September 8, 2017

Lewat Senja

Angin membelai jiwa-jiwa kesepian
Bersama riakan ombak yang merdu
Memecah diri pada barisan karang
Di sana lautan tak berujung
Senja mulai bergeming
Ketika sudut mata menangkap bayang
Di tempat ini
Senja pernah melukiskan rautmu
Di sini
Senja pernah menyatukan dua jiwa yang begitu rapuh
Bias-bias jingga mulai melambai
Hangat...
Bertinta rasa, berkuas hati, berkanvaskan langit
Mulai terlukis
Burung-burung bernyanyi
Menyapa malam
Menghibur bulan yang mulai temaram
Lewat senja, sendumu kian menjelma
Lewat senja, hadirmu mulai terengkuh
Lewat senja, aku kehilanganmu

September 7, 2017

Sampai Jadi Debu

Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu
Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu

Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap topan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersama ku

—by Banda Naira

August 31, 2017

Waktu Itu

Bukankah dulu kau mengabaikanku berkali-kali? Bahkan untuk kesekian kali kucoba yakinkan hatimu, memintamu bersedia kudampingi, namun yang kudapat hanyalah penolakan tanpa hati. Katamu, aku akan lebih baik jika tanpamu. Sedih saja rasanya waktu itu. Aku tahu kau merasa lebih pantas untuk yang lain. Sementara aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa di matamu. Lalu, waktu berlalu, hidup biasa dan kerja keras adalah hal yang baik. Saat ternyata tak ada satu pun kau temukan yang lebih baik, kau akan mencari aku yang dulu kau anggap paling buruk. Saat aku sudah menemukan seseorang yang menerima kelemahanku, seseorang yang tak memintaku pergi dan menjauh meski tahu aku hanya punya tekad dan ambisi.

Apa sebenarnya yang kau mau? Kebahagiaan seperti apa yang kau cari? Mengapa malah mengusik hidupku yang sudah baik-baik kembali? Bukankah semua ini yang kau abaikan dulu? Bukankah kau bilang, aku akan lebih baik jika tanpamu? Lalu, apa yang kau inginkan dengan datang mencariku lagi? Apa yang ingin kau temukan dari seseorang yang pernah kau anggap tak berarti?

Jangan seperti itu. Kau kuanggap sebagai teman lamaku. Tak perlu kau memusuhi dan mengusik siapa pun yang menerimaku. Dia mungkin tak sehebat dirimu. Tapi bagiku, dialah penenang rinduku. Dialah yang bersedia berjuang bersamaku. Dialah yang mempertahanku dan tak mudah mengucap kata menyerah setiap kali masalah menghampiri. Dialah pulang dari segala kelemahanku. Dialah yang keras kepala menerimaku. Meski aku bukan siapa-siapa, bukan apa-apa waktu itu.


(Kutipan oleh Boy Chandra)

Hope

Mencintaimu bukanlah sesuatu yang kuharapkan. Aku tidak ingin harapan datang lagi, berkunjung di hati, diam beberapa saat lalu meninggalkanku kembali dalam kesedihan yang berlipat. Aku tahu ini kesalahan indah yang seharusnya tidak boleh terjadi lagi tapi kau hanya memelukku tanpa suara, menggenggam tanganku erat seolah tak ingin melepasnya lagi. Dan sebelum aku sempat berhasil menyangkal cintamu lagi, aku menyadari kau telah meninggalkan sesuatu di tanganku, sesuatu yang kukenal sebagai harapan.


It's Over

My tears run down razorblades
And no, I’m not the one to blame
It’s you or is it me?

Aku tersentak. Kembali terjaga setelah hampir memasuki alam mimpi yang kubangun sendiri. Terhenyak. Kembali meringis dalam hati setelah menyadari hari telah beranjak dini. Jarum jam menunjukkan pukul satu tepat. Ada gerangan apa? Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Ada ngilu yang menusuk sementara aku tidak mampu menjelaskannya. Ada dingin yang menyayat sementara aku tidak bisa mengatakannya. Waktu semakin berlalu. Dan hari pun telah berganti. 

And all the word we never says come out
And how we’re all ashamed
And there’s no sense in playing games
When you’ve done all you can do
But now it’s over, it’s over, why is it over?

Beberapa hari terakhir kulalui terasa begitu datar. Tanpa suaramu, tanpa banyak celotehmu, tanpa kabar apapun darimu. Lidahku sama sekali tidak tahu harus berucap apa, tapi hatiku terus berteriak bahwa ia sangat merasa kecewa. Rasanya hatiku yang malang itu sudah cukup sabar. Pun sudah cukup berjuang mempertahankan. Tapi ada sebuah keresahan yang memang kita bangun sendiri. Tanpa disadari, begitu banyak hal yang kini membuat kita saling mengagungkan ego masing-masing. Kau lantas menghilang dari duniaku. Tanpa pamit, tanpa salam, tanpa penjelasan apapun. Otakku masih terus menerka. Aku bahkan sama sekali tidak mengerti, mengapa secepat itu waktu mengubah rasa? Padahal tadinya, bukankah semua baik-baik saja?

We had the chance to make it
Now it’s over, it’s over, it can’t be over
I wish that I could take it back

Jangan katakan kau membenci perbedaan. Jangan katakan kau membenci pertengkaran itu. Bukankah hal tersebut mampu mendewasakan kita? Bukankah dengan semua itu kita dapat saling memperbaiki? Perbedaan tak selamanya berarti pedang yang siap melukaimu. Pertengkaran pun tak selamanya berarti bara api yang siap menghanguskan rasa.

But it’s over
I lose myself in all these fights
I lose my sense of wrong and right
I cry…
I’m falling apart
Don’t say this won’t last forever

Kau tentu paham, hatiku masih begitu rapuh. Kau tentu mengerti, aku belum sepenuhnya sembuh. Masih ada bekas-bekas luka yang belum mengering di sana. 

You’re breaking my heart
Don’t tell me that we will never be together
We could be over and over, we could be forever
It’s not over, it’s never over
Unless you let it takes you
It’s not over, it’s never over
Unless you let it breaks you

August 27, 2017

Klise

Di ujung kebisuan, setangkai rindu melambai merdu. Alunan ombak penantian kian meriak, memaksa menentukan pilihan. Salahkah jika terus berada di sini? Di persimpangan yang penuh cabang. Terkesan bodoh. Berharap masa lalu menyapa saat menoleh ke belakang, sementara tiada lagi setitik nyata di sana. Dermaga impian pun hanyut ditelan perpisahan. Langkah yang terus menjauh, raut yang tidak lagi terlihat, rengkuh yang tidak lagi terjamah. Sampai kapan kebodohan terus membelenggu? Sepi. Sunyi. Hampa. Menyayat kalbu. Mungkin saja kelak tenggelam dalam air mata atau samudera hatinya yang begitu dalam, padahal ada lautan cinta lain yang lebih tenang menanti di sana kalau saja terdampar pada dermaga pembuktian janjinya.

Ada Apa Dengan Cinta

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga dalam wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat
Karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi pasti aku akan kembali dalam satu purnama
Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku karena aku ingin kamu
Itu saja

August 26, 2017

Kopiku Mulai Dingin

Malam ini aku kembali menyapa langit yang sama. Meski tampak lebih sendu dari malam-malam sebelumnya ketika aku menapakkan langkah di atas tanah basah yang masih berbau hujan. Di luar sana, udara begitu dingin. Kudekatkan wajah ke arah jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. Langit malam selalu memiliki banyak cerita. Aku pun tak ingin terlalu naif untuk ikut bercerita. 
Malam ini awan mendung berarak tak tentu arah. Semakin lama semakin gelap. Mungkin sebentar lagi hujan akan kembali turun. Aku tak lagi tahu harus memulai cerita ini dari mana. Kenapa kini semuanya justru terasa semakin pelik? Kuhirup aroma kopi panas di hadapanku. Semakin dalam menyesap, semakin jelas bayanganmu dalam pikiranku.
Aku melihatmu di mana-mana. Berkeliaran tak tentu arah dalam kepalaku. Semakin kucoba untuk menghapus jejakmu, justru dadaku semakin terasa sesak. Aku melihatmu. Tapi kenapa kau tampak begitu bersinar sementara aku semakin meredup?
Kopiku mulai dingin. Dan benar saja, hujan kembali turun begitu deras. Kulilitkan selimut tebal menutupi bahu. Dinginnya masih tetap sama. Hatiku pun tak kalah dingin. Hampir membeku.
Tak ada yang salah dengan malam ini, kecuali hatiku yang sedang mencari celah untuk keluar dari ketakutan. Lagi-lagi aku tak tahu harus memulai dari mana. Mengingatmu saja membuat hatiku tak karuan. Akankah kita bisa bertahan melewati kecamuk ini?
Malam ini, mungkin kita sedang menikmati langit yang sama. Apa kau juga merasakan gelisah yang sama? Atau mungkin merasa jauh lebih baik dengan jarak yang ada. Kau tahu, aku bukan seseorang yang pandai berbohong apalagi menutupi perasaan sendiri. Terlebih pada siapa saja yang membuatku bertahan hingga saat ini. Tapi kini, nyatanya aku begitu mahir untuk berpura-pura mampu menghadapi semuanya sendiri. Aku tak tahu luka seperti apa yang kini kusembunyikan. Aku hanya terus berusaha untuk menjadi baik-baik saja. Aku hanya terus berusaha ada dan menemani di saat kau jatuh, di saat kau butuh, di saat kau rindu. Tapi mulai saat ini, biarkan aku menyentuh dan menjagamu lewat doa. Tentu saja kau tahu, doa adalah bahasa rindu dan cinta yang paling cepat sampai ke hati tanpa perlu didengar dan dibaca. Biar kopiku saja yang dingin, rasamu jangan. Biar kurengkuh kau lewat jangkauan panjang doa-doa, semoga kita mampu bertahan.

August 15, 2017

Pelangi Terakhir

Dia menjadi alasanku bertahan hingga saat ini. Siapa sangka hal sederhana sepertinya mampu membuatku terjatuh dengan hebat? Aku terjatuh tepat di hadapannya lalu ia menyelamatkanku dari sakit yang tak seharusnya. Dia menggenapkan —menjadikanku utuh meski sebenarnya semakin rapuh. Luka kemarin dari segala macam hal menyakitkan, mampu ia tebas dariku. Kelemahan yang kadang membuatku tersudut, justru ia terima sebagai sesuatu untuk dilengkapi. Saat aku merasa tidak lagi memiliki alasan untuk berjalan, lengan kokohnya mampu menawarkan sebuah perlindungan yang belum pernah kudapat dari siapapun.

Dia berbeda. Dan mampu membuatku bertahan. Matanya seperti fajar yang terselip lewat celah jendela. Memberi harapan di awal hari. Seperti senja yang amat kusenangi. Indahnya mungkin berlalu hari ini, tapi aku selalu percaya dia takkan sepenuhnya pergi. Esok hari, dia akan menjadi alasan yang sama kenapa aku masih bertahan hingga saat ini. 

Kadang aku merasa takut, jika aku tertidur nanti, kehadirannya akan menguap. Kadang aku juga takut, segala alpa dalam diriku akan membuatnya jenuh dan berjalan mundur. Untuk itu aku selalu saja berdoa agar hatinya tak pernah berubah. Aku berharap ia tetap menjadi pelangi terakhir yang kunikmati sehabis hujan. Selalu dan selalu datang lagi meski hari ini menghilang sejenak.

Akhirnya Kau Hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana. Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan.

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku  — dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.


Akhirnya Kau Hilang — Aan Mansyur

Hapus ― Ahimsa

Kamu ragu-ragu melakukannya. Kamu hapus percakapanmu dengannya di ruang maya itu. Ruang berlogo hijau dengan sedikit kombinasi putih, tempatmu biasa bercerita padanya. Ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis tidak karuan. Kamu masih ragu untuk sekadar menyentuh tombol itu lebih lama lalu memilih tombol delete. Tapi akhirnya kamu menyentuhnya. Menghapusnya. Meniadakan surat-surat pengakuan yang pernah kamu kirim. Mengikis kata demi kata yang merangkai cerita kalian. Membunuh paksa kenangan yang tumbuh di sana. Kamu perlahan yakin menghapusnya adalah pilihan yang tepat. Walaupun sebenarnya kamu tak yakin kenangan itu terhapus pula. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, cerita kalian harus diakhiri. Biar harapan saling tumbuh sembunyi-sembunyi, jika benar harapan itu masih ada. Biar kalau waktu mengizinkan kalian bertemu, bukan ruang maya itu tempatnya. Biar kalau kamu dan dia melebur dalam satu cerita, cerita baru yang terwujud. Tidak ada dia lainnya, yang katamu amat menyakitkan.

