May 20, 2017

Ost Critical Eleven

Waktu adalah hal yang terukur dengan  segala sama bagi setiap insan di dunia
Namun memiliki nilai yang berbeda-beda
Tuhan memang penulis kisah cinta yang tak ada duanya
Seperti ia dahulu pernah mempertemukan kita tanpa rencana
Kita mencoba menghadapi kehilangan dengan cara yang berbeda
Dan tak akan mungkin sama
Waktu dapat menyembuhkan luka
Namun tidak dengan duka yang telah tergores begitu nyata
Hati ini selalu ada kau disini
Namun dukamu teramat perih
Seakan terbalut pecahan kaca  yang menghujam dengan dalam
Aku tak berlari
Ku ingin terus kuat disini
Aku tak menjauh
Namun tak mampu ku lerai kisah kita

May 4, 2017

Rindu Ingin Tetap Tinggal

Ada rindu yang menolak pergi. Terlebih saat gerimis dengan tenang membasuh wajahku. Aku berusaha menemukan titik-titik bahagia pada rautmu. Tapi, kenapa yang tampak selalu resah itu?
Apa yang kau sembunyikan? Tanyaku iba dalam hati.
Mungkinkah rasamu telah berubah? Atau asaku yang semakin menyalah?
Aku tak pernah takut seliku apa kelok yang akan kita lalui. Dan aku pun tak pernah gentar seterjal apa bebatuan yang akan menyandung kita.
Setahuku, selama kita tetap seiring, semua akan baik-baik saja. Tapi, kenapa hatiku mulai mengecap ragu pada langkahmu?
Bukan ketidakpedulianmu yang kukhawatirkan.
Aku hanya takut rasamu kian jauh seiring jauhnya ragamu.
Aku hanya takut kehilangan hangat senyum itu.
Aku hanya takut tak lagi mengenal dirimu karena rengkuhmu yang tak lagi sehangat dulu.

April 15, 2017

Satu Shaf Di Belakangmu

Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Mengikuti gerakan shalatmu dari takbir hingga salam, kemudian mencium tanganmu dan berdoa bersama.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Mengikutimu, menghormatimu dan menghargaimu. Karena bagiku kamu bukan hanya kepala, namun juga pemimpin keluarga kita.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Menyemangati setiap langkahmu dari belakang, menjadi tempat berbagi untuk mengambil keputusan.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Berbaliklah jika kau lelah dan ingin mengeluh. Aku rumahmu.


Buku "Rindu Yang Tergesa-Gesa"
Karya Annyta Sumarya

April 13, 2017

Kau Adalah Cukup

Entah pada lembar ke berapa aku akan berhenti menuliskan banyak hal tentangmu. Entah pada malam ke berapa aku akan berhenti memimpikan kita. Entah pada kali ke berapa pula aku akan berhenti menggemari senyummu. Nyatanya hingga saat ini, aku masih merasa menjadi ciptaan Tuhan yang paling bahagia sejak namamu seringkali menjadi tema dalam setiap susunan larikku. Aku tak bosan membicarakan segala hal tentangmu, tak pernah lelah menikmati rindu yang selalu saja datang tiap kali tak kulihat kedua sudut bibirmu yang melengkung asimetris. Namamu, segala hal kesukaanmu, caramu menatap sesuatu yang kau sukai, aku tak pernah alpa barang sedetik pun. Aku pun merasa tak pernah cukup untuk mengingat segala yang ada padamu. Mungkin hormon endorfin kali ini sedang menguasai sistem kerja otakku. Mungkin sebagian dari mereka berpikir bahwa aku sedang menjadi manusia yang terlalu menggilai sesuatu. Tapi, tak apa. Selagi bersamamu, aku mampu merasa tak memerlukan pelengkap lainnya. Kau adalah cukup, bagiku.


Aku mampu mencerapi peristiwa yang kita alami bersama sebelum menjadikannya kenangan. Saban hari, rasanya aku tak punya cukup waktu untuk mengacuhkanmu dari bawah alam sadarku. Tapi, tentu saja semua masih berada pada batas wajar. Tak perlu kau khawatir bahwa aku akan melakukannya secara berlebihan, Sayang. Tak ada yang berlebihan selagi aku masih bisa menjaga hatiku untuk berada pada jalurnya, agar perasaan sederhana ini tetap pada porosnya selagi belum bermuara pada akhir yang pasti. Jadi, tetaplah di sini. Seiring dan sejalan, semuanya akan jauh lebih baik. Selamat malam, pria bermata cokelatku.

