Posts

Pelangi Terakhir

Dia menjadi alasanku bertahan hingga saat ini. Siapa sangka hal sederhana sepertinya mampu membuatku terjatuh dengan hebat? Aku terjatuh tepat di hadapannya lalu ia menyelamatkanku dari sakit yang tak seharusnya. Dia menggenapkan —menjadikanku utuh meski sebenarnya semakin rapuh. Luka kemarin dari segala macam hal menyakitkan, mampu ia tebas dariku. Kelemahan yang kadang membuatku tersudut, justru ia terima sebagai sesuatu untuk dilengkapi. Saat aku merasa tidak lagi memiliki alasan untuk berjalan, lengan kokohnya mampu menawarkan sebuah perlindungan yang belum pernah kudapat dari siapapun.
Dia berbeda. Dan mampu membuatku bertahan. Matanya seperti fajar yang terselip lewat celah jendela. Memberi harapan di awal hari. Seperti senja yang amat kusenangi. Indahnya mungkin berlalu hari ini, tapi aku selalu percaya dia takkan sepenuhnya pergi. Esok hari, dia akan menjadi alasan yang sama kenapa aku masih bertahan hingga saat ini. 
Kadang aku merasa takut, jika aku tertidur nanti, kehadira…

Akhirnya Kau Hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana. Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.
Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.
Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan.
Akhirnya kau hilang. …

Hapus ― Ahimsa

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar menyentuh tombol itu lebih lama lalu memilih tombol delete. Tapi akhirnya kamu menyentuhnya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya.Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyaki…

Keharusan

Angin membawa banyak kabar sore ini. Dan kuharap salah satunya adalah berita bahwa kau sedang baik-baik saja di sana.
Apa yang kubisa selain banyak-banyak merapal doa di hadapan Tuhan? Aku tak pernah bosan memohon agar Tuhan masih mau mengabulkan pintaku, untuk selalu memberimu kebahagiaan meski sedang berada jauh dariku. Doa sejenis itu pula yang selalu kuucap untuk kedua orang tuaku.
Kau bukan merupakan sebuah ketergantungan bagiku. Aku mungkin masih bisa hidup dengan normal meski tanpamu. Segala kegiatan mungkin akan berjalan seperti biasa. Tapi satu yang pasti berubah, mungkin aku tak akan pernah bisa membuka pintu untuk menerima seseorang yang baru lagi.
Bagiku, kau adalah suatu keharusan yang selalu kumohon di hadapan Tuhan. Barang sekalipun tak pernah aku lupa mengucap namamu dalam sujud terakhir. Bagiku, kalian adalah dua hal berbeda namun memiliki arti yang begitu besar. Entah apa pula jadinya jika aku kehilanganmu, mungkin hatiku tak akan pernah sama lagi. 
Aku mencintaimu.…

Untukmu Yang Membuatku Begitu Patah

Ingin rasanya menyapamu sekali lagi, menenggak hangatnya senyummu, menikmati suaramu yang sudah biasa mengalun dalam telinga. Aku tahu, memang tak ada yang harus diingat selepas kepergian. Kenangan yang ada semestinya menjadikan kita lebih baik dalam bercermin ke depan. Tapi, bolehkah aku menyapamu sekali lagi? Mungkin akan menjadi sapaan terakhir, sebelum aku benar-benar menutup semua lembar pada buku lama yang telah selesai kuisi dengan banyak cerita kita. Ingin rasanya mengatakan pada seisi dunia bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku sudah terbiasa menjalani fase ini. Tapi, aku sadar, semakin kuat kucoba menegarkan diri, semakin banyak patahan yang menggagalkan langkahku. Aku baik-baik saja, kataku pada mereka yang mengkhawatirkanku. Tapi, apa kau tahu bahwa tak ada orang yang "benar" baik-baik saja setelah melewati fase patah hati? Baik itu kau, maupun aku, atau bahkan kita berdua. Menikmati luka masing-masing kini menjadi kegiatan kita dalam mencerna sepi. Aku dengan…

Time Flies

Day changes, and the clock is still spinning. I don't know when we'll end this. All I know is, the more days pass, the pain gets bigger when I have to go through it alone, without you. Maybe I'm still far from hope. But, do you know that I keep trying to be what you want? I just can't explain how broken I am when I remembered all that was spoken yesterday. Are you really tired of all this? Do we really have to end it? Then, what about the good prayers we have so far? What about the hope of staying together? Our arguments may be needed so that we learn from each other to dampen each other's ego or we can better appreciate the meaning of loss. But behind it all, of course I still hope that we'll be fine. That everything that happened today is just a dream and I'll be awake then see you hug me tight.