Ah, bukan, bukan itu. Karena cerita baru adalah saat rindu diam-diam berpadu dengan keberanian dalam ikatan suci. Menghapusnya. Kamu yakin itu pilihan benar. Biar nanti kamu memulai cerita baru, dengan dia yang dipilihkan Tuhan. Siapapun dia.

"Maybe my love will come back someday, only heaven knows. And maybe our hearts will find their way, only heaven knows. And all I can do is hope and pray, cause heaven knows." ~ Rick Price



Source http://ceritahimsa.com

August 10, 2017

Keharusan

Angin membawa banyak kabar sore ini. Dan kuharap salah satunya adalah berita bahwa kau sedang baik-baik saja di sana.

Apa yang kubisa selain banyak-banyak merapal doa di hadapan Tuhan?
Aku tak pernah bosan memohon agar Tuhan masih mau mengabulkan pintaku, untuk selalu memberimu kebahagiaan meski sedang berada jauh dariku. Doa sejenis itu pula yang selalu kuucap untuk kedua orang tuaku.

Kau bukan merupakan sebuah ketergantungan bagiku. Aku mungkin masih bisa hidup dengan normal meski tanpamu. Segala kegiatan mungkin akan berjalan seperti biasa. Tapi satu yang pasti berubah, mungkin aku tak akan pernah bisa membuka pintu untuk menerima seseorang yang baru lagi.

Bagiku, kau adalah suatu keharusan yang selalu kumohon di hadapan Tuhan. Barang sekalipun tak pernah aku lupa mengucap namamu dalam sujud terakhir. Bagiku, kalian adalah dua hal berbeda namun memiliki arti yang begitu besar. Entah apa pula jadinya jika aku kehilanganmu, mungkin hatiku tak akan pernah sama lagi. 

Aku mencintaimu. Dalam setiap kelebihan dan kekuranganmu. Segala kealpaan yang ada pada dirimu pun tak lantas membuatku ingin berpaling pada yang lain. Padamu kutemukan arti kata cukup. Sudah, aku menyudahi pencarianku. Kuharap kau adalah satu-satunya yang akan menemani hingga nanti rambutku memutih. Jadi, tetaplah menjadi lelaki favoritku (setelah Ayah, tentunya).


―dari gadismu di suatu senja

August 2, 2017

Untukmu Yang Membuatku Begitu Patah

Ingin rasanya menyapamu sekali lagi, menenggak hangatnya senyummu, menikmati suaramu yang sudah biasa mengalun dalam telinga. Aku tahu, memang tak ada yang harus diingat selepas kepergian. Kenangan yang ada semestinya menjadikan kita lebih baik dalam bercermin ke depan. Tapi, bolehkah aku menyapamu sekali lagi? Mungkin akan menjadi sapaan terakhir, sebelum aku benar-benar menutup semua lembar pada buku lama yang telah selesai kuisi dengan banyak cerita kita.
Ingin rasanya mengatakan pada seisi dunia bahwa aku baik-baik saja. Bahwa aku sudah terbiasa menjalani fase ini. Tapi, aku sadar, semakin kuat kucoba menegarkan diri, semakin banyak patahan yang menggagalkan langkahku. Aku baik-baik saja, kataku pada mereka yang mengkhawatirkanku. Tapi, apa kau tahu bahwa tak ada orang yang "benar" baik-baik saja setelah melewati fase patah hati? Baik itu kau, maupun aku, atau bahkan kita berdua. Menikmati luka masing-masing kini menjadi kegiatan kita dalam mencerna sepi. Aku dengan tulisanku, kau dengan segala kesenangan yang tak lagi kuketahui di luar sana. Aku tahu betul bagaimana perihnya seusai tiada, hampa di mana-mana mengisi setiap hiruk-pikuk yang mengelilingi kita.
Kita tak lagi berputar pada poros yang sama, meski aku belum sepenuhnya bisa melepaskanmu. Kau tahu, melepaskanmu tak pernah ada dalam kosakataku. Dan berakhir pada dini hari dimana kau putuskan untuk melepaskan semuanya tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Aku tahu masa ini akan tiba, tapi siapa sangka akan secepat ini? Pertahananku masih belum cukup kuat. Aku belum membangun benteng untuk melindungi hatiku dari rasa patah yang menyakitkan. Maaf, jika sampai saat ini aku masih belum benar-benar bisa melepaskanmu. Namamu masih menjadi sesuatu yang kusebut dalam sujud. Namamu masih membuat dadaku sesak tiap mendengar mereka menanyakan kabarmu padaku. Bahkan yang lebih konyol lagi, namamu masih menjadi kata sandi dalam ponselku. Sebegitukah aku mencintaimu?
Tahukah kau, sebenarnya tak ada yang salah dengan kenangan. Hanya saja barangkali aku saja yang belum begitu siap menghadapi hidup yang lebih mandiri. Tanpa ucapan selamat pagi yang mengawali hari, tanpa sapaan hangatmu yang menenangkan penatku, tanpa keluhan manjaku sewaktu terlalu lelah menghadapi pekerjaan dan tugas kuliah, tanpa ucapan selamat tidur yang mengantarku menuju lelap. Aku pun mengingatnya, tak ada satu hal pun yang kulewatkan dalam ingatan setiap kali aku ingin memulai kehidupan di pagi hari. Kita lupa memaafkan kebodohan masing-masing. Kita malas belajar memahami perbedaan-perbedaan yang ada. Kita enggan terbuka dengan masalah-masalah yang seharusnya bisa kita selesaikan bersama. Ada ganjalan kecil di dalam jiwa kita yang begitu mengganggu hingga menyebabkan kau dan aku tidak dapat bersatu ―ego barangkali.
Aku masih sering mendatangi tempat-tempat yang bisa kita kunjungi bersama. Aku bahkan mulai hapal setiap jalan yang dulu kita lewati membelah malam. Aku masih begitu hapal wangi khas yang menempel pada jaketmu. Aku masih begitu hapal bagaimana kau menghembuskan asap rokok dari bibirmu. Aku masih begitu hapal bagaimana caramu mengenggam jemariku. Tentu aku masih begitu mengingatnya. Hanya saja, semakin aku mengingatnya, semakin bertambah pula rasa sakit yang menyerbuku. Lalu mengingat bagaimana kau mengakhiri semuanya dengan kata "lelah", membuatku tak mampu lagi berkata-kata.
Jadi, bisakah kau membantuku untuk melupakanmu? Atau bahkan sedikit saja tak mengingatmu?

Time Flies

Day changes, and the clock is still spinning. I don't know when we'll end this.
All I know is, the more days pass, the pain gets bigger when I have to go through it alone, without you.
Maybe I'm still far from hope.
But, do you know that I keep trying to be what you want?
I just can't explain how broken I am when I remembered all that was spoken yesterday.
Are you really tired of all this?
Do we really have to end it?
Then, what about the good prayers we have so far?
What about the hope of staying together?
Our arguments may be needed so that we learn from each other to dampen each other's ego or we can better appreciate the meaning of loss.
But behind it all, of course I still hope that we'll be fine.
That everything that happened today is just a dream and I'll be awake then see you hug me tight.

Aku Akan Membunuh

Rasanya masih sama, hanya keadaan yang kian meredup.
Kini aku percaya pada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri.
Rasa gengsi, harga diri yang terlalu tinggi, hingga ego yang tak ingin dikalahkan. 
Aku membunuh hatiku sendiri.
Jika dengan melepasmu mampu melapangkan langkah kita, maka tak apa.
Aku akan belajar untuk membunuh hatiku sendiri.
Pergilah sejauh mana kau ingin pergi.
Tak perlu hiraukan pendampinganku, karena akan terasa sia-sia jika nyatanya jelmaku hanya membuat langkahmu semakin berat.
Kini aku pun percaya pada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa melepaskan sesuatu yang sebenarnya belum menjadi milik kita ternyata merupakan salah satu hal tersulit.
Apa yang selama ini kugenggam nyatanya tak benar-benar pernah kumiliki.
Rasanya masih sama, namun hari kian mendung.
Tenang di hujan badai, namun menggigil dalam gerimis.
Aku akan mencoba membunuh hatiku sendiri jika dengan begitu kau bisa bebas untuk pergi.

July 31, 2017

Yujidilan

Kali ini aku akan bercerita tentang dia yang mengubah cara pandangku terhadap dunia, bahwa bahagia tak selalu perihal sebuah persamaan namun perihal bagaimana menyatukan banyak perbedaan. Dia yang dengan cara sederhananya mampu menyerap habis seluruh perhatian tanpa harus membuatku mengubah duniaku sendiri. Dia yang dengan segala kelebihannya berani mengakui sisi lemahnya namun juga tetap berbesar hati menerima kekuranganku. Garis wajahnya menegaskan sebuah keyakinan, bahwa tak ada yang perlu kukhawatirkan bila menyerahkan separuh duniaku untuk diisi olehnya. Senyum simetris itu, hidung mancung, dengan kedua bola mata cokelat serta alis tebalnya, sungguh aku tak berdusta jika berkata bahwa tak pernah ada rasa bosan untuk terus memandangnya. Bahu jenjang dengan dadanya yang begitu bidang seolah menawarkan banyak kehangatan sekaligus perlindungan. Bagaimana bisa aku menolak? Dan genggaman eratnya pada sela-sela jemariku, ah, rasanya aku begitu yakin untuk sepenuhnya menjadikan dia tujuanku pulang ―menjadikan dia sesuatu yang kusebut rumah untuk kembali nanti.
Dia tak begitu suka berada di tengah keramaian, terutama berada di tengah konser. Dia begitu suka mengambil potretku diam-diam tanpa kusadari. Dia akan memilih diam saat amarahnya sedang berkecamuk, alasannya sederhana, tak ingin mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatiku. Dia juga mahir memasak. Makanan favoritnya adalah sambal teri dan sayur rebusan. Sebagai anak sulung dari lima bersaudara menempahnya menjadi lelaki bermental baja yang mengemban tanggung jawab atas kebahagiaan keluarga. Meski aku tahu, terkadang dia juga butuh sebuah pelukan ketika terlalu lelah menghadapi dunianya yang begitu kejam. Dan kuharap, pelukku akan selalu menjadi satu-satunya yang dia tuju ketika membutuhkan sebuah ketenangan. Bercerita tentang dia, tak akan pernah menjadi hal yang jemu bagiku, tak akan pernah cukup meski ribuan kata telah kurangkai menjadi kalimat-kalimat denotasi. Dia, aku berharap dapat hidup seribu tahun lagi berdampingan dengannya.

July 11, 2017

Ketika Ada Yang Bertanya Tentang Cinta

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta
Kau melihat langit membentang lapang
Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku melihat nasib manusia
Terkutuk hidup di bumi
Bersama jangkauan lengan mereka yang pendek
Dan kemauan mereka yang panjang
Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta
Kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung
Bersusah payah terbang
Mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa
Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri
Ketika ada yang bertanya tentang cinta
Apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata
Atau cukup ketidaksempurnaan kita?




—Sebuah Puisi dari Aan Mansyur

July 1, 2017

Kosong

Dulu memandang kedua mata itu rasanya meneduhkan
Tiada tempat lain yang ingin dituju selain hanya kembali kesana
Lalu tiba-tiba sinarnya meredup
Tak kutemukan lagi seberkas bayang di sana
Kosong
Seperti menjelma asing yang tak pernah kujamah
Mungkin telah memandang ke arah yang berbeda
Tapi, harus kubuang kemana asaku?

June 30, 2017

Jika Kemudian Hari

Ada banyak orang yang mudah mengungkap rasa, ada yang lebih memilih diam dan menyimpan rapat-rapat. Tapi diam bukan berarti tak bicara.
Dia sering bicara. Menyampaikan kejujuran lewat mata, lewat raut, yang hanya beberapa orang saja yang mampu mendengarnya.
Dan saat itu, yang dibutuhkan hanya pengertian, bukan penyudutan.
Jika kau mampu mendengar, tolong jangan jadi banyak orang.
Jadilah satu-satunya yang mampu mendengar.
Jangan sampai akhirnya dia memutuskan untuk selamanya menjadi diam.
Dan kau hanya bisa menyesali diri.


