan, karena takdir Tuhan terlalu indah untuk diterka. Sekalipun untuk aku yang terlalu banyak menerka.
Menemukanmu kembali ternyata merupakan sebuah definisi bahagia yang sangat sederhana. Hingga aku bisa merasa yakin begitu saja tanpa terlalu banyak jika. Menemukanmu adalah perihal percaya kepastian janji Tuhan. Karena menemukanmu barangkali adalah jawaban atas hati yang telah rela pada apapun yang diberikan Tuhan.