Aku Akan Membunuh

Rasanya masih sama, hanya keadaan yang kian meredup. Kini aku percaya pada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Rasa gengsi, harga diri yang terlalu tinggi, hingga ego yang tak ingin dikalahkan.  Aku membunuh hatiku sendiri. Jika dengan melepasmu mampu melapangkan langkah kita, maka tak apa. Aku akan belajar untuk membunuh hatiku sendiri. Pergilah sejauh mana kau ingin pergi. Tak perlu hiraukan pendampinganku, karena akan terasa sia-sia jika nyatanya jelmaku hanya membuat langkahmu semakin berat. Kini aku pun percaya pada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa melepaskan sesuatu yang sebenarnya belum menjadi milik kita ternyata merupakan salah satu hal tersulit. Apa yang selama ini kugenggam nyatanya tak benar-benar pernah kumiliki. Rasanya masih sama, namun hari kian mendung. Tenang di hujan badai, namun menggigil dalam gerimis. Aku akan mencoba membunuh hatiku sendiri jika dengan begitu kau bisa bebas untuk pergi.

Yujidilan

Kali ini aku akan bercerita tentang dia yang mengubah cara pandangku terhadap dunia, bahwa bahagia tak selalu perihal sebuah persamaan namun perihal bagaimana menyatukan banyak perbedaan. Dia yang dengan cara sederhananya mampu menyerap habis seluruh perhatian tanpa harus membuatku mengubah duniaku sendiri. Dia yang dengan segala kelebihannya berani mengakui sisi lemahnya namun juga tetap berbesar hati menerima kekuranganku. Garis wajahnya menegaskan sebuah keyakinan, bahwa tak ada yang perlu kukhawatirkan bila menyerahkan separuh duniaku untuk diisi olehnya. Senyum simetris itu, hidung mancung, dengan kedua bola mata cokelat serta alis tebalnya, sungguh aku tak berdusta jika berkata bahwa tak pernah ada rasa bosan untuk terus memandangnya. Bahu jenjang dengan dadanya yang begitu bidang seolah menawarkan banyak kehangatan sekaligus perlindungan. Bagaimana bisa aku menolak? Dan genggaman eratnya pada sela-sela jemariku, ah, rasanya aku begitu yakin untuk sepenuhnya menjadikan dia tuju…

Ketika Ada Yang Bertanya Tentang Cinta

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta Kau melihat langit membentang lapang Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta Aku melihat nasib manusia Terkutuk hidup di bumi Bersama jangkauan lengan mereka yang pendek Dan kemauan mereka yang panjang
Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta Kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung Bersusah payah terbang Mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta Aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri
Ketika ada yang bertanya tentang cinta Apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata Atau cukup ketidaksempurnaan kita?



—Sebuah Puisi dari Aan Mansyur

Kosong

Dulu memandang kedua mata itu rasanya meneduhkan
Tiada tempat lain yang ingin dituju selain hanya kembali kesana
Lalu tiba-tiba sinarnya meredup
Tak kutemukan lagi seberkas bayang di sana
Kosong
Seperti menjelma asing yang tak pernah kujamah
Mungkin telah memandang ke arah yang berbeda
Tapi, harus kubuang kemana asaku?

Jika Kemudian Hari

Image
Ada banyak orang yang mudah mengungkap rasa, ada yang lebih memilih diam dan menyimpan rapat-rapat. Tapi diam bukan berarti tak bicara. Dia sering bicara. Menyampaikan kejujuran lewat mata, lewat raut, yang hanya beberapa orang saja yang mampu mendengarnya. Dan saat itu, yang dibutuhkan hanya pengertian, bukan penyudutan. Jika kau mampu mendengar, tolong jangan jadi banyak orang. Jadilah satu-satunya yang mampu mendengar. Jangan sampai akhirnya dia memutuskan untuk selamanya menjadi diam. Dan kau hanya bisa menyesali diri.

Lalu seharusnya jawaban itu adalah, "Jangan takut. Selama cinta masih ada, aku akan terus bersamamu. Mari kita hadapi bersama-sama. Aku akan buktikan bahwa aku adalah lelaki yang bisa ibumu banggakan karena menitipkanmu padaku." Tapi kadang, ada rasa sakit yang tak mungkin dicabut hingga satu-satunya pilihan adalah menikmatinya. Jika di kemudian hari, bukan aku yang kau temui dan itu membuatmu bersedih, ingatlah seseorang pernah begitu bahagia dalam kikuk…

Kesedihan

Kedalaman cinta seseorang dapat dilihat dari kesedihan yang ia rasakan dan keterpurukan yang ia alami selama mencintai seseorang. Semakin kentara sedihnya maka semakin dalam cintanya. Kalau belum pernah merasa sedih saat mencintai seseorang, berarti cintanya belum dalam. Semakin dalam rasa cinta yang dimiliki seseorang, semakin besar kemampuannya bertahan dengan luka dan perasaan sedih. Itulah mengapa banyak orang bertahan pada orang yang membuatnya sedih. Karena saat ia bersedih, ia tahu, rasa cintanya sudah terperosok jauh lebih dalam lagi.