Lalu seharusnya jawaban itu adalah, "Jangan takut. Selama cinta masih ada, aku akan terus bersamamu. Mari kita hadapi bersama-sama. Aku akan buktikan bahwa aku adalah lelaki yang bisa ibumu banggakan karena menitipkanmu padaku."
Tapi kadang, ada rasa sakit yang tak mungkin dicabut hingga satu-satunya pilihan adalah menikmatinya.
Jika di kemudian hari, bukan aku yang kau temui dan itu membuatmu bersedih, ingatlah seseorang pernah begitu bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu, yaitu aku.
Jika di kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, ingatlah telah kurelakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat kusanggah.
Terima kasih sudah bersedia mengenalku di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.
Semoga kelak, kita adalah dua yang saling menemukan meski tak mencari. Dua yang saling melengkapi meski tak saling memberi. Dua yang saling merindukan meski tak tersampaikan.

June 15, 2017

Kesedihan

Kedalaman cinta seseorang dapat dilihat dari kesedihan yang ia rasakan dan keterpurukan yang ia alami selama mencintai seseorang. Semakin kentara sedihnya maka semakin dalam cintanya. Kalau belum pernah merasa sedih saat mencintai seseorang, berarti cintanya belum dalam. Semakin dalam rasa cinta yang dimiliki seseorang, semakin besar kemampuannya bertahan dengan luka dan perasaan sedih. Itulah mengapa banyak orang bertahan pada orang yang membuatnya sedih. Karena saat ia bersedih, ia tahu, rasa cintanya sudah terperosok jauh lebih dalam lagi.



#LukaDalamBara

Aku Membiarkanmu Pergi Bukan Karena Aku Terlalu Pengecut Untuk Memperjuangkanmu

Membiarkanmu pergi, terdengar seperti kau pernah ingin tinggal tapi sekarang kau memutuskan untuk pergi. Nyatanya? Kau tidak pernah ingin tinggal di tempat yang sudah ku sediakan di hatiku. Mengikhlaskan kepergianmu juga terdengar seperti melepaskanmu setelah pernah ku genggam tanganmu dan kita berjalan beriringan. Nyatanya? Kita sejalan namun tak menuju tujuan yang sama. Kita sejalan namun tetap berjarak, bukan beriringan dan saling menggenapkan.
Aku tidak menahanmu saat kau mengakhiri semua percakapan kita. Aku tidak akan menangis apalagi mengais mencari sisa-sisa ‘rasa’ yang mungkin masih tersisa. Aku memutuskan pergi saat itu juga, bukan tidak mau berjuang untukmu, tapi manusia yang beradab tahu mana yang patut diperjuangkan dan mana yang secepatnya harus ditinggalkan. Sebab aku tahu, apapun yang ku lakukan tidak akan mampu membuatmu tinggal.
Aku merindukanmu, pada awalnya. Tentu saja aku rindu, ada yang hilang, dari yang ada kemudian tiada. Apalagi kau tidak memberiku jeda untuk sekedar membiasakan tanpamu secara perlahan. Kamu meminta menghentikan percakapan kita melalui aksara, dibatasi layar empat inchi. Aku mengiyakan, tanpa meminta penjelasan apalagi merengek memintamu berpikir ulang. Aku justru berterima kasih karena kau membuatku semakin yakin untuk mundur, untuk menghentikan ‘rasa’ yang membuatmu menjauh.
Aku mengikhlaskanmu, melepaskan dirimu. Bukan karena aku terlalu pengecut untuk memperjuangkanmu. Tapi aku terlalu berharga untuk menunggumu yang tidak mungkin memilihku sebagai tempat untuk pulang. Terima kasih sudah membuatku merasakan sensasi jatuh cinta (lagi) dan sekaligus patah hati. Paling tidak, aku tahu bahwa hatiku masih bisa merasa. Masih ada kesempatan untuk mencinta, entah dengan siapa. Nanti.




―oleh Ragil Ara Winda pada situs http://www.hipwee.com

June 14, 2017

Kita Yang Tak Lelah Bersemoga

Sedetik kau menciptakan tawa, ratusan kupu-kupu di dalam perutku seolah beranak-anak. Sekejap kau memeluk bahagiaku, kupasrahkan ribuan tahun di dada ini menjaga namamu. Sejumput kepercayaan kau berikan, akan kujaga walau dengan sejuta cara.
Biar saja, meski sepercik rasa yang kau basuhkan, akan kujaga agar tak lekas menguap.
Atas secercah kasihmu, biarkan aku merawatnya, menyiraminya sampai tumbuh subur. Sehingga mencari selain aku, akarmu takkan bisa membiarkanmu kabur.
Atau barangkali, kita akan menjadi lebih indah dari sekadar saling membaur, berusaha menjadikan bahagia tak lantas tumbuh uzur.
Dan Tuan, padamu kelak, bisa saja kuterpatri kuat. Seolah aku kapal dengan jangkar menancap hebat. Sehingga bersamamu bukanlah sesaat, terlebih tersesat.
Seperti malam ini, riang lampu-lampu kota seolah tak ingin redup merayakan kebersamaan kita. Sayup-sayup angin malam begitu syahdu menerpa dedaunan akasia dengan siutnya. Aku, kamu, adalah kita yang tak letih bersemoga.
Juga seperti malam-malam sebelumnya, aku bagimu adalah bintang yang tak pernah kehilangan pijar. Mungkin saja redup sebentar, tapi kupastikan akan terang kembali menjelang fajar. Semoga aku kamu bukan lagi yang tak bernalar.
Untuk kita tak ada alasan yang masuk akal jika tak saling menerima. Segenap keniscayaan kita serahkan kepada Yang Maha Memahami. Dan terima kasih, sebab segala yang penuh senantiasa mampu saling tertambat, untuk kita. Senang dipertemukan denganmu, Tuan. Lihatlah, betapa Tuhan Maha Perencana hal-hal baik. Hari sebelum ini, tak pernah aku tertarik barang satu kedip. Hari setelahnya, kau buat cintaku merangkak naik.




—oleh @nytannyta dan @teh_jeruk

June 12, 2017

Jadi Tetaplah Disini

Kadang aku ingin bercermin di matamu, agar bisa mengerti seperti apa arti wujudku di sana. Kadang aku ingin melebur dalam udara yang kau hirup, untuk sekadar menyejukkan ragamu saat peluh dan lelah menyatu di sana. Kadang aku ingin kita bertukar hati, agar kau paham bagaimana rasanya hidup dalam kubangan perasaan bersalah, agar aku mengerti bagaimana keraguan yang masih terus kau simpan.
Aku tak berbohong setiap kali mengatakan bahwa namamu selalu ada dalam doaku, hanya untuk memastikan bahwa aku tak sekalipun alpa menceritakan tentangmu di hadapan Tuhan. Kiranya agar Dia bersedia menakdirkan kita untuk lekas menyegerakan.
Terlalu banyak rasa bahagia yang kunikmati setiap kujumpai kau dalam kedua bola mataku. Begitu banyak rasa syukur dan haru setiap kali waktu berlalu begitu cepat bersama tawa kita. Juga, begitu banyak pilu yang kusimpan setiap kali jarak merentang, atau setiap kali pertengkaran menjauhkanmu dariku. 
Aku tak berdusta jika saat ini mengatakan bahwa aku ingin hidup denganmu hingga ratusan bahkan ribuan tahun lagi. Karena bagiku, tak pernah ada waktu yang cukup untuk menceritakan tentangmu pada dunia. 
Jadi, tetaplah di sini. Menggenggam apapun yang terjadi, bersama-sama. Mencerapi suka dan duka, bersama-sama. Mari saling menyembuhkan luka lama, membasuh rindu-rindu nakal yang sering meledek kita, membentuk album-album kenangan untuk diceritakan pada anak cucu kita nanti. Mari... menua bersama, hingga nanti uban memenuhi kepala, hingga nanti kita bisa menikmati senja bersama di usia senja kita, hingga nanti batu nisan bertuliskan namamu dan namaku bersisian dengan indahnya.

May 20, 2017

Ost Critical Eleven

Waktu adalah hal yang terukur dengan  segala sama bagi setiap insan di dunia
Namun memiliki nilai yang berbeda-beda
Tuhan memang penulis kisah cinta yang tak ada duanya
Seperti ia dahulu pernah mempertemukan kita tanpa rencana
Kita mencoba menghadapi kehilangan dengan cara yang berbeda
Dan tak akan mungkin sama
Waktu dapat menyembuhkan luka
Namun tidak dengan duka yang telah tergores begitu nyata
Hati ini selalu ada kau disini
Namun dukamu teramat perih
Seakan terbalut pecahan kaca  yang menghujam dengan dalam
Aku tak berlari
Ku ingin terus kuat disini
Aku tak menjauh
Namun tak mampu ku lerai kisah kita

May 4, 2017

Rindu Ingin Tetap Tinggal

Ada rindu yang menolak pergi. Terlebih saat gerimis dengan tenang membasuh wajahku. Aku berusaha menemukan titik-titik bahagia pada rautmu. Tapi, kenapa yang tampak selalu resah itu?
Apa yang kau sembunyikan? Tanyaku iba dalam hati.
Mungkinkah rasamu telah berubah? Atau asaku yang semakin menyalah?
Aku tak pernah takut seliku apa kelok yang akan kita lalui. Dan aku pun tak pernah gentar seterjal apa bebatuan yang akan menyandung kita.
Setahuku, selama kita tetap seiring, semua akan baik-baik saja. Tapi, kenapa hatiku mulai mengecap ragu pada langkahmu?
Bukan ketidakpedulianmu yang kukhawatirkan.
Aku hanya takut rasamu kian jauh seiring jauhnya ragamu.
Aku hanya takut kehilangan hangat senyum itu.
Aku hanya takut tak lagi mengenal dirimu karena rengkuhmu yang tak lagi sehangat dulu.

April 15, 2017

Satu Shaf Di Belakangmu

Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Mengikuti gerakan shalatmu dari takbir hingga salam, kemudian mencium tanganmu dan berdoa bersama.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Mengikutimu, menghormatimu dan menghargaimu. Karena bagiku kamu bukan hanya kepala, namun juga pemimpin keluarga kita.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Menyemangati setiap langkahmu dari belakang, menjadi tempat berbagi untuk mengambil keputusan.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Berbaliklah jika kau lelah dan ingin mengeluh. Aku rumahmu.


Buku "Rindu Yang Tergesa-Gesa"
Karya Annyta Sumarya

April 13, 2017

Kau Adalah Cukup

Entah pada lembar ke berapa aku akan berhenti menuliskan banyak hal tentangmu. Entah pada malam ke berapa aku akan berhenti memimpikan kita. Entah pada kali ke berapa pula aku akan berhenti menggemari senyummu. Nyatanya hingga saat ini, aku masih merasa menjadi ciptaan Tuhan yang paling bahagia sejak namamu seringkali menjadi tema dalam setiap susunan larikku. Aku tak bosan membicarakan segala hal tentangmu, tak pernah lelah menikmati rindu yang selalu saja datang tiap kali tak kulihat kedua sudut bibirmu yang melengkung asimetris. Namamu, segala hal kesukaanmu, caramu menatap sesuatu yang kau sukai, aku tak pernah alpa barang sedetik pun. Aku pun merasa tak pernah cukup untuk mengingat segala yang ada padamu. Mungkin hormon endorfin kali ini sedang menguasai sistem kerja otakku. Mungkin sebagian dari mereka berpikir bahwa aku sedang menjadi manusia yang terlalu menggilai sesuatu. Tapi, tak apa. Selagi bersamamu, aku mampu merasa tak memerlukan pelengkap lainnya. Kau adalah cukup, bagiku.


Aku mampu mencerapi peristiwa yang kita alami bersama sebelum menjadikannya kenangan. Saban hari, rasanya aku tak punya cukup waktu untuk mengacuhkanmu dari bawah alam sadarku. Tapi, tentu saja semua masih berada pada batas wajar. Tak perlu kau khawatir bahwa aku akan melakukannya secara berlebihan, Sayang. Tak ada yang berlebihan selagi aku masih bisa menjaga hatiku untuk berada pada jalurnya, agar perasaan sederhana ini tetap pada porosnya selagi belum bermuara pada akhir yang pasti. Jadi, tetaplah di sini. Seiring dan sejalan, semuanya akan jauh lebih baik. Selamat malam, pria bermata cokelatku.