Aku Pernah Cemburu

Aku pernah cemburu pada mereka yang selalu mengelilingimu di sana. Cemburu pada orang-orang yang berporos di sekitarmu. Rasanya begitu damai bisa menjadi mereka yang senantiasa melihat semangatmu dalam mengumpulkan pundi-pundi rezeki. 
Aku pernah cemburu pada orang-orang di sekitarmu yang mampu mengundang seulas senyum di wajahmu. Mereka bisa bebas mendengar tawa renyahmu, mereka bisa bebas bertukar cerita denganmu, sementara aku, saat itu entah masih berada di belahan bumi mana.
Aku juga pernah cemburu pada tulisan-tulisan yang berisi perasaanmu. Setidaknya ia lebih kau percaya daripada aku dalam menumpahkan segala keresahan hatimu. Aku pernah cemburu pada 140 karakter yang hanya bisa kau tafsir sendiri. Aku pernah cemburu pada berbagai cerita yang kau bagikan dalam media sosialmu, tentang berbagai tempat yang aku tak ada di sana. Aku pernah cemburu pada foto-foto yang melukis tawa lepasmu —sekali lagi, tanpa aku. Aku juga pernah cemburu pada selarik bait yang kau tulis diam-diam di halaman belakang buku tugasmu. Terlebih pada gambar-gambar hasil guratan tanganmu, aku bahkan sangat cemburu.


Aku pernah cemburu pada gelas yang merasakan kecup bibirmu, bahkan aku pernah cemburu pada ponsel yang kau simpan di saku kemejamu —sungguh beruntung ia bisa merasakan detak jantungmu yang beraturan dari jarak begitu dekat.
Aku juga pernah sedemikian cemburu pada… ah, aku bahkan menggigil untuk menulisnya. Tapi kemudian aku diam, mengapa aku harus cemburu? Dan aku tertunduk menerka-nerka cerita. Melarikkan rasa di atas selembar kertas kosong. Hei, apa kau juga pernah merasa cemburu semacam ini?
Maaf jika kau merasa semua ini berlebihan. Aku hanya ingin kau mengerti, bahwa dalam setiap sujud aku tak pernah lupa bermunajat agar kaulah yang akan menjadi ridho-Nya kelak yang kemudian dapat mengantarku ke surga, bahwa akulah awak kapal yang akan kau nahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.
Meski begitu, aku selalu bersyukur karena menjadi wanitamu adalah salah satu hal yang membuatku merasa beruntung. Sebagai seorang wanita, kadang aku tidak menyadari bisa menjadi sosok yang angkuh, egois dan sangat menyebalkan. Tapi kau adalah pria penyabar yang selalu bisa menenangkanku dengan ucapan, "Tak perlu mendengarkan kata orang, kita yang menjalani berdua maka kita pula yang paling tahu tentang hubungan ini." lalu kau juga semakin membuatku jatuh cinta dan tak ingin kehilangan setiap kali mengatakan, "Aku nggak akan berbuat macam-macam, percayalah, kamu akan selalu jadi satu-satunya."
Sering aku menuai senyum menyaksikan tawa mereka melebur dalam tawamu. Kadang, aku pun ingin menjadi mereka, agar tak perlu ada kekakuan saat tiba-tiba kita saling berdekatan. Aku pernah ingin menjadi angin yang menjadi perantara di setiap bisikmu, menjadi udara yang menguapkan keluhmu, menjadi helaan nafas panjang saat kau merasa lelah.
Kau tahu, aku ingin menjadi bagian dari apa yang selalu ada di sekitarmu. Aku ingin menjadi bahu yang kuat untukmu bersandar ketika dunia terasa begitu kejam. Aku ingin menjadi peluk yang hangat, agar kau dapat berlindung ketika merasa lemah. Aku selalu ingin menjadi sesuatu yang menguatkanmu, memberi suntikan semangat saat ia mulai luntur.
Tapi, lama aku mematut diri, untuk saat ini, aku ingin menjadi bagian dari doamu saja. Dan untuk saat ini pula, cara terbaikku menjagamu adalah melalui doa yang kurapal pada Tuhan.