#LukaDalamBara

Aku Membiarkanmu Pergi Bukan Karena Aku Terlalu Pengecut Untuk Memperjuangkanmu

Membiarkanmu pergi, terdengar seperti kau pernah ingin tinggal tapi sekarang kau memutuskan untuk pergi. Nyatanya? Kau tidak pernah ingin tinggal di tempat yang sudah ku sediakan di hatiku. Mengikhlaskan kepergianmu juga terdengar seperti melepaskanmu setelah pernah ku genggam tanganmu dan kita berjalan beriringan. Nyatanya? Kita sejalan namun tak menuju tujuan yang sama. Kita sejalan namun tetap berjarak, bukan beriringan dan saling menggenapkan. Aku tidak menahanmu saat kau mengakhiri semua percakapan kita. Aku tidak akan menangis apalagi mengais mencari sisa-sisa ‘rasa’ yang mungkin masih tersisa. Aku memutuskan pergi saat itu juga, bukan tidak mau berjuang untukmu, tapi manusia yang beradab tahu mana yang patut diperjuangkan dan mana yang secepatnya harus ditinggalkan. Sebab aku tahu, apapun yang ku lakukan tidak akan mampu membuatmu tinggal. Aku merindukanmu, pada awalnya. Tentu saja aku rindu, ada yang hilang, dari yang ada kemudian tiada. Apalagi kau tidak memberiku jeda untuk…

Kita Yang Tak Lelah Bersemoga

Image
Sedetik kau menciptakan tawa, ratusan kupu-kupu di dalam perutku seolah beranak-anak. Sekejap kau memeluk bahagiaku, kupasrahkan ribuan tahun di dada ini menjaga namamu. Sejumput kepercayaan kau berikan, akan kujaga walau dengan sejuta cara. Biar saja, meski sepercik rasa yang kau basuhkan, akan kujaga agar tak lekas menguap. Atas secercah kasihmu, biarkan aku merawatnya, menyiraminya sampai tumbuh subur. Sehingga mencari selain aku, akarmu takkan bisa membiarkanmu kabur. Atau barangkali, kita akan menjadi lebih indah dari sekadar saling membaur, berusaha menjadikan bahagia tak lantas tumbuh uzur. Dan Tuan, padamu kelak, bisa saja kuterpatri kuat. Seolah aku kapal dengan jangkar menancap hebat. Sehingga bersamamu bukanlah sesaat, terlebih tersesat. Seperti malam ini, riang lampu-lampu kota seolah tak ingin redup merayakan kebersamaan kita. Sayup-sayup angin malam begitu syahdu menerpa dedaunan akasia dengan siutnya. Aku, kamu, adalah kita yang tak letih bersemoga. Juga seperti malam-…

Jadi Tetaplah Disini

Image
Kadang aku ingin bercermin di matamu, agar bisa mengerti seperti apa arti wujudku di sana. Kadang aku ingin melebur dalam udara yang kau hirup, untuk sekadar menyejukkan ragamu saat peluh dan lelah menyatu di sana. Kadang aku ingin kita bertukar hati, agar kau paham bagaimana rasanya hidup dalam kubangan perasaan bersalah, agar aku mengerti bagaimana keraguan yang masih terus kau simpan. Aku tak berbohong setiap kali mengatakan bahwa namamu selalu ada dalam doaku, hanya untuk memastikan bahwa aku tak sekalipun alpa menceritakan tentangmu di hadapan Tuhan. Kiranya agar Dia bersedia menakdirkan kita untuk lekas menyegerakan. Terlalu banyak rasa bahagia yang kunikmati setiap kujumpai kau dalam kedua bola mataku. Begitu banyak rasa syukur dan haru setiap kali waktu berlalu begitu cepat bersama tawa kita. Juga, begitu banyak pilu yang kusimpan setiap kali jarak merentang, atau setiap kali pertengkaran menjauhkanmu dariku.  Aku tak berdusta jika saat ini mengatakan bahwa aku ingin hidup de…

Ost Critical Eleven

Waktu adalah hal yang terukur dengan  segala sama bagi setiap insan di dunia Namun memiliki nilai yang berbeda-beda Tuhan memang penulis kisah cinta yang tak ada duanya Seperti ia dahulu pernah mempertemukan kita tanpa rencana Kita mencoba menghadapi kehilangan dengan cara yang berbeda Dan tak akan mungkin sama Waktu dapat menyembuhkan luka Namun tidak dengan duka yang telah tergores begitu nyata Hati ini selalu ada kau disini Namun dukamu teramat perih Seakan terbalut pecahan kaca  yang menghujam dengan dalam Aku tak berlari Ku ingin terus kuat disini Aku tak menjauh Namun tak mampu ku lerai kisah kita

Rindu Ingin Tetap Tinggal

Ada rindu yang menolak pergi. Terlebih saat gerimis dengan tenang membasuh wajahku. Aku berusaha menemukan titik-titik bahagia pada rautmu. Tapi, kenapa yang tampak selalu resah itu? Apa yang kau sembunyikan? Tanyaku iba dalam hati. Mungkinkah rasamu telah berubah? Atau asaku yang semakin menyalah? Aku tak pernah takut seliku apa kelok yang akan kita lalui. Dan aku pun tak pernah gentar seterjal apa bebatuan yang akan menyandung kita. Setahuku, selama kita tetap seiring, semua akan baik-baik saja. Tapi, kenapa hatiku mulai mengecap ragu pada langkahmu? Bukan ketidakpedulianmu yang kukhawatirkan. Aku hanya takut rasamu kian jauh seiring jauhnya ragamu. Aku hanya takut kehilangan hangat senyum itu. Aku hanya takut tak lagi mengenal dirimu karena rengkuhmu yang tak lagi sehangat dulu.