Aku Pernah Cemburu

Aku pernah cemburu pada mereka yang selalu mengelilingimu di sana. Cemburu pada orang-orang yang berporos di sekitarmu. Rasanya begitu damai bisa menjadi mereka yang senantiasa melihat semangatmu dalam mengumpulkan pundi-pundi rezeki. 
Aku pernah cemburu pada orang-orang di sekitarmu yang mampu mengundang seulas senyum di wajahmu. Mereka bisa bebas mendengar tawa renyahmu, mereka bisa bebas bertukar cerita denganmu, sementara aku, saat itu entah masih berada di belahan bumi mana.
Aku juga pernah cemburu pada tulisan-tulisan yang berisi perasaanmu. Setidaknya ia lebih kau percaya daripada aku dalam menumpahkan segala keresahan hatimu. Aku pernah cemburu pada 140 karakter yang hanya bisa kau tafsir sendiri. Aku pernah cemburu pada berbagai cerita yang kau bagikan dalam media sosialmu, tentang berbagai tempat yang aku tak ada di sana. Aku pernah cemburu pada foto-foto yang melukis tawa lepasmu —sekali lagi, tanpa aku. Aku juga pernah cemburu pada selarik bait yang kau tulis diam-diam di halaman belakang buku tugasmu. Terlebih pada gambar-gambar hasil guratan tanganmu, aku bahkan sangat cemburu.


Aku pernah cemburu pada gelas yang merasakan kecup bibirmu, bahkan aku pernah cemburu pada ponsel yang kau simpan di saku kemejamu —sungguh beruntung ia bisa merasakan detak jantungmu yang beraturan dari jarak begitu dekat.
Aku juga pernah sedemikian cemburu pada… ah, aku bahkan menggigil untuk menulisnya. Tapi kemudian aku diam, mengapa aku harus cemburu? Dan aku tertunduk menerka-nerka cerita. Melarikkan rasa di atas selembar kertas kosong. Hei, apa kau juga pernah merasa cemburu semacam ini?
Maaf jika kau merasa semua ini berlebihan. Aku hanya ingin kau mengerti, bahwa dalam setiap sujud aku tak pernah lupa bermunajat agar kaulah yang akan menjadi ridho-Nya kelak yang kemudian dapat mengantarku ke surga, bahwa akulah awak kapal yang akan kau nahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.
Meski begitu, aku selalu bersyukur karena menjadi wanitamu adalah salah satu hal yang membuatku merasa beruntung. Sebagai seorang wanita, kadang aku tidak menyadari bisa menjadi sosok yang angkuh, egois dan sangat menyebalkan. Tapi kau adalah pria penyabar yang selalu bisa menenangkanku dengan ucapan, "Tak perlu mendengarkan kata orang, kita yang menjalani berdua maka kita pula yang paling tahu tentang hubungan ini." lalu kau juga semakin membuatku jatuh cinta dan tak ingin kehilangan setiap kali mengatakan, "Aku nggak akan berbuat macam-macam, percayalah, kamu akan selalu jadi satu-satunya."
Sering aku menuai senyum menyaksikan tawa mereka melebur dalam tawamu. Kadang, aku pun ingin menjadi mereka, agar tak perlu ada kekakuan saat tiba-tiba kita saling berdekatan. Aku pernah ingin menjadi angin yang menjadi perantara di setiap bisikmu, menjadi udara yang menguapkan keluhmu, menjadi helaan nafas panjang saat kau merasa lelah.
Kau tahu, aku ingin menjadi bagian dari apa yang selalu ada di sekitarmu. Aku ingin menjadi bahu yang kuat untukmu bersandar ketika dunia terasa begitu kejam. Aku ingin menjadi peluk yang hangat, agar kau dapat berlindung ketika merasa lemah. Aku selalu ingin menjadi sesuatu yang menguatkanmu, memberi suntikan semangat saat ia mulai luntur.
Tapi, lama aku mematut diri, untuk saat ini, aku ingin menjadi bagian dari doamu saja. Dan untuk saat ini pula, cara terbaikku menjagamu adalah melalui doa yang kurapal pada Tuhan.

April 12, 2017

An Irreplaceable Mark

"Kita ini secangkir kopi. Aku cangkirnya, kamu kopinya. Cangkirnya bergambar kamu, kopinya beraroma aku."
Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, hanya saja, beribu rangkai kata pun rasanya belum cukup mampu mewakili perasaan tiap kali aku memandang kedua mata cokelatmu yang begitu meneduhkan. Segala hal yang kulalui bersamamu, membuatku tak pernah bosan dan lelah mengucap syukur pada Tuhan.

"Cause all I need is you, every single question will be answered all by you."
Entah sejak kapan aku menyentuhmu melalui doa-doa panjang. Dan sejak saat itu kau adalah kegaduhan paling romantis untuk dibicarakan kepada Tuhan. Kau tak hanya menjadi sekadar pasangan yang baik, namun juga bisa bertransformasi kapan saja menjadi seorang sahabat, kakak dan teman bertengkar yang mumpuni. Denganmu, aku mengerti pemahaman akan arti kata cukup. Semoga, hadirmu selalu mampu menggenapkanku.

"Cause nothing can ever replace you, nothing can make me feel like you do, there's nothing like us."
Meski yang kita lalui tak selalu baik-baik saja, tapi segala macam hal yang kulewati bersamamu selalu saja terasa menyenangkan. Bahkan pertengkaran kita sekali pun kadang menggelitik bagiku. Ada kalanya kita tenggelam dalam ego masing-masing, merasa paling benar dan kadang pula mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan. Tapi selalu saja semesta seolah berkonspirasi untuk menyatukan kita kembali.

"Sometimes following your heart means losing your mind."
Seringkali terdengar suara-suara sumbang di sekitar kita berusaha menggoyahkan apa yang sudah kita yakini. Mungkin tak hanya terjadi padaku, rasa ragu juga pasti pernah muncul dalam benakmu. Di saat pikiran sedang begitu kalut karena tuntutan pekerjaan dan tugas kuliah, perasaan kita bagai sumbu pendek yang cepat tersambar api dan tentu saja pertengkaran pun tak dapat dihindari. Pada saat seperti itu, aku kembali bertanya apakah hati dan pikiran sudah benar-benar yakin dengan keputusanku sendiri? Lalu setiap kali aku merasa kehilangan arah, ingatan-ingatan baik tentang kita pun muncul di dalam kepalaku seperti video yang sedang diputar ulang. Membuatku semakin yakin, bahwa denganmu semuanya akan menjadi lebih baik.

"An irreplaceable mark, that's what you are to me."
Kita pernah berpisah cukup lama. Menapaki jalan masing-masing tanpa pernah berniat untuk menyapa. Kau dan aku berpikir, kita punya tujuan berbeda dengan ambisi yang berbeda pula. Aku dengan seseorang yang baru, dan kau dengan duniamu sendiri yang tak bisa kuterjemahkan di sana. Delapan bulan bukan waktu yang singkat untukku kembali berpikir, apakah jalan kutapaki saat itu sudah sesuai mengarah pada tujuanku? Nyatanya, takdir Tuhan mengatakan lain. Sejauh apapun jarak kita, tempatmu masih saja kosong karena tak ada seorang pun yang mampu menggantikannya. Rasa kehilangan dan penyesalan memang selalu muncul di akhir, tapi aku bersyukur bekas luka yang pernah kita torehkan belum terlambat untuk disembuhkan.

"Berjarak itu perlu, agar kita tidak kehilangan kemampuan untuk memaknai kedekatan."
Meski kini "kita" kembali, bukan berarti segala sesuatu yang akan kita lakukan berotasi dalam poros yang sama. Tentu saja kita terpisah dengan kesibukan masing-masing, bertemu dengan banyak orang-orang baru, atau mungkin saja terkadang ada pula satu dari sekian banyak orang di luar sana yang menarik perhatian. Tapi aku percaya, kita juga membutuhkan jarak untuk tetap sejalan dan beriringan. Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik. Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak bisa dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. 


"When you finally found a good man, don't go looking for someone better."
Ada yang mengatakan senja di pantai begitu menakjubkan. Namun bagi penggemar kopi sepertiku, hawa dinginlah yang menjadi kesukaannya. Tapi saat melihatmu di sisi pantai, ternyata kau lebih menakjubkan dari senjanya. Dan sekarang aku lebih menyukaimu daripada secawan kopi hangat di depanku.

"A right man will love all the things about you that a good man was intimidated by."
Segala macam peristiwa yang sudah kita lalui hingga saat ini tentu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang akan kita hadapi ke depannya. Tapi aku percaya, kita akan saling menggenapkan satu sama lain, kita akan saling menerima dan menguatkan dalam porsinya masing-masing. Dan tentu saja, semua itu akan membuatku merasa cukup tanpa perlu mencari pelengkap lainnya lagi.

March 27, 2017

Memilihmu Akan Selalu Menyenangkan

Aku memilihmu atas segala macam perasaan yang tumbuh di dalam dada. Mengabaikan segala kalimat manusia yang berusaha melemahkanku. Karena ku yakin, hadirmu mampu menguatkanku dalam situasi apapun. Aku memilih buta. Aku memilih tuli. Aku memilih tidak peduli pada perkataan mereka yang menginginkanku untuk tidak mencintaimu. Memangnya, apa hak mereka? Mereka hanyalah segelintir orang-orang yang tidak mengerti. Mereka tak pernah paham bahwa sesungguhnya kebahagiaan hadir lewat hal-hal sederhana. Denganmu, aku mampu untuk selalu tersenyum. Meski tak selalu indah, tapi kau mampu meyakinkanku bahwa kita akan tetap kuat jika menjalani duka itu bersama. Memilihmu adalah hal yang ingin kukenang sebagai keputusan terbaik dalam hidupku. Meski kadang yang ku dapat tak selalu hal-hal baik. Akan ada banyak air mata, akan ada banyak amarah, akan muncul berbagai emosi yang kita keluarkan, tapi aku percaya, kita tak akan kalah. Tak mengapa jika aku harus melalui segala kesulitan itu bersamamu. Jadi, tetaplah di sini. Tetaplah seiring denganku. Yakinkah hatimu untuk selalu menggenggamku apapun yang terjadi, dalam suka dan duka. Karena aku percaya, memilihmu akan selalu menyenangkan. Meski juga berisiko menggenangkan air mata.

Bukankah Tuhan Selalu Mahir Dalam Urusan Pemulihan?