Satu Shaf Di Belakangmu

Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Mengikuti gerakan shalatmu dari takbir hingga salam, kemudian mencium tanganmu dan berdoa bersama. Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Mengikutimu, menghormatimu dan menghargaimu. Karena bagiku kamu bukan hanya kepala, namun juga pemimpin keluarga kita. Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Menyemangati setiap langkahmu dari belakang, menjadi tempat berbagi untuk mengambil keputusan. Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Berbaliklah jika kau lelah dan ingin mengeluh. Aku rumahmu.

Buku "Rindu Yang Tergesa-Gesa" Karya Annyta Sumarya

Kau Adalah Cukup

Image
Entah pada lembar ke berapa aku akan berhenti menuliskan banyak hal tentangmu. Entah pada malam ke berapa aku akan berhenti memimpikan kita. Entah pada kali ke berapa pula aku akan berhenti menggemari senyummu. Nyatanya hingga saat ini, aku masih merasa menjadi ciptaan Tuhan yang paling bahagia sejak namamu seringkali menjadi tema dalam setiap susunan larikku. Aku tak bosan membicarakan segala hal tentangmu, tak pernah lelah menikmati rindu yang selalu saja datang tiap kali tak kulihat kedua sudut bibirmu yang melengkung asimetris. Namamu, segala hal kesukaanmu, caramu menatap sesuatu yang kau sukai, aku tak pernah alpa barang sedetik pun. Aku pun merasa tak pernah cukup untuk mengingat segala yang ada padamu. Mungkin hormon endorfin kali ini sedang menguasai sistem kerja otakku. Mungkin sebagian dari mereka berpikir bahwa aku sedang menjadi manusia yang terlalu menggilai sesuatu. Tapi, tak apa. Selagi bersamamu, aku mampu merasa tak memerlukan pelengkap lainnya. Kau adalah cukup, ba…

Aku Pernah Cemburu

Image
Aku pernah cemburu pada mereka yang selalu mengelilingimu di sana. Cemburu pada orang-orang yang berporos di sekitarmu. Rasanya begitu damai bisa menjadi mereka yang senantiasa melihat semangatmu dalam mengumpulkan pundi-pundi rezeki.  Aku pernah cemburu pada orang-orang di sekitarmu yang mampu mengundang seulas senyum di wajahmu. Mereka bisa bebas mendengar tawa renyahmu, mereka bisa bebas bertukar cerita denganmu, sementara aku, saat itu entah masih berada di belahan bumi mana. Aku juga pernah cemburu pada tulisan-tulisan yang berisi perasaanmu. Setidaknya ia lebih kau percaya daripada aku dalam menumpahkan segala keresahan hatimu. Aku pernah cemburu pada 140 karakter yang hanya bisa kau tafsir sendiri. Aku pernah cemburu pada berbagai cerita yang kau bagikan dalam media sosialmu, tentang berbagai tempat yang aku tak ada di sana. Aku pernah cemburu pada foto-foto yang melukis tawa lepasmu —sekali lagi, tanpa aku. Aku juga pernah cemburu pada selarik bait yang kau tulis diam-diam di…

An Irreplaceable Mark

Image
"Kita ini secangkir kopi. Aku cangkirnya, kamu kopinya. Cangkirnya bergambar kamu, kopinya beraroma aku." Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, hanya saja, beribu rangkai kata pun rasanya belum cukup mampu mewakili perasaan tiap kali aku memandang kedua mata cokelatmu yang begitu meneduhkan. Segala hal yang kulalui bersamamu, membuatku tak pernah bosan dan lelah mengucap syukur pada Tuhan.
"Cause all I need is you, every single question will be answered all by you." Entah sejak kapan aku menyentuhmu melalui doa-doa panjang. Dan sejak saat itu kau adalah kegaduhan paling romantis untuk dibicarakan kepada Tuhan. Kau tak hanya menjadi sekadar pasangan yang baik, namun juga bisa bertransformasi kapan saja menjadi seorang sahabat, kakak dan teman bertengkar yang mumpuni. Denganmu, aku mengerti pemahaman akan arti kata cukup. Semoga, hadirmu selalu mampu menggenapkanku.
"Cause nothing can ever replace you, nothing can make me feel like you do, there'…

Memilihmu Akan Selalu Menyenangkan

Aku memilihmu atas segala macam perasaan yang tumbuh di dalam dada. Mengabaikan segala kalimat manusia yang berusaha melemahkanku. Karena ku yakin, hadirmu mampu menguatkanku dalam situasi apapun. Aku memilih buta. Aku memilih tuli. Aku memilih tidak peduli pada perkataan mereka yang menginginkanku untuk tidak mencintaimu. Memangnya, apa hak mereka? Mereka hanyalah segelintir orang-orang yang tidak mengerti. Mereka tak pernah paham bahwa sesungguhnya kebahagiaan hadir lewat hal-hal sederhana. Denganmu, aku mampu untuk selalu tersenyum. Meski tak selalu indah, tapi kau mampu meyakinkanku bahwa kita akan tetap kuat jika menjalani duka itu bersama. Memilihmu adalah hal yang ingin kukenang sebagai keputusan terbaik dalam hidupku. Meski kadang yang ku dapat tak selalu hal-hal baik. Akan ada banyak air mata, akan ada banyak amarah, akan muncul berbagai emosi yang kita keluarkan, tapi aku percaya, kita tak akan kalah. Tak mengapa jika aku harus melalui segala kesulitan itu bersamamu. Jadi, …

Bukankah Tuhan Selalu Mahir Dalam Urusan Pemulihan?

Dan lagi, hujan kali ini membawaku pada ingatan tentangmu. Sudah lama tak kudengar kabarmu. Sudah lama sapa yang selalu buat pipiku merah merona menghilang, seakan menguap begitu saja di udara. Aku dan secangkir cokelat panas dalam sore ini. Yang dulu kita nikmati bersama dengan manis tanpa suara, kini seakan terasa getir bergelayut di lidah. Entah ada di belahan dunia mana kau saat ini. Atau sedang bertarung memperjuangkan mimpi yang seperti apa, lihatlah masa laluku. Aku merindukanmu. Tentang harapan yang dulu pernah sama-sama kita kumpulkan dan perjuangkan. Tentang rindu yang dulu selalu dengan mudah bisa ku sampaikan. Tentang cinta yang selalu mengarah pasti pada satu hati yang kini seperti tak punya perasaan. Aku menyimpannya rapi dan tak pernah berniat membaginya pada siapapun. Aku juga sama sekali tak pernah berniat membuangnya. Hanya kututup semampuku. Meski sesekali dia terbuka begitu saja tanpa permisi. Masih nyata kurasa setiap desirnya. Saat tanganmu mengusap lembut kepal…

Perihal Menggenapi

Aku bisa melihatmu, di sudut ruang itu. Tawamu mampu menyerap perhatianku begitu saja. Sayang, aku tak pernah tahu kebahagiaan apa yang sudah mengundang tawamu sedemikian menyenangkan. Aku bisa melihatmu, kau berdiri di sana. Di bawah pohon yang tak begitu rindang, kau berjalan menuju tempatku melambaikan tangan. Senyum hangat tersimpul di sudut bibirmu. Sayang, rasanya aku masih belum menemukan bagian yang hilang dari sana. Dulu, kau adalah seutuh-utuhnya bagian yang menggenapiku. Tanpa aku harus meminta, hadirmu saja sudah mampu memenuhi bagian kosong dariku. Tapi kini, ada sebagian ruang kosong yang aku sendiri tak tahu kemana perginya. Segala hal tentangmu masih saja mampu menyerap seluruh radarku agar berpusat padamu, tapi kenapa kau tak lagi menggenapiku seperti dulu? Pudarkah rasamu?

Fly To The Sky

Bertemu denganmu tidak pernah ada dalam agendaku. Begitu pula mungkin denganmu, tak tebersit namaku dalam hari-harimu, dulu. Tetapi, siapa yang menyangka, ujung benang merah milikku ternyata tersangkut di kelingkingmu. Saat pertama kali bertemu, tak ada yang asing. Kau seperti dikirimkan dari masa lalu, seperti seseorang yang memang seharusnya menghuni ruang hatiku. Namun, tak ada dari kita yang menyadarinya. Sampai aku bergerak menjauh, dan kau berbalik menghilang. Padahal, rinai tawamu kusimpan, dan selalu kujaga dengan rindu menderu. Diam-diam, aku membisikkan harap, kapan kita bersama lagi? Bukankah sudah diikat-Nya ujung benang merahmu di kelingkingku? Jadi, sejak perpisahan kita dulu, aku selalu percaya kau akan menemukanku seperti saat ini. Kau akan selalu menggenapkan rinduku yang separuh.