Dan lagi, hujan kali ini membawaku pada ingatan tentangmu. Sudah lama tak kudengar kabarmu. Sudah lama sapa yang selalu buat pipiku merah merona menghilang, seakan menguap begitu saja di udara. Aku dan secangkir cokelat panas dalam sore ini. Yang dulu kita nikmati bersama dengan manis tanpa suara, kini seakan terasa getir bergelayut di lidah.
Entah ada di belahan dunia mana kau saat ini. Atau sedang bertarung memperjuangkan mimpi yang seperti apa, lihatlah masa laluku. Aku merindukanmu. Tentang harapan yang dulu pernah sama-sama kita kumpulkan dan perjuangkan. Tentang rindu yang dulu selalu dengan mudah bisa ku sampaikan. Tentang cinta yang selalu mengarah pasti pada satu hati yang kini seperti tak punya perasaan. Aku menyimpannya rapi dan tak pernah berniat membaginya pada siapapun. Aku juga sama sekali tak pernah berniat membuangnya. Hanya kututup semampuku. Meski sesekali dia terbuka begitu saja tanpa permisi.
Masih nyata kurasa setiap desirnya. Saat tanganmu mengusap lembut kepalaku. Saat cinta menyapa hangat hatiku. Di antara sekian banyak orang yang datang, kau mampu menyita jutaan rinduku. Aku mengingat setiap detailnya tanpa terlewat satu baris pun. Meski kutahu kau mungkin tak akan berhenti di situ. Kau tak akan seperti aku. Menganggungkan irama yang dulu pernah kita senandungkan bersama. Tapi toh tetap saja, aku masih cinta. Meski tanpa sengaja, aku masih membiarkan tempatmu kosong dalam waktu lama. Hanya untuk jaga-jaga saja, kalau-kalau nanti, entah kapan itu. Kau pulang dan menyapa kembali hati ini.
Bukan sekali dua kali kurasa dunia menertawai. Saat kau pergi begitu saja tanpa pamit. Saat kutahu kau sudah tak sama lagi. Saat kutahu kau mendua. Ah, sudahlah! Toh tetap saja aku masih cinta. Aku memberimu maaf meski tak pernah kau minta. Aku menunggu meski kau tak pernah menyuruhku melakukan itu. Siapa yang pantas disalahkan kalau nyatanya hati ini benar-benar tak bisa dengan mudah diketuk cinta yang baru?
Aku sendiri pun ingin bahagia bersama cinta yang datang menyapa. Tapi rinduku justru hanya untuk satu nama dan tak bisa dengan mudahnya kuhapus begitu saja. Berkali-kali aku ingin kembali padamu yang sosoknya seakan tak dapat kutemukan dalam diri mana pun. Tapi kau malah jadi seperti tempat yang selalu kurindukan tapi tak dapat lagi kutemui dimana pintunya. Saat dulu aku bisa dengan mudahnya bersandar pada pundakmu, menceritakan semua perasaanku. Kini, bahkan untuk menyapamu saja aku benar-benar tak tahu bagaimana caranya.
Dulu saat menatap foto kita berdua, aku selalu tersenyum penuh cinta, tapi kini rasanya seperti tersayat di luka yang masih menganga, dengan perih yang sejadi-jadinya. Mungkin kau sudah benar-benar pergi dan memulai cerita baru yang bermacam-macam. Sementara aku masih mengharapkan nama yang sama untuk kehidupan yang akan datang. Kurasa Tuhan saja sudah bosan melihatku yang berusaha memelukmu dalam doa. Menceritakan betapa tak bisanya aku lupa.
Aku masih berharap bisakah aku mengubah keputusan Tuhan? Bisakah kutaklukan kau dalam sujud pada sang Esa? Sungguh, padamu aku masih cinta. Bila nanti entah kapan itu kau menemukan cinta tempatmu berhenti selamanya. Semoga kau masih bisa mengingatku meski hanya sebagai serpihan cerita yang pernah kau sapa di persimpangan. Paling tidak, aku pernah mendampingimu dalam debat dengan hati tersayat. Wanita ini dalam luka pernah bertahan mati-matian membuatmu nyaman. Aku pernah mempertahankanmu dalam segala kepayahan.
Semoga kelak aku juga bisa bahagia dalam cinta yang tak pernah berniat meninggalkan. Meski terluka aku berharap bisa pulih dan belajar mengikhlaskan. Karena bukankah ada Tuhan yang selalu mahir dalam urusan pemulihan? Maka berlalulah masa laluku. Meski butuh waktu panjang untuk melupakanmu, bukankah selalu ada kemungkinan cinta yang baru hadir dan membahagiakan? Jadi, aku akan terus mengupayakan bahagiaku dalam kesabaran. Tuhan pasti tak akan tutup mata dalam setiap harapan.

March 23, 2017

Perihal Menggenapi

Aku bisa melihatmu, di sudut ruang itu. Tawamu mampu menyerap perhatianku begitu saja. Sayang, aku tak pernah tahu kebahagiaan apa yang sudah mengundang tawamu sedemikian menyenangkan.
Aku bisa melihatmu, kau berdiri di sana. Di bawah pohon yang tak begitu rindang, kau berjalan menuju tempatku melambaikan tangan. Senyum hangat tersimpul di sudut bibirmu. Sayang, rasanya aku masih belum menemukan bagian yang hilang dari sana.
Dulu, kau adalah seutuh-utuhnya bagian yang menggenapiku. Tanpa aku harus meminta, hadirmu saja sudah mampu memenuhi bagian kosong dariku. Tapi kini, ada sebagian ruang kosong yang aku sendiri tak tahu kemana perginya. Segala hal tentangmu masih saja mampu menyerap seluruh radarku agar berpusat padamu, tapi kenapa kau tak lagi menggenapiku seperti dulu? Pudarkah rasamu?

Fly To The Sky

Bertemu denganmu tidak pernah ada dalam agendaku.
Begitu pula mungkin denganmu, tak tebersit namaku dalam hari-harimu, dulu.
Tetapi, siapa yang menyangka, ujung benang merah milikku ternyata tersangkut di kelingkingmu.
Saat pertama kali bertemu, tak ada yang asing.
Kau seperti dikirimkan dari masa lalu, seperti seseorang yang memang seharusnya menghuni ruang hatiku.
Namun, tak ada dari kita yang menyadarinya.
Sampai aku bergerak menjauh, dan kau berbalik menghilang.
Padahal, rinai tawamu kusimpan, dan selalu kujaga dengan rindu menderu.
Diam-diam, aku membisikkan harap, kapan kita bersama lagi?
Bukankah sudah diikat-Nya ujung benang merahmu di kelingkingku?
Jadi, sejak perpisahan kita dulu, aku selalu percaya kau akan menemukanku seperti saat ini.
Kau akan selalu menggenapkan rinduku yang separuh.

February 22, 2017

Hampir

Cinta tidak selalu mengundang perasaanmu untuk terus maju. Pada titik tertentu kesadarannya, cinta juga bisa mempersilahkanmu mundur. Bukan, bukan karena kemauan sendiri. Tapi karena keterpaksaan yang mau tidak mau memang harus dilakukan. Mencintai seseorang di bawa label "Jalani Saja Dulu" tentu bukan hal mudah. Menghabiskan akhir pekan bersama, melakukan banyak percakapan romantis, berbincang tentang ini dan itu hingga larut malam, tentu tidak akan bisa dilakukan oleh dua anak manusia yang tidak memiliki perasaan satu sama lain. Tapi, bagaimana jika keduanya saling memiliki perasaan, sementara salah seorang dari mereka hanya mengatakan "Kita jalani saja dulu"? Rasanya memang terdengar begitu konyol. Ingin mempertahankan, perasaan tumbuh semakin dalam. Ingin melepaskan, belum memiliki kesanggupan untuk menahan rasa sakit sendiri.

February 3, 2017

Menetaplah

Bisakah kita cukupi kepura-puraan ini dan berhenti bersembunyi? Kemudian, mari berbicara. Mari saling mengingatkan tentang kita yang pernah sibuk saling merindukan. Mari buka satu per satu halaman kenangan, kemudian kita ungkap tabir di episode-episode lalu yang gagal kita terjemahkan. Mari temukan kembali jejak-jejak kata kita. Jejak-jejak kata yang bahkan tidak ingat pernah kita torehkan.

Menetaplah sejenak, mari bicara tentang cita, cinta dan kita. Mari bicara tentang keinginan kita yang terpaling dari saat kita memilih mengasing. Mari bicara tentang sudah sejauh mana kita saling melupakan dan sebanyak apa kita temui kegagalan. Mari bicara tentang ingatan-ingatan yang kita kira sudah mengentah namun ternyata tidak pernah. Menetaplah sejenak, mari lakukan lagi segala yang pernah, mari rasakan lagi segala yang sudah.

Mari saling berhenti, ―menghukum diri. Mari pikirkan rencana untuk kita berbahagia, terserah itu dengan cara apa. Bercanda sampai pagi sehingga sunyi merasa dipecundangi, mendengarkan lagu kesukaan lalu ikut bernyanyi, atau sekadar membuat origami.

Bisakah kita sudahi kepura-puraan ini, lalu mulai melangkah bersama lagi? Kemudian, mari nyalakan kembali lilin-lilin dengan apa yang mereka sebut harapan, rakit lagi mimpi-mimpi, lalu kita mulai saling mencintai, dari awal lagi.

***

oleh Jimmy Kurniawan (@jimniawan)

January 30, 2017

Denganmu, Aku Kembali Jatuh Cinta


Langit masih kelabu. Titik-titik air pun kian terasa menyejukkan.
"Dingin." Ucapku sambil meniup telapak tangan yang terkepal erat.
Tiba-tiba kau menarik jemariku. Menggenggamnya erat di antara kedua tangan hangatmu.
Aku diam. Memandang senyummu yang hanya berjarak satu jengkal di hadapanku. Jika boleh, aku ingin memelukmu saat ini juga. Jika boleh, aku ingin merasakan bagaimana detak jantungmu di sana. Apakah sama gemuruhnya denganku?
Menemukanmu ternyata jauh lebih menyenangkan daripada bermain pasir di tepi pantai, mencari kerang di sepanjang pasir putih, atau membangun istana pasir di bawah gerimis yang manja.
Tak banyak yang bisa kulakukan selain berharap waktu mampu melambat agar aku bisa menikmati hangat senyummu lebih lama lagi.
Sebentuk rasa pun tumbuh di sana. Jauh di luar dugaan, aku mengingkari janjiku sendiri untuk tak mencintaimu. Tapi, siapa yang bisa disalahkan atas suatu hal klise bernama cinta?
Denganmu, aku kembali jatuh cinta. Denganmu, aku bisa kembali menuliskan banyak puisi cinta. Denganmu, aku ingin berhenti menerka perjalanan, karena takdir Tuhan terlalu indah untuk diterka. Sekalipun untuk aku yang terlalu banyak menerka.
Menemukanmu kembali ternyata merupakan sebuah definisi bahagia yang sangat sederhana. Hingga aku bisa merasa yakin begitu saja tanpa terlalu banyak jika. Menemukanmu adalah perihal percaya kepastian janji Tuhan. Karena menemukanmu barangkali adalah jawaban atas hati yang telah rela pada apapun yang diberikan Tuhan.

January 23, 2017

Bagaimana Rasanya Menjadi "Aku"?