Hampir

Cinta tidak selalu mengundang perasaanmu untuk terus maju. Pada titik tertentu kesadarannya, cinta juga bisa mempersilahkanmu mundur. Bukan, bukan karena kemauan sendiri. Tapi karena keterpaksaan yang mau tidak mau memang harus dilakukan. Mencintai seseorang di bawa label "Jalani Saja Dulu" tentu bukan hal mudah. Menghabiskan akhir pekan bersama, melakukan banyak percakapan romantis, berbincang tentang ini dan itu hingga larut malam, tentu tidak akan bisa dilakukan oleh dua anak manusia yang tidak memiliki perasaan satu sama lain. Tapi, bagaimana jika keduanya saling memiliki perasaan, sementara salah seorang dari mereka hanya mengatakan "Kita jalani saja dulu"? Rasanya memang terdengar begitu konyol. Ingin mempertahankan, perasaan tumbuh semakin dalam. Ingin melepaskan, belum memiliki kesanggupan untuk menahan rasa sakit sendiri.

Menetaplah

Bisakah kita cukupi kepura-puraan ini dan berhenti bersembunyi? Kemudian, mari berbicara. Mari saling mengingatkan tentang kita yang pernah sibuk saling merindukan. Mari buka satu per satu halaman kenangan, kemudian kita ungkap tabir di episode-episode lalu yang gagal kita terjemahkan. Mari temukan kembali jejak-jejak kata kita. Jejak-jejak kata yang bahkan tidak ingat pernah kita torehkan.
Menetaplah sejenak, mari bicara tentang cita, cinta dan kita. Mari bicara tentang keinginan kita yang terpaling dari saat kita memilih mengasing. Mari bicara tentang sudah sejauh mana kita saling melupakan dan sebanyak apa kita temui kegagalan. Mari bicara tentang ingatan-ingatan yang kita kira sudah mengentah namun ternyata tidak pernah. Menetaplah sejenak, mari lakukan lagi segala yang pernah, mari rasakan lagi segala yang sudah.
Mari saling berhenti, ―menghukum diri. Mari pikirkan rencana untuk kita berbahagia, terserah itu dengan cara apa. Bercanda sampai pagi sehingga sunyi merasa dipecundang…

Denganmu, Aku Kembali Jatuh Cinta

Image
Langit masih kelabu. Titik-titik air pun kian terasa menyejukkan. "Dingin." Ucapku sambil meniup telapak tangan yang terkepal erat. Tiba-tiba kau menarik jemariku. Menggenggamnya erat di antara kedua tangan hangatmu. Aku diam. Memandang senyummu yang hanya berjarak satu jengkal di hadapanku. Jika boleh, aku ingin memelukmu saat ini juga. Jika boleh, aku ingin merasakan bagaimana detak jantungmu di sana. Apakah sama gemuruhnya denganku? Menemukanmu ternyata jauh lebih menyenangkan daripada bermain pasir di tepi pantai, mencari kerang di sepanjang pasir putih, atau membangun istana pasir di bawah gerimis yang manja. Tak banyak yang bisa kulakukan selain berharap waktu mampu melambat agar aku bisa menikmati hangat senyummu lebih lama lagi. Sebentuk rasa pun tumbuh di sana. Jauh di luar dugaan, aku mengingkari janjiku sendiri untuk tak mencintaimu. Tapi, siapa yang bisa disalahkan atas suatu hal klise bernama cinta? Denganmu, aku kembali jatuh cinta. Denganmu, aku bisa kembali …

Bagaimana Rasanya Menjadi "Aku"?

Rasanya berbeda, —bagaimana saat kau jatuh cinta sebelum patah hati atau mematahkan hati orang lain, dengan bagaimana rasanya saat kau jatuh cinta setelah itu semua. Dulu, aku merasa bisa bermain-main. Bukan mempermainkan hati orang lain, namun bermain-main dengan rasa bahagiaku sendiri. Rasanya begitu bebas. Bagaimana aku bisa menikmati senyummu sesuka hati, bagaimana kita bisa menjalani hari tanpa takut kehabisan waktu karena toh hari esok masih menunggu untuk kita jejaki bersama, bagaimana tawa selalu bisa memenuhi setiap masa yang kulewati bersamamu, karena banyak hal sederhana yang mampu membuat kita merasa lebih ringan melangkah bersama. Perkara perasaan memang tak bisa diprediksi dengan presisi. Kadar cinta seseorang juga nyatanya tak selalu tinggi. Ada kalanya sebuah hubungan justru membuat pasangan yang dimabuk cinta berubah merasa jenuh dan ingin mencari selainnya lagi. Lantas, bagaimana kadar cinta di antara dua anak manusia yang pernah saling rasa, lalu merasakan patah ha…

Pergilah Lagi Tanpa Perlu Meminta Kembali

Andai bisa menyembuhkan hati semudah kau memilih pergi, pasti akan ku terima kau saat kembali. Tak peduli sekejam apa pun kau meninggalkan waktu itu. Sebab di sudut dadaku juga masih ada sedikit rindu. Hanya saja, menyembuhkan luka sebab kau tinggal, tak semudah kau meminta kembali dengan alasan sesal. Luka darimu membenam di jantungku. Menenggelamkan aku. Andai mudah untuk mencintai seperti dulu lagi. Mungkin akan ku terima kau kembali tanpa basa basi. Namun, hidup ternyata telah berubah. Rasa sakit yang kau tinggalkan dulu sudah membuatku kalah. Aku kalah mencintaimu. Tapi aku kalah dengan elegan. Perasaanku tak lagi sekuat dulu. Walau ku terima kau kembali, kutakut yang terjadi hanya cara mengulang pilu. Rasa rindu pasti ada. Hanya saja tersisa sedikit sebab kau pergi terlalu lama. Rasa ingin kembali juga ada. Hanya saja terkalahkan oleh rasa sakit sebab dulu kau menyakitiku dengan kejamnya. Maka, pergilah lagi tanpa perlu meminta kembali. Bawa sesalmu itu, biar ku jalani hidupku …

Aku Hanya Ingin Menanyakan Kabarmu Saja

Apa kabar kau yang di sana? Berulang kali aku menanyakan kabarmu, padahal tak sedetik pun pertanyaan itu tersampaikan. Aku berteriak, di antara sabana yang terik. Melamunkan senja dan riak air tergenang, berkecipak terinjak-injak.
Dua hari yang lalu, aku melihatmu tersedu-sedu. Jangan kau tanya mengapa aku tahu. Jangan kau tanya mengapa aku ada di situ. Aku ada di mana pun kau berada.
Kita adalah sepasang jiwa yang tak pernah menjadi satu. Meranggas setumpuk rindu satu demi satu hingga akhirnya bibir ini terus kelu. Tak kuat menelisikkan kata rindu yang kini sudah mengering. Lautan hampa yang kau teriaki tiada artinya.
Aku sudah pergi. Iya, aku harap itu tak menjadikan jarak ada. Sekali lagi, aku adalah manusia yang menghamba pada harap yang tiada. Kupikir, ada satu atau dua hal bisa diperbaiki; kau memilih tak merasa apa-apa lagi.
Kini, dalam almanak kusam di dinding kamar terhitung angka enam; tahun yang memisahkan perasaan kita. Dilarung dalam dasar samudra kehilangan; mati asa. Ha…

Aku dan Pikiranku

Sulit rasanya mengendalikan sesuatu dari dalam diri yang tidak bisa kusembunyikan dengan baik. Saat aku yakin bahwa aku akan baik-baik saja, sesuatu yang buruk terjadi. Seolah ingin memberiku pelajaran untuk berani menghadapi masa sulit sendirian. Hening, semua berlalu begitu saja. Lalu kudapati kau di sana. Memang tak sesejuk oase di tengah hamparan padang pasir, tapi entah kenapa aku yakin kau mampu membantuku untuk melalui hari ini. Ragu memang menyertaiku, tak peduli sekuat apa aku berusaha meyakinkan diri. Ada pula rasa takut terhempas kembali, ada rasa sepi yang begitu riang menertawaiku, ada perasaan senang karena aku mampu menikmati waktuku sendiri. Tapi tetap saja, kehadiranmu tak dapat dipungkiri mengganggu fokusku. Pernah sama-sama terluka, apakah menjadikan kita tipikal manusia yang sama dalam mencerapi patah hati? Bolehkah kita bersua sekedar mendentingkan gelas bir bersama? Menikmati masa "lajang" —katamu, dengan benar-benar menjadi remaja tanpa takut lagi ter…

Kita Akan Tetap Menjadi Kita

Mungkin nanti, kau akan membaca tulisan ini jauh setelah aku menuliskannya. Mungkin nanti, pertemanan kita akan selalu seperti ini. Dan aku memang berharap demikian, bahwa kita bisa selalu hangat meskipun dalam arti berbeda. Kau tahu, teman sepertimu sangat jarang kujumpai. Dan, senyawa seperti kita pun, begitu jarang didapati. Untukmu, teman yang pernah membuatku menyusun rasa lalu mengaitkannya, kuharap kita akan tumbuh menjadi dua anak manusia yang semakin mendewasa. Masih teringat jelas dalam benakku bagaimana awal perkenalan kita sejak sama-sama bergabung dalam grup suatu aplikasi percakapan. Kala itu, nama tampilanmu diawali dengan kata "Pak", tentu saja aku tidak mengira bahwa kau adalah teman yang nantinya berada dalam satu kelas denganku di bangku perkuliahan. Rasa canggung menyergapku saat pertama kali menerima pesanmu melalui Blackberry Messenger, aku sempat mengira bahwa kau adalah seorang dosen yang menjadi pembimbing akademik mahasiswa di kelasku. Tapi ternyat…

Ingatlah Aku Sebagai Pulangmu

Malam ini kudengar detak jantungku sendiri, terdengar seperti langkah kaki menaiki anak tangga. Delapan bulan berlalu, apakah tak ada sesuatu yang tertinggal? Aku tak pernah mengira jika semesta bisa sekejam itu membalikkan keadaan dalam sekejap. Meski kutahu kau tak ada, tetap saja kuputar ulang ribuan kali kenangan kita, membayangkan segala yang telah dilewati —dulu. Mungkin aku terlalu banyak merenung akhir-akhir ini, mungkin tindakanku terlalu konyol di matamu, mungkin ucapanku hanya terdengar seperti omong kosong bagimu. Tapi, tak apa. Suatu saat, ketika aku mampu melewatinya, aku yakin kau justru akan paham bagaimana rasanya sesuatu yang tak asing memenuhi sudut kepalamu seperti film favorit yang kau putar berulang kali.
Manusia bisa berubah kapan saja, namun masa lalu tak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan. Termasuk malam dimana kau katakan bahwa tak akan ada yang berubah, aku atau pun dirimu, sebelum kutahu betapa banyak kehilangan yang akan datang. Jika kau di luar …

Selamat Tinggal, November...