Rasanya berbeda, —bagaimana saat kau jatuh cinta sebelum patah hati atau mematahkan hati orang lain, dengan bagaimana rasanya saat kau jatuh cinta setelah itu semua. Dulu, aku merasa bisa bermain-main. Bukan mempermainkan hati orang lain, namun bermain-main dengan rasa bahagiaku sendiri. Rasanya begitu bebas. Bagaimana aku bisa menikmati senyummu sesuka hati, bagaimana kita bisa menjalani hari tanpa takut kehabisan waktu karena toh hari esok masih menunggu untuk kita jejaki bersama, bagaimana tawa selalu bisa memenuhi setiap masa yang kulewati bersamamu, karena banyak hal sederhana yang mampu membuat kita merasa lebih ringan melangkah bersama. Perkara perasaan memang tak bisa diprediksi dengan presisi. Kadar cinta seseorang juga nyatanya tak selalu tinggi. Ada kalanya sebuah hubungan justru membuat pasangan yang dimabuk cinta berubah merasa jenuh dan ingin mencari selainnya lagi. Lantas, bagaimana kadar cinta di antara dua anak manusia yang pernah saling rasa, lalu merasakan patah hati di saat yang sama?
Mungkin, bisa jadi memang hal itu yang aku takutkan. Aku begitu khawatir jika kau akhirnya menyadari bahwa wanitamu ini tak sempurna. Ketika kini sikapmu tak semanis biasanya, mungkinkah aku tak lagi menjadi satu-satunya yang kau cinta? Atau, rasa trauma sebesar apa yang membayangi benakmu hingga masih belum mampu kembali membuka hati untukku? Bersamamu, aku pernah merasa jadi wanita paling beruntung di dunia. Dengan hanya berdampingan denganmu pun mampu membuatku merasa cukup —tak lagi butuh selainnya. Kau mungkin tak pernah tahu betapa rajin aku mengucap syukur pada Tuhan. Di antara doa-doa yang kurapal tiap malam, ada namamu yang tak pernah alpa kusebutkan. Tuturku pada Tuhan, “Terima kasih untuk dia yang Kau kirimkan. Bersamanya aku tak pernah merasa kekurangan. Dia yang mau dan mampu menemaniku sebelum dan sesudah luka, dia yang tetap bersedia mendampingi bahkan di saat-saat duka dalam hidupku. Dan harapku, semoga dialah yang kelak bisa selamanya bertahan.”
Sebagai seorang wanita, aku merasa sudah diperlakukan selayaknya. Bahkan jika aku ingin jujur, kau sudah memberiku segalanya meski tanpa kuminta. Kasih sayang, cinta, perhatian, waktu, dukungan; semua yang kau berikan membuatku merasa tak pernah kekurangan. Sejak saat perkenalan, kau yang selalu berusaha membuktikan perasaan. Tak sekadar kalimat-kalimat manis yang kau kirim lewat pesan singkat atau surat, kejutan-kejutan darimu hampir selalu sukses memaksaku terperanjat. Entah berapa banyak cokelat yang pernah kau letakkan di dalam ranselku, kau memberikannya bahkan ketika tak ada momen tertentu. Sayang, kau memang berhasil membuatku tergila-gila. Tak heran ketika sekarang kau pun berhasil membuatku meremang bertanya-tanya. Meski kini, aku menyadari banyak hal berubah setelah egoku merusak suasana hangat yang pernah kita jalani. Dan kini, mungkin aku harus berusaha memaklumi kenapa sikapmu tak lagi semanis dulu, kenapa kau justru sibuk dengan duniamu hingga seringkali mengabaikanku. Jika dulu aku termasuk salah satu yang kau prioritaskan, mungkinkah sekarang kau hanya menganggapku angin lalu?
Kita sama-sama tahu, manusia yang telah ditinggalkan dan kehilangan tidak akan pernah sama lagi seperti sebelumnya. Kau dan aku pun paham bahwa kita memiliki cara masing-masing dalam menyiasati kehilangan. Tapi tak bisa dipungkiri, hingga saat ini terkadang aku masih merasa takut jika kelak akan merasakan hal yang sama. Aku cemas jika ternyata perubahan sikapmu adalah sebuah pertanda, bahwa kau memang sudah berubah, mungkin benar-benar bosan dan tak lagi cinta. Aku pun menyadari bahwa hubungan kita sebenarnya hanya sedang bertransformasi ke bentuk lainnya.  Dalam diam aku memutar ulang memori di kepala. Menyadari kau yang kini jarang mengumbar kata cinta, namun sibuk melakukan tindakan nyata. Tapi salahkah jika aku mulai mempertanyakan? Tak patutkah jika sikapmu yang kini jauh berubah membuatku kebingungan? Mungkinkah wanitamu ini tak lagi menarik perhatianmu?
Dulu, aku tak pernah menyangka bahwa kedekatan kita yang entah disebut apa mampu membuatku begitu nyaman. Aku tak peduli ada atau tidaknya status di antara kita. Sebelum aku memutuskan keluar dari zona nyaman itu, harus kuakui bahwa kau memang satu-satunya orang yang mampu membuatku kembali merasa jatuh cinta. Aku tak mengira bahwa kau merupakan orang yang tepat untuk menitipkan hati. Sempat aku berpikir, kau hanyalah kisah cinta yang akan kujalani tak lebih dari satu musim saja. Hati yang kugunakan pun hanya separuh besarnya. Bukan karena aku tak betul-betul cinta, namun aku hanya memberi ruang pada rasa waspada. Aku tak ingin terlalu kesakitan bila memang ternyata kau sosok yang serupa dengan manusia yang dulu pernah menggurat luka. Namun timbunan keraguanku padamu pun tak kunjung terjawab setelahnya. Hingga setelah semua peristiwa menyakitkan yang kualami dan kau masih tetap berada di sisi, kini aku justru yakin bahwa sosokmu merupakan tempat yang tepat untuk menitipkan hati. Aku malu mengakuinya, namun faktanya secara perlahan aku mampu mencintaimu dengan hati yang utuh sempurna. Kau bisa mengisi hariku dengan cara yang tak biasa. Tak melulu mengumbar kata-kata manis, namun wujud ragamu di sampingku mampu meyakinkan bahwa kau memang sosok yang akan terus menemaniku dalam keadaan apapun. Kau bahkan mampu memahami kemauanku tanpa banyak kata. Sepertinya raga dan hati kita dipahat dengan magnet dari kubu yang tak sama, hingga mampu begitu kuat saling menarik.
Aku tak pernah mengira jika sosokmu selalu bisa diajak berbagi beban, sosokmu sanggup menggenapkan. Kau membuatku tak perlu khawatir lagi pada kekuranganku selama ini. Ada dirimu yang mampu menambal segala lubang yang kuciptakan. Kau adalah paket lengkap yang kubutuhkan. Sosok kakak yang melindungi, sahabat yang mengayomi, serta pasangan yang kuyakin bisa setia mencintai terangkum di dalammu. Sebelumnya tak pernah kuduga perjalanan denganmu akan terasa begitu menentramkan. Keraguanku pun menghilang ketika menyadari sosokmu yang selalu bisa diajak berbagi dalam keadaan apapun. Kita memang punya perbedaan di sana-sini, bahkan ragam pertengkaran pun sering kita alami. Namun kusadari itu adalah usaha kita demi bisa saling mengisi. Pertengkaran yang ada termasuk salah satu senyawa yang membuat hubungan kita berwarna. Perbedaan pendapat turut kita lumat bersama. Aku yang bertahan dengan egoku akhirnya bisa luluh dengan caramu yang lembut dalam bernegosiasi. Padahal, tak bisa dipungkiri, kata pedas dariku tentu sering membuat telingamu memerah.
Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, tiba-tiba, kau baru sadar ketika ia menyergapmu tanpa peringatan. Kepadamu tak hanya kutitipkan kisah suka serta duka, namun juga mimpi dan rahasia. Kau memang bingkisan indah dari Tuhan, dalam dirimu kutemukan pribadi yang sanggup menggenapkan. Kau tahu, Sayang? Wanitamu ini sudah berusaha sekuat-kuatnya. Mencoba tak berpikir naif dan memimpikan kisah-kisah cinta dalam cerita. Aku mencoba untuk meredam perasaan agar tak terlalu berlebihan. Aku tahu bahwa tak ada pasangan yang selamanya bahagia. Setiap hubungan pasti mengalami banyak pasang surut. Terkadang, kau mungkin mulai kesal mendengar rajukku. Tapi jika boleh berkata jujur, aku sungguh rindu kau yang dulu —pria yang tak pernah alpa memanjakanku. Saat ini, aku sering memperhatikan raut wajahmu yang berubah kesal begitu kalimat-kalimat omelan kuucapkan. Aku mengerti, kau mungkin merasa tak senang ketika aku mulai merajuk dan meminta diperhatikan. Tapi semakin kau terlihat kesal, aku justru makin tak bisa menahan. Saat sikapmu tak lagi semanis dulu, rasanya ada kebahagiaanku yang ikut hilang. Ada kebutuhan dalam diriku yang tak lagi terpenuhi, sekarang. Aku merasakan perubahan sikapmu sebagai pertanda bahwa kau memang sudah tak lagi memiliki rasa.
Tapi, kenapa aku malah sibuk cemburu pada masa lalu jika sampai detik ini pun kau masih ada di sisi? Kadang aku merasa bingung. Di satu sisi aku mulai sadar diri, kau bukannya tak cinta lagi tapi hubungan yang kita jalani hanya sedang bertransformasi. Kau tahu betapa bahagianya aku saat masih kurasakan hangat yang sama dalam genggaman jemarimu ketika kita duduk berdua sambil memainkan pasir pantai di bawah gerimis, kemarin? Seketika itu juga, entah kenapa harapku mengembang. Aku berusaha menekan perasaan bahagia, tapi nyatanya sama sekali tak bisa kusembunyikan raut wajah bahagia saat bisa kupandangi wajahmu begitu dekat tanpa merasa canggung. Rambutmu yang berantakan karena acakan jemariku, alis tebal yang mengukir simetris matamu, hingga suara tawamu yang terdengar begitu hangat di telingaku. Jika saat itu aku tak mampu menahan diri, ingin rasanya kupeluk tubuhmu begitu erat, berusaha menyampaikan rasa bahagiaku tanpa kata-kata.
Seringkali aku mencari matamu, berharap menemukan ketakutan yang dapat menyelamatkan kita dari perasaan yang salah. Aku menunggu senyummu, berharap melihat keraguan yang dapat membuatku mundur dan tak lagi bermain hati. Tapi, yang kudapati di sepasang mata cokelatmu justru kebahagiaan, yang kutemukan di dalam senyummu justru ketenangan. Di bawah sepasang bola mata cokelat itu, terdapat segaris senyum terulas rikuh. Semakin aku memandangnya, terasa semakin tenang. Semakin aku berada di sampingmu, terasa semakin nyaman. Bagaimana jika aku mengingkari janji dan kembali jatuh cinta padamu? Bagaimana jika kali ini aku menjatuhkan hatiku dengan sejatuh-jatuhnya padamu? Sementara aku tak lagi bisa menerka apakah kau juga merasakan hal sama. Lagi-lagi kau menempatkanku di ambang kebingungan, Sayang. Kemarin, sikapmu membuatku berada di puncak perasaan bahagia. Lalu hari ini, aku kembali bertanya, mungkinkah genggaman tanganmu kemarin hanya kau anggap sebatas angin lalu? Mungkinkah semua perlakuan manismu kemarin hanya untuk membuatku merasa bahagia sesaat? Atau yang jauh lebih parah dari semua itu, mungkinkah aku hanya menjadi pelarian bagimu? Rasanya seperti kau mengembangkan harapku, kemudian berlalu. Tanpa tahu aku turut hilang bersama semua harapan itu.
Tentu saja aku berharap bahwa ketakutanku ini hanyalah kesia-siaan. Sebagai manusia dewasa, aku justru belum bisa berpikir bijaksana. Ketika kita berhasil melewati jatuh bangun akibat sebuah alasan klise bernama cinta, aku malah mempertanyakan perkara-perkara remeh yang tak seberapa pentingnya. Kata-kata mesra, cokelat, hingga ajakan untuk pergi berdua seharusnya jelas tak lagi perlu diperhitungkan. Pendampinganmu selama ini toh menjadikanku tak kekurangan. Kita tak lagi menjalani kisah khas anak remaja. Kita sudah berada di level yang lebih tinggi, yaitu hubungan yang dewasa. Menyadari kealpaan diri sendiri membuatku merasa malu. Bodohnya aku yang tak cepat-cepat memahami makna perubahan sikapmu. Dibalik semua sikapku yang mungkin membuatmu merasa risih, aku hanya berharap kau masih memiliki rasa yang sama seperti dulu, begitu pula tak ada yang berubah dengan kadar cintamu.
Aku sadar, masih banyak keraguan yang tersimpan dalam benakmu. Atau bahkan masih begitu besar perasaan trauma dalam hatimu akibat luka yang pernah kugoreskan di sana. Tapi aku tak akan berhenti sampai di sini. Aku percaya tiap manusia pasti memiliki takdir yang memang sudah digariskan. Walau memang untuk bertemu dengan orang yang sanggup menggenapkan, kita harus terlebih dulu menempuh perjalanan panjang. Barisan orang yang tak tepat pun pernah kita temui demi mendapatkan setangkup pembelajaran. Puluhan rasa sakit dan gurat luka juga pernah hadir demi membuat kita memiliki mental layaknya baja. Dan kini, setelah berpindah dari tempat yang kesekian dan mengarungi perjalanan yang melelahkan, sosokmu merupakan rumah paling nyaman untukku menaruh lelah sembari menitipkan hati.
Sayang, terima kasih untuk semua pendampinganmu selama ini. Kini aku menyadari bahwa aku memiliki partner keras kepala yang hatinya paling hangat sedunia. Jadi, jika boleh aku meminta, jangan kehilangan semangat dan keyakinan untuk terus berdampingan denganku. Malu pada acakan rambutmu yang membuatku berjingkat, malu pada cubitan kecil darimu yang mendarat di hidungku hingga membuatku tersipu malu. Lihat mataku, masihkah kau merasa sendirian? Bila kau lelah, ingatlah aku. Ada doaku di belakang kepalamu. Biar dunia meremukkanmu, kuharap lenganku bisa jadi tempatmu pulang setelah menghadapi kerasnya dunia di luar sana. Sudah, tak perlu khawatir, pasti aku temani. Kita mungkin tak akan langsung hidup enak. Tapi kita akan bahagia. Tuhan pasti cukupkan. Jadi, jangan terlalu banyak dipikirkan. Duduklah di sampingku, dan lekatkanlah sepasang mata cokelatmu pada kedua bola mataku. Dunia cuma sedang bercanda. Mari kita tertawa saja. Saat diam, aku mendoakanmu. Sewaktu cerewet, di situ ada doaku. Kau tahu, rongga di sela jemariku dicipta begitu rupa agar bisa sempurna menampung jari-jari milikmu.
Asa yang kusisipkan dalam doa hanya satu, semoga hatimu masih tetap sama, semoga inginmu untuk berdampingan denganku pun masih tetap ada. Tuhan sangat dermawan karena memberikan manusia istimewanya untukku. Kuharap aku tak lantas menjadi hamba yang tak tahu diri ketika memanjatkan doa baru setelahnya. Tidak, aku tak akan lagi meminta hal-hal yang istimewa dan sulit untuk dikabulkan. Hanya satu saja permohonan sederhana yang terselip rapi di jalinan kata yang kuhaturkan kepada Pemilik Semesta. Mungkin terdengar berlebihan, tapi entah kenapa aku berharap kita bisa saling mengisi hingga masa kita di dunia dihabisi. 

January 21, 2017

Pergilah Lagi Tanpa Perlu Meminta Kembali

Andai bisa menyembuhkan hati semudah kau memilih pergi, pasti akan ku terima kau saat kembali. Tak peduli sekejam apa pun kau meninggalkan waktu itu. Sebab di sudut dadaku juga masih ada sedikit rindu. Hanya saja, menyembuhkan luka sebab kau tinggal, tak semudah kau meminta kembali dengan alasan sesal. Luka darimu membenam di jantungku. Menenggelamkan aku.
Andai mudah untuk mencintai seperti dulu lagi. Mungkin akan ku terima kau kembali tanpa basa basi. Namun, hidup ternyata telah berubah. Rasa sakit yang kau tinggalkan dulu sudah membuatku kalah. Aku kalah mencintaimu. Tapi aku kalah dengan elegan. Perasaanku tak lagi sekuat dulu. Walau ku terima kau kembali, kutakut yang terjadi hanya cara mengulang pilu.
Rasa rindu pasti ada. Hanya saja tersisa sedikit sebab kau pergi terlalu lama. Rasa ingin kembali juga ada. Hanya saja terkalahkan oleh rasa sakit sebab dulu kau menyakitiku dengan kejamnya. Maka, pergilah lagi tanpa perlu meminta kembali. Bawa sesalmu itu, biar ku jalani hidupku yang baru.
Terima kasih sudah mengingat dan mengajak kembali. Bukan maksud balas dendam, hanya saja kau pernah ku beri kesempatan dan ternyata kau gamang menjaga hati. Kini aku butuh orang yang kuat. Menjaga hatiku tanpa perlu berkhianat.

January 20, 2017

Aku Hanya Ingin Menanyakan Kabarmu Saja

Apa kabar kau yang di sana? Berulang kali aku menanyakan kabarmu, padahal tak sedetik pun pertanyaan itu tersampaikan. Aku berteriak, di antara sabana yang terik. Melamunkan senja dan riak air tergenang, berkecipak terinjak-injak.
Dua hari yang lalu, aku melihatmu tersedu-sedu. Jangan kau tanya mengapa aku tahu. Jangan kau tanya mengapa aku ada di situ. Aku ada di mana pun kau berada.
Kita adalah sepasang jiwa yang tak pernah menjadi satu. Meranggas setumpuk rindu satu demi satu hingga akhirnya bibir ini terus kelu. Tak kuat menelisikkan kata rindu yang kini sudah mengering. Lautan hampa yang kau teriaki tiada artinya.
Aku sudah pergi. Iya, aku harap itu tak menjadikan jarak ada. Sekali lagi, aku adalah manusia yang menghamba pada harap yang tiada. Kupikir, ada satu atau dua hal bisa diperbaiki; kau memilih tak merasa apa-apa lagi.
Kini, dalam almanak kusam di dinding kamar terhitung angka enam; tahun yang memisahkan perasaan kita. Dilarung dalam dasar samudra kehilangan; mati asa. Hati menjadi pekat dan getir menanti kepulanganku. Kebersamaan yang rantas; semakin lama terus terhempas.
Kamu sudah senang? Atau hanya sibuk mengenang? Walau kisah kita yang memang tak pernah ada ini sudah lama tenggelam dan menghilang; aku percaya, suatu hari nanti, aku akan mewujudkan, apa yang kutunggu adalah akhir yang benar. Tapi kau tak mau percaya.
Bagimu, aku adalah rasa yang dulu pernah ada. Laiknya kain-kain di tengah hiruk-pikuk pesta; lembut sutera yang meliuk di sekujur tubuhmu. Saat usai, ditinggalkan. Tapi, masa bodoh. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja hari ini.

***

Kutipan buku ''Lampion Senja"

January 9, 2017

Aku dan Pikiranku

Sulit rasanya mengendalikan sesuatu dari dalam diri yang tidak bisa kusembunyikan dengan baik. Saat aku yakin bahwa aku akan baik-baik saja, sesuatu yang buruk terjadi. Seolah ingin memberiku pelajaran untuk berani menghadapi masa sulit sendirian. Hening, semua berlalu begitu saja.
Lalu kudapati kau di sana. Memang tak sesejuk oase di tengah hamparan padang pasir, tapi entah kenapa aku yakin kau mampu membantuku untuk melalui hari ini.
Ragu memang menyertaiku, tak peduli sekuat apa aku berusaha meyakinkan diri. Ada pula rasa takut terhempas kembali, ada rasa sepi yang begitu riang menertawaiku, ada perasaan senang karena aku mampu menikmati waktuku sendiri. Tapi tetap saja, kehadiranmu tak dapat dipungkiri mengganggu fokusku. Pernah sama-sama terluka, apakah menjadikan kita tipikal manusia yang sama dalam mencerapi patah hati?
Bolehkah kita bersua sekedar mendentingkan gelas bir bersama? Menikmati masa "lajang" —katamu, dengan benar-benar menjadi remaja tanpa takut lagi terbebani kasus patah hati? Bolehkah aku merasakan desiran darah yang sama seperti saat dulu tangan kita tak sengaja bersentuhan di atas wahana roller coaster? Ah, dunia ternyata sedikit labil. Kadang menguatkanku, kadang membuatku sendu. Kadang melenyapkan rasaku, kadang membuatku ingin dengan liarnya memelukmu.



Sabtu malam di Kota Dingin,
Yang kita sebut dengan "Memori"

December 7, 2016

Kita Akan Tetap Menjadi Kita

Mungkin nanti, kau akan membaca tulisan ini jauh setelah aku menuliskannya. Mungkin nanti, pertemanan kita akan selalu seperti ini. Dan aku memang berharap demikian, bahwa kita bisa selalu hangat meskipun dalam arti berbeda. Kau tahu, teman sepertimu sangat jarang kujumpai. Dan, senyawa seperti kita pun, begitu jarang didapati.
Untukmu, teman yang pernah membuatku menyusun rasa lalu mengaitkannya, kuharap kita akan tumbuh menjadi dua anak manusia yang semakin mendewasa.
Masih teringat jelas dalam benakku bagaimana awal perkenalan kita sejak sama-sama bergabung dalam grup suatu aplikasi percakapan. Kala itu, nama tampilanmu diawali dengan kata "Pak", tentu saja aku tidak mengira bahwa kau adalah teman yang nantinya berada dalam satu kelas denganku di bangku perkuliahan. Rasa canggung menyergapku saat pertama kali menerima pesanmu melalui Blackberry Messenger, aku sempat mengira bahwa kau adalah seorang dosen yang menjadi pembimbing akademik mahasiswa di kelasku. Tapi ternyata, dengan begitu ramah kau memperkenalkan diri lalu menceritakan sebab lucu dibalik sapaan "Pak" nama tampilanmu. Setiap kali mengingat kenangan yang sudah berlalu setahun lamanya itu, aku selalu tak mampu menahan tawa.
Ternyata, kau adalah teman yang baik. Dalam kurun waktu beberapa bulan saja kita bisa menjadi lebih akrab dibandingkan teman-teman lainnya. Kita saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Mulai dari masa kanak-kanak, bangku sekolah, pekerjaan, keluarga, hobi dan banyak lagi topik pembicaraan yang tak pernah habis kita bahas. Dua puluh empat jam dalam sehari terkadang masih terasa kurang bagi kita untuk mengakhiri percakapan via messenger. Lalu setelahnya, semesta seperti berkonspirasi memunculkan sesuatu dalam diri kita masing-masing yang tak mampu kita hindari.
Aku tentu tak bisa mengira pada siapa aku akan jatuh cinta. Aku juga tak bisa memperhitungkan kapan waktu yang tepat bagiku untuk jatuh cinta. Tanpa awal rasa yang jelas, waktu itu, tiba-tiba saja aku merasa bahwa kau adalah orang yang tepat untuk kucintai. Rasanya begitu klise, memang. Kurun waktu yang hanya berjalan sekitar tiga bulan itu mampu menciptakan rasa nyaman dalam hatiku. Kau tahu, sebelum kehadiranmu, butuh waktu hingga tiga tahun lamanya bagiku menyembuhkan luka sendirian. Luka yang pernah kuceritakan padamu asal muasalnya. Luka yang membuatku menutup hati hingga bertahun-tahun lamanya, sampai kau datang mengobrak-abrik semua prinsipku, meluluh-lantahkan benteng pertahananku.
Tuhan sepertinya sedang senang melihat kita bersama, waktu itu. Buktinya, Dia tak hanya membuatku jatuh cinta padamu, tapi juga menjatuhkan hatimu padaku. Kita sempat merasakan bahagia yang mengudara, seperti sepasang anak manusia yang baru saja menemukan cinta pertama. Kita lupa bahwa jatuh cinta tak selamanya membawa suka, tapi juga diikuti rentetan duka di dalamnya. Rasa nyaman yang muncul dalam hatiku semakin menjadi, terlebih sejak aku melihatmu bisa begitu akrab dengan kedua orang tuaku pada pertemuan pertama. Sikap ramah dan sopan santunmu ternyata mampu menarik hati mereka hingga seringkali mereka menanyakan kabarmu padaku. Kala itu, aku sempat berpikir bahwa aku telah menemukanmu, orang yang tepat untuk benar-benar kujaga dan menjagaku.
Hari-hari jatuh cinta kita lewati hingga beberapa bulan berganti, lalu perlahan aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Aku masih merasa nyaman berada di sampingmu, senyumku juga tak pernah lepas tiap kali melihat wajahmu, rasa bahagia itu masih ada dalam dadaku, bahkan perasaan takut akan kehilanganmu pun muncul dalam otakku. Hanya saja, ada sesuatu yang mengganjal dalam setiap gulir masa yang kita lalui. Mungkinkah aku telah salah mengartikan perasaanku?
Perasaan jatuh cinta yang sempat kurasa di hari sebelumnya perlahan berubah menjadi perasaan sayang seorang adik kepada kakaknya. Lalu, rasa nyaman berada di dekatmu membuatku seolah selalu terjaga dan dilindungi oleh sosok seorang kakak. Aku masih bisa merasakan kupu-kupu berterbangan di dalam perut tiap kali kau mengucapkan kata-kata puitis nan manis itu, hanya saja, aku mulai merasa takut kehilanganmu seperti aku takut kehilangan seorang kakak. Terlebih lagi, aku sempat melontarkan kalimat yang salah padamu. Apakah kau ingat aku pernah memintamu menghentikan semua kedekatan kita? Aku tahu, malam itu, aku benar-benar membunuh asamu. Tapi sama halnya dengan dirimu yang terluka, aku juga tak kalah menyedihkan setiap kali merasa sepi tanpa hadirnya sosokmu. Aku mencoba jujur pada diriku sendiri tentang apa yang ku rasa. Aku mencoba bercermin ke dalam hati kecilku, karena sejujurnya, aku juga tak mau kehilangan sosok sepertimu. Sampai akhirnya aku menyadari, bahwa saat ini aku lebih menyayangi sebagai seorang adik yang menyayangi sang kakak. Saat ini, aku merasa nyaman dan aman di sampingmu. Saat ini, aku tak ingin kehilangan sosok yang bisa menjadi pendengar serta pemberi nasihat yang baik sepertimu. Hingga tak lama berselang, aku bisa menafsirkan perasaanku dengan benar pada seseorang yang lain di sana. Ia yang datang dan membuatku mengerti bagaimana jatuh cinta sesungguhnya. Bukan hanya sekadar perasaan sayang sebagai adik dan kakak.
Aku tahu, kabar hubungan yang kujalin dengan orang tersebut tentu membuatmu terluka. Setelah apa yang kita lewati selama beberapa bulan lalu tanpa adanya ikatan, setelah semua waktu dan kedekatan yang hanya di isi oleh kau dan aku, aku tahu patah hati adalah satu-satunya hal yang kau rasakan waktu itu. Kemudian waktu berlalu dan membuatmu berhasil menyembuhkan luka. Waktu pun berlalu dan mengakhiri hubunganku bersamanya. Lalu kita benar-benar sampai pada titik ini, pada titik waktu yang sama seperti setahun lalu sebenarnya, kala kita masih menjadi dua orang anak manusia yang dimabuk cinta.
Tapi kini, setelah perihal jatuh cinta dan patah hati yang kita alami dengan sebab masing-masing, setelah semua luka yang mengajarkan kita untuk tumbuh, setelah waktu yang membuat kita mendewasa, aku percaya kita bukan lagi pribadi yang sama seperti dulu. Bukankah tak ada orang yang benar-benar sama setelah menyembuhkan luka sendirian?
Banyak kealpaan yang tengah kita perbaiki saat ini, kita sepakat bahwa fokus untuk menyelesaikan pendidikan saat ini adalah hal yang utama. Jika nanti kita memang ditakdirkan untuk kembali menjadi kita, siapa yang tahu?
Meski kini aku memang tak tahu sekuat apa hatimu, setegar apa kau bertahan dan menutupi semuanya dengan senyum dan tawa yang selalu muncul di raut wajahmu, tapi aku yakin, kita akan tetap menjadi kita. Jika saat ini kita adalah sepasang anak manusia yang saling menguatkan dalam lemah, aku bersyukur telah dipertemukan dengan sosok sepertimu.
Bagaimana nanti jadinya kita, biarlah waktu yang akan menjawabnya untuk kau dan aku.