Entah kapan waktu yang tepat untuk melupakanmu, aku tidak tahu. Bisa saja tiga hari, dua hari, atau seminggu yang lalu aku bilang melupakanmu, lalu benar, secara perlahan-lahan aku menjauhi semua hal tentang kamu. Namun di pertengahan jalan kamu mulai kusebut-sebut lagi. Aku mulai menulis banyak tentangmu. Aku sadar, aku tidak pernah (bisa) benar-benar melupakanmu. Tapi sesadar-sadarnya aku mengingat kamu, aku juga sadar entah kapan dimulainya, aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku lupa bagimana rasanya jatung yang berdebar ketika bertemu kamu. Lupa pada meriangnya badanku ketika di dekatmu. Lupa bagaimana rasanya kupu-kupu berterbangan di perutku ketika memikirkanmu. Entah itu mual. Entah itu seperti tersengat ribuan volt listrik. Apakah itu manis. Apakah itu pahit. Atau benar seperti yang orang katakan, jatuh cinta itu rasanya nano-nano. Aku sering makan permen nano-nano, namun rasanya tak seperti jatuh cinta. Aku sadar, aku tidak bisa melupakanmu. Tapi waktu membunuh rasaku d…

Andai Aku Bisa

Jika memang pada akhirnya jalan yang kita lalui harus menapak arah berbeda, biar doaku selalu menjagamu hingga kau mencapai titik lelah. Pintu-pintu langit penuh harap akan selalu mendampingi jejakmu, mengiringi setiap langkah dengan penuh elegi. Aku tak ingin merusak takdir Sang Ilahi dengan mendustakan segala nikmat-Nya. Meski melepaskanmu sama dengan merobek hatiku. Aku tetap akan menjadi pulangmu. Meski jika nanti kau terlalu lama kembali, mungkin aku telah mengubur setiap asa menjadi kenangan. Namun hadirmu akan selalu kujadikan nyata dalam setiap baris-baris roman. Mencuatkan rasa yang kandas, ikhtiar menyembuhkan luka seorang gadis penuh cinta. Seringkali pikirku membangun khayal, andai aku bisa terus mengenggammu di sini, mungkin risau takkan mampu menjengkali. Andai kau datang kembali pun, keinginanku masih tetap jawab yang sama, hadirmu yang kekal di sini. Lalu bilamana ingatan lampau tentang kita menghalau kakiku yang terseok, izinkan aku sejenak merapal doa dalam sujud te…

What's Wrong With Us?

Image
It's too complicated. Should I give up after what has been already we pass? Should I stop and take another way after what we have been through all this time? It's already too complicated and I feel like I'm at a crossroads. Should I stop or continue to fight for what is no longer fight for me? How can I continue to fight for something uncertain? How can I expect something that no longer wants to be given to me? While there, out there, there's someone who can convince me. As if now we're just waiting time, the time when everything must come to an end. It's just that we're still too afraid to end. If I'm afraid of regret and sorrow, who knows what you're afraid of. It's just, I can no longer feel your warmth. All about us have different now, it becomes more complicated.

Dan Kita

Dan pagi mungkin akan terasa sedingin ini untuk beberapa musim ke depan. Saat kita berotasi dalam dunia masing-masing, jauh tapi tetap saling memeluk dalam hati. Saat waktu terasa berjalan sangat lambat dan lelah seringkali membuntuti di belakang, bersiap kalau-kalau emosi sedang meradang, berusaha menghancurkan apa yang disebut dengan kita. Dan hari akan berlalu dengan sangat datar untuk beberapa waktu ke depan. Mungkin akan terasa sulit. Saat aku membutuhkan pelukmu, dan kau membutuhkan genggamanku, tapi kita hanya bisa meretas batas menahan rindu yang tertumpah. Tak apa, berjuanglah kita untuk hari esok. Untuk ketiga jagoan yang kita nantikan, untuk semua pengharapan yang sudah kita ucapkan di depan Tuhan. Dan malam juga pasti menjadi semakin panjang seiring kealpaan yang sering tak sengaja kita lakukan. Kadang, keraguan muncul. Perasaan tak aman, hingga takut, semua sering meronta dalam hatiku dengan begitu hebat. Lalu ketika lelah ikut menghajarnya dengan rasa duka, aku hanya be…