—J

November 30, 2016

Ingatlah Aku Sebagai Pulangmu

Malam ini kudengar detak jantungku sendiri, terdengar seperti langkah kaki menaiki anak tangga. Delapan bulan berlalu, apakah tak ada sesuatu yang tertinggal? Aku tak pernah mengira jika semesta bisa sekejam itu membalikkan keadaan dalam sekejap. Meski kutahu kau tak ada, tetap saja kuputar ulang ribuan kali kenangan kita, membayangkan segala yang telah dilewati —dulu. Mungkin aku terlalu banyak merenung akhir-akhir ini, mungkin tindakanku terlalu konyol di matamu, mungkin ucapanku hanya terdengar seperti omong kosong bagimu. Tapi, tak apa. Suatu saat, ketika aku mampu melewatinya, aku yakin kau justru akan paham bagaimana rasanya sesuatu yang tak asing memenuhi sudut kepalamu seperti film favorit yang kau putar berulang kali.
Manusia bisa berubah kapan saja, namun masa lalu tak akan pernah benar-benar hilang dari ingatan. Termasuk malam dimana kau katakan bahwa tak akan ada yang berubah, aku atau pun dirimu, sebelum kutahu betapa banyak kehilangan yang akan datang. Jika kau di luar sana, jika kau di suatu tempat yang tak lagi kuketahui, jika kau sedang melangkah menuju tempat yang entah dimana, ingatlah aku sebagai pulangmu. Jika memang hatimu belum sepenuhnya pergi, coba ingatlah aku yang menunggu langkahmu berbalik. Aku hanya ingin melihatmu lagi di depan pintuku dengan senyum yang masih sehangat dulu. Tapi, bukan saat ini.
Sekarang, nikmatilah terlebih dahulu petualanganmu di luar sana. Jika nanti kau merasa lelah dan tak lagi memiliki tujuan untuk kembali, ingatlah aku sebagai pulangmu. Saat ini, aku hanya ingin menikmati ketabahanmu dalam melupakanku. Apakah matamu juga basah? Apakah juga muncul ragu dalam heningmu?
Jika rindu adalah uap, maka aku adalah kopi yang siap kau sesap. Saat ini, kita hanya perlu membiasakan diri. Aku memang payah, sebab melupakanmu —aku selalu ingin menyerah. Kuberi tahu kau sedikit gambaran kesakitan dari seseorang yang kisahnya telah usai namun cintanya belum selesai. Adalah ketika namamu terdengar di telinga, hatiku kembali patah berkeping-keping. Entah, seberapa keras aku mendorongmu untuk enyah, entah seberapa jarak yang harus kuhempas sejauh pecah, tetap saja ada satu sudut dalam diriku yang menolak kehilanganmu hingga entah. Inginku, kata “pulang” darimu adalah di sisiku. Saat dimana kau sudah merasa lelah dengan perjalananmu, lalu kau akan datang dan tak pergi lagi —pada sebuah sudut dimana kopi kita bersanding hingga pagi. Teruslah bermain di taman petualanganmu. Singgahi rumah-rumah mungil yang kau kira mampu memuaskan hasratmu. Jangan berhenti hingga kau lelah. Jika aku masih menjadi pilihan hatimu, berbaliklah. Dan apabila aku masih di sini bersyukurlah semesta masih menjagaku —untukmu.

November 23, 2016

Selamat Tinggal, November...

Entah kapan waktu yang tepat untuk melupakanmu, aku tidak tahu. Bisa saja tiga hari, dua hari, atau seminggu yang lalu aku bilang melupakanmu, lalu benar, secara perlahan-lahan aku menjauhi semua hal tentang kamu. Namun di pertengahan jalan kamu mulai kusebut-sebut lagi. Aku mulai menulis banyak tentangmu. Aku sadar, aku tidak pernah (bisa) benar-benar melupakanmu. Tapi sesadar-sadarnya aku mengingat kamu, aku juga sadar entah kapan dimulainya, aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Aku lupa bagimana rasanya jatung yang berdebar ketika bertemu kamu. Lupa pada meriangnya badanku ketika di dekatmu. Lupa bagaimana rasanya kupu-kupu berterbangan di perutku ketika memikirkanmu. Entah itu mual. Entah itu seperti tersengat ribuan volt listrik. Apakah itu manis. Apakah itu pahit. Atau benar seperti yang orang katakan, jatuh cinta itu rasanya nano-nano. Aku sering makan permen nano-nano, namun rasanya tak seperti jatuh cinta. Aku sadar, aku tidak bisa melupakanmu. Tapi waktu membunuh rasaku dengan sempurna. Apa artinya meski aku terus mengingat kamu?
Bahagia mengisi paru-paruku kini. Ketika langkah menapak di kota yang sesak. Di kota ini, dulu, kita pernah melewati segalanya bersama. Kita meliuk membelah malam, di bawah temaramnya lampu jalan, di temani rintik hujan yang manja. Hawanya masih sama, masih beraroma rindu. Rindu pada segaris senyum dari sudut bibir tipismu. Entah kenapa, rasa itu kembali merasukiku ketika melangkah di jalan berdebu yang dulu pernah kita lalui. Sesak batin ini mengingatnya. Sulit bibir membacanya dengan kata. Namun setidaknya kau tahu, hari ini kita akan menghirup udara yang sama. Di sini, di kota ini. Itu saja sudah cukup kurasa...
Rindu. Tak sanggup kutepis kata itu dari bibirku. Bayangmu membawa kembali kenangan itu ke hadapanku. Kenangan yang kerap kubangunkan ketika lelap mulai menyapa. Tidak lain hanya itu. Sebab, aku sudah tertinggal jauh dari langkahmu. Tak sanggup kumengejar, kendati kau berlari ribuan kali lebih cepat dariku. Tak apa, setidaknya aku masih bisa menikmati khayal tentangmu di tempatku berdiri. Rindu. Lagi-lagi kata itu menyapa bibirku. Membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Aneh rasanya mengucapkan itu lagi —untukmu. Harusnya perasaan itu sudah pupus mengingat kejamnya selamat tinggal yang kemarin kau ucapkan. Ketika aku memutuskan menyimpannya rapat-rapat, tiba-tiba saja tempat yang dulu sering kita datangi bersama mengingatkanku kembali. Mengetuk memori untuk mengenang masa itu. Sungguh, itu hari terindah sekaligus terburuk sepanjang hidupku. Kendati tak sanggup mengatakan perasaanku ketika waktu menyeret langkahku pergi. Tapi mengingat perjalanan terberat yang telah kita lalui bersama, menyimpannya adalah keputusan terbaik yang pernah kulakukan. Lalu, siapa sanggup menolak rasa yang tiba-tiba saja ingin meledak? Seandainya pun aku melihatmu lagi, masih dengan tawa dan senyum yang sama —mungkin aku akan membatu.
Rindu. Ternyata kata itu hanya tertahan di bibirku saja. Sampai kapanpun, kau tidak akan pernah mendengarnya. Sebab, kata itu hanya akan kusimpan rapat-rapat di sini —dalam detak jantungku. Dan cerita adalah nafas yang akan membuatnya bertahan selamanya. I'll keep you, always here.
Jika kenangan tak membagi dukanya kepadaku, barangkali aku tak akan pernah menemui esok hari. Dimana semua kesedihan tersapu bersih oleh hembusan sang bayu pagi. Aku tak akan melihat mata-mata penuh sinar, menatap bangga pada sejumput senyum yang kutawarkan sebagai pembuka hari. Jika saja kenangan kubiarkan terkubur mati, bersama luka yang sesaat bisa mengering, barangkali saat ini, aku tak akan berdiri dengan kakiku sendiri. Jika kenangan masih setia bersamaku, kan kuceritakan pada dunia tentang beribu-ribu kisah yang dikubur waktu.
Seperti hujan yang besenyawa dengan matahari ketika membuat pelangi pada sore itu, tak bisakah kita seperti mereka? Bersatu. Menjadi senyawa. Ketika aku selesai menuliskan lirik ini, kau akan menggubahnya menjadi sebuah lagu. Lagu cinta. Meski pada akhirnya kau menyanyikannya bukan sembari membayangkan wajahku. Setidaknya, lirikku dan melodimu sudah bersenyawa. Berbagi kisah.
Aku meninggalkan November di sana, di depan pintu yang tersingkap separuh. Matanya berkaca-kaca membaca jejak langkahku yang perlahan tersapu hujan. Ada sesak menyekap tapi dia tetap bertahan disana —tidak beranjak. Dia bilang, "Pergi saja, aku tidak akan menahan." Aku mengerti. Selamat tinggal, November. Semoga kau baik-baik saja, sampai saatnya kita dipertemukan lagi.
Tidak pernah berjanji meski kata “promise” sering melengkapi cerita. Namun, itu bukanlah janji untuk menjadi “kita” selama-lamanya, hanya tetap menjadi “anda” dan “saya” saja. Tidak ada janji untuk tinggal, tidak ada janji untuk menunggu. Sering kali berpisah di suatu tempat. Lalu bertemu di tempat lain. Saling memunggungi. Saling berhadapan, meski tanpa suara. Selalu tidak pernah meminta suatu keharusan. Kita akan tetap menjadi “anda” dan “saya”. Ya, itulah sepertinya janji yang tersirat. Janji dua orang asing yang bertemu di tengah jalan. Suatu ketika, salah seorang dari kita ingkar janji. Salah seorang dari kita  tidak ikut berbalik ketika yang lainnya beranjak pergi. Ia menatap punggung itu sambil menunggu —berharap berbalik dan tersenyum sembari berkata, “Jika ada yang harus terus berjalan, maka yang berjalan itu adalah “kita” bukan “kamu” dan “aku” saja.” Salah seorang dari kita ingkar janji. Lalu menanggung konsekuensinya dengan kehilangan punggung itu. Tidak ada lagi cerita-cerita tentang dua orang asing yang bertemu di tengah jalan. Seseorang menunggu. Seseorang terus berjalan. Entah sampai kapan. Mungkin sampai pertemuan selanjutnya. Sampai seseorang dari kita lelah pergi lalu kembali, atau salah seorang lelah menunggu lalu pergi dan menemukan seseorang lainnya yang bersedia member izin untuk menunggu, atau menautkan kelingkingnya menjadi kata “kita”. Entahlah. Salah satu dari kita tampaknya sudah ingkar janji. Dan salah satunya lagi hanya bisa memandangi kepergian itu, lalu mendoakan yang terbaik.





Diadapatasi dari artikel Sri Noviana Zai pada kantonglaci.wordpress.com